Atasi Banjir, Walikota HML Gencar Benahi Drainase Perkotaan


Kota Bima. Media Dinamika Global-id. Kota Bima dalam kondisi wilayah dengan dataran rendah tentu akan menjadi daerah rawan banjir. Rabu, (06/12/22).

Banjir yang merendam beberapa kelurahan di Kota Bima akhir pekan lalu, bukan lagi dari luapan sungai sebagaimana banjir-banjir sebelumnya.

Diakhir tahun 2022 ini, banjir Kota Bima dipicu oleh luapan drainase yang dangkal dan tersumbat.

Karena sudah adanya penanganan awal Normalisasi sungai sehingga di dua sungai Padolo dan Melayu tidak lagi meluap.

Atas luapan banjir akhir tahun 2022 pada soal drainase Perkotaan maka Pemkot Bima dibawah Kendali Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE (HML) fokus penanganan banjir di awal tahun 2023 ini adalah pembenahan Drainase Perkotaan.

“Insya Allah setelah kita berupaya keras tangani normalisasi sungai dan tidak ada lagi luapan dari sungai, kini saatnya di tahun 2023 kita benahi secara totalitas soal drainase perkotaannya” ungkap Walikota HML.

Secara teknis Kepala Bappeda dan Litbang Kota Bima Drs. H. Muhammad Fakhrunraji, ME menyampaikan skenario penanganan lupakan drainase.

“Penanganan dan pembenahan soal drainase perkotaan ada dalam master plan skenario penanganan banjir 2023” ujar Fakhrunraji.

Menurutnya bahwa penanganan dan pembenahan tersebut Selain ada anggaran dari JICA Jepang senilai Rp 230 miliar lebih, juga ada dukungan dana dari pihak lain.

“Insya Allah di Tahun 2023 ini Pemkot Bima juga dapat anggaran dari Nuvret Bank Dunia senilai Rp 400 miliar” Jelasnya.

Menurutnya bhwa Anggaran senilai Rp 400 miliar tersebut dilaksanakan secara bertahap selama lima tahun.

“Anggaran dari Nuvret Bank Dunia tersebut diprioritaskan untuk penanganan drainase perkotaan dan proses pengerjaannya pun secara step by step” ungkap Fakhrunraji.

Fakhrunraji Menyebutkan juga bahwa sudah ada penataan drainase di Kota Bima selama ini dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan perluasan sehingga luapan banjir melalui drainase bisa teratasi.

Fakhrunraji merincikan juga Untuk tahap pertama akan dilakukan pekerjaan drainase Taman Ria Kota Bima sampai ke arah barat.

“Kemudian dari Kelurahan Santi sampai ke wilayah barat, sehingga penanganannya terintegrasi dalam satu kesatuan penanganan banjir luapan drainase perkotaan” ungkapnya.

Ia menjelaskan pada Awak Media 6 Desember 2022 bahwa Program dari Nuvret World Bank ini on the track dan disusun Detai Engineering Desain (DED) oleh Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Program ini akan dilaksanakan langsung oleh BWS sendiri dalam soal tekhnis pekerjaaannya,” Demikian Ungkap Fakhrunraji.

Diakhir wawancara, Fakhrunraji ungkapkan sesungguhnya Kota Bima merupakan salah satu pilot project dalam penanganan banjir perkotaan di Indonesia.

“ada lima daerah di Indonesia yang menjadi pilot project penanganan dan penataan bencana, antara lain Kota Bima, Manado, Semarang, Pontianak dan Medan” ujarnya.

Kota Bima menjadi pilot project, karena ada komitmen sebagai kota tangguh bencana sesuai Penilaian berdasarkan bencana banjir bandang tahun 2016 lalu karena bencana besar yang melanda Kota Bima saat itu tidak terdapat korban jiwa.

“Muvret World Bank menilai adanya mitigasi yang baik pada warga. Kemudian ada pembentukan TSBK di setiap kelurahan, sehingga potensi bencana terdeteksi dengan cepat, Termasuk peran FPBR, yang dinilai mampu mengedukasi masyarakat dalam menghadapi bencana alam” ungkapnya mengakhiri wawancaranya. (MDG 002)

Load disqus comments

0 komentar