Dosen Unram Sebut Ekonomi Kreatif NTB Besar, Pemerintah Parsial di Festival Parak NTB - Media Dinamika Global

Minggu, 21 September 2025

Dosen Unram Sebut Ekonomi Kreatif NTB Besar, Pemerintah Parsial di Festival Parak NTB

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNRAM Nur Aida Arifah Tara, M.Si.,Ph.D, (Ist/Surya).

Mataram, Media Dinamika Global.Id || Dosen Universitas Negeri Mataram (Unram) Fakultas Ekonomi dan Bisnis menghadiri acara Festival Parak NTB dalam rangka Obrolan Ekonomi Kreatif yang digelar oleh Gekrafs NTB di kampus Universitas Negeri (UIN) Mataram, Sabtu (20/09/25) malam.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNRAM Nur Aida Arifah Tara, M.Si.,Ph.D menerapkan potensi ekonomi kreatif NTB masih besar karena penyumbang ekonomi Kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia 7,5 persen sampai 8 persen targetnya, sekarang sudah tujuh 7,5 persen, ini kontribusinya besar, dihitung dari perbandingan negara, Indonesia nomor tiga, nomor satu Amerika dengan 11 persen sekitar, kedua Korea 8 persen, jadi NTB termasuk oke, tapi NTB kok kecil banget kontribusinya masih kurang dari 1 persen.

"Potensi ekonomi kreatif masih besar, kita lihat yang unggul sekarang masih fashion kuliner sama kriya," ucapannya usai obrolan ekonomi kreatif yang diselenggarakan oleh Gekrafs NTB melalui Festival Perak NTB di Auditorium Kampus UIN Mataram. Sabtu, (20/09/25).

Di subsektor lain potensinya masih besar dan harus dikembangkan karena membuka lapangan pekerjaan, kita lihat bahwa bisnis tidak hanya kreatifnya aja, kalau enggak punya nilai ekonomisnya, tentu enggak orang tertarik dan enggak ada yang sumbangsih untuk masuk ke industri.

"Apalagi NTB sebagai salah satu destinasi pariwisata, kalau sumbangan wisatanya naik, Ekonomi Kreatif juga naik tetapi destinasinya banyak yang kurang," tuturnya.

NTB sekarang hanya fokus ke Mandalika, sedangkan Senggigi mati, seharusnya keduanya harus sama-sama hidup, jadi industri kreatif juga jadi bisa ikut ada disitu.

Kemudian kekurangan NTB, orang-orang datang kesini hanya fokus ke pantai aja,  padahal sebenarnya banyak bangat lainnya, orang pergi wisata budaya untuk mencari Event-event apasih yang bisa didapetin, oleh karena demikian event-event budaya tahunan di NTB masih kurang, tidak cukup dengan MotoGP, tidak cukup dengan ada running kemarin. NTB harus punya program-program tahunan yang konsisten.

"Misalnya kayak di festival fashion di Jember, kayak PRJ Jakarta," ujarnya.

Ketika orang mau bangun ekonomi kreatif itu, jadi orang merasa ada pasarnya, paling tidak orang merasa bahwa diberikan support-nya, diberikan ruangnya untuk promosinya kreatifnya, seandainya enggak diberikan ruang orang jadi merasa tidak masuk industri kreatif, padahal kita lagi sekarang lagi mendorong orang untuk punya wirausaha.

Orang bikin bisnis harus lihat keberlangsungan, dimana orang bikin bisnis sekarang, orang bilang ada dimannya atau peluang pasar, kita nggak pernah tahu pasarnya karena banyak bangat bisnis yang musiman, baru sebentar dia hilang, karena kita enggak menciptakan pasar, biasanya kita selalu bikin bisnis itu harus lihat pasar dulu,  industri kreatif ini sebenarnya membuat industri jadi kebutuhan orang-orang banyak.

"Misalnya orang mau bepergian, tentu mereka mengeluarkan uang,  spending "Money" karena mereka melihat ada tempat ngeluarin uang, jadi kalau dibilang apakah kita enggak punya diman-nya, Diman nya sudah besar," lanjutnya.

Banyak juga orang pergi keluar,  pertanyaannya? orang pergi keluar kenapa enggak mau disini, karena memang enggak ada yang mau di explore yang lebih, kita disini enggak ada yang lain, hanya itu-itu saja. Contoh paling mudah, Ampenan Kota Tua, kenapa enggak  bikin seperti Malioboro Yogja.  Minimal seminggu sekali, coba kita  membuat orang jadi lebih menarik secara rutin, akhirnya orang-orang bukan lagi diman yang dibikin, ada dimannya tapi kita sendiri yang menciptakan dimannya.

"Sekarang masalahnya ekonomi kreatif, belum punya dinasnya, jadi kita punya kementeriannya tidak punya Dinasnya, jadi antara pariwisata dan pendidikan masih saling lempar-lemparan," tandasnya.

Kalau sudah ada Dinas ekonomi kreatif pasti ada bajetnya, tidak mungkin pemerintah membentuk ekosistem, memang harus pemerintah yang membuat.

"Pemerintah NTB fokus parsial, merasa bahwa Mandalika sudah cukup padahal, tahunannya kita lihat Mandalika kebanyak kosong tidak ada aktivitas," tutupnya. (Surya Ghempar).

Comments