Bima NTB, Media Dinamika Global.id.– H. kasnun Direktur sekaligus pemilik SPPG uma lengge wawo melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah untuk memantau langsung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Wawo kabupaten bima, diantaranya, Sekolah TK hingga SMA dan terakhir SPPG uma lengge wawo. Kunjungan tersebut dilakukan guna memastikan program berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi para siswa siswi di wawo kabupaten bima yang menjadi sasaran penerima.
Dalam kunjungan tersebut, H. Kasnun meninjau proses distribusi makanan, kualitas menu yang disajikan kepada siswa, serta mekanisme pengolahan makanan di dapur penyedia layanan. Selain itu, H. kasnun juga berdialog dengan pihak sekolah dan para siswa untuk mengetahui secara langsung tanggapan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Program MBG uma lengge wawo di wawo kabupaten bima saat ini dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan sasaran sekitar 1.800 siswa setiap harinya. Program ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah serta mendukung kesehatan dan konsentrasi belajar siswa.
H. Kasnun menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan program tersebut berjalan sesuai ketentuan, mulai dari proses pengolahan hingga makanan diterima oleh para siswa di sekolah.
“Kami turun langsung ke lapangan untuk memantau pelaksanaan program ini, memastikan kualitas menu, proses pengolahan hingga distribusinya berjalan dengan baik sehingga anak-anak benar-benar menerima makanan yang layak dan bergizi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dengan berjalannya SPPG uma lengge wawo di wawo kabupaten bima setiap hari dengan jumlah sasaran sekitar 1.800 siswa, terdapat beberapa hal yang perlu disamakan persepsinya di tengah masyarakat, terutama terkait nilai anggaran makanan yang sering menjadi perbincangan di media sosial.
“Sering kita melihat, membaca, atau menyimak di media sosial tentang masalah nilai. Sebenarnya nilai itu ada kriterianya. Yang skala kecil itu Rp8.000, kemudian yang skala besar Rp10.000. Lalu ada sisa dana Rp3.000 untuk pembelian bahan baku operasional dan Rp2.000 untuk keuntungan seperti sewa tempat, fasilitas serta peremajaan alat masak, sehingga nilainya menjadi Rp15.000,” jelasnya.
Menurutnya, skema tersebut saat ini juga sudah diberlakukan dalam pelaksanaan SPPG uma lengge wawo. Namun demikian, evaluasi tetap terus dilakukan terutama terkait variasi menu makanan yang disajikan kepada para siswa.
“Yang perlu kita evaluasi mungkin masalah menu. Anak-anak kadang tidak selalu suka makanan yang dihidangkan. Tetapi tadi sudah disampaikan bahwa SPPG uma lengge wawo sudah mempersiapkan menu yang berganti setiap hari, sehingga tidak monoton dan lebih sesuai dengan selera anak-anak,” ungkapnya.
H. kasnun menambahkan, kualitas menu juga tetap diawasi oleh tenaga ahli agar makanan yang disajikan memenuhi standar gizi bagi anak sekolah. Dengan pengawasan tersebut diharapkan program ini benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan siswa.
Ia juga menjelaskan bahwa harga bahan baku makanan yang masih banyak dipasok dari Pulau Sumbawa turut mempengaruhi biaya operasional program. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan agar pelaksanaannya tetap berjalan optimal.
“Kita tidak bisa serta-merta menyalahkan terkait nilai anggaran, karena bahan baku kita masih banyak dipasok dari Pulau Sumbawa Ntb. Makanya kita turun langsung untuk memantau, memastikan jika ada kekurangan dari sisi menu atau kualitas dapat segera diperbaiki,” jelasnya.
“Ada juga orang tua yang bertanya kenapa tidak diuangkan saja. Kita tidak bisa mengkondisikan seperti itu, karena ini memang program yang harus kita jalankan,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat memiliki tanggung jawab untuk memastikan program tersebut berjalan sesuai ketentuan, termasuk dalam hal pengawasan distribusi dan proses pengolahan makanan.
“Kita akan terus mengawasi mulai dari proses sterilisasi pengolahan, waktu pengantaran, hingga makanan sampai ke sekolah. Jangan sampai anak-anak menerima makanan yang sudah dingin, apalagi yang belum matang. Semua itu harus dipastikan kualitasnya,” pungkasnya. (Sekjend MDG)

