Mataram NTB, Media Dinamika Global.id.--Dana Alokasi Khusus (DAK) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB puluhan miliar masih dianggurin. Hingga penghujung Juli ini, belum ada tanda-tanda DAK pendidikan akan dieksekusi. Padahal, sekolah-sekolah penerima DAK sudah ditentukan.
Berdasarkan data yang dihimpun katada.id, tahun ini Dikbud NTB mendapat alokasi anggaran Rp41.421.300.000. Anggaran tersebut untuk pengadaan alat praktik dan peraga, serta pengadaan buku di SMA, SMK, dan SLB.
Pengadaan Alat Praktik dan Peraga SMA
Pengadaan alat praktik dan peraga peserta didik ini untuk 8 sekolah. Total anggaran mencapai Rp1 miliar.
Anggaran tersebut untuk pengadaan peralatan pendidikan IPA, serta Teknologi, Informasi, dan Komunikasi.
Adapun rincian anggaran sekolah penerima bantuan:
SMK IT Imam Bukhari Dompu Rp200 juta
SMAS NW PagutanRp200 juta
SMA Islam Dhiyaul Fur qon Rp100 juta
SMA Negeri 2 Donggo Rp100 juta
SMAN 2 LangguduRp100 juta
SMAN 3 Sape Rp100 juta
SMAN 1 Ambalawi Rp100 juta
SMAN 1 Janapria Rp100 juta
Pengadaan Buku SMA
Tahun ini, ada 12 sekolah penerima bantuan perlengkapan dasar buku teks dan non teks peserta didik. Masing-masing sekolah dianggarkan Rp26 juta untuk pengadaan buku koleksi perpustakaan, sehingga totalnya Rp312 juta.
Berikut sekolah penerima bantuan buku:
SMAN 1 Belo
SMAN 2 Donggo
SMAN 2 Wawo
SMAN 8 Mataram
SMAN 3 Soromandi
SMAN 2 Langgudu
SMAN 1 Moyo Hulu
SMAN 3 Sape
SMAN 1 Ambalawi
SMAN 1 Rhee
SMAN 1 Pringgarata
SMAN 1 Manggelewa
Pengadaan Alat Praktik dan Peraga SMK
Pengadaan alat praktik dan peraga peserta didik kebagian anggaran paling besar. Bantuan tersebut untuk 11 sekolah dengan total anggaran Rp39.266.000.000.
Anggaran untuk pengadaan sejumlah item alat praktik dan peraga. Di antaranya, rekayasa perangkat lunak, bisnis digital, TIK, desain interior dan teknik furniture, bodi kendaraan ringan, kontruksi dan perumahan, perawat gedung, sepeda motor, perhotelan, bisnis retail, desai dan produksi busana, usaha layanan wisata, desain permodelan dan informasi bangunan, audio video, kendaraan ringan, komunikasi visual, dan geologi pertambangan.
Berikut rincian anggaran sekolah penerima bantuan:
SMKS Darul Quran Rp1,5 miliar
SMKPP Mataram Rp4,454 miliar
SMKN 2 Mataram Rp1,5 miliar
SMKN 1 Selong Rp9 miliar
SMKN 2 Selong Rp7,5 milair
SMKN 1 Kuripan Rp104 juta
SMKN 2 Kuripan Rp10,5 miliar
SMKN 1 Kopang Rp1,5 miliar
SMKN 1 Praya Barat Rp1,604 miliar
SMKN 2 Dompu Rp1,5 miliar
SMKN 4 Kota Bima Rp104 juta.
Pengadaan Alat Praktik dan Peraga SLB
Pengadaan alat praktik dan peraga peserta didik ini menyasar 11 sekolah, dengan total anggaran Rp843.300.000. Anggaran ini untuk pengadaan peralatan pendidikan dan TIK.
Adapun rincian anggaran SLB penerima bantuan:
SLB Al-Mukmin Rp83.500.000
SLB Muhammadiyah Melayu Rp83.300.000
SLB Trisila Skill Rp83.400.000
SLB Al-Mukmin Rp72.800.000
SLB Trisila Skill Rp72.800.000
SLB Baiturrahman Rp72.800.000
SLB Ar Ridho Pekat Rp72.800.000
SLB Negeri 1 Kota Bima Rp83.500.000
SLB Negeri 1 Bima Rp72.800.000
SLB Negeri 1 Lombok Timur Rp72.800.000
SLB Negeri 2 Lombok Tengah Rp72.800.000.
Kepala Dinas Dikbud NTB Abdul Azis yang dikonfirmasi mengenai anggaran DAK 2025 belum merespon. Begitu juga ketika dihubungi via pesan WhatsApp. Hingga berita ini diturunkan, Azis belum menjawabnya.
Anggota Komisi III DPRD NTB, Muhammad Aminurlah.
Anggota Komisi III DPRD NTB, Muhammad Aminurlah, menyoroti mandeknya penyaluran DAK tersebut. Ia pun mempertanyakan alasan DAK belum juga dieksekusi. Padahal, menurutnya, sudah memasuki triwulan semester kedua.
“Harus segera dieksekusi. Inikan sudah masuk triwulan semester kedua. Bagaimana penerapan daripada DAK itu sendiri, apa alasan belum dieksekusi?” Sorot Aminurlah, Senin (28/7).
Ia mendesak Dinas Dikbud NTB segera mengeksekusi anggaran tersebut agar tidak menghambat kebutuhan pendidikan siswa.
“Kita minta kepada pihak Dikbud NTB, jangan karena ada niat jahat daripada orang sekitarnya untuk mengelola DAK ini, mengakibatkan kepentingan siswa akan terhambat,” ujar pria yang akrab disapa Maman ini.
Mantan anggota DPRD Bima tiga periode ini menduga ada permainan sehingga DAK masih diparkir. Bahkan ia menyebut ada “juru atur” yang membuat proses penyaluran DAK ini menjadi terhambat.
“Tidak mungkin alasannya karena juklak dan juknis belum keluar sampai semester kedua. Jangan-jangan ada ‘juru atur’ yang berkeliaran, yang membuat eksekusi DAK ini terkendala,” sindirnya.
Dia menegaskan, jangan karena ada kepentingan segelintir orang yang ingin mengerjakan proyek-proyek DAK, kemudian pengadaan alat praktik dan peraga siswa dan lainnya tertunda. “Kasihan dunia pendidikan, karena kepentingan oknum-oknum, siswa jadi korbannya,” jelas Maman.
Untuk itu, ia meminta aparat penegak hukum (APH) turun tangan mengawasi penggunaan DAK agar tidak terjadi penyimpangan seperti yang terjadi sebelumnya. Maman mengungkit pelaksanaan DAK 2024 yang sampai saat ini masih menyisakan masalah.
“Maka saya meminta APH untuk mengawasi bagaimana pengelolaan DAK ini sendiri. Karena bagaimanapun pengelolaan DAK sebelumnya ini amburadul,” ucap Aminurlah.
“Pihak kejaksaan maupun pihak kepolisian turun mengawasi langsung agar tidak bergentayangan oknum-oknum yang mengatur proyek ini,” tambahnya. (Tim MDG)