Media Dinamika Global

Sabtu, 27 Desember 2025

Mahasiswa KIP STIT Konsisten Prioritaskan Pengolahan Sampah Plastik


Kota Bima, Media Dinamika Global.id. — Selasa (04/11/2025), mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima terus menunjukkan konsistensinya dalam memprioritaskan pengolahan sampah plastik sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya peningkatan ekonomi kreatif. 

Melalui kegiatan daur ulang yang rutin dilakukan, para mahasiswa berhasil mengolah limbah plastik seperti botol dan gelas bekas menjadi serbuk tekstil, yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sofa, bantal, sapu lantai, serta berbagai produk rumah tangga bernilai jual lainnya.

Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Ratih Damayanti Putri, mahasiswa KIP sekaligus Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Laskar Bima Craft (LBC) STIT Sunan Giri Bima. LBC menjadi wadah pengembangan keterampilan mahasiswa dalam berinovasi, berkarya, dan mengasah jiwa kewirausahaan berbasis lingkungan.

Menurut Ratih, pengolahan sampah plastik menjadi prioritas karena selain membantu mengurangi timbunan sampah di Kota Bima, kegiatan ini juga mendukung Program “Bisa” (Bersih, Indah, Sehat, dan Asri) yang digagas oleh Pemerintah Kota Bima di bawah kepemimpinan H. Muhammad Lutfi, SE dan H. Fery Sofyan, SH.

“Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa juga bisa berperan aktif menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sampah plastik,” ungkap Ratih.

Melalui konsistensi kegiatan ini, mahasiswa KIP STIT Sunan Giri Bima berharap dapat menjadi pelopor gerakan lingkungan bersih dan produktif menuju Kota Bima yang lebih Bersih, Indah, Sehat, dan Asri.(Sekjend MDG)

STIT Sunan Giri Bima Gelar Focus Group Discussion(FGD) Persepsi Jelang Pelaksanaan Lanjutan Kuliah Pemikiran Seri Ke-23 tahun 2025


Kota Bima, Media Dinamika Global.id. — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima bekerja sama dengan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan serta Indonesian Universities Consortium on Social Religious Studies menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis (27/11/2025), sebagai langkah memperkuat penyamaan persepsi jelang pelaksanaan lanjutan Kuliah Pemikiran Seri ke-23.

Kegiatan FGD yang digelar pada pukul 20.00 WITA ini menghadirkan Prof. Dr. Peter John Wanner dari Tohoku University, yang juga merupakan Japan BOLT Founding President, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Prof. Wanner menekankan pentingnya perguruan tinggi untuk terus memperluas jejaring kolaborasi, baik di bidang penelitian maupun pengabdian masyarakat, sebagai wujud penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Dr. Ismail Suardi Wekke, Ph.D, selaku Direktur Indonesian Universities Consortium on Social Religious Studies sekaligus Ketua IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, yang bertindak sebagai moderator. Ia menyampaikan bahwa keberlanjutan Kuliah Pemikiran hingga seri ke-22 dan akan berlanjut pada seri ke-23 merupakan bukti nyata semangat akademik antarperguruan tinggi dalam membangun ruang kajian yang produktif, kolaboratif, dan berkesinambungan..

Ketua STIT Sunan Giri Bima, Irwan Supriadin J., M.Sos.I, dalam sambutannya menegaskan bahwa kuliah pemikiran harus terus dikembangkan sebagai wadah berbagi gagasan, konsep, dan refleksi ilmiah. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya memperkaya wawasan sivitas akademika, tetapi juga memberikan kontribusi strategis bagi perkembangan pendidikan tinggi dan pengabdian kepada umat serta bangsa.

FGD ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa dari STIT Sunan Giri Bima serta IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, yang aktif terlibat dalam diskusi dan pertukaran pemikiran demi mematangkan agenda akademik kolaboratif di masa mendatang.(Sekjend MDG)

STIT Sunan Giri Bima Gelar Workshop PKM Berbasis Riset 2025 Untuk Penguatan Kapasitas Dosen


Kota Bima, Media Dinamika Global.id. – Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima menyelenggarakan Workshop Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Riset dengan tema “Mewujudkan Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset” pada Senin (1/12/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 12.30 Wita hingga selesai ini bertujuan memperkuat kualitas pelaksanaan PkM melalui pendekatan ilmiah yang terstruktur.

Workshop ini diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menyusun proposal PkM berbasis riset, melaksanakan program pengabdian yang selaras dengan temuan penelitian, serta menghasilkan luaran publikasi ilmiah dan laporan pertanggungjawaban yang memenuhi standar mutu perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Ketua STIT Sunan Giri Bima, Irwan Supriadin J, M.Sos.I., menegaskan bahwa PkM merupakan kewajiban dosen sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, workshop ini menjadi sangat penting untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan para dosen, khususnya dalam pelaksanaan PkM berbasis riset.

Workshop ini menghadirkan Kepala P3M STIT Sunan Giri Bima, Junaidin, M.Pd., sebagai narasumber. Dalam paparannya, beliau menjelaskan beberapa tahapan utama dalam pelaksanaan PkM, meliputi: penentuan tema, penetapan lokasi, identifikasi masalah, perencanaan kegiatan, metodologi pelaksanaan, serta dokumentasi dan publikasi hasil kegiatan.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan STIT Sunan Giri Bima, ketua unit-unit lembaga (P2M, P3M, BAAK, dan lainnya), serta seluruh dosen STIT Sunan Giri Bima. Acara berlangsung dengan lancar, produktif, dan memberikan pemahaman komprehensif bagi para peserta tentang penerapan PkM berbasis riset.(Sekjend MDG)

Pendidikan Ala Istana : Kuliah Umum STIT Sunan Giri Bima Hadirkan Ketua Samparaja Bima


Kota Bima, Media Dinamika Global.id. – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Sultan Salahuddin dan Pendidikan Islam Ala Istana” pada Rabu, (17/12/2025). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari program akademik rutin perguruan tinggi guna memperkaya wawasan keilmuan mahasiswa, khususnya dalam kajian sejarah dan pendidikan Islam lokal.

Kuliah umum tersebut menghadirkan Kepala Museum Samparaja Bima sekaligus akademisi Pulau Sumbawa, Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandiyara, S.E., M.Hum., sebagai narasumber utama.

Sebelum penyampaian materi inti, narasumber menayangkan film dokumenter yang mengisahkan perjalanan hidup Sultan Muhammad Salahuddin, mulai dari masa kepemimpinannya hingga penetapannya sebagai Pahlawan Nasional. Dalam pemaparannya, Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandiyara menjelaskan bahwa Sultan Muhammad Salahuddin memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

“Pada masa kepemimpinannya, Sultan Muhammad Salahuddin menggagas pendirian sekolah rakyat di hampir setiap desa di wilayah Bima. Selain itu, beliau secara rutin mengirim putra-putri terbaik Bima untuk menuntut ilmu di berbagai pesantren besar, seperti Pondok Pesantren Tebuireng,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, para pelajar tersebut melanjutkan studi ke pusat-pusat keilmuan Islam dunia.

“Sebagian dari mereka kemudian dikirim untuk melanjutkan pendidikan ke Makkah, Madinah, bahkan hingga India. Kebijakan ini menunjukkan visi Sultan Muhammad Salahuddin dalam membangun sumber daya manusia Bima yang unggul dan berlandaskan nilai-nilai Islam,” ungkapnya.

Kegiatan kuliah umum ini berlangsung mulai pukul 10.00 WITA hingga selesai dan dimoderatori oleh dosen muda STIT Sunan Giri Bima, Siti Nurbaya, M.Pd. Diskusi berlangsung interaktif, ditandai dengan sesi tanya jawab yang dinamis antara narasumber dan peserta, terutama terkait kontribusi nyata Sultan Muhammad Salahuddin dalam memajukan pendidikan Islam di Tanah Bima.

Melalui kegiatan ini, STIT Sunan Giri Bima berharap mahasiswa tidak hanya memahami sejarah lokal secara akademik, tetapi juga mampu meneladani nilai-nilai kepemimpinan, visi pendidikan, dan semangat keislaman Sultan Muhammad Salahuddin dalam konteks pendidikan masa kini.(Sekjend MDG)

STIT Sunan Giri Bima Gelar Asesmen Lapangan Prodi PAI Tahun 2025


Kota Bima, Media Dinamika Global.id. – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima menyelenggarakan kegiatan Asesmen Lapangan (AL) pada Jumat–Sabtu, 14–15 November 2025. Pembukaan kegiatan berlangsung pada Jumat pukul 08.00 WITA di ruang Smart Classroom dengan suasana penuh antusias dan kesiapan dari seluruh unsur lembaga.

Asesmen Lapangan ini menghadirkan asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri (LAMDIK) untuk Program Studi Pendidikan, yaitu Prof. Dr. H. Mashudi, M.Pd. (Asesor 1) dan Dr. Khalimi, M.Ag. (Asesor 2). Kedua asesor tersebut melakukan peninjauan komprehensif terhadap dokumen, sarana prasarana, proses pembelajaran, serta mutu penyelenggaraan akademik pada Prodi PAI.

Ketua STIT Sunan Giri Bima, Irwan Supriadin J., M.Sos.I., dalam sambutannya menyampaikan harapan agar pelaksanaan asesmen ini berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik bagi peningkatan mutu prodi. Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen kampus dalam menjaga kualitas pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman dan keilmuan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh seluruh unsur pimpinan kampus, mulai dari para Wakil Ketua I–III, pimpinan Prodi PAI dan PGMI, unit P2M dan P3M, para dosen, hingga tenaga kependidikan. Kehadiran lengkap seluruh unsur lembaga menjadi bentuk solidaritas dan dukungan penuh bagi keberhasilan proses akreditasi Prodi PAI.(Sekjend MDG)

Bangunan TK-PAUD Di Soromandi Tak Layak, Pemerintah Tutup Mata Dan Terkesan Apatis


Soromandi. Media Dinamika Global.Id.- Bangunan TK-PAUD Di Soromandi Tak Layak, Pemerintah Tutup Mata Dan Terkesan Apatis. Padahal dalam Undang-undang Nomor 25 dan 20 terang Sistem Pendidikan sudah jelas menyebutkan Kesetaraan Pendidikan mulai dari Pendidikan Non Formal, Pendidikan Formal bahkan sampai Kesejahteraan Guru dan Dosen. Namun ini sepertinya diabaikan oleh Pemerintah Daerah yang saat ini banyak manufer dengan Lebih pada Nuansa Politis ketimbang Profesional dalam menjalankan Tugasnya. Ahad, 28 Desember 2025

Di Penghujung Tahun 2025 ini, banyak sekali Catatan Buruk bagi Satuan Pendidikan umumnya di Kabupaten Bima dan Khususnya di Kecamatan Soromandi, terbukti saat ini Banyak sekali sekolah yang memprihatinkan, seperti Bangunan yang tidak layak pakai hingga belajar di Bawah Pohon pun jadi atensi bagi para Guru dan Murid yang ada seluruh TK-PAUD di Kecamatan Soromandi belakangan ini.

Pemicunya adalah Banyak sekali Gedung yang Lapuk dimakan Usia, belum lagi tidak ada Perhatian serius dari Pemerintah dan lebih miris lagi adalah Pemerintah memang tidak memperdulikan alias Apatis terhadap pembangunan Sekolah sebagai sarana penunjang untuk mencerdaskan anak Bangsa sebagaimana diamanatkan Undang-undang Dasar 1945.

Hal ini tentunya Memiliki Dasar yang jelas, bahwa Pemerintah hanya ingin di layani oleh Satuan Pendidikan tetapi tidak mau berbuat untuk pendidikan. Contohnya saja ada Beberapa Sekolah TK-PAUD di Desa Kananta Kecamatan Soromandi, selain Gedungnya yang Lapuk termakan Usia juga Tempat belajar pun tidak digunakan di dalam Ruangan tetapi di Bawah Pohon pun jadi. 

Demikian disampaikan oleh Salah seorang Warga setempat Hafid Musa, S.Pd.SE. SH. MH saat melihat beberapa Sekolah yang sangat memprihatinkan itu, adapun Sekolah yang paling parah adalah Sekolah TK Al-Ikhlas Wonto dan TK Wadupaa Desa Kananta Kecamatan Soromandi. TK ini belum pernah mendapatkan Anggaran dari Pemerintah Kabupaten Bima 

Bang Hafid MS juga menyesalkan Sikap Pemerintah saat ini adalah tidak memperdulikan Status Sekolah dari Sekolah Swasta ke Sekolah Negeri padahal Wilayah Desa Kananta adalah Iconnya Kecamatan Soromandi. Seharusnya Sekolah di Desa Kananta sebagai Jantungnya Kecamatan Soromandi yang harus di Dahulukan ketimbang yang lain.

"Ya, Pemerintah sepertinya Tutup mata terhadap Sekolah Swasta dan tidak memperdulikan sama sekali terhadap Pembangunan padahal semua sama di mata Hukum, dan sama juga regulasinya, tetapi kenyataannya adalah sama tidak perduli alias Apatis."

Yang lebih parah lagi ketika ada Urusan Pemerintah seperti Rapat, Sosialisasi dan lain dari Pemerintah tetap di undang, malah yang lebih banyak hadir dalam kegiatan itu yakni sekolah swasta dan termarjinalkan. Ini sesuatu yang tidak adil yang dipertontonkan oleh Pemerintah saat ini. Ungkapnya Kesal.(Team).

Pra-MIBA STIT Sunan Giri Bima Budaya Bima dalam Perspektif Sastra dan Humaniora: Bersama La Ndolo Conary


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.// Pada kesempatan Pra-MIBA STIT Bima, Bang La Ndolo menyuguhkan pemaparan mengenai budaya Bima dalam perspektif sastra dan humaniora. Dalam pemaparannya, beliau terlebih dahulu menjelaskan dua dimensi awal sastra. Menurutnya, sastra tumbuh dan berkembang seiring dengan kehidupan manusia. Sekitar tahun 5000 SM, manusia mulai mengenal tulisan, yang sekaligus menandai lahirnya aksara. Selanjutnya, sekitar tahun 1500 M, manusia diperkenalkan dengan huruf Latin yang berkembang dalam peradaban Yunani dan kemudian menyebar luas ke berbagai belahan dunia.

Dalam konteks lokal, masyarakat Bima telah lama hidup berdampingan dengan sastra, terutama dalam bentuk tradisi lisan seperti kapatu mbojo, dongeng, dan cerita-cerita rakyat. Sastra tidak hanya lahir dari masyarakat Bima sendiri, tetapi juga direkam oleh orang-orang luar yang menceritakan berbagai peristiwa kebudayaan Bima. La Ndolo menuturkan bahwa dua tahun silam, dirinya didatangi oleh profesor dari UII dan BRIN yang secara khusus datang untuk menggali kapatu mbojo dan puisi-puisi dalam bahasa Bima. Hal ini menunjukkan bahwa sastra Bima memiliki nilai penting dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakatnya.

Secara historis, sastra tulis di Bima mulai berkembang pada abad ke-17 atau sekitar tahun 1600-an, seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di wilayah Bima. Sejak saat itu, sastra menjadi medium ekspresi budaya dan sarana penyebaran nilai-nilai keagamaan dan sosial.

Dari sudut pandang humaniora, La Ndolo menyoroti perubahan perilaku masyarakat Bima, khususnya di kalangan pemuda dan pemudi. Ia menilai bahwa generasi muda saat ini lebih dominan mengonsumsi budaya yang kurang mencerminkan nilai kesantunan, seperti penggunaan kata-kata kasar, misalnya "anjir", serta kecenderungan mengikuti tren tanpa refleksi kritis. Padahal, masyarakat Bima pada masa lalu dikenal dengan tutur kata yang santun dan beretika. Namun, di era digital, nilai-nilai tersebut perlahan diabaikan dan ditinggalkan.

Pada kesempatan Pra-MIBA STIT Bima, Bang La Ndolo menyuguhkan pemaparan mengenai budaya Bima dalam perspektif sastra dan humaniora. Dalam pemaparannya, beliau terlebih dahulu menjelaskan dua dimensi awal sastra. Menurutnya, sastra tumbuh dan berkembang seiring dengan kehidupan manusia. Sekitar tahun 5000 SM, manusia mulai mengenal tulisan, yang sekaligus menandai lahirnya aksara. Selanjutnya, sekitar tahun 1500 M, manusia diperkenalkan dengan huruf Latin yang berkembang dalam peradaban Yunani dan kemudian menyebar luas ke berbagai belahan dunia.

Dalam konteks lokal, masyarakat Bima telah lama hidup berdampingan dengan sastra, terutama dalam bentuk tradisi lisan seperti kapatu mbojo, dongeng, dan cerita-cerita rakyat. Sastra tidak hanya lahir dari masyarakat Bima sendiri, tetapi juga direkam oleh orang-orang luar yang menceritakan berbagai peristiwa kebudayaan Bima. La Ndolo menuturkan bahwa dua tahun silam, dirinya didatangi oleh profesor dari UII dan BRIN yang secara khusus datang untuk menggali kapatu mbojo dan puisi-puisi dalam bahasa Bima. Hal ini menunjukkan bahwa sastra Bima memiliki nilai penting dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakatnya.

Secara historis, sastra tulis di Bima mulai berkembang pada abad ke-17 atau sekitar tahun 1600-an, seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di wilayah Bima. Sejak saat itu, sastra menjadi medium ekspresi budaya dan sarana penyebaran nilai-nilai keagamaan dan sosial.

Dari sudut pandang humaniora, La Ndolo menyoroti perubahan perilaku masyarakat Bima, khususnya di kalangan pemuda dan pemudi. Ia menilai bahwa generasi muda saat ini lebih dominan mengonsumsi budaya yang kurang mencerminkan nilai kesantunan, seperti penggunaan kata-kata kasar, misalnya "anjir", serta kecenderungan mengikuti tren tanpa refleksi kritis. Padahal, masyarakat Bima pada masa lalu dikenal dengan tutur kata yang santun dan beretika. Namun, di era digital, nilai-nilai tersebut perlahan diabaikan dan ditinggalkan.

Dalam pernyataannya, La Ndolo menegaskan bahwa perubahan zaman merupakan keniscayaan, tetapi akar budaya, terutama kesantunan dalam bertutur harus tetap lestari dan hidup dalam ruang dan waktu apa pun. Ia kemudian mengaitkan hal ini dengan falsafah hidup masyarakat Bima, yakni maja labo dahu. Menurutnya, maja labo dahu selain dari pada relasi vertikal antara manusia dan Tuhan, ia juga sebagai laku hidup sosial di tengah masyarakat.

Ungkapan seperti maja kai ba ade eda mpoa dou ma karawi (malu rasanya melihat orang bekerja sementara kita tidak ikut bekerja) dan dahu kai weha ntau dou (takut mengambil milik orang lain) mencerminkan nilai moral yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bima. Dari falsafah inilah lahir budaya karawi kaboju (gotong royong), cempe rima (saling membantu), dan kasama weki (kebersamaan), yang dahulu tumbuh dan mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Bima.

Dalam praktik cempe rima, masyarakat Bima pada masa lalu tidak memerlukan uang untuk menggaji tenaga kerja. Sistem yang digunakan adalah saling tukar tenaga, yang dikenal dengan ungkapan bantu kali cempe angi (saling membantu sesama). Setelah satu pekerjaan di ladang selesai, mereka berpindah ke ladang orang lain yang sebelumnya ikut terlibat. Namun, seiring perkembangan zaman dan perubahan persepsi masyarakat, sistem ini mengalami transformasi. Upah tenaga yang dahulu berbasis solidaritas kini bergeser menjadi upah berbasis uang.

Lebih lanjut, La Ndolo menjelaskan bahwa masyarakat Bima sangat mengedepankan nilai kemanusiaan. Tradisi berbagi seperti wara si uta mbeca ma ncewi na bage di iwa ra weki na (jika ada kelebihan sayur, maka dibagikan kepada saudara dan tetangga), atau kebiasaan mengantar lauk-pauk seperti daging ayam, daging rusa, atau daging sapi kepada tetangga, merupakan bentuk nyata solidaritas sosial. Budaya ini perlahan terkikis oleh arus zaman, meskipun sebagian masyarakat Bima masih berupaya mempertahankannya.

Penulis menambahkan bahwa perkembangan dunia digital dan tren media sosial, termasuk fenomena FB-Pro, telah membawa sebagian masyarakat Bima pada perilaku yang cenderung amoral. Informasi hoaks menjadi konsumsi sehari-hari, fitnah antarsesama marak di berbagai akun media sosial, ujaran kebencian dan kata-kata kasar menjadi tontonan yang lumrah, bahkan telah dikonsumsi oleh anak-anak. Kondisi ini menunjukkan adanya degradasi nilai dalam ruang sosial digital.

Maka, refleksi terhadap masa lalu menjadi penting, sebab masa lalu adalah cermin untuk menata masa depan yang lebih baik. Tidak semua tren zaman membawa dampak positif. Oleh karena itu, sikap selektif dalam menyerap perubahan menjadi keharusan, mengambil nilai-nilai yang baik dan meninggalkan yang merusak. Hidup bukan semata tentang "apa kata orang", melainkan tentang "apa kata hati" yang berlandaskan nilai, etika, dan kebudayaan.(Sekjend MDG)

Serma Rizaludin Pimpin Kegiatan Patroli Skala Besar, Ajak Warga Sama-sama Menciptakan Keamanan


Kota Bima. Media Dinamika Global.id. Anggota Koramil 1608-01/Rasanae melaksanakan kegiatan Patroli Batas Kota dan Siskamling di wilayah teritorial yang di pimpin oleh Serma Rizaludin Babinsa Kelurahan Penaraga yang bertempat di batas Kota Kecamatan Rasbar sampai dengan Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba Kota Bima. Sabtu, (27/12/25).

Adapun personil yang terlibat siskamling sebagai berikut, Anggota Koramil 1608-01/Rasanae 6 orang, Ketua RT. 10 RW. 04 Kelurahan Penaraga, Ketua Pemuda, Anggota PPM Pemuda Panca Marga 2 Orang.

Sasaran Siskamling kali ini adalah, di sekitar jalan baru Pasar Amahami dan Taman Amahami, serta Lapangan Rabu, dengan rangkaian jadwal kegiatan sebagai berikut, Pukul 20.30 Wita Personil melaksanakan apel pengecekan di Koramil 1608-01/Rasanae

Setelah melaksanakan Apel Pengecekan, sekitar Pukul 21.15 Wita, personil siskamling tiba di Kecamatan Rasanae Barat dan Kecamatan Raba, di titik rawan tempat berkumpulnya anak-anak muda, dan di pos Jaga RT. 10 RW. 04 Kelurahan Penaraga langsung memberikan himbauan pada warga.

Dalam himbauannya dijelaskan bahwa, pada malam hari ini kita Babinsa dan RT, beserta Pemuda Pancasila Marga melaksanakan Patroli Siskamling dalam rangka sama-sama menciptakan keamanan, ujarnya.


Lanjutnya, maka dalam hal ini kami sangat berharap agar setiap warga bisa menghindari hal-hal yang menimbulkan dampak yang tidak baik khususnya di lingkungan Kelurahan Penaraga, dan yang lebih penting lagi adalah jangan menkomsumsi minuman keras dan Narkotika.

Selain itu juga, apabila terjadi permasalahan agar dilaporkan ke Babinsa dan Ketua RT sehingga permasalahan dapat di selesaikan dan selalu menjaga Kamtibmas yang Kondusif tentunya.

Setelah melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan sekitar Pukul 21.35 Wita, Patroli Siskamling selesai dan dilaksanakan dalam keadaan aman tertib dan lancar. (Koramil-01/Tim MDG)

Aparat Gabungan Menangkap Tiga Pemburu Rusa di Pulau Komodo


Manggarai Barat, Media Dinamika Global.id.// Aparat gabungan menangkap tiga pemburu rusa inisial AB, AD, dan Y di Pulau Komodo, Taman Nasional (TN) Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (14/12/2025) dini hari. Namun, lima pelaku lain berhasil kabur dengan menceburkan diri ke laut.

"Tim gabungan berhasil menggagalkan upaya kelompok pemburu liar yang diduga kerap memburu satwa dilindungi, khususnya rusa, di kawasan TN Komodo," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkumhut) Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Dwi Januanto Nugroho, dalam konferensi pers di Labuan Bajo, Jumat (19/12/2025).

Dwi mengungkapkan penangkapan pemburu rusa itu melibatkan Kapal Pengawas (KP) Badak Laut 01 dan Kapal G1 Komodo. Ia pun mengungkap detik-detik petugas gabungan yang terlibat baku tembak dengan para pemburu.

Menurut Dwi, tim gabungan awalnya menemukan kapal kayu berukuran 10x3,5 meter di sekitar Loh Serikaya, Pulau Komodo sekitar pukul 02.30 Wita. Kapal itu diduga membawa pemburu liar dan rusa hasil buruan.

Petugas kemudian melakukan penyergapan terhadap kapal itu. Namun, kapal berupaya kabur ke luar kawasan TN Komodo. Tim gabungan lantas memberikan peringatan lisan melalui pengeras suara Kapal G1 Komodo, tetapi tak diindahkan.

Personel Polri selanjutnya melepaskan tiga kali tembakan peringatan ke udara sekitar pukul 02.33 Wita. Bukannya berhenti, para pelaku justru membalas dengan tiga kali tembakan ke arah Kapal G1 Komodo.

Selanjutnya, terjadi kejar-kejaran kapal pelaku dengan tim gabungan. Kejar mengejar itu terjadi dalam kondisi gelap dan arus laut yang dinamis. Ancaman tembakan dari pelaku juga terus mengarah ke petugas.

Kontak senjata kemudian terjadi di hingga ke luar kawasan TN Komodo, tepatnya perairan Selat Sape, Kabupaten Bima, sekitar pukul 03.45 Wita. "Dalam situasi tersebut, kelompok pemburu tetap melawan dan menembaki tim gabungan," terang Dwi.

Tim gabungan akhirnya melakukan penenggelaman kapal karena pelaku terus melakukan perlawanan bersenjata kepada petugas. Kapal pemburu itu akhirnya tenggelam di perairan lokasi baku tembak tersebut. Tiga pemburu akhirnya ditangkap dan lima lain kabur dengan melompat ke laut.

Baru pada pagi hari tim gabungan menyelam di lokasi baku tembak untuk mencari barang bukti tambahan. Penyelaman itu berbuah hasil. Petugas menemukan 10 selongsong peluru, 8 peluru aktif kaliber 5.56 mm, 1 ekor rusa, dan satu pucuk senjata api rakitan lengkap dengan magazine yang masih terpasang.

Petugas juga menemukan pisau, senter kepala (headlamp), dan smartphone. Kapal kayu milik pemburu rusa itu juga diamankan petugas untuk kepentingan penyelidikan.

Kapal milik tim gabungan juga kena tembak oleh senjata api para pemburu rusa. Kapal itu mengalami kerusakan di bagian lampu sirine, lampu sorot, dan badan kapal.(Tim MDG)

Kapolres Bima Kota Pimpin Sertijab Lima PJU, Tekankan Integritas dan Kesiapsiagaan Nataru


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.// Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro, S.I.K., M.Si. memimpin langsung upacara pisah sambut dan serah terima jabatan (Sertijab) lima Pejabat Utama (PJU) Polres Bima Kota, yang berlangsung pada Sabtu (27/12/2025) pukul 09.00 Wita bertempat di Aula Rupatama Polres Bima Kota.

Upacara tersebut meliputi pisah sambut dan Sertijab Kasat Samapta, Kapolsek Rasana’e Timur, Kapolsek Kawasan Pelabuhan Laut Bima, serta pelantikan Kasat Intelkam Polres Bima Kota, Dalam kegiatan tersebut, Kapolres Bima Kota bertindak selaku Inspektur Upacara.

Upacara diikuti oleh seluruh Pejabat Utama Polres Bima Kota serta Bhayangkari Polres Bima Kota.

Dalam sambutannya, Kapolres Bima Kota menyampaikan bahwa mutasi jabatan di lingkungan Polri merupakan hal yang wajar dan rutin dilakukan sebagai bagian dari kebutuhan organisasi dan pembinaan karier personel.

Mutasi jabatan merupakan bentuk penyegaran, kaderisasi, serta optimalisasi jabatan perwira di lingkungan Polri. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja organisasi agar semakin profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Kapolres Bima Kota juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pejabat lama atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian yang telah diberikan selama menjabat di Polres Bima Kota.

“Saya secara pribadi dan selaku pimpinan Polres Bima Kota mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian dan pelaksanaan tugas yang telah dilaksanakan dengan baik,” ucapnya.

Kepada pejabat yang mendapatkan amanah di jabatan baru, Kapolres berharap agar dapat menunjukkan kinerja yang lebih baik serta mampu mempertahankan dan meningkatkan capaian yang telah dirintis oleh pejabat sebelumnya melalui inovasi dan kreativitas yang bersifat membangun.

Dengan semangat Polisi BAIK, Kapolres Bima Kota berharap seluruh pejabat dan personel mampu menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif, baik di lingkungan internal Polres maupun di tengah masyarakat.(Sekjend MDG)