UM Bima Gelar Baitul Arkam di Ikuti 80 Dosen dan Tenaga Kependidikan Untuk Perkuat Ideologi Muhamadiyah - Media Dinamika Global

Sabtu, 25 Juli 2026

UM Bima Gelar Baitul Arkam di Ikuti 80 Dosen dan Tenaga Kependidikan Untuk Perkuat Ideologi Muhamadiyah


Bima, Media Dinamika Global.id.– Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bima, H. Ilyas Sarbini, S.H.,MH menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari capaian akademik, akreditasi, maupun pembangunan infrastruktur. Menurutnya, penguatan ideologi dan karakter sivitas akademika merupakan fondasi utama agar perguruan tinggi tetap memiliki arah, identitas, dan jati diri.

Hal tersebut disampaikan H.Ilyas Sarbini, S.H. M.H saat memberikan sambutan pada pembukaan Baitul Arqam bagi dosen dan tenaga kependidikan Universitas Muhammadiyah Bima, di Aula Kampus II UM Bima, Jumat (24/7/2026).

“Di tengah derasnya arus perubahan zaman, perguruan tinggi memang dituntut meningkatkan kualitas akademik, memperluas jejaring kerja sama, dan menghadirkan berbagai inovasi. Namun, seluruh capaian tersebut akan kehilangan makna apabila institusi perlahan kehilangan ruh dan jati dirinya,” ujarnya.

Menurut Ilyas, bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), penguatan ideologi tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun kualitas institusi. Karena itu, Baitul Arqam bukan sekadar pelatihan rutin bagi dosen dan tenaga kependidikan, melainkan ruang pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, profesionalisme, spiritualitas, dan nilai-nilai Kemuhammadiyahan.

Ia menjelaskan, kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai penyelenggaraan Baitul Arqam di lingkungan PTMA menunjukkan bahwa program tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya insani Muhammadiyah.

“Seluruh unsur sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, hingga tenaga kependidikan, diharapkan mengikuti Baitul Arqam. Bahkan, sertifikat Baitul Arqam menjadi salah satu unsur pendukung dalam pengembangan karier maupun pengembanan amanah pada berbagai jabatan strategis,” katanya.

Menurutnya, kebijakan tersebut tidak semestinya dipahami hanya sebagai pemenuhan persyaratan administratif. Lebih dari itu, Baitul Arqam merupakan upaya membangun budaya organisasi yang berlandaskan nilai.

“Dalam Muhammadiyah, sebuah amanah tidak hanya membutuhkan kapasitas manajerial, tetapi juga keselarasan visi dan komitmen ideologis,” jelasnya.

Ilyas menegaskan, Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak hanya bertujuan melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan dakwah amar makruf nahi munkar yang berorientasi pada kemajuan umat dan bangsa.

Karena itu, setiap insan yang mengabdikan diri di PTMA diharapkan memahami arah perjuangan Muhammadiyah melalui Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), serta nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Menurut Ilyas, penguatan ideologi menjadi semakin penting di tengah tantangan zaman yang kompleks dan kecenderungan pragmatisme yang dapat mengikis identitas organisasi.

“Organisasi yang memiliki pijakan nilai akan lebih kokoh dalam menjaga arah dan tujuan perjuangannya,” ungkapnya.

Selain memperkuat pemahaman ideologi, lanjutnya, Baitul Arqam juga memberikan perhatian terhadap praktik kehidupan sehari-hari, termasuk pemahaman mengenai pedoman ibadah berdasarkan keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Ia menjelaskan bahwa hal tersebut bukan bertujuan menyeragamkan semata, melainkan membangun kesadaran bersama agar seluruh unsur organisasi memiliki pedoman yang sama dalam menjalankan kehidupan berorganisasi.

Lebih lanjut, Ilyas mengatakan keberhasilan sebuah organisasi juga ditentukan oleh keselarasan antara kompetensi individu dengan nilai-nilai organisasi.

“Kompetensi akademik memang sangat penting. Namun, ketika kompetensi dipadukan dengan kesamaan nilai dan visi organisasi, kontribusi yang diberikan akan menjadi jauh lebih bermakna bagi kemajuan institusi,” katanya.

Dalam sambutannya, Ilyas juga menyoroti karakter kepemimpinan Muhammadiyah yang berlandaskan prinsip kolektif-kolegial. Menurutnya, seorang ketua dalam Muhammadiyah dipahami sebagai primus inter pares, yakni yang pertama di antara mereka yang setara.

“Konsep tersebut mengajarkan pentingnya kerendahan hati, musyawarah, kolaborasi, dan semangat saling menguatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Muhammadiyah juga mengajarkan pentingnya membangun gerakan yang berpijak pada sistem, regulasi, dan khittah perjuangan.

“Figur boleh berganti, tetapi nilai, sistem, dan arah perjuangan yang telah menjadi keputusan bersama harus terus dijaga keberlanjutannya agar estafet perjuangan tidak selalu dimulai dari titik nol,” tegasnya.

Menurutnya, konsistensi menjaga sistem dan nilai itulah yang menjadi salah satu faktor Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang selama lebih dari satu abad.

Pada kesempatan tersebut, Ilyas juga mengibaratkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai “pusat gravitasi” yang menjaga PTMA tetap berada pada orbit dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Sebagaimana gravitasi menjaga planet tetap berada pada orbitnya, AIK menjaga PTMA agar tetap berada pada jalur perjuangan yang dicita-citakan Muhammadiyah. Tanpa pijakan nilai yang kuat, sebuah lembaga pendidikan akan lebih mudah terombang-ambing oleh berbagai kepentingan sesaat,” tuturnya.

Ia menegaskan, keberhasilan PTMA tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa, capaian akreditasi, atau kemegahan infrastruktur kampus, tetapi juga dari lahirnya sivitas akademika yang berkarakter Muhammadiyah, profesional, serta mampu menjadikan kampus sebagai ruang dakwah yang mencerahkan.

Menutup sambutannya, Ilyas berharap Baitul Arqam menjadi titik awal pembelajaran yang berkelanjutan dalam memperkuat karakter, integritas, dan komitmen seluruh sivitas akademika terhadap nilai-nilai Muhammadiyah.

“Pada akhirnya, kualitas sebuah institusi akan sangat ditentukan oleh karakter, integritas, dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Semoga Baitul Arqam menjadi ruang pembelajaran yang memperkaya wawasan, memperkukuh komitmen, serta meneguhkan ikhtiar bersama dalam memajukan Universitas Muhammadiyah Bima sebagai kampus yang unggul, berkemajuan, dan mencerahkan,” pungkasnya.(Sekjend MDG)

Comments