Walikota Bima HML Mengambil Tindakkan Cepat, Membentuk Tim Untuk Penanganan Pencemaran Teluk Bima


Kota Bima. Media Dinamika Global.Id. Seperti ada berkah ramadhan, Tragedi Pencemaran Teluk Bima sehari itu mengudang perhatian nasional dan bahkan menjadi isu dunia. (Minggu, 01/05/22).

Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE (HML) pun mengambil tindakkan cepat, membentuk tim untuk melakukan langkah penangananya.

Tim yang terdiri dari berbagai unsur itu dikoordinir oleh kepala DLH Kota Bima. Tim juga mengajak kolaborasi dari Perguruan Tinggi, LSM dan Dunia Usaha termasuk membuka akses dengan media masa, Jelas A.Haris Dinata, M.Si dosen Teknik Lingkungan STT Bima yang merupakan salah seorang anggota Tim Adhock.

Fenomena buih laut itu membuat orang kaget dan bahkan bingung. Tidak saja masyarakat, pemerintah, para akademisi dan peneliti pun ikut bingung. Buih itu muncul dua hari mulai tanggal 26 dan 27 memuncak selanjutnya hilang perlahan.

Kata Haris, mengutip notulensi rapat yang difasilitas DLH dan Dinas Pariwisata Kota Bima, Sabtu,30/4/2022, di Lawata. Buih itu terurai secara alamiah oleh factor atmosferik dan oseanografi dalam teluk Bima. Lanjut mantan Wartawan ini, hasil analisis mikroskopik yang dilakukan oleh Dr. Syaifyudin, ST, M.Si dan tim ternyata buih gel mengandung jebakan udara sehingga sangat mudah untuk mengapung.

Sejumlah besar udara terperangkap menyebabkan kolom air kekurangan oksigen dan akhirnya semua biota termasuk ikan pelagis banyak yang mati.

Pantai mengalami pembusukan akibat ikan mati dan meninggalkan bakteri. Sejumlah besar ikan mati yang berdampak pada kehilangan biodiversitas pada ekosistem laut di Teluk Bima.

DLH Kota Bima dan DEPO Pertamina Bima pun melakukan tindakan cepat apalagi hampir semua mata tertuju ke PT. Pertamina Bima. Pertamina terjebak merasa tertuduh.

Untuk membuktikan adanya kandungan minyak, pihak Pemerintah menghadirkan Labkesda Kota Bima melakukan uji bakar, hasilnya nihil. selain itu Sample air juga di bawa ke LabKesDa Kota Bima. Hasilnya, Kandungan Logam Berat (Arsen) NEGATIF.

Tak puas dengan itu, untuk memastikan hasil, Pertamina bersama Polres Bima Kota, BPBD Kota Bima pun melakukan pengujian yang sama di lokasi dengan UJI BAKAR, hasilnya pun nihil.

Kesimpulannya bahan tersebut tidak mengandung minyak/hydrocarbon.

Selanjutnya kata Haris, DLH bersama Pertaminan yang disaksikan polisi, BPBD,

Dinas Kelautan juga telah membawa sampel Air ke Laboratorium Kesehatan Kelautan Sekotong Lombok Barat dan juga dikirim ke Laboratorium Yayasan Generasi Biologi Indonesia Surabaya. hasilnya belum keluar.

Tak henti sampai disitu, 28/4, Dr. Syafyudin Yusuf yang didampingi kadis LH, Kadis Pariwisata dan tim melanjutkan penelitian terbatas bio-fisik sampel Gellatin Laut. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah pengamatan mikroskopik, pengukuran suhu, pemotretan, identifikasi ikan terdampak.

Di hari yang sama pun pihak Kemeterian melakukan Rakor tingkat Kementrian dan Badan terkait, bersama Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota serta stakeholder terkait termasuk Pertamina.

Seperti tak bisa tenang, Walikota pun siaga. Untuk mendengarkan masukan hal itu, usai Taraweh 28/4 Walikota mengudang sejumlah ahli yang terdiri dari Perguruan Tinggi dan Budayawan, dikediamannya.

sejumlah lembaga dan organisasi pun rame-rame ikut ambil bagian, tak kecuali IWA MBOJO UNHAS (Ikatan Mahasiswa Unhas) mengadakan diskusi Publik Daring dan Luring. Luring di pusatkan di Fix Laluna, Tim bentukan Walikota melaksanakan meeting terbatas dengan perwakilan Kemenko Marves. Hadir saat itu, kepala Pertamina, Kepala SKPD : DLH, Pariwisata, Kelautan dan Perikanan, Unhas, Sekolah Tinggi Tehnik Bima dan GM Geopark Tambora Samota Biosphere Reserve.

Minggu, 30/4, Pertamina bekerjasama dengan PEMKOT BIMA melakukan penyedotan/pembersihan material sisa pencemar di pesisir pantai Teluk Bima.

Menurut Haris sebagaimana harapan Dr. Syafyudin, penyelam terbaik dunia kelahiran Penaraga itu mengajak “Mari Berwisata, ramaikan Pantai Lawata tapi Jangan dulu Mandi di Laut”.

Hal ini dilakukan untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan. Sembari menunggu hasil lab uji lengkap, uji patogen (virus dan bakteri), penurunan signifikan DO di kolom air dan peningkatan konsentrasi NO3 (Nitrat).

Selanjutnya, untuk penanganan berkalanjutan kata Haris, tim menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang perlu, seperti ; bentuk POKJA tingkat Kabupaten Bima/ Kota Bima dan Provinsi NTB.

PT. Pertamina buat MoU dengan Perguruan Tinggi untuk melakukan monitoring secara berkala, melakukan Sosialisasi kepada masyarakat, Melakukan identifikasi biodiversiti yg terganggu, Identifikasi dampak wisata, social, ekonomi Mamsyarakat di Teluk Bima.

Masyarakat diharapkan tidak berspekulasi sebelum ada hasil uji laboratorium. terakhir Pemerintah didukung swasta dan lembaga peneliti atau universitas untuk membuat suatu data base kelautan Teluk Bima sebagai referensi masa mendatang (bioekologi, fisik, seabase, oseanografi). (MDG 002).

Load disqus comments

0 komentar