Kota Bima, Media Dinamika Global.id.// Hari ketiga kegiatan Pra MIBA LBC yang berlangsung di Aula STIT Bima menghadirkan Bapak Andang, M.Pd. sebagai narasumber dengan tema ”Budaya Bima dalam Perspektif Pendidikan Etika dan Karakter”. Dalam pemaparannya, beliau memulai dengan merunut berbagai persoalan krusial yang bersifat laten namun semakin mengemuka di tengah dinamika kehidupan masyarakat Bima kontemporer.
Persoalan-persoalan tersebut tidak baik bersifat kultural, maupun berkelindan erat dengan perubahan sosial akibat perkembangan teknologi digital.
1. Krisis Karakter di Era Digital
Bapak Andang mengelaborasi krisis karakter generasi Bima saat ini ke dalam tiga aspek utama.
Pertama, menguatnya individualisme. Generasi muda Bima hari ini cenderung mengedepankan kehidupan yang serba personal dan terpisah dari ruang sosial. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari kebebasan penggunaan smartphone tanpa kontrol yang memadai. Anak-anak dan remaja semakin tenggelam dalam dunia digital, sementara keterlibatan mereka dalam aktivitas produktif dan interaksi sosial di masyarakat semakin menurun. Pola hidup semacam ini berpotensi melahirkan generasi yang pasif, kurang percaya diri, minim daya saing, serta tumbuh dengan kecenderungan egosentris.
Kedua, degradasi etika. Menurut beliau, terdapat jarak yang cukup signifikan antara tatanan nilai masyarakat Bima masa lalu dengan kondisi hari ini. Berbagai fenomena sosial seperti maraknya penyalahgunaan narkoba dan perilaku menyimpang lainnya menunjukkan melemahnya kontrol nilai adat dan budaya. Jika masyarakat Bima dahulu tunduk pada sistem nilai dan adat istiadat, maka kini sebagian generasi justru lebih tunduk pada algoritma digital yang sering kali bersifat destruktif terhadap pembentukan etika dan karakter.
Ketiga, krisis keteladanan. Generasi muda seolah kehilangan figur panutan yang dapat mereka teladani. Di lingkungan keluarga, sebagian orang tua belum sepenuhnya menghadirkan pola pendidikan yang berbasis keteladanan. Di masyarakat, ruang sosial yang seharusnya menjadi medium pembelajaran etika justru sering menampilkan praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai karakter. Akibatnya, generasi muda kehilangan sosok yang mendidik dengan kasih sayang, kelembutan, dan konsistensi moral.
2. Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal
Dalam konteks ini, Bapak Andang menegaskan bahwa pendidikan karakter harus berakar kuat pada budaya lokal. Budaya merupakan sumber nilai yang hidup dan kontekstual.
Beberapa unsur budaya Bima yang relevan dalam pendidikan karakter antara lain kearifan lokal seperti tari Wura Bongi Monca, musik rebana, pakaian adat, serta falsafah Maja Labo Dahu. Nilai-nilai ini mengandung ajaran tentang kehormatan diri, tanggung jawab moral, dan kesadaran sosial. Selain itu, budaya gotong royong perlu dihidupkan kembali sebagai praktik nyata dalam membangun relasi sosial yang sehat dan berkeadaban. Aspek lain yang tak kalah penting adalah keteladanan, di mana masyarakat dituntut untuk membangun kesadaran kolektif dalam bertutur kata dan berperilaku, sehingga generasi muda dapat belajar langsung melalui contoh nyata.
Upaya membangun pendidikan karakter berbasis budaya lokal ini, menurut beliau, harus melibatkan tiga pusat pendidikan secara sinergis:
Pertama, pendidikan keluarga. Orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak. Penanaman tata krama, sopan santun, dan etika dasar harus dimulai dari rumah. Setiap tutur kata dan perilaku orang tua akan menjadi barometer moral bagi anak-anaknya.
Kedua, lingkungan masyarakat. Masyarakat memiliki peran strategis dalam menumbuhkan benih karakter seperti gotong royong, solidaritas, dan empati sosial. Nilai-nilai ini hanya dapat hidup jika dipraktikkan secara kolektif dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, sekolah. Sekolah berfungsi sebagai ruang pembentukan karakter melalui praktik nyata. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan secara teoritis, melainkan harus diwujudkan dalam aksi sosial, seperti kepedulian terhadap sesama yang terdampak bencana.
Keterlibatan seluruh stakeholder menjadi prasyarat utama dalam membentuk karakter generasi bangsa yang berintegritas.
3. Budaya sebagai Sistem Nilai Masyarakat Bima
Pada bagian ini, Bapak Andang menekankan bahwa budaya Bima sejatinya merupakan sistem nilai yang telah teruji secara historis.
Nilai Maja Labo Dahu diposisikan sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat Bima, karena mengandung dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan antar manusia). Selain itu, tradisi dan ritual adat, seperti Ampa Fare di masyarakat Wawo dan Hari Raju di masyarakat Donggo Mbawa, dipahami sebagai laku hidup komunitas yang sarat makna simbolik dan nilai sosial, meskipun kerap disalahpahami oleh pihak luar.
Nilai lain yang krusial adalah Nggahi Rawi Pahu, yang menegaskan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Nilai ini diperkuat dengan konsep Nggusuwaru (segi delapan) yang mencerminkan karakter ideal masyarakat Bima:
a. Dou mato’a di ruma lao raso (orang yang taat kepada allah dan selalu suci)
b. Dou maloa ra bade (orang yang bisa dan berpengetahuan)
c. Dou mantiri nggahi kalampa (orang selaras ucapan dan tindakan)
d. Dou mapoda nggahi paresa (orang yang berkata jujur dan benar)
e. Dou mambani ra disa (orang yang tegas dan berani membela kebenaran)
f. Dou matenggo rawale (orang yang mampu dan berkemampuan)
g. Dou mabisa ra guna (orang yang berilmu dan bermanfaat)
h. Londo dou ma taho (keturunan orang baik)
Walaupun nggusuwaru awalnya digunakan sebagai sistem penilaian kepemimpinan, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan relevan dalam pembentukan karakter manusia paripurna (insan kamil). Namun, nilai-nilai luhur ini kini mulai tergerus oleh pola kehidupan yang serba instan dan pragmatis.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk menghidupkan kembali pendidikan berbasis nilai nggusuwaru, agar lahir generasi pewaris yang kompeten, berdaya saing, dan berakar kuat pada etika, karakter, serta budaya Bima.(Sekjend MDG)
