Media Dinamika Global

Sabtu, 21 Februari 2026

NTBCare Bersama MIO NTB Tebar Berkah Ramadhan, Ratusan Takjil Dibagikan di RSUP untuk Keluarga Pasien dan Petugas


Mataram, Media Dinamika Global.Id.– Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali ditunjukkan oleh NTBCare bersama MIO NTB. Keduanya turun langsung membagikan ratusan takjil kepada keluarga pasien dan petugas jaga di RSUD Provinsi NTB, Jumat (21/2/2026).

Kegiatan sosial tersebut menyasar para penjaga pasien yang tengah mendampingi anggota keluarganya menjalani perawatan. Takjil dibagikan dari satu ruangan ke ruangan lain, memastikan setiap keluarga pasien yang sedang menunggu mendapatkan bagian untuk berbuka puasa.

Tidak hanya keluarga pasien, para petugas keamanan dan tenaga jaga rumah sakit juga turut menerima takjil.

Suasana hangat dan penuh keakraban terasa saat relawan menyapa satu per satu warga yang berada di ruang rawat.

Direktur NTBCare, Yuni Bourhani, usai kegiatan menyampaikan rasa syukurnya karena dapat berbagi langsung dengan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Kami memilih RSUD Provinsi NTB karena banyak keluarga pasien yang tidak bisa keluar mencari makanan untuk berbuka puasa. Mereka harus tetap menjaga anggota keluarganya yang sedang dirawat. Takjil ini mungkin tidak banyak, tetapi sangat membantu mereka untuk sekadar berbuka tanpa harus membeli di luar,” ujarnya.

Menurut Yuni, Ramadan menjadi momentum memperkuat empati sosial, terutama kepada warga yang sedang menghadapi ujian kesehatan keluarga.

Sementara itu, Ketua MIO NTB, Feryal MP, mengungkapkan bahwa ratusan cup takjil yang disiapkan ludes dalam waktu singkat. Bahkan, masih banyak warga yang datang dan berharap mendapatkan bagian.

“Alhamdulillah semuanya habis dibagikan. Bahkan masih ada yang meminta. Ini bagian dari cara kami berbagi dengan warga yang sedang dalam kesulitan. Semoga menjadi keberkahan bagi semua,” kata Feryal.

Relawan NTBCare dan MIO NTB tampak menyusuri lorong demi lorong rumah sakit, mengetuk pintu ruang rawat dengan penuh sopan santun sebelum menyerahkan takjil kepada keluarga pasien. 

Kegiatan ini bukan sekadar berbagi makanan berbuka, tetapi juga menyampaikan pesan kepedulian dan kebersamaan di bulan penuh rahmat.

Aksi sosial ini menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial. Di tengah kesibukan dan kecemasan keluarga pasien menunggu kabar kesembuhan, kehadiran takjil sederhana tersebut menjadi penguat semangat dan pengingat bahwa mereka tidak sendiri.

NTBCare dan MIO NTB berharap kegiatan berbagi seperti ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan, terutama di ruang-ruang sunyi seperti rumah sakit, tempat banyak orang berjuang dalam diam.

Redaksi ||

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. Adalah Seorang Pakar Hukum Tata Negara


Dunia Hukum. Media Dinamika Global.Id.-Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. (lahir 5 Februari 1956) adalah seorang pakar hukum tata negara, politikus, dan intelektual Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) dalam Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pendiri dan mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB). Ia resmi mengundurkan diri dari jabatan Ketum PBB pada Mei 2024 untuk mendorong regenerasi partai. Memiliki rekam jejak panjang sebagai menteri di berbagai era, termasuk Menteri Hukum dan Perundang-undangan (era Abdurrahman Wahid), Menteri Kehakiman dan HAM (era Megawati), serta Menteri Sekretaris Negara (era SBY).

Dikenal sebagai advokat senior yang sering menangani kasus-kasus besar di Mahkamah Konstitusi, termasuk menjadi Ketua Tim Hukum Prabowo-Gibran dalam sengketa Pilpres 2024.

#ArtisIndonesia #BeritaSelebriti #ArtisJadul #AhSyafii #BeritaArtisTerkini #Infotainment #InformasiSelebriti #publicfigure #socialissues  #Wednesdaynight #fanrecognition #gameshow #dramaseries #realitytv #drama #fanappreciation #tvpersonality #tv #YusrilIhzaMahendra

Dulu Ratu Runway Dunia, Kini Paula Verhoeven Buktikan Bahwa Kekuatan Terbesarnya Ada pada Status "Ibu"


Hiburan. Media Dinamika Global.Id.- Dulu Ratu Runway Dunia, Kini Paula Verhoeven Buktikan Bahwa Kekuatan Terbesarnya Ada pada Status "Ibu". Meski Rumah Tangga Kandas, Ketegarannya Benar-benar Bikin Haru!

Dunia mengenal Paula Verhoeven sebagai sosok yang nyaris sempurna. Dengan tinggi badan yang menjulang dan tatapan mata yang tajam, ia adalah "Ratu Runway" yang pernah menaklukkan panggung mode internasional. Namun, setelah badai besar menerpa kehidupan pribadinya, publik baru menyadari bahwa kecantikan sejati Paula bukan terletak pada riasan wajah atau busana mewahnya, melainkan pada ketulusan hatinya sebagai seorang ibu.

Meski keputusan cerai baru saja diketuk palu pada April 2025 lalu, Paula menunjukkan kepada dunia bagaimana cara berdiri tegak di tengah reruntuhan kebahagiaan.

Menanggalkan Jubah Supermodel demi Pelukan Anak

Bagi Paula, karier mentereng sebagai juara Elite Model Look atau prestasi di Abang None Jakarta hanyalah bagian dari masa lalu yang membentuk kedewasaannya. Kini, prioritasnya telah bergeser total. Di balik layar kaca yang penuh sorotan, Paula adalah ibu yang sangat protektif dan penuh kasih bagi Kiano dan Kenzo.

Banyak netizen yang merasa terharu melihat bagaimana Paula tetap berusaha memberikan senyum terbaik di depan anak-anaknya, seolah ingin memastikan bahwa dunia kedua buah hatinya itu tetap baik-baik saja, meski fondasi rumah tangganya telah berubah.

Ketegaran yang Tak Perlu Diteriakkan

Satu hal yang membuat masyarakat bersimpati adalah sikap Paula yang sangat elegan selama menjalani proses hukum. Tak ada aksi saling sindir, tak ada drama yang sengaja diumbar ke media. Paula memilih untuk diam dalam doa dan fokus pada perannya.

Ketegaran ini seolah menjadi pesan bahwa wanita yang kuat tidak perlu berteriak untuk didengar. Ia membuktikan kelasnya sebagai seorang wanita yang sudah selesai dengan egonya demi menjaga mentalitas anak-anaknya yang masih kecil.

"Self-Love" dan Hijrah yang Menenangkan

Belakangan, penampilan Paula yang terlihat lebih tertutup dan religius juga menuai banyak pujian. Aura wajahnya disebut makin "adem" dan bercahaya. Banyak yang menilai bahwa Paula kini tengah menjalani fase healing dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ia tak lagi mengejar pengakuan dunia di atas panggung catwalk, melainkan mengejar ketenangan batin dalam sujud dan kasih sayang keluarga. Statusnya kini bukan lagi sekadar mantan istri artis, melainkan sosok wanita tangguh yang memulai babak baru dengan kaki yang lebih kuat dari sebelumnya.

Penutup: Hikmah di Balik Perpisahan

Kisah Paula Verhoeven mengajarkan kita bahwa sebuah akhir bukanlah kegagalan mutlak. Perpisahan memang menyakitkan, namun bagi Paula, itu adalah jalan untuk menemukan kembali kekuatan jati dirinya sebagai seorang ibu.

"Kekuatan terbesar wanita bukan saat ia dipuja dunia, tapi saat ia mampu memeluk luka sambil tetap memberikan cinta bagi anak-anaknya."

Masya Allah, setuju ya Bunda kalau Paula Verhoeven adalah potret wanita hebat masa kini? Mari kita doakan semoga langkahnya selalu dimudahkan dan anak-anak tumbuh menjadi anak yang sholeh. Aamiin.

Bukan Sekadar Artis! Inilah Perjalanan Oki Setiana Dewi Meraih Gelar Doktor Ganda


Hiburan. Media Dinamika Global.Id.- Bukan Sekadar Artis! Inilah Perjalanan Oki Setiana Dewi Meraih Gelar Doktor Ganda Sambil Membangun Rumah Tahfidz

Di panggung hiburan, wajahnya dikenal melalui karakter Anna yang santun dalam film fenomenal Ketika Cinta Bertasbih. Namun, jika kita melihat lebih dalam, Oki Setiana Dewi telah melangkah jauh melampaui gemerlap lampu kamera. Ia adalah potret nyata seorang perempuan yang menjadikan ilmu sebagai senjata dan pengabdian sebagai jalan hidup.

Bagi Oki, gelar aktris hanyalah satu bab kecil. Bab terbesarnya saat ini adalah sebagai seorang akademisi pemegang gelar Doktor ganda dan penggerak rumah tahfidz bagi ribuan muslimah.

Akademisi yang Tak Pernah Puas Belajar

Banyak yang terkejut saat mengetahui bahwa kakak kandung Ria Ricis ini memiliki latar belakang pendidikan yang sangat serius. Oki bukanlah sekadar "pemanis" di layar kaca. Semangat belajarnya yang luar biasa membawanya meraih dua gelar Doktor (S-3) dari institusi berbeda:

Doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2020): Oki meneliti fenomena sosial yang sangat relevan, yaitu tren hijrah di kalangan selebritas kelas menengah.

Doktor dari Institut PTIQ Jakarta (2022): Ia mendalami Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir dengan fokus pada pendidikan moderasi beragama dalam keluarga.

Prestasi meraih gelar Doktor ganda ini menjadi bukti bahwa kesibukan sebagai figur publik dan ibu dari empat anak bukanlah penghalang untuk mencapai puncak tertinggi di dunia pendidikan.

Maskanul Huffadz: Warisan untuk Umat

Sisi lain yang membuat Oki dikagumi adalah kepeduliannya pada masa depan generasi muda. Pada tahun 2016, ia mendirikan Yayasan Maskanul Huffadz. Bukan sekadar sekolah agama biasa, yayasan ini merupakan rumah bagi anak-anak yatim, piatu, dan duafa untuk menghafal Al-Qur'an secara gratis melalui program beasiswa penuh.

Di sana, para muslimah tidak hanya diajarkan menghafal, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menjadi pengajar kembali. Melalui Maskanul Huffadz, Oki ingin memastikan bahwa Al-Qur'an tetap hidup di hati generasi mendatang, tanpa terkendala biaya.

Menyeimbangkan Peran: Ibu, Dai, dan Penulis

Menjalani peran sebagai istri dari Ory Vitrio dan ibu bagi empat buah hati tentu bukan perkara mudah. Namun, Oki berhasil membuktikan bahwa manajemen waktu dan niat yang kuat adalah kunci. Selain aktif berdakwah di program "Islam Itu Indah", ia juga produktif menulis buku yang menginspirasi banyak wanita tentang hijrah dan pola asuh anak.

Meski perjalanan kariernya tak lepas dari dinamika dan kontroversi di media sosial, Oki tetap konsisten pada jalurnya. Ia memilih untuk menjawab kritik dengan karya dan kontribusi nyata di bidang pendidikan agama.

Penutup

Kisah Oki Setiana Dewi mengingatkan kita semua bahwa popularitas adalah titipan, namun ilmu dan amal jariyah adalah warisan yang abadi. Dari seorang aktris pendatang baru di Mesir belasan tahun lalu, kini ia telah berdiri tegak sebagai seorang intelektual muslimah yang menginspirasi wanita Indonesia untuk terus belajar dan berbagi.

Sumber: Wikipedia

Melepas Popularitas Demi Kedamaian: Perjalanan Panjang Dewi Sandra


Hiburan. Media Dinamika Global.Id.-Melepas Popularitas Demi Kedamaian: Perjalanan Panjang Dewi Sandra Melewati Badai Kehidupan Hingga Memutuskan Berhijab

Nama Dewi Sandra bukan sekadar deretan huruf di panggung hiburan Indonesia. Ia adalah simbol talenta, kecantikan, dan kegigihan. Namun, di balik lampu panggung yang menyilaukan dan tepuk tangan riuh penonton, tersimpan sebuah perjalanan spiritual yang sunyi namun dahsyat—sebuah pencarian panjang untuk menemukan apa yang sebenarnya disebut sebagai "kedamaian".

Kilau Dunia yang Sempat Menyilaukan

Lahir pada 3 April 1980, Dewi Sandra mengawali kariernya sebagai model belia yang memukau. Darah campuran Brasil, Inggris, dan Indonesia memberinya paras yang ikonik. Tak butuh waktu lama bagi Dewi untuk mendominasi layar kaca sebagai presenter favorit dan merajai tangga lagu sebagai Ratu R&B Indonesia.

Gelar-gelar bergengsi seperti Panasonic Awards hingga AMI Awards berhasil ia sabet. Dewi adalah definisi dari kesuksesan duniawi: populer, berprestasi, dan berada di puncak rantai makanan industri hiburan. Namun, di tengah semua kemegahan itu, Dewi sempat mengakui adanya kekosongan yang tak mampu diisi oleh piala maupun popularitas.

Melewati Badai Kehidupan

Perjalanan Dewi menuju titik baliknya tidak dilalui di atas jalan yang bertabur bunga. Ia harus melewati "badai" yang cukup kencang dalam kehidupan pribadinya. Dua kali mengalami kegagalan rumah tangga yang menjadi konsumsi publik, kehilangan orang tua tercinta, hingga berbagai tekanan batin membuatnya sempat berada di titik terendah.

Lika-liku inilah yang kemudian membawanya pada pertanyaan besar tentang tujuan hidup. Ia mulai mengevaluasi kembali setiap langkah yang telah ia ambil di bawah sorotan kamera selama belasan tahun.

Titik Balik: Menjemput Hidayah dalam Kesunyian

Desember 2012 menjadi momentum yang tak akan pernah dilupakan oleh publik Indonesia. Secara mengejutkan, Dewi Sandra muncul dengan penampilan baru yang jauh lebih bersahaja: ia memutuskan untuk berhijab.

Keputusan ini bukanlah tren atau sekadar perubahan gaya busana. Bagi Dewi, hijab adalah simbol penyerahan diri dan upaya untuk menjemput kedamaian yang selama ini ia cari. Ia perlahan mundur dari hingar-bingar dunia tarik suara yang membesarkan namanya, melepaskan citra pop star yang glamor, demi mengejar keridaan Sang Pencipta.

Kedamaian dalam Kesederhanaan

Pasca-hijrah, sosok Dewi Sandra bertransformasi menjadi pribadi yang jauh lebih tenang. Ia tidak lagi mengejar validasi duniawi. Fokusnya beralih pada belajar agama, berbagi inspirasi melalui kajian, dan memilih karya yang memiliki pesan moral kuat, seperti peran ikoniknya di film 99 Cahaya di Langit Eropa atau serial Catatan Hati Seorang Istri.

Kini, bersama suaminya Agus Rahman, Dewi menjalani kehidupan yang jauh dari gosip miring. Ia membuktikan bahwa melepas popularitas demi kedamaian batin bukanlah sebuah kerugian, melainkan sebuah investasi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kisah Dewi Sandra mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun kita melangkah dan setinggi apa pun kita terbang, muara terakhir yang paling menenangkan adalah saat kita berhasil menemukan diri kita kembali di hadapan-Nmya. (Wikipedia)

Patroli Subuh, Polsek Sape Tindak Keluhan Warga Soal Petasan

Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id – Menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait gangguan ketertiban di Jembatan Desa Parangina, Kapolsek Sape, AKP Sirajuddin, SH, bersama jajaran personel melaksanakan patroli usai waktu Subuh.(Minggu.22/02/2026)

Langkah tersebut diambil setelah banyaknya laporan warga mengenai aktivitas sejumlah pemuda dan anak-anak yang menyalakan petasan di area jembatan. Selain mengganggu kekhusyukan masyarakat pada waktu Subuh, aksi tersebut juga dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan yang melintas.

Dalam patroli tersebut, petugas mendapati langsung sekelompok pemuda yang tengah bermain petasan di lokasi. Aparat kemudian memberikan imbauan dan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatan serupa yang dapat mengganggu ketertiban umum.



Kapolsek Sape mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap putra-putrinya, khususnya pada waktu-waktu rawan terjadinya gangguan kamtibmas. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan di wilayah Kecamatan Sape agar tetap kondusif dan aman bagi seluruh pengguna jalan.

(Team.MDG.03)

Dulu Terkenal dengan Jargon "Pusing!", Kini Peggy Melati Sukma Jadi Istri Imam Besar


Hiburan. Media Dinamika Global.Id.- Dulu Terkenal dengan Jargon "Pusing!", Kini Peggy Melati Sukma Jadi Istri Imam Besar di Selandia Baru. Intip Perjalanan Hijrahnya yang Bikin Merinding!

Bagi generasi 90-an, wajah cantik Peggy Melati Sukma pasti sangat melekat di ingatan. Lewat sinetron hits Gerhana, ia sukses mempopulerkan jargon "Pusing!" yang menjadi tren nasional kala itu. Namun, siapa sangka, bintang yang dulu bersinar di gemerlapnya dunia hiburan kini telah memilih jalan hidup yang jauh berbeda.

Meninggalkan segala kemewahan selebriti, Peggy bertransformasi menjadi sosok pendakwah yang gigih. Kini, ia memulai babak baru sebagai istri dari seorang Imam Besar di Selandia Baru. Bagaimana lika-liku perjalanannya? Simak kisahnya yang sungguh menyentuh hati.

1. Ratu Sinetron yang Pernah Berada di Puncak Dunia

Peggy Melati Sukma bukan sekadar artis biasa. Kariernya dimulai sejak usia belia lewat peran-peran ikonik seperti Iteung di Si Kabayan. Ia adalah artis multitalenta—mulai dari akting komedi, menyanyi, hingga menjadi presenter papan atas. Namanya berkali-kali masuk nominasi bergengsi seperti Panasonic Awards, membuktikan betapa kuat pengaruhnya di industri hiburan tanah air.

2. Panggilan Hati: Menemukan Kedamaian dalam Hijrah

Setelah melewati berbagai pasang surut kehidupan, termasuk kegagalan dalam pernikahan pertamanya, Peggy mulai menarik diri dari panggung hiburan. Ia memutuskan untuk berhijrah total. Penampilannya berubah drastis, dari gaya modis selebriti menjadi sangat tertutup dengan niqab.

Peggy mengaku bahwa semua ketenaran yang ia miliki dulu tidak memberinya ketenangan batin. Ia pun memilih menjadi "pelayan" umat, aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan di wilayah konflik hingga ke pelosok dunia.

3. Jodoh Takkan Tertukar: Taaruf Singkat dengan Syekh Reza Abdul Jabbar

Setelah 11 tahun menjanda dan fokus pada dakwah, takdir mempertemukannya dengan Syekh Reza Abdul Jabbar. Pertemuan mereka terbilang ajaib dan bikin merinding. Melalui proses taaruf yang singkat dan tanpa interaksi berlebih, keduanya merasa cocok karena visi dakwah yang sama.

Syekh Reza bukan orang sembarangan. Ia adalah saudagar kaya, ilmuwan, sekaligus Imam Besar asal Indonesia yang sangat dihormati di Selandia Baru. Keduanya resmi menikah pada awal 2023, sebuah kabar yang sempat menghebohkan publik karena prosesnya yang begitu tenang namun pasti.

4. Menjadi "Ustadzah" di Negeri Orang

Kini, Peggy menetap di Selandia Baru mendampingi sang suami. Tak lagi sibuk mengejar rating sinetron, aktivitas sehari-harinya kini diisi dengan mengelola peternakan besar dan terus menyebarkan syiar Islam di mancanegara.

Kisah Peggy Melati Sukma menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, hidayah akan selalu menemukan jalannya. Dari panggung hiburan menuju panggung dakwah dunia, Peggy membuktikan bahwa kebahagiaan sejati ada pada ketenangan iman.

"Dulu pusing mengejar dunia, kini tenang dalam dekapan agama."

#PeggyMelatiSukma #InspirasiHijrah #KisahInspiratif #MuslimahInspiratif #SelandiaBaru #Taaruf #HijrahArtis

Keluarga Besar SMKN 3 Kota Bima Gelar Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.– Keluarga besar SMKN 3 Kota Bima menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung dengan penuh khidmat di Aula SMKN 3 Kota Bima, Jumat (23/01/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh para guru, pegawai, serta seluruh murid SMKN 3 Kota Bima, 23 Januari 2026

Acara terselenggara atas kerja sama panitia OSIS dan Rohis SMKN 3 Kota Bima di bawah bimbingan Bapak dan Ibu Guru selaku pembina. Suasana religius sudah terasa sejak sebelum acara dimulai, yang diisi dengan lantunan salawat oleh anggota Rohis SMKN 3 Kota Bima, dan kembali dilantunkan setelah kegiatan berakhir.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan saritilawah oleh murid yang tergabung dalam Rohis SMKN 3 Kota Bima. Lantunan ayat suci tersebut menambah kekhusyukan suasana di dalam aula.

Selanjutnya, Kepala SMKN 3 Kota Bima, Jainuddin, S.Pd., MM, menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai momentum meningkatkan keimanan, kedisiplinan, serta akhlak mulia, terutama dalam menjalankan kewajiban salat lima waktu.

Acara inti diisi dengan ceramah agama sekaligus doa yang disampaikan oleh Ustadz H. Dedy Wahyuddin, S.Kep., M.Ked.Trop. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan tentang peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Ustadz Dedy juga menekankan bahwa dalam peristiwa tersebut Allah SWT memberikan perintah salat lima waktu secara langsung kepada Rasulullah SAW.

Beliau mengingatkan pentingnya salat sebagai tiang agama dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para siswa diajak untuk menjaga salat tepat waktu, memahami maknanya, serta menjadikannya sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh penceramah, memohon keberkahan, keselamatan, serta kemudahan dalam menuntut ilmu bagi seluruh keluarga besar SMKN 3 Kota Bima.

Peringatan Isra Mi’raj ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran spiritual serta memperkuat karakter religius para siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.(Sekjend MDG)

APH dan Muspika Sape Tertibkan Suara Petasan di Jalur Kaki Gunung Kabuju, Enam Meriam Kaleng Dimusnahkan


Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id, 22 Februari 2026 — Memasuki hari keempat bulan suci Ramadan, Aparat Penegak Hukum (APH) bersama Muspika Kecamatan Sape menggelar patroli dan penertiban petasan serta meriam kaleng pada Minggu (22/2/2026).

Langkah ini diambil menyusul laporan masyarakat yang merasa resah akibat maraknya suara petasan dalam beberapa hari terakhir.



Penertiban difokuskan di sepanjang Jalan Raya kaki Gunung Kabuju, wilayah Desa Naru Barat hingga Desa Na’e, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 

Suara petasan dan meriam kaleng dinilai mengganggu kekhusyukan warga dalam menjalankan ibadah Ramadan, khususnya saat salat Subuh dan kegiatan keagamaan lainnya.

Selain mengganggu ibadah, bunyi ledakan juga dikeluhkan oleh warga lanjut usia yang rutin berolahraga atau berjalan pagi selepas sholat Subuh. Kondisi tersebut mendorong aparat untuk bertindak cepat demi menjaga ketertiban dan kenyamanan lingkungan.

Berdasarkan pantauan awak media, kegiatan patroli ini dihadiri langsung oleh Camat Sape, anggota Koramil 1608-03/Sape, Danki Brimob Kompi 3 Batalyon C Pelopor Sape beserta jajaran, personel Polsek Sape, Satpol PP, serta para kepala desa, di antaranya Kepala Desa Naru, Naru Barat, Na’e, dan Rasabou. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan setempat.



Dalam operasi tersebut, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa petasan dan enam unit meriam kaleng. Seluruh barang bukti langsung dimusnahkan di lokasi guna mencegah penggunaan kembali.

Saat mendapati sejumlah warga membawa petasan, Babinsa langsung menanyakan sumber pembelian. Setelah dilakukan pemusnahan, petugas mendatangi kios-kios yang diketahui menjual petasan tersebut. Para penjual diberikan peringatan dan imbauan tegas agar tidak lagi memperjualbelikan barang yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Dengan adanya penertiban ini, situasi di wilayah Kecamatan Sape dilaporkan kembali kondusif dan tertib. Aparat mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghormati dan menjaga kesucian bulan Ramadan demi terciptanya suasana yang aman dan nyaman bagi semua pihak.

(Team.MDG.03)

Bela Pemkab Lobar di Medsos, Feryal MP: Akses Informasi Bukan Hadiah, Itu Kewajiban Negara


Lombok Barat, Media Dinamika Global.Id– Polemik dugaan diskriminasi wartawan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) rupanya belum mereda. Setelah sebelumnya ada pemberitaan soal pembatasan undangan dan akses liputan terhadap sejumlah media, kini muncul status media sosial yang justru membela Pemkab Lobar dan menyebut tidak ada diskriminasi karena adanya program “Jumat Wartawan”.

Status tersebut memantik respons dari kalangan organisasi pers. Ketua MIO NTB, Feryal MP, menegaskan bahwa substansi persoalan bukan pada ada atau tidaknya forum diskusi informal, melainkan pada prinsip kesetaraan akses dalam kegiatan resmi pemerintahan.

“Jangan digeser seolah-olah ini cuma soal bisa ngopi atau tidak. Ini soal hak konstitusional pers. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers jelas menjamin hak wartawan memperoleh informasi. Informasi publik itu bukan hadiah dari pejabat, melainkan kewajiban negara kepada rakyat,” tegas Feryal.

Menurutnya, jika memang semua media memiliki akses yang sama, maka tidak mungkin muncul keluhan dari berbagai organisasi wartawan. Ia menilai persoalan ini harus dijawab secara sistemik, bukan dengan narasi pembelaan di media sosial.

“Kalau ada media yang sudah bertahun-tahun meliput Pemkab, lalu tiba-tiba tidak lagi mendapat undangan agenda resmi, atau akses wawancaranya dipersulit, itu bukan persepsi. Itu fakta yang perlu dijelaskan secara terbuka,” ujarnya.

Feryal juga menekankan bahwa prinsip keterbukaan informasi publik telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pemerintah daerah, kata dia, tidak boleh memilah akses berdasarkan kedekatan, afiliasi, atau sikap kritis media.

“Transparansi tidak boleh selektif. Pemerintah tidak boleh memilih media yang dianggap ramah, lalu menutup ruang bagi yang kritis. Pers punya fungsi kontrol sosial. Kalau akses dibatasi, itu preseden buruk bagi demokrasi lokal,” katanya.

Ia mengajak semua pihak untuk tidak membelokkan isu menjadi konflik personal di media sosial seperti status di Facebook yang beredar. 

Menurutnya, yang diperjuangkan adalah sistem yang adil dan setara bagi seluruh media yang memenuhi standar jurnalistik.

“Kita ini bukan minta perlakuan khusus. Kita minta perlakuan yang sama. Kalau memang tidak ada diskriminasi, mari duduk bersama, buka data undangan kegiatan resmi, dan buat mekanisme yang transparan. Selesai,” tegas Feryal.

Polemik ini dinilai penting untuk segera diselesaikan agar tidak merusak iklim jurnalisme di Lombok Barat. Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya relasi pemerintah dan media, melainkan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang utuh dan tanpa filter.

“Pers bukan lawan pemerintah. Tapi pers juga bukan alat pemerintah. Demokrasi sehat lahir dari keterbukaan yang adil, bukan dari akses yang disaring,” tutup Feryal MP.

Redaksi ||