PAN NTB: HMS ATAU HASBULLAH MUIS
NTB, Media Dinamika Global.id.-- Diskusi mengenai nakhoda baru DPW PAN Nusa Tenggara Barat kian memanas pasca-kekosongan kursi ketua. Salah satu isu krusial yang mengemuka di ruang publik adalah kalkulasi geopolitik dan keterwakilan entitas lokal. Pertanyaan mendasar muncul: mungkinkah DPP PAN menunjuk Ketua DPW dari latar belakang wilayah dan rumpun asal yang sama dengan Sekretaris Wilayah (Sekwil), mengingat H. Muhammad Syafrudin (HMS) dan Ady Mahyudin sama-sama berasal dari Bima?
Dalam perspektif ilmu politik, tidak ada aturan kaku yang melarang keterwakilan dari wilayah asal yang sama dalam kepemimpinan partai politik, sepanjang kebutuhan taktis dan target elektoral organisasi terpenuhi. Namun, dalam konteks sosiologi politik NTB yang sangat majemuk, keberadaan asas keterwakilan wilayah antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa merupakan variabel kunci untuk menjaga keseimbangan konsolidasi. Menempatkan figur dari latar belakang geopolitik yang sama di dua posisi puncak berisiko mengaburkan representasi basis massa Pulau Lombok, khususnya suku Sasak yang memegang porsi populasi elektoral terbesar di NTB.
Skema Perombakan Radikal demi Kemajuan Partai.
Jika DPP PAN menghendaki akselerasi dan kemajuan partai, terbuka ruang untuk melakukan skema perombakan struktur secara radikal dan terukur. Sebagaimana diulas dalam analisis sebelumnya, HMS memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan Ady Mahyudin dari sisi jangkauan sosiologi politik dan kedekatan emosional dengan kader lintas wilayah, termasuk di Pulau Lombok.
Jika HMS dipercaya memegang kursi Ketua DPW PAN NTB, DPP PAN dapat merancang komposisi kepemimpinan yang lebih inklusif dan proporsional untuk mengisi posisi Sekretaris Wilayah dari keterwakilan Pulau Lombok. Beberapa skema komposisi alternatif yang dapat dipertimbangkan DPP PAN antara lain:
Pertama, mengombinasikan HMS sebagai Ketua dengan Izzul Islam sebagai Sekwil untuk menjangkau basis massa yang dinamis di Lombok.
Kedua, menduetkan HMS dengan kader-kader murni berpotensi dari daerah pemilihan Pulau Lombok atau Sumbawa, seperti Hasbullah Muis, Adnan, Munawir, atau Hadi Sulthon.
Menguji Karakter Komposisi Kepemimpinan Baru.
Di antara nama-nama baru yang muncul dalam ruang diskusi publik, figur Hasbullah Muis menarik untuk dicermati. Sebagai anggota DPRD Provinsi NTB selama dua periode dari Dapil Lombok Barat-KLU sekaligus kontestan kuat Wakil Bupati Lombok Barat, Hasbullah Muis memiliki modal elektoral dan rekam jejak pengabdian yang teruji di Pulau Lombok.
Meskipun secara latar belakang historis keluarganya bertaut dengan garis keturunan Bugis-Makassar, realitas politik menunjukkan bahwa keterikatan sosial, kapasitas kerja, dan investasi politik Hasbullah Muis telah menyatu secara utuh dengan dinamika masyarakat Lombok. Politik modern mengukur kualitas kepemimpinan bukan dari garis asal-usul, melainkan dari sejauh mana figur tersebut mampu merepresentasikan kepentingan konstituen dan diterima oleh struktur di tingkat akar rumput.
Kalkulasi Objektif bagi DPP PAN.
DPP PAN kini dihadapkan pada momentum emas untuk melakukan penataan organisasi secara komprehensif. Menjaga keseimbangan geopolitik Lombok dan Sumbawa bukan berarti membatasi potensi kader tertentu, melainkan strategi rasional untuk merangkul seluruh entitas politik di NTB.
Dengan menempatkan HMS yang memiliki rekam jejak nasional dan penerimaan luas, dipadukan dengan figur Sekwil yang mengakar kuat di Pulau Lombok, PAN NTB akan memiliki struktur pimpinan yang solid, inklusif, dan siap memenangkan kontestasi politik mendatang. Keputusan akhir DPP PAN akan menentukan apakah partai ini memilih melangkah dengan pola lama atau berani mengambil keputusan strategis demi masa depan PAN NTB yang lebih inklusif dan progresif.(Sekjend MDG)
















