Hari Raya Kurban dan Etika Kepemimpinan: Belajar Ikhlas dari Ibrahim - Media Dinamika Global

Selasa, 26 Mei 2026

Hari Raya Kurban dan Etika Kepemimpinan: Belajar Ikhlas dari Ibrahim


M. Fakhrur Rodzi, M.IP (Ketua Pemuda Muhammadiyah Woha)

Bima, Media Dinamika Global.id.-- Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan keagamaan yang ditandai dengan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Kurban meruapakan momentum spiritual yang mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia. Kisah Nabi Ibrahim bukan hanya cerita religius yang diulang setiap tahun, tetapi refleksi besar tentang bagaimana manusia, terutama para pemimpin, seharusnya menjalankan amanah kehidupan dan kekuasaan.

Di tengah kondisi Indonesia hari ini, pesan itu terasa semakin relevan. Rakyat sedang menghadapi banyak tekanan politik, sosial dan terutama ekonomi: harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, problem pendidikan, kesehatan dan infrastruktur yang belum merata, hingga persoalan kepercayaan publik terhadap elit politik yang perlahan mengalami penurunan. Di saat yang sama, masyarakat justru sering menyaksikan pertunjukan kekuasaan yang jauh dari nilai pengorbanan. Politik lebih ramai dengan perebutan jabatan dibanding perlombaan menghadirkan kesejahteraan.

Di sinilah Idul Kurban seharusnya menjadi tamparan moral bagi para pemegang kekuasaan, pembuat kebijakan atau mereka yang diberi otoritas untuk pengelola negara.

Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada kepentingan yang lebih besar harus mengalahkan kepentingan pribadi. Pengorbanan yang beliau lakukan bukan sekadar tentang menyerahkan Ismail, tetapi tentang kesiapan melepaskan ego, ambisi, dan keterikatan duniawi demi menjalankan amanah dan perintah yang penciptakannya. Nilai itulah yang tampaknya mulai langka dalam praktik kepemimpinan modern ini.

Hari ini, banyak pemimpin berbicara tentang rakyat, tetapi kebijakan yang lahir sering kali tidak benar-benar menyentuh penderitaan rakyat kecil. Anggaran diperebutkan, proyek dipamerkan, tetapi suara masyarakat di desa-desa, petani, nelayan, buruh, dan anak muda penganggura sangat masif. Politik kehilangan empati ketika jabatan hanya dijadikan alat mempertahankan kekuasaan, bukan ruang pengabdian.

Padahal, esensi kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi kursi yang diduduki, tetapi seberapa besar keberanian berkorban demi kepentingan publik.

Idul Kurban juga mengajarkan bahwa pemimpin harus mampu menahan nafsu kekuasaan. Dalam konteks Indonesia saat ini, publik sering menyaksikan bagaimana politik dipenuhi kepentingan kelompok, transaksi kekuasaan, dan pencitraan. Demokrasi terkadang kehilangan substansi karena terlalu sibuk mengurus elektabilitas dibanding moralitas. Akibatnya, rakyat semakin sulit membedakan mana pemimpin yang benar-benar bekerja dan mana yang sekadar membangun popularitas.

Keikhlasan Nabi Ibrahim seharusnya menjadi pelajaran bahwa kepemimpinan membutuhkan ketulusan, bukan sekadar pencapaian statistik. Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga rasa keadilan, rasa aman, dan keyakinan bahwa negara benar-benar berpihak kepada mereka.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil,dolar terus naik, daya beli turun masyarakat kecil sesungguhnya sedang banyak “berkurban”. Pedagang kecil bertahan dengan penghasilan yang menurun, petani menghadapi biaya produksi yang tinggi, orang tua berjuang membiayai pendidikan anak, dan anak muda harus bertarung dengan sempitnya lapangan kerja. Ironisnya, di tengah pengorbanan rakyat itu, sebagian elit justru mempertontonkan kemewahan dan perebutan pengaruh politik.

Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti pada ritual seremonial. Kurban harus menjadi kesadaran sosial dan politik. Bahwa kekuasaan tanpa pengorbanan akan melahirkan kesenjangan. Bahwa kebijakan tanpa empati hanya akan memperlebar jarak antara negara dan rakyatnya.

Pemimpin yang baik bukan mereka yang paling sering tampil di depan kamera, tetapi mereka yang diam-diam memikirkan bagaimana rakyat bisa hidup lebih layak. Pemimpin sejati adalah mereka yang rela mengurangi kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat. Mereka yang berani mengambil keputusan sulit untuk kebaikan bersama, meski mungkin tidak menguntungkan secara politik.

Indonesia membutuhkan lebih banyak kepemimpinan yang berjiwa Ibrahim: pemimpin yang tidak rakus kekuasaan, tidak sibuk membangun dinasti, tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri, tetapi menjadikan amanah sebagai jalan pengabdian.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang benar-benar berkorban untuk rakyatnya, berpihak kepada rakyatnya.

Di Hari Raya Kurban ini, rakyat mungkin tidak berharap pemimpin menjadi sempurna. Namun rakyat berharap ada ketulusan, ada keberpihakan, dan ada keberanian untuk mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan politik sesaat. Karena sejatinya, makna terbesar dari kurban bukan tentang apa yang disembelih, tetapi tentang apa yang rela dilepaskan demi kemanusiaan dan keadilan.(Waketum MDG)

Comments