NTB, Media Dinamika Global.id.-- Banyak yang bertanya tentang kisi-kisi wawancara. Tentu saya tidak bisa menjawab itu, karena saya bukan bagian dari tim pewawancara. Tim pewawancara sendiri terdiri dari unsur tokoh pendidikan, praktisi, dan birokrat. Maka wajar jika pertanyaan yang muncul bersifat beragam, bahkan cenderung subjektif, sesuai latar belakang masing-masing penanya.
Namun, jika saya boleh memberi saran kepada para calon kepala sekolah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hindari jawaban yang normatif. Pewawancara tidak hanya ingin mendengar pengetahuan atau teori (sekadar “omon-omon”), tetapi ingin melihat kemampuan Anda dalam menerjemahkan data, mengimplementasikan kebijakan pemerintah menjadi program di tingkat satuan pendidikan, serta menghadirkan solusi yang terukur atas berbagai persoalan di sekolah.
Satuan pendidikan yang dimaksud tentu adalah sekolah tempat Anda bertugas. Maka, mulailah dari pengenalan medan. Kuasai data sekolah, lalu sampaikan profil sekolah secara singkat namun “berbicara”. Berikan gambaran analisis SWOT terhadap kondisi sekolah, dan jadikan itu sebagai pijakan awal.
Selanjutnya, sampaikan upaya konkret yang pernah Anda lakukan sesuai kewenangan dan tupoksi. Atau apa yang akan dilakukan jika nanti dipercaya. Bisa berupa penyelesaian masalah, inovasi, ide kreatif yang solutif, atau keterlibatan aktif dalam manajemen sekolah.
Satu hal lagi, terimalah masukan dan kritik dari pewawancara sebagai bahan refleksi dan perbaikan diri. Ingat, ini bukan ajang debat.
Terakhir, jangan lupa berdoa dan tetap tenang, agar apa yang diutarakan tersampaikan dengan jelas dan sesuai keinginan. Kadang menyampaikan ide melalui zoom tak semudah berbicara langsung di forum/di depan audiens
- saat memantau ruang zoom wawancara.(Redaksi Sekjend MDG)
