MATARAM, Media Dinamika Global - Perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB yang semestinya menjadi ajang pembuktian kualitas pembinaan olahraga daerah, justru memunculkan potret buram yang menyelimuti dunia olahraga Kabupaten Dompu. Di tengah semangat kompetisi dan perebutan prestasi, publik dikejutkan oleh fenomena eksodus atlet-atlet berprestasi asal Bumi Nggahi Rawi Pahu yang memilih membela daerah lain.
Gabungan Kalawu Muda Bima Dompu (GAKADA BIDOM) Pulau Lombok menilai fenomena tersebut bukan sekadar perpindahan atlet biasa. Gelombang hengkangnya para atlet dinilai menjadi sinyal adanya persoalan serius dalam tata kelola olahraga daerah yang selama ini luput dari perhatian.
Koordinator Kabupaten Dompu GAKADA BIDOM Pulau Lombok, Aba Toi, menyebut keberhasilan para atlet Dompu di daerah lain seharusnya menjadi bahan evaluasi besar bagi seluruh pemangku kebijakan olahraga di Dompu.
"Ketika atlet-atlet yang tidak mendapat ruang di daerah sendiri justru mampu meraih prestasi dan menyumbangkan medali emas untuk daerah lain, maka ada yang salah dengan sistem yang berjalan. Ini bukan lagi soal kalah atau menang, tetapi soal bagaimana atlet diperlakukan," ujarnya.
Fenomena ini semakin ironis ketika sejumlah atlet yang kini menjadi andalan daerah lain sebelumnya dikabarkan tidak memperoleh kepastian pembinaan, kesejahteraan, maupun dukungan yang memadai. Namun setelah bergabung dengan daerah baru, mereka justru menjelma menjadi mesin prestasi dan naik ke podium tertinggi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar. Mengapa atlet yang dianggap biasa di rumah sendiri justru mampu menjadi juara di tempat lain? Jawaban yang berkembang di tengah masyarakat mengarah pada dugaan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kualitas atlet, melainkan pada sistem yang dinilai tidak sepenuhnya berpihak pada prestasi.
Sorotan semakin menguat setelah mencuatnya polemik yang menimpa atlet Wushu Dompu, Dika Ardiansyah. Atlet kelas 52 kilogram itu disebut telah tercantum dalam Surat Keputusan resmi sebagai peserta Porprov. Namun setelah proses penimbangan berat badan dan Technical Meeting berlangsung, namanya dikabarkan dicoret dari daftar pertandingan.
Peristiwa tersebut memicu perdebatan di internal olahraga Dompu dan menimbulkan kekecewaan mendalam dari keluarga atlet. Mereka mengaku telah mengeluarkan biaya pribadi, bahkan berutang, demi mendukung keberangkatan dan kebutuhan atlet selama mengikuti agenda Porprov di Mataram.
Kasus ini kemudian menjadi simbol keresahan yang lebih luas. Di kalangan atlet dan pemerhati olahraga, muncul pertanyaan mengenai transparansi, objektivitas, dan konsistensi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut nasib atlet.
Jika dugaan adanya intervensi kepentingan non-teknis dalam proses pembinaan dan seleksi benar terjadi, maka yang menjadi korban bukan hanya satu atau dua atlet. Yang dipertaruhkan adalah masa depan olahraga Dompu secara keseluruhan.
Sementara itu, daerah-daerah lain justru menikmati hasil dari talenta-talenta yang lahir dan dibesarkan melalui proses pembinaan di Dompu. Dengan dukungan fasilitas yang lebih baik, kepastian program latihan, dan lingkungan yang lebih kondusif, para atlet mampu menunjukkan kapasitas terbaik mereka tanpa dibayangi konflik internal maupun ketidakpastian kebijakan.
Keberhasilan mereka menjadi tamparan keras bagi tata kelola olahraga daerah. Sebab setiap medali emas yang diraih atlet asal Dompu di bawah bendera daerah lain sesungguhnya menyimpan pesan yang tidak bisa diabaikan: talenta tidak pernah kurang, tetapi ruang untuk berkembang diduga semakin sempit.
Porprov XII NTB pada akhirnya bukan hanya menjadi ajang perebutan medali. Perhelatan ini juga membuka tabir persoalan yang selama ini beredar di kalangan atlet dan masyarakat. Ketika prestasi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran, maka kepercayaan terhadap sistem akan perlahan runtuh.
Kini publik menunggu langkah konkret dari para pemangku kepentingan olahraga di Dompu. Sebab jika pembenahan tidak segera dilakukan, Kabupaten Dompu berisiko terus kehilangan atlet-atlet terbaiknya dan hanya menjadi tempat lahirnya juara yang kemudian mengharumkan nama daerah lain.
Redaksi |
