Akibat Intensitas Hujan Tak Menentu, Sejumlah Petani Jagung Terancam Gagal Panen


Kabupaten Bima. Media Dinamika Global-id. Berita duka bagi Petani jagung yang ada di Kabupaten Bima dan Dompu Nusa Tenggara Barat (NTB) di tahun 2023, bukan hanya dilanda persoalan pupuk melainkan juga di landa cuaca panas yang ekstrim, Minggu (22/01/23). 

Salah satu Petani Muda Kabupaten Bima, Abdurrahman menyampaikan. Akibat intensitas hujan yang tidak menentu, pertumbuhan jagung petani di Kabupaten Bima dan Dompu tidak stabil bahkan terancam gagal panen. 

"Hampir 2 Bulan ini, curah hujan di wilayah kami sangatlah kurang, apalagi di Wilayah pegunungan sama sekali tidak ada," katanya. 

Di jelaskannya, intensitas hujan yang kurang stabil bukan hanya terjadi di Kecamatan Bolo, Madapangga, Donggo dan Soromandi melainkan juga terjadi di Kecamatan Kilo Kabupaten Dompu dan Kecamatan Sanggar serta Tambora, hal tersebut berdasarkan hasil surfeynya di lapangan. 

"Hal yang sama kemungkinan terjadi di Kecamatan lain yang ada di Kabupaten Bima dan Dompu bahkan Sumbawa," ujar dia.

Dia memastikan, produktif hasil Pertanian jagung di tahun ini akan sangat menurun di bandingkan tahun lalu. Sebab, pembuahan pati sari dan biji jagung tidak di dampingi dengan curah hujan dan pemupukan yang stabil, hal tersebut jelas akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhan jagung. 

"Na'as untuk petani di tahun ini, mau Pupuk tidak ada Hujan, ada Hujan malah pupuk yang sulit di dapat, akibatnya Banyak jagung yang daunnya ke Kuning-kuningan bahkan layu mati akibat kekurangan air." Jelas dia. 

Dirinya berharap, harga jagung di tahun 2023 dapat stabil untuk menutupi penurunan produktifitas hasil pertanian tahun ini."Gagal panen sudah di Depan mata, kami cuman berharap untuk menutupi kerugian petani tahun ini Harga komuditi jagung dapat mencapai minimal Rp. 4.500 kalau masih dengan harga Rp. 3.500 saya pastikan kebanyakan petani Tekor karna kenaikan harga Bibit, Perstisida dan Ongkos penanaman di waktu Tanam," jelas dia. 

Di paparkan dia, ke stabilan harga jagung tersebut nantinya, minimal dapat mengembalikan modal dan biaya perawatan bagi petani.

"Apalagi rata-rata petani di Bima dan Dompu bertani dengan Modal Hutang di Bank atau Pegadaian, jika terancam gagal panen bukan laba yang di dapat, melainkan terlilit Hutang," ujarnya. (MDG 002)

Load disqus comments

0 komentar