Media Dinamika Global: Media Dinamika Global.Id
Tampilkan postingan dengan label Media Dinamika Global.Id. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Dinamika Global.Id. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2026

Akademisi NTB Bongkar PIP-KIP dan Nasib Guru Dihadapan Wakil Ketua Komisi DPR RI

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ketua EW-LMND NTB, Akademisi, (Ist/Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Persoalan pemerataan akses pendidikan, ketepatan sasaran bantuan pendidikan, hingga kesejahteraan guru menjadi sorotan dalam Dialog Publik yang digelar Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) NTB.

Dialog publik bertema “Membaca Arah Pendidikan: Pemerataan Akses, Peningkatan Mutu, Kesejahteraan Guru, dan Keadilan Anggaran” tersebut berlangsung di Bhumi Resto, depan Kampus UIN Mataram, Minggu (27/9/2026).

Forum menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., dari Fraksi PKB Dapil NTB II; akademisi Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat) Isnaini, S.Pd., M.H., M.Pd.; Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, M.M., M.Kes. dari Universitas Bima Internasional (UNBIM); serta praktisi pendidikan NTB, Sadrul Imam, S.Ip., M.Ip.

Kehadiran Lalu Hadrian Irfani menjadi perhatian peserta karena forum tersebut secara khusus membahas berbagai persoalan pendidikan yang masih dirasakan masyarakat NTB, termasuk akses bantuan pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Akademisi UMMat, Isnaini, mengapresiasi kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI tersebut. Menurutnya, dialog mengenai arah kebijakan pendidikan menjadi penting karena masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan yang ditemukan langsung di lapangan.

“Mendengarkan apa itu roadmap pendidikan, kita sudah sangat membahagiakan bagi kami. Apalagi kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani ini merupakan salah satu tokoh sentral di NTB yang mampu memperjuangkan hak-hak masyarakat NTB dan seluruh masyarakat Indonesia ke Pemerintah Pusat,” ujar Isnaini.

Ia menilai, posisi Lalu Hadrian Irfani di Komisi X DPR RI menjadi peluang strategis untuk membawa berbagai persoalan pendidikan dari NTB ke tingkat nasional.

“H. Lalu Hadrian Irfani ini bukan lagi tokoh di regional kita di NTB. Jadi ketika beliau memperjuangkan kita di luar sana, kita harus mengamini, karena bukan hanya NTB yang diperjuangkan, tapi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

PIP dan KIP Dinilai Masih Perlu Dievaluasi

Dalam kesempatan tersebut, Isnaini menyampaikan sejumlah persoalan yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius, khususnya terkait Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), termasuk KIP Kuliah.

Ia menilai mekanisme pendataan dan penentuan penerima bantuan pendidikan perlu terus dievaluasi agar benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“PIP dan KIP ini harus terus direvolusi sampai ke bawah, sampai ke perguruan tinggi, penerima PIP atau KIP Kuliah,” tegasnya.

Isnaini mengungkapkan bahwa berdasarkan temuan dan pengamatannya di lapangan, masih terdapat persoalan ketika indikator desil ekonomi digunakan dalam menentukan penerima bantuan.

Ia mencontohkan adanya calon mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi tergolong mampu tetapi justru memiliki akses terhadap kartu bantuan pendidikan. Di sisi lain, terdapat keluarga dengan kondisi ekonomi rendah yang tidak memiliki KIP, meskipun orang tuanya tercatat sebagai penerima program bantuan sosial lainnya seperti PKH maupun KKS.

“Kami temukan juga memang ekonomi rendah, tapi dia tidak dapat, tidak memiliki Kartu Indonesia Pintar. Orang tuanya memiliki kartu PKH dan KKS,” ungkapnya.

Menurut Isnaini, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar kebijakan bantuan pendidikan tidak hanya bertumpu pada data administratif, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi sosial-ekonomi penerima secara lebih akurat.

Ia juga menyoroti proses seleksi penerima KIP Kuliah yang menggunakan kategori desil ekonomi. Menurutnya, perlu ada evaluasi terhadap kelompok masyarakat yang berada pada desil tertentu agar tidak terjadi keluarga yang membutuhkan justru terlewat dari program bantuan.

“Hal ini menjadi bahan evaluasi juga di Komisi X DPR RI. Lewat dialog publik ini, bersyukur kita bisa diskusi hal tersebut,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dan DPR dapat terus memperbaiki sistem pendataan dan distribusi bantuan pendidikan sehingga kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tidak ditentukan hanya oleh kepemilikan kartu atau status administratif.

“Mudah-mudahan ini, kami yang desil 4 dan 5 juga akan diakomodir. Itu juga harus mendapatkan perhatian,” harapnya.

Kesejahteraan Guru Tak Hanya Soal Materi

Selain persoalan bantuan pendidikan, Isnaini juga menyoroti kesejahteraan guru. Menurutnya, guru merupakan salah satu unsur paling penting dalam menentukan kualitas pendidikan nasional.

Ia mengapresiasi langkah dan perjuangan Komisi X DPR RI dalam mendorong peningkatan kesejahteraan guru.

“Poin kedua tentang kesejahteraan guru. Alhamdulillah sudah diperjuangkan oleh Komisi X DPR RI, Wakil Ketua Komisi X DPR RI bersama tim di Senayan,” katanya.

Namun, Isnaini menegaskan bahwa kesejahteraan guru tidak semata-mata berkaitan dengan penghasilan. Menurutnya, aspek penghargaan, perlindungan, kepastian dan penghormatan terhadap profesi guru juga harus menjadi perhatian.

“Kita mengapresiasi juga, namun guru ini adalah garda terdepan. Bukan saja tentang materi yang harus disejahterakan, tapi yang immateri juga harus diperjuangkan,” ujarnya.

Ia berharap perjuangan di tingkat pusat dapat terus dikawal hingga memberikan dampak nyata bagi guru di daerah, termasuk di NTB dan di seluruh Indonesia.

(Surya Ghempar)

EW-LMND NTB Gelar Dialog Publik, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Bawa Aspirasi Pendidikan NTB ke Senayan

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si
saat dialog publik, (Ist/Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Masa depan pendidikan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi perhatian serius dalam Dialog Publik yang digelar Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) NTB.

Dialog tersebut mengangkat tema “Membaca Arah Pendidikan: Pemerataan Akses, Peningkatan Mutu, Kesejahteraan Guru, dan Keadilan Anggaran.” yang berlangsung di Bhumi Resto, depan Kampus UIN Mataram, Minggu (27/9/2026). 

Kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., Fraksi Partai PKB, Dapil NTB II sebagai Narasumber, menjadi salah satu perhatian utama forum.

Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan dan kebijakan publik. Selain H. Lalu Hadrian Irfani, Isnaini, S.Pd., M.H., M.Pd, (Akademisi UMMAT), Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, M.M., M.Kes. dari Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM), serta Sadrul Imam, S.Ip., M.Ip., (Praktisi pendidikan NTB).

Ketua EW-LMND NTB, Arif Haryadin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Lalu Hadrian Irfani yang dinilai membuka ruang dialog langsung antara masyarakat, mahasiswa, akademisi, praktisi pendidikan, dan wakil rakyat di tingkat nasional.

“Kami berharap aspirasi masyarakat NTB, khususnya terkait pemerataan pendidikan serta peningkatan akses dan kuota beasiswa S1 dan S2 bahkan S3, dapat terus diperjuangkan di tingkat nasional,” ujar Arif.

Menurut Arif, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sekolah dan proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat untuk mengakses pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Karena itu, menurutnya, perlu ada kebijakan yang memastikan anak-anak NTB, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dan wilayah yang memiliki keterbatasan akses, memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.

Sementara, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani menyoroti pentingnya arah pendidikan nasional yang lebih jelas dan berkelanjutan.

Ia mengatakan pembahasan mengenai sistem pendidikan nasional perlu diarahkan agar kebijakan pendidikan tidak mudah berubah hanya karena terjadi pergantian pemerintahan, menteri, maupun kebijakan.

Menurut Putra NTB ini, salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah belum kuatnya roadmap atau peta jalan pendidikan nasional yang menjadi acuan jangka panjang.

Ia mencontohkan perubahan kebijakan kurikulum yang selama ini kerap menjadi perhatian para guru.

“Tidak jarang ada stigma yang muncul bahwa berganti menteri, berganti kurikulum,” kata Lalu Hadrian Irfani, Pria Asal NTB ini.

Ia menambahkan, kebijakan pendidikan membutuhkan kesinambungan agar guru dan satuan pendidikan memiliki waktu serta kepastian yang cukup untuk beradaptasi.

Menurutnya, kemampuan anak-anak Indonesia pada dasarnya tidak kalah dibandingkan negara lain. Namun, diperlukan sistem pendidikan yang memiliki arah pembangunan sumber daya manusia secara jelas.

Lalu Hadrian Irfani juga menyinggung sejumlah negara yang dinilainya telah memiliki perencanaan pendidikan lebih matang, mulai dari kebutuhan sekolah, proporsi guru dan siswa, hingga arah pengembangan pendidikan.

Salah satu isu penting yang disampaikan Lalu Hadrian adalah mengenai amanat konstitusi terkait anggaran pendidikan.

Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 menyatakan negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Lalu Hadrian menegaskan bahwa ketentuan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah.

“20 persen itu bukan hanya tugas APBN saja, tetapi mandatnya juga diberikan sebagai APBD,” ujarnya.

Ia meminta agar alokasi tersebut tidak berhenti pada pemenuhan angka secara administratif, melainkan benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Persoalan efektivitas anggaran pendidikan juga menjadi perhatian Komisi X DPR RI dalam pembahasan kebijakan pendidikan. Pada Juli 2026, Komisi X menegaskan bahwa mandat 20 persen perlu diarahkan agar benar-benar meningkatkan mutu dan pemerataan akses pendidikan.

Dalam forum tersebut, Lalu Hadrian juga menyoroti kondisi sejumlah sekolah di NTB yang menurutnya masih membutuhkan perhatian pemerintah.

Ia mengaku telah berkeliling di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa serta menemukan sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana.

Ia menyebut kondisi sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan sebagai gambaran bahwa pemerataan pembangunan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar.

“Sampai hari ini masih banyak sekolah-sekolah kita, mulai dari SD, SMP, SMA, yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, 15 tahun, tidak pernah direnovasi sama sekali,” ujarnya.

Menurut Lalu Hadrian, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan Komisi X DPR RI mendorong kebijakan yang lebih terarah untuk menyelesaikan persoalan pendidikan, terutama terkait akses, mutu, serta sarana dan prasarana.

Komisi X DPR RI sendiri dalam berbagai agenda pendidikan juga menyoroti ketimpangan fasilitas antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Lalu Hadrian sebelumnya menyatakan bahwa kesenjangan pendidikan masih terlihat terutama di wilayah 3T, sementara biaya distribusi guru dan pembangunan fasilitas di daerah terpencil juga menghadirkan tantangan tersendiri.

Dalam dialog tersebut, Lalu Hadrian juga menyinggung persoalan ketimpangan akses pendidikan antardaerah.

Ia menyebut konsentrasi perguruan tinggi di Pulau Jawa menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan ketika pemerintah menyusun kebijakan pendidikan nasional.

“Bagaimana nasib Indonesia Timur, bagaimana nasib Indonesia Tengah, ini yang sedang kita formulasikan juga,” katanya.

Menurutnya, distribusi program pendidikan nasional harus memperhatikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah sehingga masyarakat di luar pusat-pusat pendidikan nasional tidak tertinggal.

Perhatian terhadap pemerataan juga diarahkan pada program bantuan pendidikan dan beasiswa.

Hadrian mengatakan Komisi X bersama pemerintah telah membahas persoalan pendidikan di daerah yang dianggap penting dan marginal melalui Panitia Kerja (Panja).

Dari pembahasan tersebut, menurutnya, masih ditemukan persoalan pemerataan program seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan KIP Kuliah, terutama bagi peserta didik dan calon mahasiswa dari wilayah yang akses pendidikannya masih terbatas.

Karena itu, ia menyampaikan perlunya kebijakan afirmatif agar program nasional dapat memberikan porsi yang lebih besar kepada daerah marginal dan wilayah 3T.

“Ketika menyalurkan program nasional, yang pertama diprioritaskan adalah proporsi atau persentase program nasional itu seluas-luasnya untuk daerah-daerah marginal,” ujarnya.

Pemerataan akses pendidikan tinggi juga menjadi perhatian Komisi X. Pada Juni 2026, Lalu Hadrian menyatakan dukungan terhadap penguatan anggaran pendidikan tinggi agar perguruan tinggi dapat menjalankan fungsi pendidikan, riset, dan pengabdian secara optimal.

Revitalisasi Sekolah Didorong Jadi Prioritas

Selain persoalan beasiswa dan akses, revitalisasi sarana pendidikan menjadi bagian penting dari pembahasan.

Hadrian menyebut revitalisasi sekolah sebagai salah satu program yang perlu mendapatkan perhatian karena kondisi infrastruktur secara langsung berhubungan dengan kenyamanan dan kualitas proses belajar mengajar.

"Komisi X DPR RI sebelumnya juga menyoroti pentingnya revitalisasi sekolah secara menyeluruh, khususnya di wilayah yang fasilitas pendidikannya masih tertinggal," pungkas Putra NTB.

(Surya Ghempar)

EW-LMND NTB Apresiasi Lalu Hadrian Irfani Hadir di Dialog Publik, Titip Aspirasi Pendidikan NTB

Dialog publik, (Ist/Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Nusa Tenggara Barat (NTB) memberikan apresiasi atas kehadiran H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., Wakil Ketua Komisi X DPR RI, sebagai salah satu narasumber dalam Dialog Publik yang membahas masa depan pendidikan di NTB.

Dialog publik tersebut mengangkat tema “Membaca Arah Pendidikan: Pemerataan Akses, Peningkatan Mutu, Kesejahteraan Guru, dan Keadilan Anggaran.” Kegiatan berlangsung di Bhumi Resto, depan Kampus UIN Mataram, Minggu (27/9/2026), mulai pukul 16.00 WITA.

Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan dan kebijakan publik. Selain H. Lalu Hadrian Irfani, Isnaini, S.Pd., M.H., M.Pd, (Akademisi UMMAT), Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, M.M., M.Kes. dari Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM), serta Sadrul Imam, S.Ip., M.Ip., (Praktisi pendidikan NTB).

Ketua EW-LMND NTB, Arif Haryadin, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh narasumber, khususnya H. Lalu Hadrian Irfani yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berdialog bersama mahasiswa serta masyarakat.

Menurut Arif, kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI dalam forum ini menjadi momentum penting untuk menyampaikan berbagai aspirasi yang selama ini berkembang di tengah masyarakat NTB, khususnya terkait akses dan kualitas pendidikan.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak H. Lalu Hadrian Irfani yang telah hadir di tengah-tengah kami. Ini merupakan kesempatan penting bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, terutama terkait persoalan pendidikan di NTB,” ujar Arif dalam sambutannya.

Arif menilai, pendidikan tidak hanya berbicara mengenai ruang kelas dan proses belajar mengajar. Lebih dari itu, pendidikan berkaitan erat dengan masa depan generasi muda, kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan yang layak, kualitas tenaga pendidik, hingga kebijakan anggaran yang mampu menjangkau masyarakat secara merata.

Karena itu, EW-LMND NTB berharap dialog ini menjadi ruang terbuka untuk membicarakan berbagai persoalan pendidikan secara konstruktif dan melahirkan gagasan yang dapat diperjuangkan pada tingkat kebijakan.

Di akhir sambutannya, Arif secara khusus menitipkan harapan kepada H. Lalu Hadrian Irfanti sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR RI agar aspirasi masyarakat NTB yang berkaitan dengan pendidikan dapat terus diperjuangkan di tingkat nasional.

Salah satu perhatian yang dititipkan adalah perluasan akses beasiswa bagi putra-putri NTB, baik untuk jenjang S1 maupun S2, bahkan S3, sehingga semakin banyak generasi muda daerah yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Kami berharap Bapak H. Lalu Hadrian Irfanti dapat terus memperjuangkan kepentingan pendidikan masyarakat NTB, termasuk memperluas akses dan kuota beasiswa S1 maupun S2 bagi anak-anak NTB. Banyak generasi muda kita yang memiliki potensi, tetapi masih membutuhkan dukungan dan kesempatan,” tegas Arif.

Selain persoalan beasiswa, EW-LMND NTB juga berharap perhatian terhadap pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu sekolah, kesejahteraan guru, serta keadilan dalam pengalokasian anggaran pendidikan dapat terus menjadi bagian dari perjuangan kebijakan di tingkat nasional.

Bagi Arif, forum dialog publik bukan kegiatan seremoni, melainkan ruang untuk mempertemukan gagasan antara mahasiswa, akademisi, praktisi pendidikan, dan pengambil kebijakan.

Lewat dialog ini, kita bisa menyampaikan aspirasi secara langsung kepada DPR RI, sekaligus menjadi bahan masukan dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada kebutuhan masyarakat.

“Pendidikan adalah investasi masa depan. Karena itu, suara mahasiswa dan masyarakat harus terus didengar agar arah kebijakan pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan daerah,” pungkas Arif.

(Surya Ghempar).

Jumat, 25 September 2026

Adelia Putri Yuspiani, Talenta Muda Kaltim yang Aktif dan Sarat Prestasi


KALIMATAN TIMUR, MEDIA DINAMIKA GLOBAL.ID - Adelia Putri Yuspiani, seorang pelajarberbakat asal Kalimantan Timur, lahir pada 24 Oktober 2009. Remaja penuh semangat ini dikenal aktif, percaya diri, dan telah mengukir banyak pengalaman di berbagai bidang, mulai dari modeling hingga pendidikan, kepemudaan, keprotokolan, dan public speaking.

Dalam perjalanan pendidikannya, Adelia telah menempuh berbagai jenjang sekolah di Kaltim, yakni, SDN 005 Tenggarong - SMPN 013 Samarinda - SMK Medika Samarinda.

Namun, kiprah Adelia tak hanya bersinar di ranah akademik. Ia sukses mengukir prestasi di skala nasional yang patut dibanggakan, di antaranya:  - Putri Modelling Nusantara  

- Duta Pelajar  

- Duta Persada Nusantara  

- Pemuda Pariwisata Nusantara  

Keahliannya sebagai Master of Ceremony (MC) muda di Samarinda juga menjadi daya tarik tersendiri. Dengan kemampuan berbicara yang baik, Adelia kerap memandu beragam acara, baik formal maupun nonformal. Hal ini menunjukkan kredibilitas dan kepercayaan dirinya dalam berinteraksi di depan umum, menjadikannya salah satu figur yang menginspirasi di kalangan generasi muda.  

Rangkaian capaian ini membuktikan bahwa Adelia adalah sosok pelajar yang aktif mengembangkan potensi diri dengan penuh komitmen di berbagai bidang, termasuk pendidikan, seni, kepemudaan, dan pariwisata.

Di masa depan, apabila Adelia berhasil mewakili Kalimantan Timur dalam kompetisi di tingkat nasional, hal tersebut akan menjadi kebanggaan besar, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk daerah asalnya.

Dengan semua pencapaian gemilang yang ia raih sejauh ini, Adelia Putri Yuspiani menjadi representasi nyata dari sosok pelajar muda yang inspiratif. Ia adalah bukti bahwa kerja keras dan semangat tinggi mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan serta memberikan motivasi bagi generasi seusianya untuk berkarya tanpa batas.

Redaksi |

Rabu, 23 September 2026

Polda NTB Tingkatkan Profesionalisme Penyidik melalui Sertifikasi Uji Kompetensi


Mataram, Media Dinamika Global - Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mendorong peningkatan profesionalisme dan kapasitas personel, khususnya yang bertugas sebagai penyidik dan penyidik pembantu. Upaya tersebut diwujudkan melalui pembukaan Sertifikasi Uji Kompetensi Penyidik/Penyidik Pembantu oleh LSP Lemdiklat Polri di Ballroom Hotel Lombok Raya, Mataram, Rabu (23/09/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah Pejabat Utama Polda NTB dan diikuti para penyidik maupun penyidik pembantu dari berbagai satuan kerja.

Peserta sertifikasi berasal dari Ditreskrimum, Ditreskrimsus, Ditresnarkoba, Ditres PPA/PPO, Ditres Polairud, serta penyidik dan penyidik pembantu dari Satreskrim dan Satresnarkoba Polres/Polresta jajaran Polda NTB.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Mohammad Kholid, S.I.K., mengatakan sertifikasi uji kompetensi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan dan kapasitas personel yang mengemban tugas penyidikan.

Menurutnya, peningkatan kompetensi menjadi hal penting untuk mendukung pelaksanaan tugas penyidik maupun penyidik pembantu agar semakin profesional dalam menjalankan tanggung jawabnya.

“ Kegiatan sertifikasi uji kompetensi ini dilaksanakan Lemdiklat Polri yang merupakan program pendidikan dan latihan yang dilakukan Mabes Polri untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan personel Polri, khususnya yang mengemban tugas penyidik/penyidik pembantu,” ujar Kholid.

Ia menjelaskan, melalui sertifikasi tersebut, para peserta diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan, serta kompetensi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas penyidikan.

Dengan peningkatan kapasitas tersebut, diharapkan penyidik dan penyidik pembantu di lingkungan Polda NTB beserta seluruh jajaran mampu melaksanakan tugas secara semakin profesional, sesuai kompetensi yang dimiliki.

“Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan para penyidik/penyidik pembantu Polda NTB dan jajaran sehingga dalam pelaksanaan tugas ke depannya dapat lebih sempurna,” pungkasnya. 

Redaksi |

Syukuran HUT Lantas Ke-71, Polda NTB Siap Tingkatkan Pelayanan dan Kelancaran Jalan


Mataram, Media Dinamika Global - Suasana Lapangan Bhara Daksa Polda NTB mendadak ramai dan penuh kehangatan, Selasa (22/9/2026) pagi. Jajaran Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, menggelar acara syukuran memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara Ke-71.

Wakapolda NTB Brigjen Pol. Hari Nugroho, S.I.K. hadir langsung memimpin jalannya acara syukuran tersebut. Kehadiran jenderal bintang satu ini didampingi para Pejabat Utama (PJU) Polda NTB, Ketua dan Wakil Ketua Bhayangkari Daerah NTB, jajaran Bhayangkara dan Bhayangkari.

"Syukuran peringatan HUT Lalu Lintas Bhayangkara Ke-71 ini adalah momen penting untuk evaluasi dan refleksi diri. Saya meminta seluruh jajaran lalu lintas terus memberikan pelayanan terbaik yang presisi kepada masyarakat," pesan Wakapolda NTB Brigjen Hari dalam sambutannya.

Acara syukuran itu terasa kian spesial berkat hadirnya tamu undangan lintas instansi. Tampak hadir Kepala Perwakilan Ombudsman NTB, Kepala BPJN NTB, Kadis Kesehatan, Kadis Perhubungan, Dirut Bank NTB Syariah, hingga Pakar Transportasi Made Mahenra, M.T.

"Sinergi bersama instansi terkait oleh seluruh personel lalu lintas adalah kunci utama dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di NTB," kata Brigjen Pol. Hari Nugroho.

Sementara Direktur Lalu Lintas Polda NTB Kombes Pol. Iman Pribadi Santoso, S.I.K., M.Si. bersama personel Ditlantas dan Kasatlantas Polres/ta jajaran, turut menyambut gembira momen bersejarah itu. Kepada awak media Kombes Pol. Iman Pribadi menegaskan komitmennya, untuk terus melakukan inovasi pelayanan publik demi kenyamanan pengguna jalan di NTB.

"Peringatan HUT Lantas Ke-71 ini merupakan momentum bagi kami, untuk semakin meningkatkan kedisiplinan dan keselamatan pengguna jalan, melalui optimalisasi teknologi serta pendekatan humanis oleh personel di lapangan," tegas Kombes Iman Pribadi.

Rangkaian acara syukuran itu berlangsung hangat dan penuh keakraban hingga selesai. Peringatan usia ke-71 tersebut membawa harapan besar agar Polantas semakin dekat, humanis, serta makin dicintai masyarakat NTB.

Redaksi |