Media Dinamika Global: Media Dinamika Global.Id
Tampilkan postingan dengan label Media Dinamika Global.Id. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Dinamika Global.Id. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2026

Mahasiswa Papua dan Akademisi Diskusikan Film “Pesta Babi”, Tekankan Pentingnya Literasi Media


Yogyakarta, Media Dinamika Global – SHG Advokat mengundang Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Raja Ampat (IPMARAM) dalam menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik bertajuk “Film Pesta Babi: Antara Realita dan Agenda Pembangunan” yang dirangkaikan dengan pentas seni budaya Papua, Rabu (10/6/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Goebog Resto, Kompleks Ruko Tandan Raya, Jalan Wonosari KM 1, Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut dihadiri sekitar 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.

Acara diawali dengan makan malam bersama, dilanjutkan pembukaan oleh panitia dan sambutan dari Setyo Hadi Gunawan selaku penyelenggara sekaligus pendiri SHG Advokat. Sebelum pemutaran film, peserta disuguhkan penampilan Tarian Pangkur Sagu yang dibawakan oleh anggota IPMARAM sebagai bentuk pelestarian budaya Papua.

Film dokumenter Pesta Babi kemudian diputar selama kurang lebih satu jam sebelum dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yaitu Dosen Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Pius Rino Pungkiawan, S.Sn., M.Sn., Dekan Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Dr. Ir. Yunianta, M.P., serta tokoh agama asal Papua, Pdt. Beni Dimara. Diskusi dipandu oleh Charlien Tania, S.Psi., mahasiswa Profesi Psikologi Universitas Gadjah Mada sekaligus Miss Papua Barat 2013.

Dalam pengantarnya, Charlien Tania menyampaikan pentingnya literasi media di era digital, terutama kemampuan membedakan antara fakta, dugaan, dan pendapat. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki sikap kritis dalam menerima informasi dengan melakukan verifikasi sumber, membandingkan informasi dari berbagai referensi, serta memanfaatkan platform pengecekan fakta agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks maupun informasi yang menyesatkan.

Sementara itu, Pdt. Beni Dimara mengajak peserta untuk melihat suatu informasi dari berbagai sudut pandang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Menurutnya, mahasiswa Papua perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui ruang-ruang diskusi yang konstruktif agar mampu memahami berbagai persoalan secara lebih komprehensif.

“Mahasiswa Papua harus terus belajar, memperluas wawasan, dan mengasah ketajaman berpikir. Diskusi seperti ini menjadi sarana untuk memahami berbagai perspektif yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Ir. Yunianta menjelaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai pembangunan pertanian, termasuk program pengembangan kawasan pangan berskala besar, perlu didukung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan petani, serta komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat.

Menurutnya, setiap program pembangunan harus memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan oleh masyarakat.

Adapun Pius Rino Pungkiawan menyoroti film dokumenter sebagai medium yang tidak hanya merekam fakta, tetapi juga menyampaikan sudut pandang dan pengalaman pembuat film. Ia menjelaskan bahwa dokumenter memiliki pendekatan berbeda dengan karya jurnalistik karena mengandung unsur interpretasi dan konstruksi naratif yang bertujuan membangun pemahaman tertentu bagi penontonnya.

“Film dokumenter bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan perspektif subjektif pembuatnya melalui cara bercerita yang dirancang secara sinematik,” jelasnya.

Dari hasil diskusi, peserta menyimpulkan bahwa pembangunan di Papua perlu terus dilaksanakan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun harus dilakukan secara inklusif, partisipatif, dan menghormati hak-hak masyarakat adat. Selain itu, pembangunan juga perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan guna mencegah munculnya konflik sosial.

Peserta juga menekankan pentingnya generasi muda Papua untuk terus menempuh pendidikan, memperluas jaringan pergaulan dengan berbagai kelompok masyarakat, serta meningkatkan kapasitas diri agar dapat berkontribusi dalam pembangunan daerah di masa depan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan Tarian Yospan (Yosim Pancar) dan pertunjukan vokal dari anggota IPMARAM yang menampilkan kekayaan budaya Papua di hadapan para peserta.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dalam nuansa akademis, kebudayaan, dan diskusi publik yang menitikberatkan pada pertukaran gagasan mengenai pembangunan, literasi informasi, dan masa depan Papua.

Redaksi |

PDAM Giri Menang Disorot, Pelanggan Pertanyakan Lonjakan Tagihan Air hingga Tiga Kali Lipat

Foto: Kantor PT Air Minum Giri Menang (AMGM), (Google)


Mataram, Media Dinamika Global – Dugaan ketidakjelasan dalam sistem penagihan kembali menyeret nama PDAM Giri Menang menjadi sorotan publik. Seorang pelanggan berinisial SG mengaku terkejut setelah tagihan air yang biasanya berada di kisaran Rp56.000 per bulan mendadak melonjak menjadi Rp150.000 tanpa adanya perubahan penggunaan air yang signifikan.

SG menilai kenaikan tersebut tidak masuk akal dan meminta pihak PDAM memberikan penjelasan secara terbuka kepada pelanggan. Menurutnya, sebelum menyampaikan keluhan, ia telah melakukan pengecekan terhadap instalasi pipa dan meteran air di rumahnya.

“Semua keran air di dalam maupun di luar rumah sudah saya tutup. Saat itu meteran tidak bergerak sama sekali. Kalau memang ada kebocoran internal, seharusnya meteran tetap berputar,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa selama beberapa bulan terakhir tagihan air yang dibayarkan relatif stabil. Namun, pada tagihan bulan Mei 2026 terjadi lonjakan yang cukup drastis hingga hampir tiga kali lipat dari biasanya.

Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar di kalangan pelanggan. SG meminta PDAM tidak hanya menagih, tetapi juga mampu memberikan penjelasan yang transparan terkait dasar perhitungan tagihan yang mengalami kenaikan signifikan.

“Pelanggan berhak mengetahui alasan kenaikan tagihan. Jangan sampai masyarakat dibebani biaya yang tidak jelas dasar perhitungannya,” tegasnya.

Lebih lanjut, SG mengkritik minimnya informasi yang diterima pelanggan ketika terjadi lonjakan tagihan. Menurutnya, PDAM perlu melakukan audit dan evaluasi terhadap sistem pencatatan meter serta mekanisme penagihan agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

Ia juga mendesak manajemen PDAM Giri Menang untuk segera memberikan klarifikasi resmi guna menghindari berkembangnya asumsi negatif yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap perusahaan daerah tersebut.

“Jangan biarkan masyarakat bertanya-tanya. PDAM harus terbuka dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Hingga berita ini disusun, Direktur PDAM Giri Menang yang telah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan pelanggan tersebut.

Redaksi |

MTQ XXXI NTB Siap Memasuki Babak Final

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi NTB
di Kabupaten Lombok Tengah, (Ist/Surya)

Lombok Tengah, Media Dinamika Global – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat di Kabupaten Lombok Tengah resmi menuntaskan seluruh babak penyisihan pada berbagai cabang yang diperlombakan. Pelaksanaan yang berlangsung sejak hari pertama hingga hari keempat berjalan tertib, lancar, dan penuh kekhidmatan, menandai kesiapan seluruh peserta memasuki babak final yang akan digelar pada Minggu (14/6/26).

Koordinator Dewan Hakim, Prof. KH. Zaidi Abdad, M.A., menyampaikan bahwa seluruh tahapan penyisihan telah selesai sesuai jadwal. Sementara itu, cabang Musabaqah Makalah Ilmiah Al-Qur’an (M2IQ) telah lebih dahulu menuntaskan seluruh rangkaian perlombaannya hingga babak final.

“Alhamdulillah, seluruh babak penyisihan telah rampung dengan baik. Kini para peserta terbaik dari masing-masing cabang akan kembali tampil di babak final untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka,” ujar Prof. Zaidi.

Kelancaran penyelenggaraan MTQ XXXI juga tercermin dari suasana di setiap arena perlombaan yang berlangsung kondusif dan tertib. Dewan hakim menjalankan tugas secara profesional, panitia bekerja dengan baik, sementara para peserta menunjukkan semangat kompetisi yang sehat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran serta sportivitas.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTB, H. Amir, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan MTQ hingga memasuki babak penentuan. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, panitia, dewan hakim, aparat keamanan, para kafilah, dan masyarakat.

“Babak penyisihan telah melahirkan para finalis terbaik yang akan kembali berkompetisi pada tahap akhir. Kami berharap seluruh peserta dapat menampilkan kemampuan terbaiknya dengan menjunjung tinggi integritas, objektivitas, dan nilai-nilai Al-Qur’an. Lebih dari sekadar meraih prestasi, MTQ ini menjadi ruang untuk memperkuat karakter, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an,” ujarnya.

Para Dewan Juri, (Ist/Surya)

Antusiasme masyarakat Lombok Tengah juga menjadi warna tersendiri sepanjang pelaksanaan MTQ. Di berbagai arena perlombaan, warga tampak memadati lokasi untuk menyaksikan penampilan para qari, qariah, hafiz, hafizah, dan peserta dari cabang lainnya, menciptakan suasana yang hangat, tertib, dan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan.

Pemerintah Provinsi NTB menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah selaku tuan rumah, seluruh dewan hakim, panitia penyelenggara, para kafilah dari kabupaten/kota se-NTB, serta masyarakat yang telah bersama-sama menjaga kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan MTQ XXXI.

Dengan selesainya babak penyisihan, perhatian kini tertuju pada babak final yang akan mempertemukan peserta-peserta terbaik dari seluruh penjuru Nusa Tenggara Barat. Diharapkan, MTQ XXXI tidak hanya melahirkan juara yang akan mengharumkan nama daerah di tingkat yang lebih tinggi, tetapi juga semakin memperkuat tradisi Qur’ani dan membangun generasi yang berakhlak mulia, berilmu, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

MTQ XXXI di Praya: Meneguhkan Langkah NTB Menuju Serambi Al-Qur’an

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi NTB
di Praya, Lombok Tengah, (Ist/Surya)

Lombok Tengah, Media Dinamika Global - Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat di Praya, Lombok Tengah, telah menghadirkan lebih dari sekadar sebuah perlombaan. Perhelatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan arah pembinaan Al-Qur’an di NTB, memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman, sekaligus membangkitkan kembali semangat meraih prestasi di tingkat nasional dan internasional.

Sejak pawai ta’aruf hingga pembukaan resmi, yang tampak bukan hanya kemeriahan sebuah acara, melainkan kebersamaan yang tumbuh dari kecintaan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an. Ribuan masyarakat memadati arena dengan penuh antusias, sementara tokoh agama, tokoh masyarakat, dan unsur lintas agama hadir membaur dalam suasana yang harmonis. Pemandangan ini memperlihatkan bahwa di Nusa Tenggara Barat, syiar Islam berjalan beriringan dengan semangat toleransi dan saling menghormati, menjadi kekuatan sosial yang memperkokoh persatuan daerah.

Lombok Tengah sebagai tuan rumah juga menunjukkan kapasitas yang membanggakan. Di bawah kepemimpinan Bupati H. Lalu Pathul Bahri, penyelenggaraan MTQ dipersiapkan dengan matang sehingga menghadirkan nuansa yang oleh banyak pihak dinilai setara dengan pelaksanaan MTQ tingkat nasional. Arena utama yang megah, penataan lokasi perlombaan yang representatif, pelayanan yang tertib, hingga suguhan Tarian Kolosal Rahmatan Lil ‘Alamin pada malam pembukaan mencerminkan perpaduan antara syiar Islam, seni budaya, dan profesionalisme penyelenggaraan.

Para Dewan Juri MTQ, (Ist/Surya)

Namun, makna terpenting dari MTQ ini bukanlah kemegahan panggungnya. Yang jauh lebih bernilai adalah lahirnya optimisme baru bahwa NTB memiliki modal sosial, budaya, dan spiritual yang kuat untuk menjadi pusat pembinaan Al-Qur’an. Apresiasi Sekretaris Umum LPTQ Pusat, Prof. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, terhadap tingginya kecintaan masyarakat NTB kepada Al-Qur’an menjadi pengakuan bahwa budaya Qur’ani di daerah ini tumbuh subur dan memiliki prospek besar untuk terus dikembangkan.

Optimisme tersebut sejalan dengan visi Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, yang menempatkan MTQ sebagai bagian dari ikhtiar besar menjadikan NTB sebagai Serambi Al-Qur’an. Gagasan ini bukan sekadar semboyan, melainkan arah pembangunan karakter masyarakat melalui penguatan literasi Al-Qur’an, pembinaan qari dan qariah, serta penanaman nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, visi tersebut diharapkan mampu mengembalikan kejayaan NTB sebagai daerah yang diperhitungkan dalam ajang MTQ tingkat nasional dan melahirkan insan-insan Qur’ani yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Karena itu, MTQ XXXI harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem pembinaan yang berkelanjutan. Perlombaan hanyalah satu mata rantai dari proses panjang menemukan bakat, membina kemampuan, mengasah mental, dan menyiapkan generasi terbaik untuk membawa nama baik daerah. Keberhasilan sejati tidak berhenti pada penobatan juara, tetapi pada lahirnya sistem pembinaan yang terus melahirkan prestasi dari waktu ke waktu.

Selama pelaksanaannya, MTQ berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kekhidmatan. Beberapa dinamika yang muncul, seperti keberatan terhadap hasil penilaian, persoalan substansi soal, maupun kendala teknis, merupakan hal yang wajar dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar. Yang patut diapresiasi adalah sikap terbuka panitia dan dewan hakim dalam memberikan klarifikasi, melakukan evaluasi, dan memastikan setiap persoalan diselesaikan berdasarkan pedoman yang berlaku. Komitmen terhadap objektivitas dan integritas inilah yang menjadi fondasi kepercayaan publik terhadap marwah MTQ.

Kini seluruh babak penyisihan telah rampung dan melahirkan para finalis terbaik dari berbagai cabang musabaqah. Kompetisi yang berlangsung sehat dan sportif menunjukkan bahwa semangat para kafilah dari sepuluh kabupaten dan kota di NTB tidak hanya diarahkan untuk meraih kemenangan, tetapi juga untuk memuliakan Al-Qur’an dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Keberhasilan MTQ XXXI juga menjadi bukti bahwa kolaborasi adalah kekuatan utama. Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, LPTQ, dewan hakim, panitia, aparat keamanan, relawan, serta seluruh elemen masyarakat telah bekerja bersama menghadirkan penyelenggaraan yang tertib, nyaman, dan bermartabat. Sinergi inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun tradisi Qur’ani yang kokoh di Bumi Gora.

Menjelang babak final, harapan besar tertuju pada dewan hakim untuk terus mengedepankan profesionalisme, objektivitas, dan keadilan dalam setiap proses penilaian. Dari proses yang kredibel akan lahir para juara terbaik yang bukan hanya layak mewakili NTB, tetapi juga memiliki kapasitas untuk bersaing dan mengharumkan nama daerah pada MTQ tingkat nasional.

Pada akhirnya, keberhasilan MTQ XXXI tidak diukur dari kemegahan seremoni ataupun banyaknya piala yang diperebutkan. Nilai sejatinya terletak pada tumbuhnya kecintaan masyarakat kepada Al-Qur’an, menguatnya persaudaraan dalam keberagaman, serta terbangunnya komitmen bersama untuk melahirkan generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan berprestasi. Jika semangat yang tumbuh di Praya terus dirawat melalui pembinaan yang berkelanjutan dan integritas yang terjaga, maka MTQ XXXI akan dikenang bukan sekadar sebagai perhelatan yang sukses, melainkan sebagai tonggak penting yang meneguhkan langkah Nusa Tenggara Barat menuju Serambi Al-Qur’an dan mengantarkan kembali kejayaannya di pentas nasional maupun dunia.

Redaksi |

NTB Perkuat Transformasi Kesehatan Digital Berbasis Kearifan Lokal

Wagub NTB, Hj. Umi Dinda saat buka Pertemuan PIFKI
di Hotel Merumatta Senggigi, (Ist/Surya)

Lombok Barat, Media Dinamika Global – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan komitmennya membangun layanan kesehatan yang modern, berkualitas, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal. Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, saat membuka Pertemuan Ilmiah Fasilitas Kesehatan Indonesia (PIFKI) 2026 di Hotel Merumatta Senggigi, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) dengan tema “Transformasi Global Mutu Pelayanan Kesehatan Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital” itu dihadiri Direktur Utama BPJS Kesehatan, jajaran Dewan Pengawas dan Dewan Pakar LAFKI, Ketua Umum LAFKI dr. Benny H. Tumbelaka, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, perwakilan organisasi profesi, akademisi, serta pimpinan fasilitas kesehatan dari berbagai provinsi di Indonesia. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mempertegas pentingnya kolaborasi nasional dalam mendorong peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menegaskan bahwa transformasi digital di sektor kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dijawab dengan inovasi, kolaborasi, dan kesiapan sumber daya manusia. Namun, kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa.

“Kesehatan digital bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Tantangan global, potensi daerah, dan kekayaan budaya lokal harus kita jadikan kekuatan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, NTB memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu pelopor transformasi kesehatan di kawasan timur Indonesia. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan mutu pelayanan, memperkuat keselamatan pasien, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Transformasi tersebut juga sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan. Melalui inovasi dan sinergi lintas sektor, Pemprov NTB berupaya menghadirkan layanan kesehatan yang semakin inklusif, adaptif, dan merata sebagai bagian dari visi NTB Makmur Mendunia.

Wakil Gubernur Umi Dinda, menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak dapat dicapai oleh pemerintah semata.

“Kesehatan bukan kompetisi antarfasilitas kesehatan. Ini adalah kerja kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, dan masyarakat menjadi kunci menghadirkan pelayanan yang bermutu,” tegasnya.

Ia juga berharap penyelenggaraan PIFKI 2026 memberikan dampak ganda, yakni mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional sekaligus menggerakkan sektor ekonomi daerah melalui aktivitas pertemuan, pariwisata, dan pelaku UMKM di NTB.

Sementara itu, Ketua Umum LAFKI, dr. Benny H. Tumbelaka, Sp.OT., M.H.Kes., Sp.KP., MARS., FIHFAA, menegaskan bahwa transformasi pelayanan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi, tetapi harus dibangun di atas budaya mutu, keselamatan pasien, dan integritas profesi.

Menurutnya, selama enam tahun terakhir LAFKI secara konsisten mendampingi fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia melalui akreditasi, pembinaan, dan penguatan budaya mutu agar mampu memberikan pelayanan yang aman, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Dengan mengusung moto “Tatas, Tuhu, Trasna” yang bermakna tulus, benar, dan penuh kasih sayang, LAFKI mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan profesionalisme, integritas, dan empati sebagai landasan dalam membangun sistem kesehatan Indonesia yang semakin berkualitas.

Melalui PIFKI 2026, Pemerintah Provinsi NTB menegaskan bahwa transformasi kesehatan bukan sekadar soal adopsi teknologi digital, tetapi tentang menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, lebih aman, lebih manusiawi, dan lebih berkeadilan. Dengan memadukan inovasi dan kearifan lokal, NTB optimistis mampu menjadi salah satu penggerak transformasi kesehatan di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. 

Redaksi |

RLMS Lombok Utara Gelar Wisuda Unik, Siswa Tampilkan Kreativitas dan Keberanian

RLMS saat saat wisuda, (Ist/Surya)

Lombok Utara, Media Dinamika Global – Wisuda sering kali identik dengan toga, jubah, dan prosesi seremonial. Namun, Rumah Lombok Multicultural School (RLMS) di bawah naungan Yayasan Chili Community House memilih cara berbeda untuk merayakan kelulusan para siswanya. Tahun ini, wisuda justru menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan keberanian, kreativitas, dan kepercayaan diri yang mereka bangun selama menempuh pendidikan.

Sebanyak 50 siswa, terdiri dari 12 anak asal Gili Trawangan dan 38 anak dari Teluk Dalam, mengikuti wisuda yang berlangsung penuh keceriaan. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya RLMS menghadirkan panggung pertunjukan bagi para siswa. Meski sederhana, panggung tersebut menjadi simbol penting atas perjalanan panjang yang telah mereka lalui.

Di hadapan orang tua, guru, dan masyarakat, anak-anak menampilkan berbagai pertunjukan yang mencerminkan bakat serta perkembangan karakter mereka. Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan bukti bahwa pendidikan juga tentang membangun keberanian untuk tampil, berekspresi, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Pendiri Yayasan Chili Community House, Noor Ain Husein, menegaskan bahwa makna wisuda yang diusung yayasan jauh melampaui seremoni kelulusan.

"Yang kami rayakan bukan toga atau jubahnya. Yang kami rayakan adalah perjalanan mereka, keberanian mereka untuk terus belajar, dan kesiapan mereka melangkah ke tahap berikutnya dalam hidup," ujarnya,Sabtu 13/06/2026

Selama enam tahun terakhir, Yayasan Chili Community House konsisten membuka akses pendidikan gratis bagi anak-anak di Lombok Utara. Fokus pembelajaran yang diterapkan tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, kemandirian, dan kepedulian sosial.

Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam rangkaian kegiatan wisuda yang dikemas melalui outing edukatif. Anak-anak diajak belajar di luar ruang kelas dengan mengunjungi sejumlah lokasi di Mataram dan sekitarnya.

Di Pathfinder Adventure Park, Lingsar, para siswa mengikuti kegiatan team building, permainan kolaboratif, hingga mencoba wahana Flying Fox yang melatih keberanian dan rasa percaya diri. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Pizza Hut Sriwijaya, Mataram, untuk mengenal proses pembuatan pizza sekaligus merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan bersama teman-teman.

Menagement Pizza hut Sriwijaya Imam menyampaikan kebahagiaan mereka dapat menjadi bagian dari momen spesial ini.

"Kami merasa senang dapat berkontribusi dalam perjalanan pendidikan anak-anak hebat dari Chili House. Semoga pengalaman sederhana ini menjadi kenangan yang menyenangkan bagi mereka." Ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan bermain dan berenang bersama, menciptakan momen kebersamaan yang menjadi kenangan berharga bagi para siswa. Bagi sebagian anak, ini menjadi pertemuan terakhir sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan menempuh jalan hidup yang berbeda.

Menurut  Noor Ain Husein, keberhasilan pendidikan tidak selalu diukur dari nilai rapor atau kemampuan menjawab soal ujian. Baginya, keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki empati, dan berani bermimpi.

"Kami tidak ingin hanya melahirkan anak-anak yang pintar secara akademik. Kami ingin membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang berkarakter, peduli kepada sesama, dan memiliki keberanian untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya," katanya.

Bagi Yayasan Chili Community House, panggung sederhana yang hadir pada wisuda tahun ini mungkin terlihat kecil. Namun di atas panggung itulah, puluhan anak Lombok Utara belajar satu hal penting: bahwa setiap mimpi layak ditampilkan, setiap usaha layak dihargai, dan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang membawa perubahan bagi masa depan.

Redaksi |