Donggo NTB, Media Dinamika Global.id.// sikap keras kepala bupati Sueharmadji, yang menolak Mentah-mentah aspirasi masyarakat donggo, menambah runyam suasana dan menyulut kobaran emosi perlawanan DOU DONGGO, Pimpinan masa demonstran kemabli merapatkan barisan melakukan aksi lebih lanjut. Masa berkosentrasi di pos komando I, rumah M. Ali Ta'amin, untuk melakukan diskusi menyikapi penolakan pihak pemerintah Bupati Sueharmadji, terhadap tuntutan masyarakat donggo. Tentu saja diskusi begitu dinamis dengan berbagai usulan, mulai dari yang radikal hingga lunak. Namun tahap awal diskusi merekomendasikan membuat petisi untuk kemudian di kirimkan kepada pemerintah daerah.
Pendanatangan Petisi 10 adalah Abas Oya BA, Jamaluddin M.yasin, M.Ali ta'amin, tuan Guru KH. Abdul Majid Bakry, H.Kako, H. M. Ali Arsyad, Ahmad Natsir, Yakub Dode, M.nor Sulaiman, Muhammad Amir Umar. Pernyataan yang berisikan desakan kepada bupati kabupaten tingkat II Bima Letkol Sueharmadji, Agar turun dari jabatan. Apabila orang nomor 1 kabupaten Bima, Enggan turun, massa donggo, akan turunkan paksa. Atau bima akan di jadikan kuburan massal bagi rakyat kabupaten Bima.
Pernyataan 10 tokoh tersebut di ketik oleh M.Amin Umar, ketika itu masih berstatus pegawai honorarium Dinas kesehatan di kantor kecamatan Donggo, di Sekretariat donggo, 72 desa O'0. Selanjutnya, pada tanggal 25 juni 1972 , pernyataan petisi sepuluh tersebut di serahkan kepada utusan pemerintah untuk disampaikan kepada bupati Sueharmadji. Perihal bupati mau Terima atau tidak, itu urusan yang bersangkutan. Namun masyarakat donggo, sudah melayangkan sebuah pernyataan supaya bupati Sueharmadji, segera angkat kaki dari bima, sebagai jawaban penolakan Bupati terhadap tuntutan masyarakat donggo.
Membaca petisi kiriman masyarakat donggo, bupati Sueharmadji meradang dan menantang dua hari kemudian (27/6-1972) sang bupati menjawab Petisi sepuluh dou donggo, dengan mengirim ratusan pasukan ABRI untuk menumpas demonstran. Sebelum itu sempat diisukan Gerakan donggo sebagai upaya pemberontakan. Sehingga masyarakat donggo, di imbau supaya bersiaga penuh mengantisipasi serangan tiba tiba membabi buta anggota gabungan ABRI/POLRI. Di samping itu, M. Ali Ta'amin mengirim spion mata mata Usman Dete Alias Usman Miu, Jamaluddin goya dan kawan kawan yang berpura pura mencari kuda untuk memata matai kedatangan rombongan ABRI ke donggo, di perbatasan desa bajo dengan dusun ndanondere. Sekaligus mengkover kegiatan ABRI di desa bajo, sarita, Dan Punti.
Intuisi penciuman intelijen ABRI lebih tajam daripada masyarakat Awam sehingga tak ayal lagi, Spion masyarakat donggo, Usman Dete di tangkap, di Introgasi dan di siksa oleh team operasi sadar donggo (TOSD) yang tengah lakukan Patroli penyisiran sepanjang pantai bajo--lewintana, bajo, Sarita, dan punti sekitar. Spion lain yang belum sempat tertangkap TOSD , Jamaluddin goya kembali kepos komando di desa O'o, kediaman M.Ali Ta'amin, melaporkan perihal penangkapan Usman Dete.
Setelah mendapat laporan tertangkap usman dete dan kawan kawan, pemuka masyarakat donggo mengadakan rapat kilat mencari solusi mengatasi masalah penangkapan tersebut. Rapat memutuskan mengirim bala bantuan pembebasan Usman Dete Cs di tangan TOSD. Sekitar 100-san orang massa Star dari O'o di kawal beberapa tokoh lapisan kedua Yakni:
1. Ahmad Natsir (Ama Gumba)
2. H. Yusuf (H. Bosa)
3. Busu Zain
4. Damo
5. Hama Agu
6. Jamaluddin goya
Mempersenjatai diri dengan senjata tajam berupa keris, pedang, tombak, dan parang. Entah bagaimana sampai muncul ide dari rombongan itu untuk singgah di kediaman Abbas Oya, dan memboyongnya Ikut ke Bajo, bersama sama melaksanakan Misi pembebasan Usman Dete.(Sekjend MDG)
