Mediadinamikaglobal.id|LABUHA, HALMAHERA SELATAN – Kehadiran PT Harita Nikel yang beroperasi di kawasan Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, dinilai menjadi jawaban substansial sekaligus solusi nyata di tengah keterbatasan kemampuan anggaran pembangunan yang dialami oleh negara maupun pemerintah daerah. Penilaian strategis ini disampaikan secara resmi oleh Ketua DPC Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Halmahera Selatan, Harmain Rusli, SH, dalam keterangannya kepada awak media, Selasa 18 Agustus 2026.
Menurut Harmain Rusli, keberadaan industri pengolahan dan pertambangan nikel tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa, melainkan menjadi penopang utama pembangunan daerah, penyumbang pendapatan negara, serta penggerak roda ekonomi masyarakat luas. Peran ini dirasakan semakin vital di saat pemerintah menerapkan kebijakan efisiensi fiskal yang ketat di seluruh lini pembangunan nasional.
“Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat, keberadaan investasi dan aktivitas industri di Pulau Obi tetap memiliki peran sangat vital. Kontribusinya tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tapi juga menjadi sumber penerimaan negara dan daerah, membuka lapangan kerja, serta mempercepat pembangunan infrastruktur yang sulit terjangkau jika hanya mengandalkan alokasi APBN maupun APBD,” tegas Harmain.
Bagi masyarakat Halmahera Selatan, Pulau Obi dan segala kekayaan alam yang dikandungnya memiliki makna yang jauh lebih dalam: bukan sekadar wilayah pertambangan, melainkan sumber kehidupan abadi sekaligus harapan masa depan bagi warga.
“Tanah Obi bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga harapan masyarakat. Di saat negara sedang melakukan efisiensi anggaran, Harita Nikel hadir sebagai bagian utama jawaban atas kebutuhan pembangunan dan perekonomian daerah,” ungkap Harmain, menegaskan posisi strategis wilayah ini dalam peta pembangunan Indonesia.
Dalam pemaparannya, Harmain yang juga Calon advokat muda Halsel juga merinci sederet data pencapaian dan kontribusi nyata yang telah ditorehkan PT Harita Nikel, baik dalam skala nasional maupun kancah internasional. Di tingkat nasional dan daerah, perusahaan ini tercatat mampu menghasilkan lebih dari 70.000 ton kandungan nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun, menjadikannya salah satu produsen nikel kelas atas terbesar di Indonesia. Dari sisi ketenagakerjaan, Harita Nikel telah menyerap lebih dari 23.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, di mana sekitar 43 hingga 45 persen di antaranya adalah warga asli Maluku Utara—membuka peluang ekonomi yang luas bagi masyarakat lokal.
Kontribusi terhadap keuangan negara dan daerah pun sangat besar, dengan menyumbang miliaran rupiah setiap tahun melalui pembayaran pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), royalti, serta dana bagi hasil sumber daya alam, bahkan menjadi penyumbang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Halmahera Selatan. Selain itu, perusahaan ini juga telah membangun berbagai fasilitas vital seperti pelabuhan khusus, pembangkit listrik, jalan penghubung, fasilitas kesehatan, sekolah, hingga sarana air bersih yang kini dimanfaatkan sebagai infrastruktur publik.
Dalam penerapan teknologinya, Harita Nikel mengoperasikan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang modern, menjadikannya pelopor program hilirisasi nikel di Indonesia dan mengubah pola lama ekspor bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tinggi. Atas kinerjanya tersebut, perusahaan telah mendapatkan pengakuan resmi sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Objek Vital Nasional, serta meraih berbagai sertifikasi lingkungan dan penghargaan tata kelola terbaik.
Sementara itu, dalam skala global, Harita Nikel kini diperhitungkan sebagai salah satu dari 5 produsen terbesar dunia penyedia bahan baku nikel berkualitas tinggi untuk industri kendaraan listrik, baterai energi terbarukan, baja nirkarat, serta teknologi hijau masa depan. Produk olahannya telah dikirim ke lebih dari 12 negara maju, meliputi Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan berbagai negara penghasil teknologi dunia lainnya, sehingga turut menopang rantai pasok energi bersih global.
Kualitas produk dan pengelolaannya telah memenuhi standar ketat internasional seperti standar Uni Eropa, ASTM, dan ISO, yang menjadikan Harita Nikel diakui sebagai pemasok nikel berkelanjutan dan ramah lingkungan di pasar dunia. Melalui penerapan teknologi rendah emisi, perusahaan juga telah berhasil mengurangi emisi karbon lebih dari 360.000 ton CO₂e per tahun, yang turut mendukung komitmen Indonesia dan dunia dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Berkat peran strategis ini, Indonesia kini menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar nikel dunia dan menempatkan diri sebagai pemimpin rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Meski memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian besar tersebut, Harmain Rusli mengingatkan agar seluruh operasional perusahaan tetap berlandaskan prinsip keberpihakan pada rakyat dan keberlanjutan lingkungan. Ia menegaskan bahwa kemajuan besar maupun kontribusi global tidak akan memiliki makna apa pun jika kesejahteraan rakyat kecil di sekitar wilayah operasi tidak turut meningkat.
“GPM menegaskan: kemajuan besar dan kontribusi global tidak ada artinya jika rakyat kecil di sekitar tetap sulit hidup. Kami menuntut tiga hal utama: pertama, penyerapan tenaga kerja lokal harus diprioritaskan dan dilakukan secara transparan; kedua, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) serta kemitraan usaha harus diarahkan untuk memperkuat UMKM, sektor pertanian, dan perikanan agar perekonomian masyarakat tidak hanya bergantung pada industri tambang semata; ketiga, ketaatan penuh terhadap hukum dan aturan lingkungan, di mana perusahaan wajib patuh, dan negara wajib hadir melalui penerbitan izin resmi untuk menutup ruang praktik pertambangan ilegal atau PETI,” ujarnya dengan tegas.
Harmain menambahkan pesan kritis, “Kalau tambang jalan, pendapatan naik, tapi rakyat tetap susah—itu bukan pembangunan, itu hanya memindahkan kemiskinan.”
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen masyarakat di Halmahera Selatan untuk senantiasa menjaga iklim investasi agar tetap kondusif. Harmain menekankan pentingnya menemukan titik tengah antara kepentingan investasi dan hak-hak rakyat.
“Jangan karena kritik lalu investasi dipersulit, tapi jangan pula karena investasi lalu kritik dibungkam. Jalan tengahnya harus jelas: investasi berjalan lancar, rakyat hidup sejahtera, dan Indonesia dihormati oleh dunia,” pungkasnya.
Pernyataan ini menegaskan kedudukan PT Harita Nikel bukan hanya sebagai kebanggaan masyarakat Halmahera Selatan, melainkan aset strategis bangsa yang telah mengangkat posisi Indonesia menjadi kekuatan ekonomi baru di kancah internasional.
Hingga berita ini diturunkan, tanggapan resmi maupun keterangan tertulis dari manajemen PT Harita Nikel terkait penilaian dan pandangan yang disampaikan oleh Ketua DPC GPM Halmahera Selatan tersebut belum diperoleh.
Lekk////