Tambora, Media Dinamika Global.id.// Pagi ini aku ingin memulai dengan sebuah cerita baru. Di tengah perjalanan hidup, aku banyak menyaksikan keanehan-keanehan yang justru menyimpan keajaiban. Salah satunya saat perjalanan menuju Tambora. Banyak hal yang kuhadapi, mulai dari badai besar yang menghantam kiri dan kanan ketika aku mengendarai roda dua. Di saat-saat tertentu, aku terpaksa mengurangi kecepatan. Dari situ, aku belajar satu pelajaran moral yang penting, tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan tergesa-gesa. Ada kalanya melambat justru menyelamatkan kita, Sabtu, 17/01/2026
Sering kali manusia lupa bahwa ketika seseorang telah bersungguh-sungguh dan memiliki tekad kuat untuk sampai pada tujuan, maka ia harus siap dengan segala tantangan yang menghadang di tengah perjalanan. Tantangan itu bisa berupa badai alam, bisa juga datang dari manusia, yang tidak suka pada proses kita, bahkan meremehkan perjuangan kita. Namun sadarilah, ketika tekad sudah tertanam kuat, badai apa pun di hadapan kita bukan alasan untuk mundur. Kata orang, semakin kita menghindari masalah, semakin sering masalah itu datang. Sebaliknya, ketika kita berani mencari celah dan jalan keluar dari masalah, perlahan masalah itu akan mengecil.
Seorang ulama pernah memberi nasihat yang sangat sederhana namun dalam maknanya. Ia berkata, “Ketika seseorang mendaki gunung, ia memulai dari kaki gunung. Untuk sampai ke puncak, dibutuhkan perjalanan panjang, berjam-jam, bahkan berhari-hari. Ia akan merasakan lelah, sakit, dan hampir putus asa. Namun ketika ia sampai di puncak, gunung yang tadinya terlihat tinggi kini berada di bawah kakinya.” Begitulah masalah hidup. Semakin kita hadapi dan selesaikan satu demi satu, ia akan mengecil, lalu menghilang.
Memang, ada orang yang berkata, “Saya sudah menemukan solusi, tapi masalah lain datang lagi.” Itu menandakan satu hal, masalah tidak datang tanpa alasan. Ia hadir untuk menguji kemampuan kita dalam menghadapinya, sekaligus membentuk kedewasaan kita sebagai manusia.
Cerita berlanjut. Aku tiba di tempat tujuan, tepatnya di Desa Labuan Kenanga. Dua hari aku menginap di sana. Menjelang malam Isra Mi’raj, aku mendapat kabar yang cukup mengejutkan, aku diminta untuk menyampaikan tausiyah di Masjid At-Taqwa. Jujur saja, aku kaget. Aku bukan ustaz, bahkan bisa dibilang “ustaz dadakan.” Namun setelah kupikirkan, ada satu prinsip yang kupegang, tugas manusia bukan untuk saling menggurui, tetapi saling mengingatkan.
Sehari sebelum malam tausiyah, aku membaca dan belajar kembali. Aku mempersiapkan diri sebaik mungkin. Sebab hidup ini bukan semata tentang apa yang kita inginkan, tetapi tentang seberapa banyak kita mempersiapkan diri untuk meraih apa yang kita inginkan. Dalam filosofi militer ada ungkapan, pantang pulang sebelum menang. Itu bukan sekadar slogan, melainkan hasil dari persiapan matang, strategi, logistik, dan kesiapan mental. Begitulah kehidupan.
Orang yang menginginkan sesuatu tanpa persiapan ibarat menanam pohon tanpa merawatnya. Bukan berarti usahanya sia-sia, tetapi usahanya belum maksimal. Untuk mencapai hajat hidup, kita dituntut untuk terus berusaha, konsisten, dan mempersiapkan diri, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Ketika tiga bekal ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, kita akan lebih siap menghadapi apa pun.
Saat tausiyah dimulai, rasa grogi tak bisa dihindari. Bahkan saat mukadimah, aku sempat lupa dan tubuh terasa gemetar, seperti motor kecil yang dipaksa bekerja keras. Namun aku berusaha mengelola suasana, agar jamaah tidak fokus pada kekuranganku. Aku menyampaikan tausiyah dengan bahasa sederhana, menggunakan bahasa daerah Bima, agar lebih mudah dipahami, terutama oleh jamaah yang sudah lanjut usia.
Dari situ aku kembali belajar satu hal penting, yang mudah jangan dipersulit, yang sulit berupayalah untuk dimudahkan. Orang yang selalu mempersulit hidupnya sendiri, sejatinya sedang bermasalah dengan cara ia memaknai kehidupan.
Itulah sepenggal kisah perjalanan, tentang badai, tekad, persiapan, dan keberanian untuk saling mengingatkan. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik, dan semoga kita semua terus dikuatkan dalam menjalani perjalanan hidup masing-masing, Terima kasih.tutup Adi(Sekjend MDG)
