Dompu, Media Dinamika Global.id.-- Dalam basis kajian Marxis kita bisa melihat kehadiran dan ekspansi tambak udang intensif/industrial bukan sekadar sebagai kemajuan teknologi akuakultur atau modernisasi ekonomi pesisir, melainkan sebagai bentuk ekspansi kapitalisme ke ruang pesisir dan laut.
Dalam kerangka teori Karl Marx (dan penerusnya seperti David Harvey serta John Bellamy Foster), fenomena tambak udang dapat dianalisis melalui beberapa konsep kunci berikut:
1. Akumulasi Melalui Perampasan (Accumulation by Dispossession)
Marx menjelaskan proses akumulasi primitif sebagai pemisahan produsen skala kecil dari alat produksinya. Dalam konteks tambak udang:
Privatisasi Commons (Ruang Bersama): Wilayah pesisir dan hutan mangrove yang tadinya merupakan ruang publik/komunal (commons) bagi nelayan tradisional diubah menjadi hak milik pribadi atau konsesi korporasi.
Pengalihfungsian Lahan: Nelayan dan petani tambak tradisional yang bergantung pada ekosistem alami terdorong keluar karena perampasan lahan (land grabbing) atau privatisasi wilayah perairan.
2. Komodifikasi Alam
Kapitalisme mengubah sesuatu yang memiliki nilai guna (use-value) menjadi sekadar nilai tukar (exchange-value):
Fungsi Ekologis vs. Profit: Ekosistem mangrove yang secara alami berfungsi menahan abrasi, menyediakan habitat biota laut, dan menyokong mata pencaharian nelayan diubah fungsinya menjadi unit produksi tunggal: udang komersial (seperti vaname) demi mengejar laba atas modal (M – C – M').
Alam dipandang semata-mata sebagai "sumber daya murah" (cheap nature) yang siap dieksploitasi hingga batas kemampuan regenerasinya.
3. Proletarisasi dan Eksploitasi Tenaga Kerja
Hadirnya industri tambak udang mengubah struktur kelas sosial di wilayah pesisir:
Perubahan Kelas Sosial: Nelayan mandiri atau petani kecil yang kehilangan akses ke laut/lahan bertransformasi menjadi buruh upahan (proletar) di industri tambak atau pabrik pengolahan udang.(Sekjend MDG)
