Parado Bukan Tanah Kosong : Tambang Datang, Masa Depan Dipertaruhkan - Media Dinamika Global

Kamis, 05 Februari 2026

Parado Bukan Tanah Kosong : Tambang Datang, Masa Depan Dipertaruhkan


Parado, Bima, NTB.-Media Dinamika Global.Id.-

Kecamatan Parado bukan tanah kosong. Ia hidup, bernapas, dan menghidupi. Tanahnya memberi makan, airnya mengalirkan kehidupan, hutannya menjadi penyangga alam dan ruang harapan generasi berikutnya. Namun hari ini, semua itu terancam oleh satu nama yang selalu dibungkus janji manis yakni tambang.

Atas nama pembangunan dan investasi, Parado kembali diposisikan sebagai objek eksploitasi. Narasi yang kemudia berulang : lapangan kerja, peningkatan ekonomi, kesejahteraan masyarakat. Tapi sejarah di banyak daerah hanya membuktikan satu hal yang pahit. Pertambangan ini adalah skema transfer kekayaan dari ruang hidup rakyat ke kantong oligarki, meninggalkan ekosistem yang bangkrut bagi masyarakat lokal dan yang tinggal hanya kerusakan dan konflik. Tambang tidak datang sendirian, Ia membawa pembelahan sosial.  

Jangan lupakan peristiwa "Parado berdarah" pada tahun 2011 silam. Masyarakat diadu antara yang “pro” dan yang “kontra”, antara yang dijanjikan pekerjaan dan yang khawatir kehilangan tanah, air, dan masa depan. Konflik horizontal bukan kemungkinan, melainkan pola yang terus berulang dan hanya menyisakan trauma.

Lebih berbahaya lagi, proses ini berjalan tanpa keterbukaan. Partisipasi publik telah dikerdilkan menjadi sekedar sosialisasi searah, di mana suara warga hanya di anggap sebagai residu administratif untuk memuluskan izin lingkungan. Tidak ada persetujuan langsung oleh masyarakat yang sungguh-sungguh. Tidak ada jaminan bahwa suara warga Parado menjadi penentu, bukan sekadar formalitas. Ketika keputusan diambil di luar ruang hidup rakyat, maka tambang bukan pembangunan akan tetapi penjajahan gaya baru. 

Wilayah kecamatan Parado terdapat sawah, kebun, sungai, dan sumber air yang menopang kehidupan ribuan orang. Sekali rusak, tidak ada investasi yang mampu mengembalikannya. Reklamasi sering hanya menjadi janji laporan, bukan pemulihan nyata. Yang lebih menyakitkan, tambang sering hanya singgah. Ia mengeruk, mengangkut, lalu pergi. Dan Yang tertinggal adalah lubang di tanah, di alam, dan di kehidupan sosial masyarakat. Apakah Parado rela diwariskan sebagai wilayah bekas tambang kepada anak cucu?

Pembangunan sejati bukan tentang seberapa besar modal yang masuk, tetapi seberapa adil manfaat yang dirasakan. Parado tidak menolak masa depan. Parado menolak dirampas. Parado berhak menentukan arah hidupnya sendiri, tanpa paksaan, tanpa manipulasi, tanpa dikorbankan demi kepentingan segelintir pihak. Jika negara hadir untuk rakyat, maka suara Parado harus didengar. Jika pembangunan benar-benar untuk kesejahteraan, maka tambang yang mengancam ruang hidup masyarakat parado tidak layak dipaksakan.

Parado bukan wilayah korban. Parado bukan ladang eksploitasi. Parado adalah rumah. Dan rumah tidak untuk dijual atas nama janji. 

Oleh; Halimatus Saadiah

Comments


EmoticonEmoticon