Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Sebanyak 75 orang mahasiswa baru program Diploma dan Sarjana mengikuti kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) 2025 genap, tahun 2026 yang digelar di Aula rumah Dining Mpuda Kota Bima, Minggu 22 Februari 2026.
Selain pembekalan akademik, kegiatan ini juga Dihadiri oleh UT Mataram. Manajer : Irwan Ardiansyah, M. Kom, Direktur : Heriyanto, S.IP. MM, Ibu Sri Handayani SE MM ketua SALUT mutiara hati bima, serta dosen dosen pembimbing, mahasiswa mahasiswi OSMB, PKBJJ, dan dosen pengajar UT Mataram. Maupun Salut mutiara hati bima yang memberikan materi terkait bahaya bullying hingga pencegahan radikalisme di ruang digital.
Direktur Universitas Terbuka Mataram mengatakan OSMB dan PKBJJ merupakan agenda wajib bagi seluruh mahasiswa baru.
Menurutnya, sistem pembelajaran di UT Mataram berbeda dengan sekolah tatap muka pada umumnya.
“Selama ini mereka terbiasa dengan jadwal sekolah yang sudah ditentukan. Ketika masuk UT Mataram ini menjadi hal baru dan asing karena berbasis pembelajaran jarak jauh dan mandiri,” ujar pria yang akrab disapa Heriyanto, pada Awak Media ini saat di wawancara.
Ia menjelaskan, difokuskan pada OSMB untuk membangun pemahaman utuh mengenai sistem pembelajaran jarak jauh, sekaligus menyiapkan mental mahasiswa dalam menjalani studi.
Sementara diisi dengan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), agar mahasiswa memiliki kepercayaan diri, memahami strategi belajar efektif, serta mampu memanfaatkan layanan UT Mataram seperti tutorial online dan fasilitas pembelajaran lainnya.
“Kami berharap saat mereka praktik belajar mandiri nanti sudah tahu harus melakukan apa, sehingga tidak tersesat karena sudah diarahkan sejak awal,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan, Heriyanto menegaskan bahwa merupakan ancaman serius di lingkungan pendidikan.
Ia menjelaskan, bullying adalah tindakan jahat yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh pihak yang lebih kuat kepada yang lebih lemah, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis.
“Dampaknya tidak main-main, mulai dari korban merasa lemah dan tidak berharga
Isolasi sosial dan kesepian, Kecemasan, depresi hingga trauma, munculnya kemarahan dan keinginan balas dendam Krisis identitas, terangnya.
Selain itu, ia juga menyoroti maraknya propaganda ekstrem di game online, situs, maupun forum digital yang dapat memengaruhi pola pikir generasi muda melalui narasi kebencian dan ajakan kekerasan.
Konten berbahaya seperti tema gore, sadistik, hingga propaganda ekstrem dinilai dapat mengganggu kesehatan mental dan berpotensi menjerumuskan ke pola pikir radikal.
Beberapa ciri anak terpapar konten radikal di antaranya menyukai konten kekerasan dan sadistik, menarik diri dari pergaulan, marah berlebihan saat perangkatnya diperiksa, menyimpan simbol kekerasan atau meniru tokoh pelaku kekerasan,” ujarnya.
Untuk mencegah radikalisasi, Pihak UT Mataram menerapkan strategi 6P, yakni Pengawasan dan deteksi dini, Pendidikan dan penyuluhan toleransi, Pemberdayaan organisasi dan kegiatan positif, Penguatan nilai Pancasila dan ideologi negara, Pendekatan mental dan psikologis dan Pemanfaatan teknologi untuk penyebaran nilai positif.
Pihaknya juga menginisiasi gerakan konten moderat di berbagai platform media sosial, termasuk melalui akun “Universitas Terbuka Mataram”, guna menyeimbangkan narasi dan meminimalisir penyebaran konten radikal.
“Tak hanya itu, Universitas Terbuka Mataram juga dipantau dan didampingi agar tetap terintegrasi dengan masyarakat serta tidak mengalami pengucilan sosial,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Ia berharap mahasiswa tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
“Semoga UT Mataram mencetak orang-orang yang sukses, berkompeten, dan berkontribusi baik untuk NKRI,” tutupnya.(Sekjend MDG)






