Jakarta, Media Dinamika Global.id.-- Di balik kibaran gagah Bendera Pusaka pada 17 Agustus 1945, ada helaan napas berat dan cucuran air mata seorang perempuan tangguh. Dialah Fatmawati, Ibu Negara pertama Republik Indonesia, yang menyatukan dua helai kain merah dan putih menjadi simbol kemerdekaan bangsa.
Kala itu, Agustus 1945, atmosfer Jakarta dipenuhi ketegangan. Janji kemerdekaan dari Jepang mulai mendekati kenyataan. Di tengah suasana yang bergejolak, Fatmawati menyadari satu hal krusial: Indonesia membutuhkan bendera nasional untuk dikibarkan saat proklamasi. Namun, mendapatkan kain polos berkualitas di masa pendudukan Jepang bukanlah perkara mudah. Seluruh barang impor dikuasai ketat. Berkat bantuan Hitoshi Shimizu, seorang perantara perundingan, kain merah dan putih akhirnya berhasil didapatkan dari gudang di kawasan Pintu Air.
Perjuangan sesungguhnya baru dimulai saat kain berada di tangan Fatmawati. Kondisi fisiknya saat itu sangat rentan. Beliau sedang hamil tua putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra, dan sudah memasuki detik-detik menjelang persalinan. Rasa pegal, nyeri, dan lelah yang luar biasa menjalar di tubuhnya.
Dokter bahkan telah melarang keras Fatmawati untuk menggunakan kaki dalam menggerakkan mesin jahit demi keselamatan janinnya. Namun, keterbatasan itu tak menyurutkan langkahnya. Dengan sabar, tangan Fatmawati mengayuh roda mesin jahit Singer secara manual, senti demi senti, merajut kain merah dan putih.
Tak jarang air mata Fatmawati menetes ke atas kain yang sedang dijahitnya. Campuran rasa haru, cemas akan keselamatan kandungan, dan kepasrahan pada takdir bangsa menyatu dalam setiap kayuhan tangan. Dalam kepayahan fisik yang menekan, jemarinya terus bergerak hingga dua warna itu menyatu sempurna.
Beberapa hari kemudian, bendera hasil jahitan tangan dalam kepayahan itu berkibar tinggi di Pegangsaan Timur 56, mengiringi dentang suara Proklamasi. Ibu Fatmawati tidak hanya menjahit selembar kain, tetapi juga merajut harga diri dan identitas sebuah bangsa yang baru lahir.
Redaktur II
