Bima NTB, Media Dinamika Global.id.-- di berbagai daerah termasuk kota bima dan kabupaten bima, meski pemerintah dan Pertamina telah menambah kuota LPG 3 kg hingga puluhan ribu tabung per hari untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan.
Namun, kondisi di lapangan justru belum sepenuhnya membaik, terutama saat momen besar, seperti Imlek dan Ramadan.
Situasi ini membuat warga harus berkeliling mencari stok yang belum tentu tersedia, sekaligus menambah beban pengeluaran rumah tangga dan pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).
Lantas, apa sebenarnya penyebab kelangkaan gas LPG 3 kg, apa dampaknya, dan bagaimana solusinya? Simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut.
Mengapa LPG Langka di 2026?
Kondisi LPG langka di 2026 tidak lepas dari situasi energi nasional yang sedang mengalami tekanan, baik dari faktor kebijakan dalam negeri maupun dinamika global.
Di satu sisi, pemerintah kota Bima H. Arahman dan pemerintah Kabupaten Bima Ady Mahyudi menetapkan kuota LPG 3 kg yang lebih rendah dibandingkan dengan realisasi sebelumnya sebagai upaya menyeimbangkan subsidi.
Namun, pembatasan ini justru membuat pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama rumah tangga dan UMKM yang sangat bergantung pada gas untuk memasak.
Masalah ini semakin kompleks karena distribusi yang belum sepenuhnya merata. Kebijakan pembatasan penjualan di pengecer tidak resmi sempat membuat akses masyarakat menjadi lebih terbatas.
Sementara itu, di lapangan masih ditemukan keterlambatan pasokan yang menyebabkan kekosongan stok selama beberapa hari.
Di waktu yang sama, selisih harga antara gas LPG subsidi dan nonsubsidi juga mendorong konsumen mampu beralih ke gas 3 kg sehingga permintaan makin tinggi dan tidak tepat sasaran.
Tekanan juga datang dari faktor eksternal dan perilaku pasar. Ketegangan global ikut memengaruhi sektor energi.
Sementara itu, fenomena panic buying dan meningkatnya kebutuhan saat momen tertentu, seperti hajatan atau perayaan, membuat permintaan melonjak tiba-tiba. Akibatnya, distribusi yang sudah terbatas menjadi semakin tertekan.
Jika kondisi ini terus terjadi, LPG langkah bukan hanya terkait energi, tetapi juga bisa berdampak pada ketahanan pangan rumah tangga.(Sekjend MDG)
