![]() |
| Foto : Kepsek SMAN 1 Wawo Irwan, S. Pd |
BIMA,Mediadinamikaglobal.id – Isu mengenai sejumlah siswa SMAN 1 Wawo yakni sebanyak empat siswa yang dinyatakan tidak lulus ujian sempat memicu pertanyaan dan kekecewaan di kalangan orang tua maupun masyarakat. Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah SMAN 1 Wawo Irwan, S. Pd yang didampingi langsung Wakasek Kesiswaan Abdul Munir, S. Pd memberikan penjelasan tegas dan gamblang terkait alasan utama di balik keputusan tersebut, sekaligus membongkar fakta di balik rendahnya capaian hasil belajar para siswa yang bersangkutan.
Dalam pernyataannya, Irwan, S. Pd menegaskan bahwa ketidaklulusan itu bukan terjadi tanpa alasan yang jelas, melainkan murni karena ketidakhadiran siswa dalam seluruh proses pendidikan yang berlangsung. Berdasarkan data kehadiran dan administrasi sekolah yang lengkap, tercatat bahwa para siswa tersebut sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
“Artinya, anak-anak yang tidak lulus ini tidak pernah masuk sekolah satu kali pun untuk mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Mereka tiba-tiba hadir saat ujian akhir sekolah saja,” ujar Kepala Sekolah dengan nada tegas saat dikonfirmasi awak media ini. Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, aturan penilaian dan kelulusan pendidikan tidak hanya didasarkan pada hasil ujian akhir semata, melainkan merupakan akumulasi dari kehadiran, partisipasi, tugas harian, penilaian tengah semester, hingga penguasaan materi selama satu tahun ajaran. Karena tidak pernah mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir, secara otomatis syarat-syarat kelulusan tidak dapat terpenuhi, terlepas dari seberapa pun hasil yang mereka peroleh saat ujian.
“Bagaimana mungkin kami bisa meluluskan siswa yang tidak pernah kami ajar, tidak pernah mengerjakan tugas, tidak pernah berinteraksi dengan guru dan teman sekelas? Kelulusan itu bukti bahwa siswa sudah melalui proses, memahami materi, dan memenuhi standar kompetensi. Kalau tidak pernah hadir, proses itu tidak ada, jadi syarat lulus pun tidak terpenuhi,” tambahnya.
Irwan, S. Pd juga menyayangkan sikap sebagian orang tua yang justru menyalahkan sekolah, padahal pihaknya sudah berulang kali berupaya menghubungi dan mengundang serta pemanggilan secara langsung kepada siswa serta wali murid untuk datang ke sekolah, namun tidak mendapat tanggapan. Surat pemberitahuan ketidakhadiran juga sudah dikirimkan, namun tidak ada respons hingga pelaksanaan ujian tiba.
“Kami sudah berusaha maksimal. Guru sudah mencatat, sudah melapor, sudah mengirim surat panggilan. Tapi kalau siswanya tidak mau datang, orang tuanya pun tidak merespons, apa lagi yang bisa kami lakukan? Sekolah ini tempat belajar, bukan tempat mencetak ijazah bagi yang tidak mau berproses,” tegasnya.
Lanjutnya, salah satu dari keempat siswa yang tidak lulus tersebut, diketahui sudah menikah sebelum ujian berlangsung. Sesuai dengan aturan tata tertib didunia pendidikan, perilaku siswa ini tidak diperbolehkan untuk diluluskan pada sekolah yang bersangkutan.
Ketika ditanya, mengenai ada salah satu keluarga siswa yang tidak lulus pernah mengajukan surat pemindahan namun tidak ditanggapi pihak sekolah. kepsek SMAN 1 Wawo mengungkap bahwa pihak sekolah tidak ada menerima permohonan itu.
"Kami pihak sekolah menyatakan tidak ada . Kalau memang benar adanya seperti itu, tolong katakan kapan, dimana, kepada siapa?, berulang kali ucapkan tidak ada," ucapnya.
Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat terutama di platform media sosial yang saat ini sedang viral, yang sebagiannya menuduh sekolah terlalu ketat atau tidak adil. Kepala Sekolah SMAN 1 Wawo Irwan, S. Pd menegaskan bahwa keputusan yang diambil sudah sesuai peraturan perundang-undangan dan pedoman penilaian pendidikan yang berlaku, serta didukung data administrasi yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia kembali mengingatkan kepada seluruh orang tua bahwa tanggung jawab kehadiran anak di sekolah adalah hal mendasar. Pendidikan adalah kerja sama, dan keberhasilan anak sangat bergantung pada dukungan keluarga agar anak mau hadir, belajar, dan berpartisipasi aktif.
“Jangan sampai anak hanya datang saat ujian saja, tapi tidak tahu apa yang dipelajari. Itu sama saja merugikan masa depan anak itu sendiri. Kami tetap membuka kesempatan bagi mereka untuk mengikuti program perbaikan atau pendaftaran ulang, asalkan mau mengikuti seluruh proses belajar dengan benar dan disiplin,” pungkas Irwan, S. Pd. (MDG05)
