Bima Media Dinamika Global.id.-- Di Dusun Nggeru Kopa, Desa Palama, Kecamatan Donggo, keberagaman bukanlah realitas yang harus ditakuti, melainkan anugerah yang dirawat melalui kesadaran kolektif masyarakat. Tiga keyakinan tumbuh dan hidup berdampingan dalam satu ruang sosial yang sama, tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh. Di tengah keterbatasan geografis, masyarakat justru menunjukkan bahwa kedekatan antarmanusia tidak ditentukan oleh kesamaan identitas, melainkan oleh kesediaan untuk saling menghormati, saling membantu, dan memelihara rasa persaudaraan.
Kerukunan di Dusun Nggeru Kopa tidak berhenti pada simbol atau seremonial semata. Nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari, ketika masyarakat bergotong royong, menghadiri kegiatan sosial, serta saling berbagi peran tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan. Kehidupan sosial yang demikian menunjukkan bahwa toleransi bukanlah sikap pasif untuk sekadar menerima keberagaman, melainkan tindakan aktif untuk menjaga ruang bersama agar tetap damai, adil, dan bermartabat.
Melalui kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Bima Posko 23 Desa Palama, nilai-nilai tersebut semakin diperteguh sebagai bagian dari semangat pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu pengetahuan, tetapi juga momentum untuk belajar dari kearifan lokal yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Dusun Nggeru Kopa.
Humas KKN Posko 23 Desa Palama Universitas Muhammadiyah Bima, Alif Nurahmansyah, menuturkan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun jembatan antara dunia akademik dan kehidupan masyarakat. Menurutnya, kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga belajar dari nilai-nilai lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Pengabdian menemukan makna sejatinya ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan empati, dialog, dan penghormatan terhadap kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia menambahkan bahwa di tengah keberagaman pandangan dan keyakinan, perbedaan bukanlah batas yang memisahkan, melainkan jalan yang mempertemukan manusia dalam semangat solidaritas. Solidaritas antarumat beragama tidak lahir karena semua memiliki keyakinan yang sama, tetapi karena adanya kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang setara untuk dihormati. Dari kesadaran itulah tumbuh kepercayaan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan yang harmonis.(Sekjend MDG)

