Pelantikan di Balik Skandal Jam Hantu - Media Dinamika Global

Minggu, 19 April 2026

Pelantikan di Balik Skandal Jam Hantu


Bima, Media Dinamika Global.id.-- Kita tidak bicara soal perasaan di sini, kita bicara soal Logic of Power. Kalau Anda pikir pelantikan tengah malam itu cuma kebetulan, Anda kurang minum kopi. Mari kita bedah pakai teori yang bikin para politisi itu gerah.

1. Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory)

Dalam teori ini, politisi itu dianggap sebagai homo economicus. Mereka tidak bergerak kalau tidak ada untungnya. Melantik pejabat di hari libur adalah pilihan rasional untuk meminimalisir "biaya transaksi". 

* Biaya Transaksi di sini bukan uang, tapi gangguan. 

* Kalau dilantik Senin pagi, biayanya mahal, ada risiko gugatan masuk lebih dulu, ada risiko ditelepon atasan dari pusat, atau risiko demonstrasi di gerbang kantor. 

* Maka, melantik di malam hari adalah cara paling murah untuk mengamankan posisi sebelum lawan sempat bangun tidur. Licin? Jelas.

2. Teori Political Capture (Pembajakan Kebijakan)

Ini yang paling berbahaya. Dalam kebijakan publik, ada istilah Regulatory Capture. Ini terjadi ketika jabatan publik (Eselon II) bukan lagi diisi berdasarkan kompetensi untuk melayani rakyat, tapi dikunci (captured) untuk melayani kepentingan kelompok tertentu.

* Kenapa buru-buru? Karena pejabat tersebut punya "tugas khusus". Mungkin untuk tanda tangan proyek yang sudah di depan mata, atau mengamankan aliran dana sebelum tutup buku. 

* Pelantikan ini bukan soal pelayanan publik, tapi soal pemasangan sekrup dalam mesin kekuasaan agar jalannya mulus tanpa interupsi.

3. Etika Deontologi vs Teleologi

Secara Teleologi (hasil akhir), mereka berdalih: "Yang penting jabatan terisi, pelayanan jalan." Tapi secara Deontologi (kewajiban moral), mereka cacat total. Pemimpin yang baik punya kewajiban moral untuk bertindak transparan. Saat Anda bersembunyi di balik kegelapan malam, Anda sedang menghancurkan Public Trust (kepercayaan publik). Dan tanpa kepercayaan, Anda bukan pemimpin, Anda cuma penguasa.

- "Jadi, buat kalian yang duduk di kursi empuk itu, jangan pakai dalih 'demi percepatan pembangunan'. Percepatan apa kalau dilakukan sembunyi-sembunyi? Itu namanya bukan percepatan, itu bypass aturan main!

- Mengutip teori politik klasik, kekuasaan itu cenderung korup. Tapi kalau kekuasaan itu sudah berani main di ruang gelap saat rakyat sedang bermimpi, itu tandanya korupsinya bukan cuma soal uang, tapi sudah sampai ke korupsi akal sehat. 

- Ingat, teori Social Contract dari Rousseau itu jelas: Anda memimpin karena mandat rakyat. Kalau mandat rakyat Anda pakai buat main petak umpet tengah malam, ya jangan salahkan kalau rakyat nanti memutus kontraknya secara paksa. Paham?"


Comments