Relawan Pendidikan di Wilayah 3T: Menyemai Harapan di Tengah Keterbatasan
Bima.NTB.Media Dinamika Global.id. Di tengah keterbatasan akses dan medan berat wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), para relawan pendidikan terus berjuang menjaga asa anak-anak bangsa agar tetap memiliki mimpi besar.
Salah satunya dirasakan oleh seorang pendidik sekaligus relawan dari Yayasan Tahfidz Quran Salahuddin Al Ayyubi, Salahuddin, S.Pd., SD. Ia menuturkan bahwa kebahagiaan terbesar seorang guru bukanlah sekadar mengajar, melainkan ketika disapa kembali oleh murid-muridnya setelah perpisahan di medan pengabdian.
“Rasa lelah seketika sirna ketika terdengar suara canda tawa anak-anak yang menggema dari atas bukit,” ungkapnya dalam catatan pengabdiannya di wilayah 3T.
Menurutnya, hubungan antara guru dan murid di daerah pelosok tidak sekadar sebatas peran formal di ruang kelas. Lebih dari itu, terjalin ikatan emosional yang kuat berupa saling menghargai, memahami, dan melindungi satu sama lain.
Namun, di balik semangat belajar anak-anak tersebut, tersimpan kisah-kisah haru yang kerap ditemui para pendidik di lapangan. Salah satunya adalah cerita seorang anak yang mengeluhkan kondisi ekonominya.
“Kenapa saya juga tidak dapat? Sepatu saya bolong,” ucap seorang anak sambil menangis, menceritakan ibunya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri.
Pengalaman serupa, menurutnya, tidak hanya ditemui di Indonesia, tetapi juga dalam perjalanan pengabdian yang lebih luas hingga ke luar negeri seperti India dan Irlandia selama lebih dari 13 tahun.
Ia menggambarkan beratnya medan pengabdian yang harus dilalui, mulai dari melintasi pegunungan, sungai, hingga kondisi kesehatan yang kerap terganggu akibat kelelahan.
“Terkadang tubuh terluka hingga menggigil kedinginan… dan itu bukan terjadi sekali, melainkan berkali-kali,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, ia tetap menyaksikan lahirnya berbagai cita-cita anak-anak di pelosok negeri. Mereka bermimpi menjadi guru, dokter, bidan, perawat, polisi, tentara, menteri, presiden, ustaz, petani, ulama, hingga pilot.
Namun, ia juga mengungkapkan kegelisahan atas masa depan mimpi-mimpi tersebut. Menurutnya, masih banyak tantangan yang dapat menghambat anak-anak di daerah terpencil untuk mencapai cita-citanya.
Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Tahfidz Quran Salahuddin Al Ayyubi hadir sebagai salah satu upaya pendidikan dan pembinaan generasi Qurani di wilayah 3T.
Dalam refleksinya, ia juga terinspirasi dari konsep investasi kehidupan yang diperoleh dari pengalaman tokoh pendidikan yang dikenalnya, yakni Ir. Sholah Atiyah di Mesir, yang menekankan pentingnya keterlibatan spiritual dalam setiap upaya pemberdayaan umat.
Program pendidikan ini telah menjangkau berbagai wilayah di Kabupaten Bima, di antaranya Sape, Sanggar, Parado, Donggo, dan Tambora. Di wilayah-wilayah tersebut, para relawan berupaya menghadirkan pendidikan di tengah keterbatasan sarana dan akses.
Meski tantangan terus hadir, para pendidik menegaskan bahwa semangat tidak akan padam.
“Setiap langkah, setiap luka, dan setiap air mata menjadi bahan bakar untuk terus berjalan,” demikian refleksi dari perjalanan pengabdian tersebut.
Di akhir catatannya, harapan besar disematkan agar upaya pendidikan ini dapat melahirkan generasi Qurani yang kuat dan berdaya di tanah kelahirannya.
“Ya Rabbi, mudahkanlah jalan kami dalam mewujudkan Generasi Qurani di tanah kelahiran ini. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.”(Team.MDG.03)














