
Mediadinamikaglobal.id|ANGGAI, OBI HALMAHERA SELATAN. – (13 Juni 2026). Merespons situasi keamanan yang kian memanas pascainsiden berdarah di area pertambangan rakyat Desa Anggai, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, para tokoh masyarakat bersama ratusan warga setempat menggelar aksi damai secara terbuka di kawasan tambang.
Aksi ini bertujuan untuk menjaga kondusivitas wilayah, sekaligus menyuarakan mosi tidak percaya terhadap prosedur penegakan hukum yang dinilai janggal.
Dalam aksi damai tersebut, tokoh masyarakat menegaskan beberapa poin sikap dan tuntutan utama demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kembali terjadi di wilayah Obi:
1. Perintah Evakuasi Sementara untuk Pendatang: Warga mengimbau secara hormat kepada seluruh warga pendatang yang berada di lokasi pertambangan rakyat untuk segera meninggalkan area tambang untuk sementara waktu.
2. Pengamanan di Mapolsek Obi: Demi menjamin keselamatan dan mencegah konflik susulan, para pendatang diarahkan untuk mengamankan diri di bawah perlindungan Mapolsek Obi.
3. Koreksi Atas Panggilan Hukum yang Janggal: Warga memprotes keras beredarnya opini terkait adanya surat undangan klarifikasi dari Aparat Penegak Hukum (APH) kepada sekitar 100 warga Anggai atas dugaan pembunuhan. Kejanggalan fatal ditemukan karena dalam manifes nama penerima undangan tersebut, terdapat nama-nama warga yang faktanya sudah meninggal dunia.
4. Dugaan APH "Cuci Tangan": Masyarakat menilai pihak kepolisian tidak profesional dan diduga mencoba "cuci tangan" atas insiden berdarah yang terjadi. Berdasarkan fakta dan informasi di lapangan, korban/pelaku meninggal dunia justru di hadapan atau dalam jangkauan pengawasan langsung pihak aparat keamanan.
Aksi ini murni gerakan damai warga demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas. Namun, kami juga menuntut keadilan yang transparan. Bagaimana mungkin surat klarifikasi hukum dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal? Ini membuktikan data yang digunakan aparat tidak valid dan terkesan dipaksakan untuk menyudutkan warga lokal," ujar perwakilan tokoh masyarakat Desa Anggai dalam Aksi Damai..
Warga Anggai mendesak Kapolres Halmahera Selatan dan Kapolda Maluku Utara untuk segera mengevaluasi kinerja personel di lapangan, menghentikan intimidasi administratif yang salah sasaran, serta membuka ruang dialog (mediasi) terbuka bersama tokoh adat dan masyarakat demi memulihkan kedamaian di Pulau Obi.
Tim////