Derita Nelayan di Pesisir Ampenan: Jaring Rusak, Laut Tercemar, CSR Pertamina Tak Ada - Media Dinamika Global

Jumat, 06 Maret 2026

Derita Nelayan di Pesisir Ampenan: Jaring Rusak, Laut Tercemar, CSR Pertamina Tak Ada


Mataram. Media Dinamika Global.Id.– Aktivitas kapal tanker di sekitar depot PT Pertamina (Persero) di wilayah pesisir Bintaro, Ampenan, Kota Mataram, menuai keluhan dari masyarakat nelayan setempat. Para nelayan mengaku mengalami berbagai kerugian yang diduga dipicu oleh lalu lalang kapal di sekitar kawasan depot tersebut.

Keluhan yang disampaikan nelayan tidak hanya soal kerusakan alat tangkap, tetapi juga menyangkut dugaan kerusakan ekosistem laut hingga tidak adanya manfaat nyata dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat pesisir.

Seorang nelayan yang ditemui di pesisir Ampenan, Jumat (6/3), menuturkan bahwa aktivitas kapal tanker yang keluar masuk depot kerap terjadi tanpa pola yang jelas. Kondisi ini, sering kali mengganggu aktivitas melaut para nelayan yang memasang jaring di perairan sekitar.

Ia mengaku pernah mengalami kerugian ketika jaring miliknya diduga tertabrak kapal yang keluar dari kawasan depot.

“Kalau kapal sudah selesai bongkar muat, mereka bebas keluar masuk. Kadang tidak ada pemberitahuan. Pernah jaring nelayan ditabrak kapal yang keluar dari depot,” ujarnya sembari meminta identitasnya dirahasiakan.

Menurut dia, persoalan tersebut sebenarnya pernah disampaikan kepada pihak perusahaan. Namun hingga kini, nelayan mengaku belum mendapat kejelasan terkait mekanisme ganti rugi maupun langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Waktu itu kami menanyakan ke pihak Pertamina. Katanya tergantung keputusan kapten kapal apakah ada ganti rugi atau tidak. Sampai sekarang juga tidak ada kejelasan,” katanya.

Tidak hanya itu, nelayan juga menyoroti dugaan kerusakan terumbu karang di sekitar lokasi penambatan kapal tanker. Aktivitas penurunan jangkar kapal dinilai berpotensi merusak ekosistem laut yang selama ini menjadi habitat ikan tangkapan nelayan.

Kerusakan terumbu karang tersebut, menurut nelayan, tidak hanya berdampak pada menurunnya hasil tangkapan ikan, tetapi juga memicu perubahan kondisi gelombang laut di kawasan pesisir.

“Kalau terumbu karang rusak, gelombang jadi langsung ke pantai. Itu yang kami rasakan sekarang,” ujarnya.

Selain itu, nelayan juga mengaku beberapa kali melihat adanya lapisan minyak tipis di permukaan laut saat kapal tanker beroperasi di kawasan tersebut. Fenomena itu terlihat seperti warna pelangi di permukaan air.

“Kadang terlihat seperti pelangi di permukaan air, seperti ada minyaknya. Kami tidak tahu pasti dari kapal yang mana, tapi sering terlihat di sekitar jalur kapal,” ungkapnya.

Di tengah berbagai dampak yang mereka rasakan, nelayan juga menilai keberadaan depot Pertamina di kawasan tersebut belum memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.

Mereka mengaku hingga saat ini belum pernah menerima program bantuan yang berkaitan dengan kesejahteraan nelayan, baik berupa bantuan alat tangkap, perahu, maupun program pemberdayaan masyarakat.

“Sampai sekarang kami belum pernah dengar ada bantuan untuk nelayan di sini. Baik untuk perahu, alat tangkap, ataupun program pendidikan,” katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Pertamina (Persero) maupun otoritas terkait belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan para nelayan tersebut.

Redaksi ||

Comments


EmoticonEmoticon