Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Sekitar kurang lebih lima tahun yang lalu, saya pernah mengajar mata kuliah Psikologi Belajar selama beberapa semester. Pada masa itu, mata kuliah tersebut diampu oleh Bunda Suryani (Almarhumah). Setelah beliau berpulang, beberapa kali mata kuliah tersebut dipercayakan kepada saya untuk diampu. Bagi saya, Psikologi Belajar merupakan mata kuliah yang sangat menarik karena memberikan ruang untuk memahami proses perkembangan manusia dalam konteks pendidikan.
Dalam proses mengajar, saya mencoba mengarahkan pembahasan Psikologi Belajar ke perspektif yang lebih modern. Hal ini saya lakukan karena tantangan yang dihadapi peserta didik saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika lingkungan belajar menuntut adanya pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah. Salah satu kendala terbesar yang saya hadapi adalah keterbatasan referensi. Perpustakaan kampus yang sebelumnya menjadi sumber utama literatur mengalami kerusakan parah akibat banjir besar yang melanda Kota Bima pada tahun 2016. Banyak koleksi buku yang tidak dapat diselamatkan, sehingga hingga kini pemulihan perpustakaan masih menghadapi berbagai keterbatasan. Kondisi tersebut membuat akses terhadap sumber-sumber ilmiah menjadi semakin sulit.
Berangkat dari situasi itulah, saya mulai menyusun sebuah naskah Psikologi Belajar. Awalnya, naskah tersebut hanya dipersiapkan sebagai modul penunjang bahan ajar dan kebutuhan akreditasi kampus sekitar lima tahun yang lalu. Pada saat itu, yang sempat dicetak dan digunakan hanya modul Manajemen Pendidikan, sedangkan naskah Psikologi Belajar masih tersimpan dalam folder pribadi.
Waktu terus berjalan. Hingga suatu hari, dalam perjalanan menuju Makassar, ketika menunggu penerbangan di Bandara Surabaya, saya membuka kembali folder-folder lama di laptop. Di sanalah saya menemukan kembali naskah berjudul "Psikologi Belajar" yang pernah saya kerjakan. Naskah itu seolah menjadi pengingat perjalanan akademik yang pernah dilalui, termasuk masa-masa penuh tekanan ketika menyusun disertasi.
Sejak saat itu, saya mulai merapikan kembali naskah tersebut. Referensi-referensinya diperbarui agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Proses penelusuran literatur menjadi lebih menyenangkan dengan bantuan aplikasi seperti Mendeley dan Zotero yang sangat membantu dalam pengelolaan referensi akademik.
Akhirnya, saya berpikir bahwa naskah ini tidak seharusnya terus tersimpan sebagai dokumen pribadi. Sudah saatnya ia diberi kesempatan untuk hadir dan memberi manfaat yang lebih luas. Karena itu, saya memutuskan untuk menyerahkannya kepada penerbit dan membiarkannya "mengantre" bersama karya-karya lainnya.
Seperti ungkapan bang Ilyas Yasin pada saya, "Bagi saya, karya tulis bukan sekadar kumpulan halaman dan referensi. Ia adalah jejak perjalanan, catatan pengabdian, dan bukti bahwa kita pernah berusaha memberi manfaat melalui ilmu yang dimiliki. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk kembali mengulang atau menyempurnakan sesuatu di lain waktu. Karena itu, setiap karya yang berhasil diselesaikan dan dibagikan kepada publik memiliki nilai yang sangat berarti".
Saya teringat pesan Bang La Ndolo Conary yang mengatakan bahwa karya yang baik adalah karya yang telah terbit, bukan yang masih tersimpan dalam catatan pribadi. Kalimat sederhana itu mengandung makna yang dalam: ilmu akan menemukan manfaatnya ketika dibagikan, bukan ketika hanya disimpan. Mungkin itulah alasan mengapa setiap naskah yang selesai perlu diberanikan untuk melangkah keluar dari ruang penyimpanan, agar dapat menjadi bagian dari perjalanan dan pembelajaran orang lain.(Sekjend MDG)
