UM Bima Melaksanaan Solat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, Suasana Khidmat Menyelimuti Pagi Yang Penuh Kemenangan - Media Dinamika Global

Minggu, 22 Maret 2026

UM Bima Melaksanaan Solat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, Suasana Khidmat Menyelimuti Pagi Yang Penuh Kemenangan


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Kota Bima, Ribuan jamaah tumpah ruah memenuhi halaman hingga meluber ke ruas jalan di depan Kampus 1 Universitas Muhammadiyah dalam pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H (Jum’at, 20 Maret 2026). Suasana khidmat menyelimuti pagi yang penuh kemenangan itu, diiringi gema takbir yang menggema dari berbagai penjuru, menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam sekaligus reflektif.

Di hadapan lautan jamaah tersebut, khatib Dr. Nasaruddin, M.P.I., dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Bima, menyampaikan khutbah yang menggugah kesadaran kolektif umat Islam, terutama dalam menghadapi tantangan besar di era disrupsi sosial dan teknologi.

Dalam khutbah bertajuk “Menjadi Muslim Rahmatan lil ‘Alamin di Era Disrupsi Sosial dan Teknologi”, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar ritual tahunan yang berulang, melainkan momentum strategis untuk melakukan transformasi diri secara menyeluruh.

“Idul Fitri adalah gerbang implementasi nilai-nilai Ramadan. Kita baru saja lulus dari madrasah spiritual selama sebulan penuh. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai itu akan kita bawa dalam sebelas bulan ke depan, atau justru kita tinggalkan begitu saja?” ujarnya dengan nada tegas.

Menurutnya, keberhasilan ibadah puasa tidak berhenti pada dimensi ritual semata, tetapi harus melahirkan perubahan karakter yang nyata.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih kita mengendalikan hawa nafsu—menahan ego, menahan amarah, menahan ambisi berlebihan. Inilah kemenangan sejati, bukan sekadar menjadi viral atau dikenal banyak orang,” tegasnya di hadapan jamaah.

Lebih lanjut, Dr. Nasaruddin menyoroti realitas kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi tanpa batas. Ia menyebut bahwa umat Islam saat ini hidup dalam situasi yang paradoks: informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan justru semakin langka.

“Kita hidup di era ketika informasi datang tanpa jeda, tetapi tidak semua informasi membawa kebenaran. Hoaks, fitnah, dan manipulasi opini bertebaran di media sosial, bahkan masuk ke ruang-ruang privat seperti grup keluarga,” katanya.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan pentingnya prinsip tabayyun atau verifikasi sebagai fondasi etika bermedia.

“Al-Qur’an telah memberikan kita ‘algoritma’ paling canggih sepanjang masa, yaitu tabayyun. Jangan mudah menekan tombol ‘share’ sebelum kita tahu kebenarannya. Sebab satu informasi yang salah bisa menjadi sumber penyesalan panjang, bahkan dosa yang terus mengalir,” ujarnya.

Ia juga mengkritik fenomena sosial di mana ukuran keberhasilan seseorang sering kali ditentukan oleh jumlah pengikut dan tingkat popularitas di dunia digital.  “Hari ini banyak orang merasa sukses ketika kontennya viral. Padahal dalam perspektif Islam, kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu memperbaiki dirinya dari hari ke hari. Allah tidak melihat seberapa terkenal kita, tetapi seberapa tulus dan bersih hati kita,” ungkapnya.

Dalam khutbahnya, Dr. Nasaruddin turut menyinggung krisis adab yang semakin tampak di ruang digital. Ia menyayangkan maraknya ujaran kebencian, perundungan, dan saling hujat yang bahkan terjadi antar sesama Muslim.  “Fenomena yang paling menyedihkan hari ini adalah hilangnya adab. Orang merasa bebas mencaci karena bersembunyi di balik akun. Padahal Rasulullah mengajarkan bahwa seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, atau berkata kotor,” tegasnya.

Ia mengajak jamaah untuk menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah yang menyejukkan, bukan ruang konflik yang memperkeruh keadaan.

“Jadikan akun media sosial kita sebagai taman kebaikan—menyebarkan inspirasi, motivasi, dan nilai-nilai kebaikan. Itulah makna menjadi Muslim rahmatan lil ‘alamin, menghadirkan kedamaian di tengah dunia yang penuh kegaduhan,” ujarnya.  

Dalam bagian reflektif, ia mengangkat keteladanan Imam Bukhari sebagai simbol integritas intelektual dan moral dalam menyaring informasi.

“Imam Bukhari mengajarkan kepada kita bahwa integritas lebih utama daripada kecepatan, dan kebenaran lebih penting daripada popularitas. Jika beliau hidup hari ini, beliau pasti menjadi orang yang paling hati-hati dalam menyebarkan informasi,” tuturnya.

Pesan tersebut, menurutnya, sangat relevan di tengah budaya digital yang serba instan dan cenderung mengabaikan verifikasi.  Di akhir khutbah, Dr. Nasaruddin mengajak jamaah untuk tidak hanya membangun kesalehan digital, tetapi juga memperkuat kesalehan sosial, terutama dalam lingkungan keluarga.

“Kesalehan di media sosial tidak ada artinya jika kita masih lalai terhadap orang tua. Setelah shalat ini, jangan hanya mengirim pesan maaf lewat gawai. Datangi, peluk, dan mintalah maaf secara langsung kepada orang tua kita. Ridha Allah bergantung pada ridha mereka,” pesannya dengan penuh haru.  Ia menutup khutbah dengan ajakan menjadikan Idul Fitri sebagai momentum restorasi spiritual total—membersihkan hati dari kebencian, memperbarui iman, dan menghapus sifat-sifat buruk yang selama ini mengotori diri.

“Jadikan Idul Fitri ini sebagai titik balik. Upgrade iman kita, perbaiki akhlak kita, dan hadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, hanya dengan iman dan akhlak kita bisa tetap teguh,” pungkasnya.

Khutbah tersebut pun disambut penuh kekhusyukan oleh jamaah, yang sejak pagi telah memadati area kampus, bahkan hingga meluber ke jalan raya. Momentum Idul Fitri tahun ini tidak hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga panggilan moral untuk kembali pada nilai-nilai keislaman yang substansial di tengah tantangan zaman yang kian kompleks. (Sekjend MDG)

Comments


EmoticonEmoticon