Usai Demo Masa Aksi,Akhirnya Beraudiensi Dengan Pemkab Bima,Ini Responsnya?


Bima-NTB, Media Dinamika Global.Id --   Audensi Pemda Bima mengambil langkah untuk membeli bawang merah petani dengan harga Rp 11 Ribu/Kg. Berdasarkan audensi atas anjloknya harga bawang merah pemerintah kabupaten bima membeli bawang merah petani dikenakan juga kepada seluruh ASN Pemkab Bima, mulai  Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan  pejabat eselon II hingga eselon IV. dari golongan II hingga Golongan IV.

Langkah tersebut mengantisipasi Kondisi bawang ditingkat petani yang sudah semakin berumur dan susut. Karena untuk mengikuti instruksi Gubernur NTB agar bawang merah Bima di jual di Papua tidak mendapat tanggapan dari Petani.

"Ini kasuistik jadi solusinya bawang dikonsumsi oleh ASN. untuk mengantisipasi kondisi ini kedepannya Pemkab Bima sedang mencari cara lainnya, akan kembali Rakor dgn Koptan dan Stake holder lainnya," ujar Kabag Ekonomi Pemkab Bima.

Langkah yang diambil Bupati IDP saat Rapat Terbatas kemarin sore Rabu 1 Desember 2021 adalah  sebagai berikut.

Bupati, wakil bupati, ASN, TNI, POLRI dan aparat desa membeli bawang petani dengan rincian ; 

Bawang dibeli pada petani dg harga Rp 12.500,- /kg, (harga bawang Rp 11.000,- ditambah dg biaya transportasi Rp 1.500,-).

Bupati 500 kg, wakil bupati 300 kg, Eselon II = 100 kg, Eselon III = 60 kg, Eselon IV + Kepala UPT 40 kg, staf gol II 4 kg, gol III 7 kg, gol IV 10 kg. Kepala Sekolah 20 kg, Guru 5 kg, Kepala Desa 10 kg , Sekdes 5 kg, Kaur dan Kadus 3 kg. Dibayar dengan TPP bulan September.

Melihat gerakan masa Pendemo di depan Kantor Bupati Bima siang hari ini, Kamis 2 Desember 2021.

Dr. Irwan menulis melalui pesan WA kepada harian amanat bahwa, langkah antisipasi yang dilakukan oleh Bupati Bima adalah solusi damai yang ditawarkan, karena kondisi ini sangat njelimet.

 Naik turunnya harga adalah hal yang wajar dalam aktivitas ekonomi. Tahun lalu petani bawang benar- benar  berada pada kondisi yg sangat menggembirakan karena keuntungan yang banyak, bahkan menteripun datang melakukan panen raya karena produksinya melimpah dan harga stabil.

Pada waktu itu tidak ada keluh kesah, melainkan senyum merekah mulai dari petani hingga pemerintah. Petani dapat menukar keuntungannya dengan berbagai barang meski sesungguhnya belum dibutuhkan.

Pemerintah merasa puas karena program dan kebijakannya berjalan baik dan dapat memperoleh nilai tambah yang diwujudkan dalam PDRB, nilai tukar petani naik dan kesejahteraanpun meningkat.

Petani terus didorong untuk terus meningkatkan produksi dengan produktivitas yang tinggi. Petani terus bermimpi untuk mengulangi prestasi yg telah di raih.

Namun apa yang diimpikan tidak terwujud justru duka lara yang diterima, produksi meningkat dan harga terjun bebas. Semua orang mencari biang kerok siapa yg salah dan apa penyebabnya.

Dalam perspektif ekonomi Islam harga rendah berarti rejeki berada di pihak konsumen dan tidak berada di pihak produsen.

Kenapa bisa terjadi demikian? 

Mungkin ada hak-hak Allah dan yang dimiliki oleh tanaman yang belum ditunaikan. Kita terlarut dalam kesuksesan sesaat sehingga melupakan kewajiban dan hak Allah.

Kita lupa bahwa sesuatu yang telah diusahakan dengan menerima untung atau rugi merupakan ketentuan Allah yang memiliki kekuasaan.

Bisa jadi keuntungan yang diperoleh pada tahun lalu Allah tarik pada tahun ini karena kita lupa atau khilaf? Hanya Allah yang Maha Mengetahui


Begitulah fakta yang harus di terima. Rakyat (Petani) tidak sabar menanti karena harga bawang belum beranjak naik, sementara kualitas produk semakin lama dirasakan menurun.

Sisi lain mungkin diminta untuk segera melunasi biaya usaha Tani bila ada yang behutang.

Pemenuhan kebutuhan pokok terus bergulir sementara uang yang dimiliki semakin menipis. Larinya hutang lagi. Timbul masalah baru lagi.

Ditengah RECOFUSING anggaran dan Pandemi, Pemerintah hanya bisa membantu dengan membeli ratusan ton bawang petani. Dan bekerja sama dengan TNI POLRI membentuk wilayah zona pengaturan dan pengawasan distribusi pupuk dan obat-obatan.(Ham MDG).

Load disqus comments

0 komentar