Dosen STIT Sunan Giri Bima : "AKSARA HIDUP DALAM SURATAN ILAHI" - Media Dinamika Global

Kamis, 01 Januari 2026

Dosen STIT Sunan Giri Bima : "AKSARA HIDUP DALAM SURATAN ILAHI"


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.// Kamis, 1 Januari 2026, Di sanalah sebuah kisah baru dimulai, meski kisah lama tak pernah benar-benar usai. Ia tetap setia berjalan beriringan bersama roda kehidupan yang terus berputar, tanpa jeda, tanpa isyarat untuk berhenti.

Fajar perlahan menyingkap dirinya. Mentari pagi memancarkan sinar merah kekuningan, seolah menjadi tanda sunyi bahwa sebuah awal sedang disiapkan. Alam seperti berbisik pelan: hidup selalu menyediakan ruang untuk memulai kembali, bagi siapa pun yang bersedia belajar dari perjalanan.

Di awal tahun baru ini, coretan-coretan halus tersirat dalam relung hatiku. Pada setiap waktu, aku bermunajat agar Tuhan senantiasa membimbing ruhani ini, mendekatkannya kepada-Nya. Sebab yang paling kutakuti bukanlah kehilangan dunia, melainkan ketika nikmat ruhani itu dicabut, saat hati kehilangan arah, tersesat, dan tak lagi mengenali jalan pulang.

Aku sadar, sebagai manusia, aku pun memiliki kecenderungan duniawi. Ada cita-cita, harapan, dan hajat hidup yang kupeluk untuk masa depan. Namun semuanya kutitipkan kepada Sang Pemberi, Yang tak pernah berhenti mencurahkan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan dalam Kalam-Nya ditegaskan:

“Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi, melainkan Allah yang menjamin rezeki dan kehidupannya.”

Aku tidak terlalu merisaukan apakah Tuhan memberi atau menunda. Yang lebih kutakutkan justru ketika Allah mengambil energi semangatku, ketekunan, kesungguhan, dan daya juang untuk terus melangkah. Sebab tanpa itu, langkah menjadi rapuh, dan jalan yang seharusnya mendewasakan bisa berubah menjadi sebab kehancuran.

Aku tak mampu memastikan apakah jalan yang kutempuh akan selalu aman, atau justru sarat ujian. Namun satu hal yang kuyakini "Tuhan begitu mencintai hamba-Nya".

Terlintas dalam benakku nasihat seorang ulama tafsir, Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, yang mengutip sabda Nabi dengan kalimat singkat namun mendalam maknanya:

“Jika hamba-Ku bertaubat, maka Aku adalah kekasihnya. Jika ia belum bertaubat, maka Aku adalah tabibnya.”

Betapa luas kasih sayang Allah. Betapa Dia tak pernah pergi, bahkan ketika hamba-Nya tersesat dan kehilangan arah. Karena itu, aku selalu berprasangka baik kepada-Nya. Dalam perjalanan hidup ini, begitu banyak yang telah Allah berikan, dari sekian banyak yang kupinta, bahkan dari hal-hal yang tak pernah terlintas dalam doaku. Aku tak sanggup menghitungnya.

Aku juga yakin, Allah selalu mendengar pintaku. Hanya saja, aku sedang diajari untuk bersabar, menunggu waktu terbaik menurut kehendak-Nya. Sebab Allah melampaui segala perkiraanku "Dia lebih mengetahui kapan sesuatu layak diberikan".

Tulisan ini hanyalah rangkaian aksara, sebuah curhat batin. Bukan untuk meraih simpati, melainkan sebagai bagian dari jejak hidup yang kelak akan kutengok kembali, sebagai pengingat bahwa suara hati yang tak terdengar oleh sekitar, ternyata mampu menembus tabir-tabir Ilahi.

Sebab segala hajat itu telah bersemayam dalam suratan-Nya.

Di sanalah segalanya tertulis. Dan kepada-Nya, aku belajar untuk percaya.(Sekjend MDG)

Comments


EmoticonEmoticon