Adi Desa Doridungga, Kecamatan donggo, Kabupaten Bima, NTB saat diwawancara media Dinamika global, Sabtu (24/5/2025).
Donggo NTB, Media Dinamika Global.id. – Warga Kampung manggena'e, Desa doridungga, Kecamatan donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku belum merdeka walaupun Indonesia sudah merdeka.
Pengakuan warga tiga kampung itu bukan alasan. Betapa tidak, warga di bagian pedalaman Kabupaten Bima itu, selama 74 tahun Indonesia merdeka belum menikmati infrastruktur dasar seperti jalan jalan beraspal, listrik, air minum bersih.
Hingga kini, jalan menuju air kangga ini belum dirabat apalagi diaspal. Sama sekali belum ada perhatian pemerintah. Begitu pula dengan air minum, mereka masih mengandalkan air hujan.
Sementara untuk penerangan malam hari, mereka mengandalkan lampu obor/senter. Lalu, untuk telepon, mesti berjalan kaki sejauh 70 kilometer.
“Negara ini sudah 74 tahun merdeka. Tetapi kami belum menikmati kemerdekaan itu. Kami di sini sama sekali belum merdeka,” ungkap adi warga kampung manggena'e kepada media ini Sabtu 24 Mei 2025.
“Jalan air kangga sama sekali belum diperhatikan. Kondisinya sangat buruk. Kami di sini juga belum masuk listrik tempat tersebut, air minum bersih, dan sinyal telepon. Inilah mengapa kami merasa belum merdeka. Kami juga tidak tahu. Apa alasan kami di sini dianaktirikan pemerintah,” sambung adi.
Ia mengungkapkan, puluhan tahun warga ketiga dusun itu sangat merindukan perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar masyarakat. Tetapi, hingga kini kerinduan itu tidak pernah direspon pemerintah daerah selama ini.
“Selama ini juga kita pasrah saja dengan keadaan ini. Sulit sebenarnya, hanya mau bagaimana. Mau teriak, teriak kepada siapa dan melalui siapa,” ungkap adi.
“Kalau bisa, kepada bapak Pemerintah daerah, tolong perhatikan kami di sini. Kami juga warga Indonesia. Di sini kami diabaikan oleh pemerintah daerah,” lanjutnya.
Sementara itu, Adi warga kampung manggena'e menuturkan saat kampanye pada tahun 2024 lalu, Bupati dan Wakil Bupati bima harus konsisten melihat jalan, air minum bersih, dan listriknya di air sori kangga kecamatan Donggo.
“Itu janji mereka saat kampanye di sini. Sekarang kami tuntut itu semua. Tolong perhatikan sinyal, jalan raya, air minum bersih, dan listrik. Tolong tulis ini teman-teman dari media. Sampai di mana saja. Biar pemerintah daerah buka mata melihat penderitaan kami di sini,” tutur Adi.
Ia mengungkapkan, akibat tidak diperhatikan infrastruktur jalan, warga 3 dusun di Desa doridungga Kecamatan donggo.
Ia menyebut, tiga dusun itu memiliki banyak hasil pertanian seperti jagung merah, jambu mente.
“Lumayan hasil tani kita di sini. Hanya kendala di jualnya. Kita mau jual pakai pikul ke desa ini susah sekali. Sengsara sekali,” ungkapnya.
Ia mengatakan, akibat tidak ada listrik belum masuk di lokasi itu, warga hanya mengandalkan lampu pelita /senter untuk penerangan malam.
“Kalau malam, habis makan lampu senter. Mau nyala terus kan pikir dengan minyak tanah juga mahal. Terpaksa, anak-anak sekolah tidak bisa belajar di malam hari. Habis makan mereka tidur saja,” katanya.
Selain itu, ia menyebut lokasi itu sangat terisolasi lantaran tidak ada sinyal telepon. Di sekitar jalan lokasi air kangga memang ada tempat yang ada sinyal, tetapi mesti berjalan kaki sejauh 70 kilometer, baru dapat sinyal.
“Itu pun sampai di atas bukit ada sinyal. Kalau tidak kita pergi dan pulang kosong. Padahal zaman sekarang jalan belum aspal itu butuh sekali. Apalagi masyarakat yang panen jagung. Susah menempuh jalan lokasi hanya kendaraan roda dua saja yang bisa melewati jalan tersebut.
Sementara untuk air bersih, ia mengaku saat ada upacara besar warga sangat susah memperoleh air minum bersih.
“Itu kita harus pikul dari mata air lalu tampung di bak. Di sini mata air banyak, tetapi kendalanya belum dimanfaatkan. Sehingga kami masih terus minum langsung dari sumbernya air hujan dan air sungai,” ungkap adi.
“Harapan kami ke depan, bisa bebas dari keterisolasian ini. Itu saja. Kami minta pemerintah daerah perhatikan infrastruktur dasar ke wilayah ini,” sambungnya.
Pantauan media ini, sekitar tujuh puluh kilometer jalan dari dusun rade Maju manggena'e menuju sori kangga, dan sangat memprihatinkan. Jalannya belum dirabat dan diaspal.
Tampak lubang menganga hampir di setiap titik. Akibatnya, kendaraan roda dua yang melewati jalan itu tidak bisa diboncengi. Kendaraan pun hanya bisa melaju dengan kecepatan gigi satu dan ekstra hati-hati.
Akibat jalan yang amat parah tersebut, kendaraan roda dua yang lewat sering kali jatuh menyentuh tanah. Tak sedikit pengendara yang terluka saat melintas jalan itu. Apalagi, jika baru pertama kali menyusuri ruas jalan tersebut.(Sekjend MDG)