Memasuki Injury Time Masa Kontrak, PT. Waskita Kerjakan Proyek 114 Milyar Makin Tak Sesuai Spesifikasi.


Kabupaten Bima. Media Dinamika Global-id. Akibat kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak Waskita maupun BWS, pekerjaan tanggul dan bronjongnisasi bantaran sungai di Desa Simpasai diduga asal jadi. Kamis, (12/01/22).

Berdasarkan pantauan Media ini dilokasi proyek, tak satupun pihak Waskita maupun BWS, yang mengawasi langsung proses pekerjaan, akibatnya pekerjaan tidak berkualitas.

Molornya pengawasan oleh Pihak Waskita menyebabkan pekerjaan yang dilakukan asal-asalan oleh para pekerja, hal ini nampak dengan jelas, pada bagian bawah atau pondasi tanggul, tidak ada campuran semen hanya batu kosong, kemudian pada bagian luarnya ditempel begitu saja dengan campuran beton.

"Alhasilp tanggul kelihatan rapi diluar padahal didalamnya kosong.

Salah seorang warga yang enggan namanya dikorankan menilai, jika seperti ini cara kerjanya mereka, maka kekuatan Konstruksi pada bangun ini tidak akan bertahan lama, apalagi pekerjaan ini dilakukan didalam genangan air.

Saya rasa ini tidak sesuai dengan spesifikasi, pasalnya terlihat pada tanggul yang baru saja selesai dikerjakan namun pada bagian bawahnya sudah terjadi keretakan. 

Pekerjaan belum selesai tanggul sudah retak, Ini buang-buang material. Katanya.

Dikatakannya lagi, seharusnya sebelum dilakukan pemasangan pondasi, Subkontraktor menyediakan mesin pompa air yang sekira mampu mengeluarkan air pada galian itu, agar campuran beton tidak hilang akibat besarnya genangan.

yaaah...! Ini terjadi akibat kurangnya pengawasan terhadap pelaksana proyek ini. Ungkapnya.


Benar saja, jika dilihat pada tanggul yang baru saja selesai dikerjakan, namun terdapat keretakan pada bagian bawahnya, artinya, ini diduga akibat Faktor air semen yang berubah seiring dengan kegiatan pengecoran beton dalam kondisi basah (tergenang air).  

Genangan air yang terdapat pada daerah pemasangan Pondasi berpotensi mempengaruhi komposisi adukan khususnya pada faktor air semen (fas). Hal tersebut dapat mengakibatkan kuat tekan beton (f’c) berkurang sehingga mengakibatkan mutu beton menjadi berkurang. 

Terakhir dirinya berharap, Pihak Waskita maupun BWS untuk bertanggungjawab terhadap fungsi kepengawasannya, karena kami sebagai penerima manfaat membutuhkan kualitas bukan kuantitas. Tutupnya. (MDG 002)

Load disqus comments

0 komentar