Wellness Tourism Jadi Strategi NTB Bangun Pariwisata Berkualitas - Media Dinamika Global

Minggu, 12 Juli 2026

Wellness Tourism Jadi Strategi NTB Bangun Pariwisata Berkualitas


Mataram, Media Dinamika Global – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menempatkan pengembangan wellness tourism atau wisata kebugaran sebagai strategi utama dalam membangun pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi pariwisata sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Mei 2026 mencapai 1.332.393 perjalanan. Angka tersebut meningkat 10,49 persen dibandingkan April 2026 dan tumbuh 13,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, selama Januari–Mei 2026 jumlah perjalanan wisatawan nusantara telah mencapai 6,16 juta perjalanan.

Selain itu, tingkat penghunian kamar hotel berbintang tercatat sebesar 41,07 persen dengan rata-rata lama menginap 1,86 hari.

Pemerintah Provinsi NTB menilai capaian tersebut menunjukkan fondasi sektor pariwisata yang semakin kuat. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan agar masa tinggal lebih lama dan dampak ekonominya semakin besar bagi masyarakat lokal.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, mengatakan pengembangan wellness tourism sejalan dengan tren global yang semakin menempatkan kesehatan, ketenangan, dan kualitas hidup sebagai bagian penting dari pengalaman wisata.

“Pariwisata berkualitas bukan hanya tentang jumlah wisatawan yang datang, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat,” ujarnya. Senin, (14/7/26).

Menurutnya, NTB memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan wisata kebugaran. Beragam destinasi unggulan seperti Gunung Rinjani, Geopark Rinjani, Gunung Tambora, Pulau Moyo, Teluk Saleh, Pulau Satonda hingga Kawasan Mandalika menawarkan kombinasi alam yang masih terjaga, udara bersih, dan lingkungan yang mendukung aktivitas pemulihan fisik maupun mental.

Potensi tersebut diperkuat oleh kekayaan budaya masyarakat Sasak, Samawa, Dompu, dan Mbojo yang tetap menjaga harmoni dengan alam, serta beragam produk pangan lokal seperti madu Sumbawa, kopi NTB, kelor, rempah-rempah, hasil pertanian organik, dan produk perikanan berkualitas.

Pemprov NTB juga menilai keberhasilan pengembangan sport tourism menjadi fondasi penting menuju penguatan wellness tourism. Berbagai ajang olahraga berskala nasional dan internasional telah berhasil menarik ribuan wisatawan ke NTB.

Rinjani 100 Ultra 2026, misalnya, diikuti 2.275 pelari yang berasal dari 38 negara. Sementara Pocari Sweat Run Lombok 2026 menghadirkan sekitar 9.200 peserta dan pendamping yang turut menggerakkan sektor perhotelan, restoran, transportasi, penerbangan, hingga UMKM.

Dalam konsep yang dikembangkan Pemprov NTB, wellness tourism tidak hanya diposisikan sebagai produk wisata baru, tetapi sebagai instrumen pembangunan daerah yang menghubungkan sektor pariwisata dengan kesehatan, pertanian, kelautan, ekonomi kreatif, serta pengembangan desa wisata.

Melalui strategi tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati destinasi, tetapi juga merasakan pengalaman yang lebih utuh melalui aktivitas olahraga, yoga, meditasi, wisata alam, kuliner sehat, hingga interaksi dengan budaya lokal.

“Semakin panjang rantai ekonomi lokal yang terlibat, semakin besar nilai tambah yang tinggal di daerah. Inilah yang diharapkan dapat memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pengurangan kemiskinan,” kata Ahsanul Khalik.

Pemprov NTB meyakini bahwa masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga kemampuan menghadirkan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan dalam satu pengalaman wisata yang berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, NTB dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan nasional yang tidak hanya menarik wisatawan untuk datang, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Redaksi |

Comments