Donasi Rp1,5 Miliar di Tangan Agam Rinjani Berbuntut Polemik - Media Dinamika Global

Minggu, 01 Februari 2026

Donasi Rp1,5 Miliar di Tangan Agam Rinjani Berbuntut Polemik


Mataram, Media Dinamika Global.Id. - Aksi Heroik porter Gunung Rinjani, Abdul Haris Agam atau terkenal dengan panggilan Agam Rinjani yang membantu tim relawan mengevakuasi jasad pendaki asal Brasil Juliana Marins, usai terjatuh di Gunung Rinjani, Provinsi NTB, viral.

Terutama di Media Sosial (Medsos) dan berbagai platform media massa. Hal ini pun memantik simpati warga Brasil hingga platform penggalangan dana VOAA mengumpulkan uang donasi yang begitu besar untuk diberikan kepada Agam Rinjani.

Ini sekaligus untuk membantu tim relawan yang ikut mengevakuasi jenazah Juliana Marins. Namun belakangan terungkap, donasi yang dikirimkan VOAA melalui Agam Rinjani, tidak pernah dirasakan tim relawan.

Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani (FWLR), Royal Sembahulun, menyesalkan hal tersebut. Sebelumnya ia bersama rekan-rekan sesama forum, bahkan warga Sembalun, Lombok Timur (Lotim) bangga dan haru.

Terlebih ketika diundang di Poadcast Dedy Corbuzier dan Poadcast Denny Sumargo, Agam Rinjani mengungkapkan, donasi dari VOAA sebagiannya akan diberikan ke tim penyelamat, dimanfaatkan untuk penghijauan gunung Rinjani, serta untuk pembelian peralatan untuk rekan-rekan forum dan poter.

"Ternyata itu tidak dilakukan, itu yang bikin kita marah lagi. Sehingga orang-orang yang di Sembalun yang awalnya mendukung Agam akhirnya berbalik. Agam ini anggota forum saya, sehingga kita saling tahu dan saling faham masing-masing kualitasnya," kesalnya.

Dilansir dari ebrita.com edisi Juni lalu, donasi warga Brasil yang berhasil dikumpulkan oleh VOAA dan Komunitas Sosial Razoe sebesar Rp1,5 miliar, cair tanpa potongan pajak. 

Uang tersebut, menurut Royal, bukan keseluruhan untuk Agam Rinjani. Sebab semula, jumlah donasi yang terkumpul untuk Agam Rinjani hanya Rp500 juta. 

"Nilainya bisa naik karena Agam meminta 'bisa ditambah nggak, soalnya untuk teman-teman tim, penghijauan, dan untuk peralatan'," beber Royal, mengulas permintaan Agam Rinjani.

"Dan kita singkronkan dengan postingan orang Brasil di paltform itu. Kalau ditranslate ke bahasa Indonesia ya begitu. Tolong ditambah karena Agam mau berbagi untuk temannya, beli peralatan, dan penghijauan," sambungnya.

Ia tidak memungkiri, ada sejumlah peralatan plus motor Trail Second yang sudah dibeli oleh Agam Rinjani. Tapi jika diestimasikan harganya, tidak sampai Rp80 juta. 

Ironisnya, hingga saat ini tim relawan yang menjadi garda pertama melakukan evakuasi Jenazah Juliana Marins belum mendapatkan haknya, begitu pula dengan aksi penghijauan, hanya sekedar janji manis.

Ia menilai, janji Agam Rinjani di meja poadcast hanya sebatas pencitraan untuk meraih simpati demi donasi, sehingga rela membohongi publik secara luas. Hal itu tidak hanya dilakukan sekali. 

Di beberapa peristiwa seperti penyelamatan WNA asal Israel, dan pendaki Jakarta, Agam Rinjani diguga kerap meminta donasi. Sehingga terkesan memanfaatkan situasi dan aksi kemanusiaan untuk kepentingan pribadi.

"Kami merasa Agam ini tidak bermoral dan tidak beretika, karena telah melakukan pembohongan publik, khususnya para donatur. Kami sangat kecewa. Saya sendiri nggak ada kepentingan. Saya hanya menyuarakan apa yang menjadi hak-hak tim relawan," tandasnya.

Tak Pernah Diinfokan Soal Donasi

Hal senada disampaikan salah satu tim Relawan Unit SAR Lotim, Samsul Fadli. Ia mengungkapkan, dirinya bersama pihak-pihak yang juga terlibat melakukan evakuasi, terkejut dengan adanya donasi warga Brazil kepada Agam Rinjani.

Begitu juga sebaliknya, Agam Rinjani tidak pernah menyampaikan atau mengajak komunikasi membahas adanya uang hasil penggalangan donasi VOAA. Ia baru mengetahuinya setelah mencuat dan menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat.

"Dari ketua tim relawan juga sudah mengeluarkan edaran bahwa tidak ada keterlibatan relawan dengan donasi itu. Edaran itu disebar juga lewat Instagram dan facebook unit SAR Lotim setelah muncul ribut-ribut donasi itu," terangnya.

Fadli merupakan salah satu dari tim relawan yang pertama kali sampai dan turun ke lokasi jatuhnya Juliana Marine. Dirinya juga yang menjadi orang pertama yang bertugas untuk turun ke titik lokasi di mana pendaki WNA tersebut, terlihat terakhir kali. 

Malah kehadiran Agam Rinjani di hari keempat pencarian, langsung viral hingga menjadi figur publik.

Bantah minta Donasi, Agam Rinjani Tantang Pembuktian

Terpisah, Agam Rinjani membantah meminta donasi kepada Platform VOAA. Ia minta dibuktikan, jika ada yang menuduh dirinya yang meminta duluan donasi ke warga Brasil. Nominal yang ia terima pun tidak sesuai yang diberitakan. Sebab total keseluruhan di rekeningnya Rp 1,3 miliar, artinya sudah di potong pajak.

"Nggak pernah saya minta donasi. Kalau ada yang bilang saya minta, coba buktikan mana saya minta," bantahnya.

Semula, ia tidak pernah mengetahui donasi yang dimaksud, telah masuk ke rekening pribadinya pasca tiga pekan melakukan evakuasi Juliana Marins.

"Awalnya donasi dikasih tapi saya tolak, tapi dia (VOAA,red) ngotot mau ngasih, ya alhamdulillah kalau ada. Saya mengatakan, rencana kalau ada, saya mau belikan alat rescue dan satu unit motor trail seken," ulasnya.

"Kalau ada sisanya, saya mau tanam pohon di Gunung Rinjani bukan penghijauan. Setelah tiga minggu, tiba-tiba masuk ke rekeningku. Itupun saya tidak tahu nominalnya berapa. Itu donasi untuk apresiasi," sambungnya.

Selain itu, ia juga membantah tentang Isu yang beredar terkait dirinya yang kerap meminta donasi pada peristiwa evakuasi sebelum Juliana Marins. Permintaan donasi hanya dilakukannya sebelum gempa Lombok 2018 silam.

Donasi itu dilakosikan untuk pengadaan pipa air, namun sengaja digoreng oleh pihak tertentu melalui medsos, "Karena memang ada yang tidak suka sama saya. Sampai ada yang minta saya keluar dari Rinjani," ungkapnya.

Agam mengklaim, donasi warga Brasil murni diperuntukan bagi dirinya. Karena dinilai telah banyak berkorban dalam membantu mengevakuasi jenazah Juliana Marins.

Kendati demikian, donasi yang dia dapatkan sebagiannya telah disumbangkan untuk sarana prasana serta peralatan pendakian rescue rinjani. Termasuk untuk kegiatan sosial masyarakat setempat.

"Masuk gunung itu, kita potong sapi (Syukuran,red). Coba bayangkan, berapa biayanya. Itu saya biayai 100 persen. Tapi untuk apa saya posting-posting," terangnya. (*).

Comments


EmoticonEmoticon