Kota Bima, Media Dinamika Global.id.// Dunia kampus STIE Bima adalah lahan diskusi bagi mahasiswa dan LIVE ACOUNSTIC, pemanfaatan potensi kampus sebagai aseet deduktif untuk memperkaya ilmu tentunya lebih berharga ketimbang nongkrong gak jelas di pinggiran kota sambil gossip live Acounstic. Dunia kampus tidak bisa terus permanen dengan hukum kevakuman, apabila dunia kampus statis dengan kondisi seperti itu maka jangan heran bahwa nanti nya malah akan melahirkan kader-kader yang hedon dan berpikir pragmatis. Salah satu upaya untuk mencegah potensi-potensi negative seperti itu tentunya kampus harus lebih peka dalam menanggapi dinamika yang hadir dalam lingkup internal, salah satunya yaitu dengan mengadakan kajian-kajian diluar perkuliahan, diskusi umum, kegiatan ekstrakulikuler kemahaiswaan, seminar dll. Upaya-upaya positif seperti itu tentunya akan melahirkan paradigma yang objektif dalam menganalisis penempatan diri, bahwa sesungguhnya kahidupan mahasiswa adalah berada pada dunia live Acounstic diskusi bahkan dunia rekreasi.
Kehadiran unit kegiatan mahasiswa pun dianggap perlu sebagai batu loncatan untuk mengarahkan pola pikir agar lebih tersentralistis dan terlepas dari pada hukum kevakuman, selain dari pada fungsi mendasar tersebut unit kegiatan mahasiswa dibentuk sebagai wadah untuk menampung hoby, minat dan bakat mahasiwa agar mampu berprestasi dalam segala lini. Namun terlepas dari pada itu, unit kegiatan mahasiswa lebih utama nya yaitu mengajarkan kepada mahasiswa tentang sebuah nilai kerja dari hasil teoritis langsung kepada pengimplementasian melalui kegiatan-kegiatan yang produktif, dan juga melatih diri untuk mampu keluar dari batasan dan mulai melangkah untuk menciptakan sebuah inovasi berpikir,dan bertindak yang lebih progress.
Sejarah organisasi
Biru 09 yang awal nya bernama Teater Biru berdiri pada tanggal 16 maret 2012 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bima. Awalnya di STIE Bima hanya terdapat dua UKM yaitu live Acounstic (mahasiswa pencinta musik) dan FOKEM (forum kajian ekonomi) , FOKEM sendiri adalah UKM Biru 09 STIE Bima, yang lahir berbarengan dengan lahirnya Biru, namun kehadiran Teater Biru pada masa itu tidak mendapat perhatian yang lebih dari pihak Kelembagaan STIE Bima, karena FOKEM dinilai sebagi organisasi yang memiliki kualitas dan perpanjangan tangan dari knowledge background ekonomi yang bersifat edukatif, terlebih lagi kader-kader FOKEM pasca itu merupakan anak-anak emas yang sebagian besar memiliki prestasi baik dalam pergulatan kampus, begitupun dengan live Acounstic UKM Biru 09 STIE Bima yang merupakan organisasi tertua dan pastinya memiliki kontribusi yang jelas bagi Lembaga STIE Bima.
Sekitar akhir tahun 2011 pasca penerimaan mahasiswa baru di kampus STIE Bima, kehidupan kampus dirasa monotun dan tak bermanuver, apalagi pada konteks dunia kampus, yang dimana mahasiswa dituntut untuk lebih aktif berkegiatan dan melakukan diskusi kecil-kecilan, namun faktanya kehidupan kampus di STIE pasca itu dirasa sangat membosankan, sehabis kuliah kembali kerumah/kos, untuk menanti jam perkuliahan beganti mahasiswa sibuk ngerumpi, selfie-selfian dan lain sebagainya, yang dimana kegiatan-kegiatan hedon seperti itu tidak mencerminkan hakekat sejatinya mahasiswa, dan potret-potret semacam itu hanya dirasakan oleh segelintir mahasiswa yang sadar akan sebuah disposisi negative pola pikir mahasiswa, keresahan itu dirsakan oleh sebagian kecil mahasiswa baru yang merasa perlu adanya sebuah perubahan pola pikir dan lebih utama untuk menciptakan dinamisasi kehidupan kampus.
Keenam orang mahasiswa baru yang kebetulan sekelas itu, membahas semua kevakuman yang terjadi saat itu dalam sebuah diskusi kecil-kecilan di ruang sinar jaya, keenam mahasiswa itu adalah Much.Yamin yang akrap di sapa Pak bos, Andriawan yang sampai pada detik ini biasa di kenal dengan panggilan amantua, Farhan Hidayat atau Mas han, Mizan, bony, dan Muhammad. Pada diskusi tersebut keenam dari mereka sepakat akan sebuah kondisi vakum yang harus dirubah kearah yang leboh revolusioner, pak bos berkata “ persahabatan itu jangan sampai berakhir hanya karena naiknya kita kesemester yang lebih tinggi nantinya, tapi persahabatan itu harus terus berkesinambungan, dan untuk mewujudkan itu, perlu adanya sebuah wadah yang menyatukan kita sampai tuhan menghendakinya berakhir” pernyataan itu kemudian menjadi kekuatan untuk mereka dalam menyatukan sebuah komitmen bahwa perlu adanya sebuah wadah kemahasiswan yang akan terus berkesinambungan yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa di persembahkan oleh dinas pariwisata dan dinas kebudayaan kota Bima.
Wacana pembahasan terkait agenda pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) itu pun masih belum mendapat deskripsi yang jelas hingga berlangsung selama 2-3 hari. Pasca itu mahasiswa senior bernama Hendry yang juga pada saat itu adalah senior dari UKM Biru 09 STIE Bima , tidak segaja bergabung dalam diskusi selanjutnya. Saat itu anggota yang sepakat dengan komitmen bahwa ingin dibentuknya sebuah UKM semakin bertambah, saat itu ada Muhammad Ridho yang akrab di sapa Abi Met, abi met ini adalah seorang mahasiswa pindahan dari ST-PLN Jakarta yang kebetulan kenal dengan mizan dan bony, kemudian akhirnya sepakat untuk bersama-sama membentuk sebuah UKM, dari Abi met inilah kemudian hadir mahasiswa yang bernama Arif Rhman yang biasa di panggil dengan sebutan bang ayi. Selain itu seorang wanita pun terut mengambil bagian dalam proses ini, Dian, ya.. dia adalah satu-satunya wanita saat itu yang kemudian menularkan doktrinisasi kepada kawan-kawan mahasiswa wanita lainnya, karena kebetulan saat itu dian adalah teman dari Pak bos dkk di kelas A4. Berawal dari dian inilah kemudian hadir wanita-wanita lainnya yatu, yanti, dwi, winda, dan sari.
Pasca itu terjadi beberapa perbedaan pendapat di antara mereka, di kubu Hendry mengusulkan untuk membentuk UKM ROHIS (rohani islam), di kubu Abi Met dkk mengusulkan UKM music, sedangkan di kubu Pak bos lebih cenderung kearah seni secara umum, kemudian lahirlah usulan nama (COSMETIS) Comunitas Seni. Rohani islam dianggap terllalu berat untuk diemban oleh mahasiswa pasca itu karena dinilai sacral untuk pemuda-pemudi awam seperti mereka untuk mengedepankan nilai-nilai akidah. Akhirnya berdasarkan Historis di STIE bahwa diceritakan dulu beberapa tahun lalu pernah ada sebuah UKM bernama Teater Cinta yang kemudian mati ditinggal pergi oleh pengurusnya, dan inilah cikal bakal nama Teater Biru yang dimana biru merupakan symbol dari pada kampus Biru STIE Bima.
Sabtu malam nggak punya rencana? Dari pada bengong, mending kita vibe check bareng di Pentas Akustik UKM Biru09 STIE Bima.
Nikmati syahdunya malam di Taman Ria sambil dengerin live music yang pastinya bikin adem. Plus, cuma modal 5K buat Kupon Harmoni, kamu bisa bawa pulang Hadiah Misteri yang bikin penasaran.
Lapangan Dae La Kosa (Taman Ria)
Sabtu, 31 Januari 2026
20.00 WITA - Selesai
Gratis masuk, ajak geng kamu sekarang
Setelah perdebatan yang panjang akhirnya mereka sepakat untuk membentuk sebuah UKM bernama Teater Biru yang dimana pada awal pemikirannya UKM ini hadir dari sebuah pertanyaan besar akan keresahan mahasiswa yang merasa hukum kevakuman semakin manjalar pada sendi-sendi kehidupan mahasiswa STIE Bima, Pak bos tidak berhenti sampai di situ, dengan langkah nya yang gesit tak terbaca, ia kemudian mendapatkan informasi bahwa ada seorang yang bernama sigit yang dulunya pernah menjadi bagian dari pada teater cinta, pertemuan dengan sigit pun akhirnya terwujud, amantua, pak bos bersama sigit berdiskusi panjang lebar terkait teater dan lainnya, karena disadari bahwa sebagian besar dari kawan-kawan yang awalnya tadi berniat membentuk Teater Biru tidak paham sama sekali dengan yang namanya dunia teater. Setelah diskusi panjang dengan sigit, ia pun kemudian mengenalkan pak bos dan andry dengan seorang lulusan yogjakarta, asli sape bernama Maruf An Nabar, atau biasa di sapa bang maruf. Berawal dari bang maruf inilah Ruh teater biru kemudian lahir sebagai sebuah idealisme yang fitrah. Pertemuan pun berlangsung di yuank cafĂ© samping gunung dua bersama-sama dengan sigit dan bang maruf, setelah banyak memberikan arahan dan motivasi akhirnya bang maruf bersedia untuk menjadi Pembina Teater Biru tanpa meminta bayaran sepeser pun, keinginan itu tentunya bukan lahir dari unsur politik atau pemanfaatan atau bahkan Eksploitasi, tetapi keinginan live Acounstic itu lahir akibat dari cintanya terhadap dunia seni terlebih lagi live Acounstic, dan rasa bangga nya terhadap kegigihan kawan-kawan yang mau untuk membentuk sebuah wadah ini, Teater Biru. Setelah pertemuan malam itu, bang maruf kemudian berkunjung ke STIE dan berkenalan dengan kawan-kawan yang siap untuk membangan sebuah wadah seni ini dan memberikan materi tentang dasar—dasar live Acounstic. Disisi lain pihak lembaga STIE bima tidak terlalu merespon apa yang menjadi keinginan mereka untuk membentuk UKM Teater Biru, sementara BEM pasca itu tidak memberikan tanggapan yang jelas terkait dengan canangan itu. namun dukungan-dukung
Dukungan moril dari dinas pariwisata dan dinas kebudayaan kota bima. kemudian lahir dari para mantan pengurus live Acounstic Cinta terdahulu yang sampai hari ini menjadi staf di STIE Bima, yaitu, Pak Abdi dan Dae Heri.(Sekjend MDG)
