Terjadi 985 Kasus Suspek Campak, Tiga Wilayah Di NTB Ditetapkan Status KLB
![]() |
Kota Bima. Media Dinamika Global.id. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk keluarga yang sejahtera dan berkualitas.
Dengan menjalankan program Keluarga Berencana (KB) tentunya akan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi dan mencegah lonjakan populasi yang tidak seimbang dengan sumber daya alam, yang berpotensi menimbulkan kekacauan dan keresahan secara sosial maupun ekonomi di masa depan.
Dalam hal ini, Kepala Dinas BKKBN Kota Bima Ichwanul Muslimin, SP.MM, menjelaskan saat ini kami melaksanakan program pengendalian penduduk Keluarga Berencana (KB), dan fokus pada pelayanan KB dengan memanfaatkan Tim pendamping Kelurahan yang dari kesehatan, kami juga memiliki tim penyuluh untuk mengedukasi masyarakat sehingga masyarakat itu paham apa itu Keluarga Berencana (KB).
Karena dengan program KB, keluarga mereka sehat, sejahtera dan berkualitas, ujarnya. Senin, (16/03/26)
Tak sampai disitu saja, "Ia juga menjelaskan bahwa, selain melakukan penyuluhan atau edukasi masyarakat terkait kasus KB, kami juga fokus pada penanggulangan kasus suspek campak, karena berdasarkan data di awal tahun 2026, tercatat total 985 kasus suspek campak di Provinsi NTB, termasuk Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.
Dari Tiga daerah ini dikatakannya, juga berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB). Bahkan akibat dari kasus yang terjadi tersebut terdapat dua orang meninggal dunia akibat campak di Kabupaten Bima.
Dan Virus ini berkembang melalui beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) lengkap, karena Imunisasi itu penting untuk melindungi tubuh dari penyebaran virus campak yang bisa tertular melalui udara.
Ia juga menambahkan bahwa, cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir juga membuka akumulasi populasi rentan. Selain itu, tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun, keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus.
“Kasus didominasi oleh anak usia di bawah 5 tahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi
Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB. Kami terus melakukan koordinasi bersama pemerintah Kabupaten hingga propinsi untuk mengambil langkah penguatan surveilans aktif (metode pengumpulan data kesehatan secara proaktif)
Kami juga berkoordinasi di tingkat Kelurahan dan Puskesmas terkait pemberian ORI (Outbreak Response Immunization) dilakukan melalui sinergi antara Penyuluh KB (PLKB) dan petugas kesehatan Puskesmas. Ini dilakukan diseluruh Puskesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu.
Ia juga memaparkan bahwa, prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan. Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak.
Pemberian vitamin juga dapat mencegah komplikasi, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak, dan pentingnya imunisasi lengkap dapat menurunkan risiko kematian, ungkapnya.
Terakhir disampaikannya, kami terus menghimbau serta menyarankan apabila muncul gejala demam disertai batuk/pilek dan ruam, segera berobat ke fasilitas kesehatan, karena di sana pastinya memiliki ketersediaan obat-obatan atau logistik KLB, termasuk Vaksin, tutupnya. (Tim)














