Soromandi, Media Dinamika Global.id.-- Negeri ini bisa bangga punya gedung rumah sakit megah.alat canggih seharga miliaran, dan program kesehatan yang namanya ganti tiap ganti menteri.
Puskesmas Soromandi krisis dokter,ini menandakan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Bima tidak pernah mengontrol dan berkerja secara efektif dalam melihat kekosongan dokter di wilayah pesisir lebih khususnya kec.soromandi.
Tapi ironisnya yang megang stetoskopnya nggak ada.
Kita punya RS tipe A, tapi nakesnya disuruh lembur kayak robot. 1 dokter jaga IGD harus ngadepin 50 pasien. 1 perawat pegang 3 ruangan sekaligus. Capek? Diam. Komplain? Dibilang "ini pengabdian".
Lulusan kedokteran, keperawatan, kebidanan tiap tahun banjir. Tapi kenapa di puskesmas pelosok cuma ada 1 bidan merangkap apoteker, kasir, dan tukang sapu?
Kenapa dokter spesialis numpuk di kota besar, sementara di Soromandi, di pelosok, warga harus jalan 3 jam cuma buat cek gula darah?
Pemerintah teriak "Indonesia Sehat". Tapi formasi CPNS nakes dipotong. Honorer nakes digaji UMR telat 3 bulan. Giliran pandemi datang baru tepuk tangan, dijulukin "pahlawan". Pas pandemi selesai? Balik lagi jadi "beban APBD".
Ini bukan soal kurangnya anggaran. Ini soal kurangnya niat.
Kita lebih cepat bangun tol daripada bangun sistem pendidikan nakes yang merata. Lebih cepat impor alat daripada menghargai orang yang pakai alat itu.
Akibatnya?
Yang kaya berobat ke Singapura.
Yang miskin antri dari subuh, pulang dengan resep kosong dan diagnosa "disuruh istirahat".
Sampai kapan kita mau pura-pura sehat, padahal yang menyembuhkan kita sendiri sedang sekarat karena sistem.(Sekjend MDG)
