![]() |
| Keluarga Almarhumah saat perjalanan menuju ke Dompu, (Ist/Surya) |
Dompu, Media Dinamika Global – Setelah sempat menuai sorotan dan kritik publik, Pemerintah Kabupaten Dompu bersama Baznas mulai merespons musibah yang dialami keluarga almarhumah St Arma, warga Kelurahan Simpasai, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, yang meninggal dunia di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (12/4/2026) kemarin.
Kabar baik ini disampaikan langsung oleh pihak keluarga di Dompu. Mereka mengaku telah dihubungi oleh Dinas Sosial Kabupaten Dompu yang menyatakan akan memberikan atensi dan berupaya membantu meringankan beban keluarga.
“Alhamdulillah, hari ini ada kabar dari Dinas Sosial. Mereka mau berkoordinasi dengan Baznas. Semoga bisa dibantu agar meringankan beban keluarga,” ujar salah satu anggota keluarga, Nurkomala yang diwawancarai media ini, Senin (13/4/2026).
Dinas Sosial Dompu diketahui tengah menjalin koordinasi dengan Baznas Dompu, sekaligus berkomunikasi dengan Dinas Sosial Provinsi NTB agar turut berkoordinasi dengan Baznas NTB guna mempercepat penanganan bantuan.
Selain itu, pihak keluarga juga telah dihubungi oleh Baznas yang meminta kelengkapan dokumen, mulai dari kronologi kejadian, identitas almarhumah, hingga dokumen pendukung lainnya sebagai syarat pengajuan bantuan.
Baca juga: https://www.mediadinamikaglobal.id/2026/04/tragis-warga-dompu-wafat-di-surabaya.html?m=1
Di tengah proses tersebut, jenazah almarhumah St Arma kini telah tiba di Pulau Lombok menggunakan ambulans dan selanjutnya akan langsung diberangkatkan menuju rumah duka di Kabupaten Dompu. Dalam perjalanan tersebut, turut mendampingi anak kandung almarhumah, Rangga.
Suasana duka masih menyelimuti keluarga besar di Simpasai. Tangis haru dan doa terus mengalir dari kerabat dan masyarakat sekitar yang berharap keluarga diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Sebelumnya, peristiwa ini sempat menjadi perhatian publik setelah keluarga mengaku kesulitan membiayai pemulangan jenazah dari Surabaya ke Dompu. Jarak yang jauh dan biaya tinggi membuat keluarga kebingungan, bahkan sempat mencari bantuan ke berbagai pihak tanpa kepastian.
Kondisi tersebut juga menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk pegiat sosial, yang menilai perlunya kehadiran nyata pemerintah dalam situasi darurat kemanusiaan.
Kini, dengan mulai adanya respons dari pemerintah daerah dan Baznas, keluarga berharap proses bantuan dapat segera terealisasi dan meringankan beban yang mereka tanggung.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa kehadiran negara sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam program pembangunan, tetapi juga dalam situasi duka dan darurat yang dialami masyarakat. (Red)
