Pekanbaru – Topeng pejuang anti-narkoba yang dipakai Ketua DPC GRANAT Kuansing, Diki Saputra, akhirnya robek sepenuhnya. Bukan membawa obor keadilan, ia justru terbukti memiliki nafsu yang jauh lebih besar dan bertindak lebih kejam daripada terlapornya sendiri.
Fakta yang terungkap sangat memalukan: Jika mantan Kanit Reskrim Polsek Benai, Harianto Manik alias Anto Manik, dituduh memeras sebesar Rp 25 juta, maka Diki Saputra terbukti meraup keuntungan tiga kali lipat lebih besar dari jumlah itu. Ia menerima uang damai sebesar Rp 100 juta, sehingga kantongnya bertambah bersih hingga Rp 75 juta lebih banyak dari apa yang sempat didapat oknum polisi tersebut.
Menjilat Ludah Sendiri Demi Kantong Sendiri
Padahal pada 22 Mei 2026 di SPKT Polda Riau, Diki berteriak lantang menolak kompromi. Ia bersumpah tak akan pernah berdamai dengan praktik "tangkap lepas" pelaku narkoba dan pemerasan yang dilakukan Anto Manik. Namun sumpah itu ternyata hanya panggung sandiwara. Begitu uang berpindah tangan, ia luluh lantak, melupakan prinsip, dan menjadikan organisasi GRANAT sekadar alat pengumpul uang.
Organisasi Dijadikan Alat, Terang-terangan Libatkan Pimpinan Atas
Yang semakin mengeruhkan citra, Diki tak malu mengakui bahwa transaksi kotor ini dilakukan atas sepengetahuan Ketua DPD GRANAT Riau, Dr. Freddy Simanjuntak, SH., MH.
"Iya bang, Ketua DPD GRANAT Riau juga tau bang," akunya tanpa rasa bersalah.
Ini membuktikan tuduhan bahwa Diki bukan sekadar korban, melainkan pelaku yang lebih licik. Ia memperalat nama besar organisasi anti-narkoba untuk menekan terlapor demi keuntungan pribadi yang jauh melampaui apa yang ia tuduhkan.
Ancaman Bagi Perang Melawan Narkoba
Tindakan ini bukan sekadar korupsi jabatan, tapi pengkhianatan terhadap semangat memberantas narkoba. Dengan berdamai demi uang, Diki membiarkan praktik "tangkap lepas" terus berlanjut di Kuantan Singingi. Ia menempatkan diri lebih rendah dari oknum yang dilaporkannya: Anto Manik dituduh salah, tapi Diki terbukti menjual keadilan dengan harga yang jauh lebih mahal.
Masyarakat kini menuntut pertanggungjawaban mutlak. Bagaimana mungkin organisasi yang dibentuk untuk melawan kejahatan justru dipimpin sosok yang lebih rakus dari pelaku kejahatan itu sendiri? Sampai ada tindakan tegas, nama GRANAT hanya akan tercoreng sebagai payung bagi pengejaran keuntungan pribadi.***(red).
