Burhanudin : Benci-Benci Bilang Cinta,Tak Ada Senior Juga Junior


Opini. Media Dinamika Global. Id.- Salah satu Narasi yang cukup Memukau ketika Pembaca dan Dalam dunia ini ada yang pro ada juga yang kontra, jadi secara definitif dia menjelaskan tentang paradoks yang terjadi dalam tubuh sosiologisnya.

Ada banyak pendekatan yang mau kita kuriositaskan dalam permasalahan ini, mulai dari optimis yang irasional dan juga bisa jadi pesimis yang rasional. Artinya determinasi kita ditahan oleh hal yang legal norm sehingga kita fokus dalam sosial norm.

Jadi, kata benci ini adalah penggalan kata dari cinta artinya padanan itu harus ada dalam menjelaskan sesuatu itu bisa di komparasikan kedalam struktur berfikir yang logis yaitu silogisme. Kebencian itu memanfaatkan momentum kecintaan sehingga, kita cinta terhadap sesuatu bisa melibatkan yang namanya kebencian itu sendiri.

Cinta juga bisa ditafsirkan sebagai langkah awal untuk membenci karena itu, etimologisnya dia tidak berkesudahan, secara koherensi dia bisa mengisi diruang-ruang yang kosong dan melibatkan kedua energi itu bisa menyatu dalam imajinasi yang fiksional.

Pertumbuhan emosional melibatkan perintah hati yang direspon oleh akal lalu diartikulasikan oleh mulut, jenis bahasa yang kita pakai. Oleh karena itu filosofi cinta juga memanjakan benci, sehingga kita screen out cinta maka tumbuhlah benih-benih kebencian yang absurditas. 

Jadi emosional yang bersih itu harus bersandar pada koherensi logis apa yang kita ucap dan bertindak dalam memutuskan kebenaran tentang cinta itu apa, kalaupun dia tidak melibatkan kebencian maka, sebagai prinsip dasar adalah manusia tidak boleh tenggelam dalam api kebencian dan dia harus pake emosional yang stabil.

Senior bukan dewa dia adalah mahluk yang irasional dan juga bisa memakai hal yang rasional, jadi entitas itu bukan karena dia punya kedudukan diatas tetapi jalan fikirannya masuk akal. Kultur feodalistik ini yang menyebabkan kebencian itu bergumpal sehingga keharmonisan antara manusia satu dan yang lain mendahului makna cinta yang sesungguhnya.

Kembalikan hak nafas emosional cinta dalam melawan derasnya arus kebencian yang berkepanjangan, sehingga kita bisa buanglah sampah pada tempatnya. Maka dengan begitu kita bisa memahami diri kita dan orang lain.

Penulis

Burhanudin

Load disqus comments

0 comments