Media Dinamika Global: Media Dinamika Global.Id
Tampilkan postingan dengan label Media Dinamika Global.Id. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Dinamika Global.Id. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2026

Akademisi UNBIM: Dugaan Salah Diagnosis Harus Jadi Momentum Perkuat Sistem Kesehatan, Bukan Menghakimi Tenaga Medis

Direktur RSUP NTB dr. Asrul Sani, Anggota DPRD NTB Nadirah Alhabsy, Akademisi
Aflfisahrin, Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbad, dan peserta, (Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Dugaan ketidaksesuaian diagnosis terhadap pasien rujukan asal Bima dan Dompu yang menjadi perhatian publik dinilai tidak boleh disikapi dengan penghakiman sepihak terhadap tenaga medis. Sebaliknya, persoalan tersebut harus menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Pandangan itu disampaikan Akademisi Universitas Bima Internasional (UNBIM), Aflfisahrin, saat menjadi narasumber dalam dialog publik bertajuk "Diagnosis Berbeda, Nyawa Dipertaruhkan? Bedah Ilmiah Dugaan Ketidaksesuaian Diagnosis pada Pasien Rujukan dari Bima-Dompu ke RSUP NTB" yang digelar Gabungan Kawula Muda Bima Dompu (GAKADA) Pulau Lombok di Hangout Caffee, Kota Mataram, Senin (3/8/2026).

Dialog tersebut juga menghadirkan Direktur RSUP NTB dr. Asrul Sani, Anggota DPRD NTB Nadirah Alhabsy, serta Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbad.

Aflfisahrin menegaskan dirinya berbicara bukan sebagai dokter, melainkan sebagai akademisi yang menekuni bidang antropologi kesehatan. Karena itu, ia memandang persoalan diagnosis dari perspektif hubungan antara ilmu kedokteran, budaya, dan pengalaman manusia.

"Ketika isu salah diagnosis mencuat, ruang publik sering kali terburu-buru menjatuhkan vonis kepada tenaga medis. Padahal, jika ingin bersikap adil, persoalan ini harus dilihat berdasarkan data akademik, fakta empiris, dan berbagai faktor yang memengaruhinya," ujarnya.

Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kasus salah diagnosis hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan praktik pelayanan kesehatan. Hal itu membuktikan bahwa dunia medis lebih banyak menghasilkan diagnosis yang tepat dibandingkan yang keliru.

Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan setiap perbedaan diagnosis dengan bentuk ketidakprofesionalan tenaga kesehatan.

"Kesalahan diagnosis memang bisa terjadi, tetapi penyebabnya tidak pernah berdiri pada satu faktor saja," katanya.

Dalam kajian antropologi kesehatan, komunikasi antara dokter dan pasien menjadi faktor yang sangat menentukan. Perbedaan bahasa, istilah lokal, hingga cara masyarakat memaknai rasa sakit kerap menjadi tantangan dalam proses penegakan diagnosis.

Menurut Aflfisahrin, pasien menyampaikan keluhan berdasarkan pengalaman yang dirasakannya, sedangkan dokter harus menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam bahasa ilmiah sebagai dasar menentukan diagnosis.

"Dokter berusaha membaca gejala berdasarkan ilmu kedokteran, sementara pasien menyampaikan apa yang dirasakan berdasarkan pengalaman budaya yang dimiliki. Di sinilah pentingnya komunikasi yang saling memahami," jelasnya.

Ia juga menjelaskan konsep antropologi kesehatan yang membedakan penyakit dalam tiga dimensi, yakni disease sebagai gangguan biologis, illness sebagai pengalaman individu saat merasakan sakit, dan sickness sebagai cara masyarakat memaknai penyakit dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, pengalaman masyarakat Bima dan Dompu yang memperoleh diagnosis berbeda setelah dirujuk ke rumah sakit tingkat provinsi harus dijadikan bahan evaluasi bersama, bukan ajang mencari pihak yang bersalah.

"Kalau rumah sakit provinsi mampu menegakkan diagnosis yang lebih baik, maka yang harus dilakukan adalah memperkuat rumah sakit di daerah melalui peningkatan kualitas dokter, teknologi, dan fasilitas kesehatan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang setara," tegasnya.

Aflfisahrin menilai kasus-kasus tersebut seharusnya menjadi pemicu percepatan pemerataan mutu pelayanan kesehatan di seluruh wilayah NTB, khususnya Bima dan Dompu.

"Tujuan akhirnya bukan mencari siapa yang salah, tetapi memastikan persoalan serupa tidak terus berulang. Ketika sistem pelayanan semakin kuat, kompetensi tenaga kesehatan meningkat, dan fasilitas semakin memadai, maka kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan juga akan tumbuh," ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman tenaga medis, dukungan teknologi, kualitas komunikasi, hingga kelengkapan informasi dari pasien merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan dalam proses penegakan diagnosis.

"Persoalan ini terlalu besar jika hanya dibebankan kepada satu pihak. Ini adalah tanggung jawab bersama. Jika kita melihatnya secara utuh, maka solusi yang lahir akan lebih adil, ilmiah, dan berpihak pada keselamatan pasien," pungkasnya.

Redaksi |

Dialog Publik GAKADA: Dugaan Salah Diagnosis Jadi Momentum Perbaikan Layanan Kesehatan NTB

Direktur RSUP NTB Asrul Sani, Anggota DPRD NTB Nadirah Alhabsy, Akademisi
UNBIM Alfisahrin, dan Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbad, (Ist/Surya)
 

Mataram, Media Dinamika Global – Dugaan ketidaksesuaian diagnosis terhadap pasien rujukan dari Bima-Dompu menjadi perhatian dalam dialog publik yang digelar Gabungan Kawula Muda Bima Dompu (GAKADA) Pulau Lombok di Hangout Caffee, Kota Mataram, Senin (3/8/2026).

Dialog publik sejumlah Narasumber yakin, Direktur RSUP NTB Asrul Sani, Anggota DPRD NTB Nadirah Alhabsy, Akademisi UNBIM Alfisahrin, dan Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbad sebagai narasumber, sejumlah OKP, Aktivis, Mahasiswa, dan para peserta audiens.

Direktur RSUD Provinsi NTB, dr. Asrul Sani, menegaskan bahwa perbedaan diagnosis tidak selalu disebabkan kelalaian tenaga medis. Menurutnya, proses diagnosis dipengaruhi banyak faktor, seperti keterbatasan informasi dari pasien, gejala penyakit yang serupa, kendala komunikasi, hingga keterbatasan fasilitas penunjang.

"Pada prinsipnya tidak ada tenaga medis yang berniat mencelakai pasien. Tujuan kami adalah memberikan pelayanan terbaik dan menyembuhkan pasien," tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk meminta second opinion apabila masih meragukan hasil diagnosis, terutama pada kasus penyakit yang kompleks.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPRD NTB, Nadira Alhabsy, menilai persoalan dugaan salah diagnosis harus menjadi momentum memperkuat sistem pelayanan kesehatan melalui peningkatan fasilitas, pembaruan alat kesehatan, dan penambahan dokter spesialis di daerah.

"Kami siap mendukung penganggaran rumah sakit sepanjang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.

Redaksi |

GAKADA BIDOM Bedah Dugaan Ketidaksesuaian Diagnosis Pasien Rujukan RSUP NTB, Ketua Umum: Ini Bukan Hoaks, Ombudsman Sedang Tangani Laporan

GAKADA BIDOM Gelar Dialog Publik, (Ist/Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Gabungan Kawula Muda Bima Dompu (GAKADA) Pulau Lombok menggelar dialog publik bertajuk “Diagnosis Berbeda, Nyawa Dipertaruhkan? Bedah Ilmiah Dugaan Ketidaksesuaian Diagnosis pada Pasien Rujukan dari Bima-Dompu ke RSUP NTB” di Hangout Caffe, Kota Mataram, Senin (3/8/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi terbuka untuk mengkaji berbagai laporan masyarakat terkait dugaan ketidaksesuaian diagnosis terhadap pasien rujukan asal Bima dan Dompu.

Ketua Umum GAKADA Pulau Lombok, Arif Kurniadin, menegaskan bahwa dialog tersebut lahir dari kepedulian organisasi terhadap banyaknya keluhan yang diterima dari keluarga pasien yang menjalani perawatan di RSUP NTB.

“Agenda hari ini berangkat dari keresahan kami bersama. Bukan lagi menjadi rahasia publik, banyak laporan yang masuk kepada kami terkait berbagai persoalan yang dialami keluarga kita yang dirujuk dari rumah sakit di Bima dan Dompu ke RSUP NTB. Salah satu yang paling sering menjadi perhatian adalah persoalan diagnosis,” ujar Arif dalam sambutannya.

Dialog publik menghadirkan Direktur RSUP NTB Asrul Sani, Anggota DPRD NTB Nadirah Alhabsy, Akademisi UNBIM Alfisahrin, dan Relawan Kemanusiaan Kaharuddin Abbad sebagai narasumber. Keempatnya memberikan pandangan dari perspektif masing-masing guna membahas persoalan pelayanan kesehatan secara komprehensif.

Arif mengungkapkan, sebelum pelaksanaan dialog, panitia telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari rumah sakit di Bima dan Dompu, dinas kesehatan kabupaten/kota, hingga Ombudsman RI Perwakilan NTB agar pembahasan berlangsung berimbang.

Meski sejumlah pihak belum dapat hadir, menurut Arif, Ombudsman memberikan informasi bahwa persoalan yang diangkat dalam forum tersebut memang telah menjadi laporan masyarakat dan saat ini sedang dalam proses penanganan.

“Kami sudah melakukan koordinasi secara intens dengan berbagai pihak, termasuk Direktur Rumah Sakit di Bima dan Dompu, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, hingga Ombudsman. Walaupun mereka belum bisa hadir, yang menjadi perhatian kami adalah penjelasan dari Ombudsman bahwa persoalan ini memang sudah dilaporkan masyarakat dan saat ini sedang dalam proses penanganan di Ombudsman Provinsi NTB,” katanya.

Pernyataan tersebut, lanjut Arif, menjadi alasan kuat bagi GAKADA untuk menghadirkan ruang dialog yang objektif dan berbasis data.

“Artinya, isu yang kita angkat malam ini bukan hanya sebatas teori atau hoaks. Ada laporan yang sedang diproses sehingga perlu kita kawal bersama dengan tetap mengedepankan asas objektivitas dan kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap setiap narasumber dapat menyampaikan pandangan sesuai kapasitas dan kewenangannya sehingga menghasilkan rekomendasi yang konstruktif bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Barat.

Menurutnya, Direktur RSUP NTB diharapkan menjelaskan mekanisme pelayanan dan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit, DPRD NTB memberikan perspektif pengawasan, akademisi mengulas persoalan dari sisi ilmiah, sementara relawan kemanusiaan menyampaikan pengalaman mendampingi pasien di lapangan.

“Mudah-mudahan melalui dialog ini kita memperoleh gambaran yang utuh. Pak Direktur bisa menjelaskan dari sisi SOP rumah sakit, anggota DPRD dari fungsi pengawasan, akademisi dari kajian ilmiah, dan relawan kemanusiaan berdasarkan fakta-fakta yang selama ini mereka temui di lapangan,” pungkas Arif.

Redaksi |

Pasang Papan Edukasi, Mahasiswa KKN UMMat Kelompok 55 Tinggalkan Warisan Kepedulian di Desa Baru

Mahasiswa KKN UMMat Kelompok 55 Desa Baru, (Ist/Surya)

SUMBAWA, Media Dinamika Global - Jejak pengabdian tak selalu berbentuk bangunan megah atau program bernilai besar. Terkadang, sebuah papan sederhana yang berdiri di sudut kampung mampu menjadi pengingat bahwa pernah ada sekelompok anak muda yang datang membawa harapan, ilmu, dan kepedulian.

Semangat itulah yang diwujudkan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat) Kelompok 55 melalui pemasangan papan edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik di setiap dusun di Desa Baru, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.

Program tersebut merupakan salah satu agenda utama mahasiswa KKN dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah. Sebanyak empat papan edukasi dipasang di empat dusun sebagai media informasi sekaligus pengingat bagi warga agar membiasakan diri memilah sampah sesuai jenisnya.

Ketua KKN UMMat Kelompok 55 Desa Baru, Nova Pauzan Amri, mengatakan bahwa papan edukasi tersebut bukan sekadar pelengkap fasilitas desa, melainkan sarana pembelajaran yang diharapkan mampu mengubah kebiasaan masyarakat menuju lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

"Kami memasang empat papan edukasi, masing-masing satu di setiap dusun. Harapan kami sederhana, semoga masyarakat semakin memahami pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang," ujarnya.

Nova menjelaskan, sampah organik merupakan limbah yang mudah terurai secara alami, seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, daun kering, rumput, ranting, hingga kotoran hewan. Sementara itu, sampah anorganik berasal dari bahan buatan yang sulit terurai, seperti plastik, botol kaca, kaleng, besi, styrofoam, dan berbagai jenis kemasan lainnya.

Menurutnya, kebiasaan memilah sampah adalah langkah kecil yang dapat memberikan dampak besar bagi kebersihan lingkungan serta mengurangi pencemaran di masa depan.

"Papan edukasi ini kami hadirkan agar masyarakat memiliki panduan sederhana dalam membedakan sampah organik dan anorganik. Kami berharap kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh menjadi budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," tuturnya.

Ia juga berharap masyarakat dapat menjaga papan edukasi tersebut agar tetap berdiri kokoh dan terus memberikan manfaat meski masa pengabdian mahasiswa KKN telah berakhir.

"Ketika nanti kami kembali ke kampus dan tak lagi berada di Desa Baru, semoga papan ini tetap berdiri. Bukan karena papan itu istimewa, tetapi karena ia menjadi saksi bahwa kami pernah hadir, belajar bersama masyarakat, dan mengabdi dengan sepenuh hati," ucap Nova.

Bagi Mahasiswa KKN UMMat Kelompok 55, pengabdian bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, melainkan meninggalkan nilai yang dapat terus hidup di tengah masyarakat. Sebab, ilmu yang dibagikan akan terus bertumbuh ketika diterapkan, dan kepedulian akan tetap dikenang ketika menghadirkan manfaat.

Di kemudian hari, mungkin nama-nama mahasiswa KKN itu akan terlupakan. Namun setiap kali mata warga memandang papan edukasi tersebut, akan selalu ada pesan sederhana yang terus berbicara tanpa suara.

Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dan perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Itulah warisan paling berharga yang ingin ditinggalkan oleh Mahasiswa KKN UMMat Kelompok 55 untuk Desa Baru-bukan sekadar papan informasi, melainkan semangat kepedulian yang diharapkan terus tumbuh, bahkan setelah mereka pulang.

Redaksi |

Minggu, 02 Agustus 2026

Dialog Publik Perbaikan Kesehatan di NTB, GAKADA BIDOM Ajak Semua Pihak Untuk Hadir dan Saksikan Langsung di Hangout Coffee


Mataram, Media Dinamika Global - Gabungan Kawula Muda Bima-Dompu (GAKADA BIDOM) Pulau Lombok mengundang seluruh elemen masyarakat untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam Dialog Publik bertajuk "Diagnosis Berbeda, Nyawa Dipertaruhkan? Bedah Ilmiah Dugaan Ketidaksesuaian Diagnosis Pada Pasien Rujukan Dari Bima-Dompu ke RSUD Provinsi NTB."

Kegiatan tersebut akan digelar pada:

  • Hari/Tanggal: Senin, 3 Agustus 2026
  •  Waktu: Pukul 20.00 WITA - selesai
  • Tempat: Hangout Coffee, Jalan KH. Ahmad Dahlan, Pagesangan, Kota Mataram (Samping Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram).

Dialog publik ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat, akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan untuk berdiskusi secara ilmiah mengenai pelayanan kesehatan, khususnya terkait dugaan ketidaksesuaian diagnosis terhadap pasien rujukan asal Bima dan Dompu di RSUD Provinsi NTB.

Ketua Umum GAKADA BIDOM Pulau Lombok, Arif Kurniadin, S.Pd., S.H., mengatakan bahwa kegiatan ini lahir dari banyaknya perhatian dan laporan masyarakat yang menginginkan adanya evaluasi terhadap sistem pelayanan kesehatan agar semakin berkualitas, transparan, dan berpihak kepada keselamatan pasien.

"Dialog ini bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan menjadi ruang ilmiah dan konstruktif dalam mencari solusi bersama demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Provinsi NTB, khususnya bagi masyarakat Bima dan Dompu," ujarnya.

Dalam dialog publik ini, dihadiri sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang akan hadir memberikan pandangan dan solusi, yakni:

drg. H. Asrul Sani, M.Kes – Direktur RSUD Provinsi NTB.

Nadirah, S.E., Akt. – Anggota DPRD NTB Komisi V.

Dr. Alfisahrin, M.Si. – Akademisi UNBIM.

Kaharrudin Abbad – Relawan Kesehatan.

Senadah disampaikan Sekjen GAKADA, Adnan, S.Sos, dengan adanya dialog publik ini, para tamu undangan dan peserta  dapat memperoleh penjelasan langsung dari para narasumber sekaligus menyampaikan aspirasi secara santun dan berdasarkan fakta. 

"Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap warga negara sehingga evaluasi dan masukan dari masyarakat merupakan bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas layanan," ujarnya.

Sementara, Panitia pelaksana mengajak seluruh mahasiswa, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, tenaga kesehatan, akademisi, tokoh masyarakat, insan pers, hingga masyarakat umum untuk hadir dan ikut berdiskusi secara objektif.

Dengan semangat kebersamaan, GAKADA BIDOM berharap dialog publik ini dapat menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Barat, sehingga setiap masyarakat memperoleh pelayanan yang cepat, tepat, profesional, dan berorientasi pada keselamatan pasien, pungkasnya.

Redaksi |

Semangat Generasi Emas Menggema di Marente, Camat Alas Hadiri Penutupan Turnamen Sepak Bola U-11 Kades Cup 2026


SUMBAWA, Media Dinamika Global -  Sorak sorai penonton memecah suasana Lapangan Desa Marente, Kecamatan Alas, Minggu (2/8/2026). Di tengah riuh tepuk tangan dan kibaran bendera tim, wajah-wajah ceria para pesepak bola cilik menjadi potret lahirnya harapan baru bagi masa depan sepak bola Sumbawa. Momen itu menandai berakhirnya Turnamen Sepak Bola U-11 Kades Cup Marente Tahun 2026 yang berlangsung sukses dan penuh semangat sportivitas.

Penutupan turnamen dihadiri Camat Alas, Dr. Usman, S.E., M.E., bersama Kepala Desa Marente, BPD, tokoh masyarakat, panitia penyelenggara, pelatih, orang tua pemain, serta ratusan warga yang memadati lapangan untuk memberikan dukungan kepada para atlet muda.

Sebanyak 16 klub sepak bola usia dini dari Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Selama turnamen berlangsung, para pemain muda menampilkan permainan yang atraktif, penuh semangat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai fair play. Bagi mereka, setiap pertandingan bukan sekadar perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi ruang belajar membangun karakter, disiplin, kerja sama, dan rasa percaya diri.

Camat Alas menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Marente dan seluruh panitia yang telah berhasil menghadirkan ajang kompetisi yang tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet sepak bola sejak usia dini.

Menurut Camat, keberhasilan sebuah daerah dalam melahirkan atlet berprestasi tidak lepas dari konsistensi dalam membina talenta muda melalui kompetisi yang berkelanjutan.

"Turnamen seperti ini sangat positif karena mampu menumbuhkan semangat sportivitas, disiplin, kerja sama tim, sekaligus menjadi sarana mencari bibit-bibit atlet sepak bola yang berpotensi mengharumkan nama Kecamatan Alas dan Kabupaten Sumbawa di masa mendatang," ujar Dr. Usman.

Ia berharap Turnamen Kades Cup Marente dapat terus menjadi agenda rutin setiap tahun dan semakin berkembang sebagai ajang pembinaan yang melahirkan pesepak bola muda berbakat yang mampu bersaing di tingkat regional hingga nasional.

Suasana haru dan bangga mewarnai puncak acara ketika para juara dipanggil satu per satu untuk menerima trofi, medali, piagam penghargaan, serta hadiah pembinaan. Tepuk tangan para orang tua, pelatih, dan masyarakat mengiringi langkah para pemain muda yang naik ke podium sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan perjuangan mereka sepanjang turnamen.

Pada edisi tahun 2026, Maras Academy tampil sebagai juara setelah menunjukkan performa impresif sejak babak penyisihan hingga laga final. Trofi juara diserahkan langsung oleh Camat Alas bersama Kepala Desa Marente, disertai hadiah pembinaan sebesar Rp3.000.000 sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang diraih.

Menutup rangkaian acara, Camat Alas menegaskan bahwa pembinaan olahraga harus dimulai dari desa karena di sanalah lahir potensi-potensi besar yang perlu mendapat ruang untuk berkembang.

"Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, pelatih, dan seluruh elemen yang terlibat, lapangan sepak bola bukan hanya menjadi arena pertandingan, tetapi juga tempat tumbuhnya mimpi, persahabatan, dan harapan akan lahirnya generasi pesepak bola yang kelak mampu mengharumkan nama Sumbawa di berbagai tingkat kompetisi," pungkasnya.

Redaksi | Surya Ghempar