Jakarta, Media Dinamika Global.id. – Balai Kartini, Jakarta, menjadi saksi peluncuran delapan buku karya Prof. Yusril Ihza Mahendra pada Sabtu (7/2/2026). Peluncuran tersebut tidak sekadar menghadirkan karya tulis, tetapi merefleksikan perjalanan panjang pemikiran dan pengabdian Prof. Yusril dalam bidang hukum tata negara, politik, dan demokrasi selama lebih dari tujuh dekade.
Prof. Yusril Ihza Mahendra yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, dikenal sebagai sosok intelektual yang konsisten merawat nilai-nilai konstitusi. Melalui delapan buku tersebut, publik diajak menelusuri gagasan, pengalaman, serta refleksi pemikiran yang membentuk kiprahnya sebagai akademisi, negarawan, dan pemikir bangsa.
Peluncuran buku ini dihadiri sejumlah tokoh penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, tampak hadir bersama para menteri, pimpinan DPR dan DPD, pejabat negara, akademisi, serta kalangan intelektual. Dari mancanegara, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim turut memberikan perhatian melalui perwakilannya, H.E. Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Husin.
Adapun delapan buku yang diluncurkan mencakup berbagai genre dan pendekatan pemikiran, mulai dari karya akademik, autobiografi, hingga sastra. Di antaranya The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega, The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia, Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi, The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, hingga Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis.
Penerbit Prodeleader dipercaya menangani penerbitan seluruh karya tersebut. Proses editorial melibatkan sejumlah akademisi dari berbagai latar belakang, termasuk Muhammad Akbar, M.Pd., dosen muda dari STIT Sunan Giri Bima, yang menjadi salah satu editor. Keterlibatan akademisi muda ini menunjukkan terbukanya ruang kolaborasi lintas generasi dalam pengarsipan pemikiran tokoh nasional.
Dalam sambutannya mewakili keluarga, Yuri Kemal Fadlullah menegaskan bahwa perjalanan intelektual Prof. Yusril tidak dapat dilepaskan dari integritas, idealisme, dan keteguhan pada prinsip konstitusi. Ia mengingatkan bahwa sejak usia muda, Prof. Yusril telah berperan dalam dinamika kenegaraan, mulai dari penulisan naskah pidato Presiden Soeharto hingga dipercaya menjabat menteri di berbagai era pemerintahan, dari Presiden B.J. Habibie hingga Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu, perwakilan Perdana Menteri Malaysia menilai karya-karya Prof. Yusril sebagai kontribusi penting bagi khazanah pemikiran Islam, hukum, dan demokrasi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global. Menurutnya, konsistensi pemikiran Prof. Yusril menjadikannya salah satu figur intelektual yang tetap relevan lintas zaman.
Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, turut menyampaikan apresiasi atas peran strategis Prof. Yusril dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia. Ia menilai kepercayaan lintas rezim terhadap Prof. Yusril merupakan bukti nyata bahwa integritas dan kompetensi intelektual tetap menjadi fondasi utama dalam pemerintahan.
Peluncuran delapan buku ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama para undangan. Lebih dari sekadar seremoni, acara tersebut menjadi penanda penting bahwa tradisi intelektual, pengabdian, dan pemikiran kritis masih memiliki ruang yang kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia.
