Soromandi, Media Dinamika Global.id.-- Ada jiwa di dalam jiwa. Kalimat ini bicara tentang lapisan terdalam dari manusia: niat, empati, dan rasa yang tak terlihat tapi terasa.
Dalam makanan, jiwa pertama adalah bahan yang jujur. Jiwa kedua adalah tangan yang mengolah dengan cinta. Saat keduanya bertemu, yang tersaji bukan hanya rasa enak, tapi juga cerita. Inilah mengapa sepiring masakan rumahan bisa lebih membekas daripada hidangan mewah: karena ada jiwa yang merawat jiwa kita.
Begitu juga dalam pariwisata. Destinasi bukan sekadar tempat, tapi ruang tempat jiwa wisatawan bertemu dengan jiwa tuan rumah. Keramahan, senyum tulus, dan kepedulian kecil adalah "jiwa di dalam jiwa" yang membuat perjalanan jadi kenangan.
Jadi, apa pun yang kita kerjakan, mari letakkan jiwa di dalamnya. Karena hanya jiwa yang bisa menyentuh jiwa.(Redaksi Sekjend MDG)
