Dosen Muda STIT Sunan Giri Bima Dipercaya Menjadi Editor Buku Prof. Yusril Ihza Mahendra - Media Dinamika Global

Selasa, 10 Februari 2026

Dosen Muda STIT Sunan Giri Bima Dipercaya Menjadi Editor Buku Prof. Yusril Ihza Mahendra


Jakarta, Media Dinamika Global.id. – Kepercayaan terhadap kapasitas akademisi muda kembali ditunjukkan dalam peluncuran delapan buku karya Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Yusril Ihza Mahendra. Dalam momentum tersebut, Muhammad Akbar, M.Pd., dosen muda Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima, dipercaya menjadi bagian dari tim editor salah satu buku utama Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Peluncuran delapan buku yang mengusung tema Setengah Abad Dedikasi untuk Bangsa itu digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada Sabtu (7/2/2026). Acara ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, pejabat negara, akademisi, serta kalangan intelektual, dan menjadi penanda perjalanan panjang pemikiran serta pengabdian Prof. Yusril dalam bidang hukum tata negara, demokrasi, dan konstitusionalisme.

Salah satu buku utama yang melibatkan Muhammad Akbar sebagai editor berjudul The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega. Buku setebal lebih dari 1.000 halaman tersebut memuat refleksi pemikiran, pengalaman politik, serta kontribusi Prof. Yusril Ihza Mahendra dalam memperjuangkan prinsip negara hukum dan keadilan konstitusional di Indonesia.

Dalam proses editorial, Muhammad Akbar berperan menjaga kualitas akademik, ketepatan substansi, serta kesinambungan narasi buku. Keterlibatan dosen muda dari perguruan tinggi di daerah ini menjadi cerminan terbukanya ruang kolaborasi intelektual lintas wilayah dalam produksi karya ilmiah berskala nasional.

Selain aktif mengajar, Muhammad Akbar juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STIT Sunan Giri Bima. Ia dikenal sebagai akademisi dan penulis muda yang produktif, dengan sejumlah karya buku fiksi dan nonfiksi, baik secara individu maupun kolaboratif.

Pengalaman akademik internasional turut mewarnai perjalanan intelektualnya. Pada 2022, ia tercatat sebagai pembicara dalam program Student Mobility di tiga negara ASEAN, yakni Malaysia, Thailand, dan Singapura, yang memperkaya perspektif keilmuannya dalam konteks global.

Bagi Muhammad Akbar, keterlibatan sebagai editor buku Prof. Yusril Ihza Mahendra bukan hanya capaian personal, tetapi juga tanggung jawab intelektual. Ia memandang proses ini sebagai ruang belajar berharga dalam merawat gagasan besar seorang tokoh bangsa agar tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Peluncuran delapan buku Prof. Yusril Ihza Mahendra sekaligus menegaskan pentingnya kesinambungan tradisi keilmuan di Indonesia, di mana kolaborasi lintas generasi menjadi fondasi dalam menjaga integritas, pemikiran, dan pengabdian bagi bangsa dan negara.(Sekjend MDG

Comments


EmoticonEmoticon