MediaDinamikaGlobal.id| Halmahera Selatan, Peringatan Hari Santri Sedunia di Halmahera Selatan pada 22 Oktober 2025 seharusnya menjadi lebih dari sekadar seremoni dan kata-kata manis tentang jasa para santri. Ini adalah waktu untuk bermuhasabah secara jujur dan kritis: apakah kita benar-benar melindungi para santri dari ancaman yang mengintai di dalam pesantren itu sendiri?
Halmahera Selatan belum bisa melupakan fakta pahit bahwa kasus pelecehan seksual pernah terjadi di salah satu pesantren di daerah ini. Bagi Ketua DPC Gerakan Pemuda Marhaenisme (GPM) Halsel, Bung Harmain Rusli, S.H, peringatan Hari Santri harus dijadikan momen refleksi, bukan sekadar perayaan.
“Momentum Hari Santri adalah waktu untuk jujur menghadapi tantangan, termasuk kasus pelecehan yang mencoreng dunia pesantren. Semua pihak harus serius melindungi santri dari segala bentuk kekerasan,” tegas Harmain.
Ia juga mempertanyakan, apakah sejauh ini sudah ada langkah nyata dari pihak terkait ataukah peringatan ini hanya menjadi ritual tahunan yang berlalu tanpa perubahan berarti.
Kasus pelecehan di pesantren sempat mengguncang publik Halsel dan memicu gerakan komunitas pemuda serta organisasi masyarakat untuk meningkatkan pengawasan. Namun, GPM Halsel menilai perlindungan bagi santri masih belum optimal dan sistem pengaduan yang ada belum sepenuhnya efektif memberi ruang aman bagi korban.
Peringatan Hari Santri tahun ini, menurut GPM Halsel, harus menjadi panggilan kesadaran kolektif. Tidak cukup dengan diskusi dan seremoni, tetapi dibutuhkan langkah nyata untuk mencegah, menangani, dan menghapus kekerasan di lingkungan pendidikan Islam.
“Jika kita benar-benar mencintai para santri, buktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar ucapan seremonial,” tutup Harmain.
“Karena masa depan bangsa ada di tangan mereka, para santri yang wajib kita jaga, lindungi, dan hormati sepenuh hati."
Unces////
