Bandung, Media Dinamika Global.id.-- Jenderal bintang tiga ini dikenal sebagai salah satu perwira TNI paling vokal di era Reformasi. Berani membongkar skandal korupsi di tubuh kesatuannya sendiri, karier cemerlangnya justru berakhir mendadak dan meninggalkan banyak tanya.
*Awal Mula dan Jejak Intelektual*
Agus Wirahadikusumah lahir di Bandung, 17 Oktober 1951. Fondasi kepemimpinannya ditempa sejak ia lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, AKABRI, pada tahun 1973.
Tak berhenti di pendidikan militer, ia juga dikenal sebagai perwira yang cerdas dan berwawasan luas. Ia menempuh studi khusus di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard, Amerika Serikat. Bekal akademik ini membentuk cara pandangnya yang berbeda dari kebanyakan perwira saat itu.
Karier awalnya diwarnai dedikasi tinggi di bidang perencanaan. Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Direktorat Perencanaan di Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Mabes ABRI.
*Menjadi Suara Reformasi di Tubuh TNI*
Titik balik dalam hidupnya terjadi pasca mundurnya Presiden Soeharto pada 1998. Di tengah gejolak perubahan, Agus tampil berani dan lantang menyerukan agar militer Indonesia segera menghentikan keterlibatannya dalam politik praktis.
Gagasannya yang radikal untuk membangun militer yang bersih, profesional, dan tidak berpolitik membuatnya sangat populer di kalangan prajurit tingkat bawah. Namun di sisi lain, sikapnya ini mulai menciptakan musuh di kalangan elite atas TNI yang merasa terancam.
*Puncak Karier: Panglima Kostrad ke-25*
Puncak karier komandannya terjadi pada tahun 2000. Presiden Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, secara khusus menunjuknya untuk memegang tongkat komando sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Panglima Kostrad ke-25.
Selama menjabat, ia bergerak cepat mendukung kebijakan reformasi presiden. Langkah paling beraninya adalah membersihkan institusi yang dipimpinnya dari praktik-praktik korup. Ia membongkar skandal korupsi senilai Rp189 miliar di Yayasan Dharma Putra Kostrad.
Keberaniannya itu harus dibayar mahal. Hanya beberapa bulan setelah menjabat, ia diberhentikan dari posisinya sebagai Panglima Kostrad.
Meski begitu, integritasnya tidak diragukan. Reputasinya yang bersih bahkan membuat jabatan Panglima TNI sempat ditawarkan kepadanya pada 23 Juli 2001, menurut penuturan sang paman.
*Kontribusi di Luar Medan Tempur*
Agus Wirahadikusumah bukan hanya seorang militer. Ia juga punya andil besar bagi dunia olahraga Indonesia. Ia sukses menjadi manajer Tim Piala Thomas Indonesia yang berhasil membawa pulang piala bergengsi tersebut pada tahun 1998.
Atas dedikasi luar biasanya di bidang non-militer itu, ia dianugerahi Medali Satyalancana Kebudayaan oleh Presiden B.J. Habibie. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pengabdiannya melampaui tugas sebagai prajurit.
*Kematian Mendadak yang Penuh Teka-teki*
Langkah perjuangan sang jenderal reformis terhenti secara mendadak. Ia dinyatakan meninggal dunia pada 30 Agustus 2001 di usia 49 tahun, saat dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, RSPP Jakarta.
Kepergiannya yang sangat cepat, dan tanpa proses otopsi, memicu spekulasi luas di masyarakat. Banyak yang menduga sang jenderal sengaja dibunuh karena sikap vokalnya dalam membongkar skandal korupsi besar yang menyeret nama-nama kuat di internal.
Kini, Letjen TNI Agus Wirahadikusumah beristirahat dengan tenang di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata. Ia meninggalkan warisan pemikiran yang hingga hari ini masih relevan: bahwa kejujuran dan profesionalisme adalah harga mati bagi setiap prajurit yang mengabdi pada Ibu Pertiwi.(Sekjend MDG)
