Media Dinamika Global

Minggu, 22 Maret 2026

Dirpolairud Polda NTB Berikan Arahan kepada Personel Pam Operasi Ketupat Rinjani 2026

Dirpolairud Polda NTB, Kombes Pol Boyke F.S. Samola, S.I.K., M.H saat berikan kepada Personil Pengamanan, (Ist/Surya).

Mataram-NTB, Media Dinamika Global – Direktur Kepolisian Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda NTB, Kombes Pol Boyke F.S. Samola, S.I.K., M.H., melaksanakan kegiatan arahan dan atensi kepada personel pengamanan (Pam) Operasi Ketupat Rinjani 2026 yang berlangsung di Lapangan Bharadaksa Polda NTB. Senin, (23/3/26).

Dalam arahannya, Dirpolairud menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh personel yang telah melaksanakan tugas pengamanan selama perayaan Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh personel dalam menghadapi arus balik Lebaran. Personel diinstruksikan untuk mengantisipasi potensi kerawanan kemacetan, khususnya di wilayah pelabuhan penyeberangan yang menjadi titik padat mobilitas masyarakat.

Selain itu, perhatian juga diarahkan pada pengamanan lokasi wisata yang dipadati pengunjung selama masa libur Lebaran. Seluruh personel diminta untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

Dirpolairud juga mengingatkan agar seluruh jajaran senantiasa melaksanakan deteksi dini terhadap perkembangan situasi dan kondisi di wilayah Nusa Tenggara Barat, sehingga setiap potensi gangguan keamanan dapat diantisipasi dengan cepat dan tepat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Polda NTB dalam memastikan kelancaran Operasi Ketupat Rinjani 2026 serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat selama momentum Hari Raya.

Redaksi | 

Presiden Prabowo Ungkap Dua Dirjen di Kementerian PU Dipecat


JAKARTA, Media Dinamika Global.id.-- Presiden Prabowo Subianto menyebut dua Direktur Jenderal (Dirjen) di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dipecat. Pemecatan tersebut dilakukan oleh Menteri PU Dody Hanggodo.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam sebuah wawancara dengan sejumlah tokoh nasional di rumahnya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Prabowo menegaskan, pemerintahannya akan mengambil tindakan tegas terhadap pejabat yang nakal.

”Saya lihat di beberapa menteri saya sudah mulai berbenah. Ada orang yang kelihatan soft tapi dia, ada dirjen-dirjen yang nakal-nakal langsung dipecat, iya kan. Kalau Anda lihat Menteri PU saya sekarang Dody kan orangnya baik, tapi kalau mau main-main, dia pecat dua dirjen,” katanya.

Prabowo menyebut, penerimaan pajak negara mengalami peningkatan signifikan juga tidak lepas dari upaya pembersihan yang dilakukannya.

“Kalau kita lihat penerimaan pajak kita sudah naik. Januari, Februari, Maret ini naiknya cukup signifikan, naiknya sekitar 30% mudah-mudahan bertahan. Mungkin dengan kita bersihkan Direktorat Pajak, ini ada peningkatan. Ini sekarang Bea Cukai harus kita bersihkan juga,” ujarnya.

Prabowo menegaskan, semua institusi-institusi negara harus dibersihkan. “Makanya saya, semua kawan-kawan di semua lembaga saya tanya you bersihkan dirimu atau atau you nanti akan dibersihkan,” tegasnya.(Team)

Badai NTB : Bongkar Bandar Tetap Dalam Koridor Hukum dan Kemanusiaan


Bima NTB, Media Dinamika Global.id.-- Di ambang praperadilan, di ujung kesabaran yang panjang, Saya mohon doa, mohon dukungan yang tenang. Mari menjaga perjuangan bongkar bandar ini tetap dalam koridor hukum dan kemanusiaan.

Perjuangan tidak selalu berjalan di jalanan yang riuh. Ada saat ketika langkah harus dipindahkan ke ruang yang lebih sunyi, ruang tempat hukum berbicara dengan caranya sendiri, tanpa teriakan, tanpa amarah. Saya tiba di titik ini setelah waktu yang panjang menggantung tanpa kepastian.

Sejak status tersangka itu dilekatkan pada 14 Mei 2025 sampai sekarang belum ada kepastian hukum, hari-hari berjalan seperti lorong yang redup. Saya menjalaninya dengan kooperatif. Saya datang ketika dipanggil. Saya patuh pada prosedur. Saya menahan diri dari prasangka. Saya memilih percaya bahwa hukum akan menemukan jalannya sendiri. Namun waktu mengajarkan satu hal yang pahit: ketika kepastian terlalu lama ditunda, keadilan terasa seperti menjauh perlahan.

Saya tidak ingin terus berdiri di ruang yang menggantung. Bukan karena saya melawan hukum. Justru karena saya menghormati hukum, saya memilih menggunakan hak yang disediakan oleh hukum itu sendiri. Praperadilan adalah langkah konstitusional. Bukan bentuk perlawanan. Bukan sikap menantang institusi.

Ia adalah ruang penegasan, tempat warga negara diberi hak untuk bertanya dengan tertib:

apakah prosedur sudah berjalan sebagaimana mestinya? apakah kewenangan telah dijalankan secara proporsional? apakah penetapan status hukum telah sesuai dengan aturan? Saya tidak berdiri untuk menyerang siapa pun. Saya hanya ingin kepastian. Karena hukum yang adil tidak membiarkan seseorang terlalu lama hidup dalam bayang-bayang tanpa ujung.

Langkah ini lahir dari perenungan yang panjang. Dari diskusi dengan para ahli hukum. Dari pergulatan batin yang tidak sederhana. Saya menimbang bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai warga negara yang percaya bahwa keadilan harus dijaga melalui cara-cara yang bermartabat.

Saya tetap menghormati Kepolisian sebagai institusi penegak hukum. Namun penghormatan itu tidak menghapus hak saya untuk memperoleh kejelasan. Dalam negara hukum, setiap tindakan aparat juga terbuka untuk diuji secara objektif di hadapan pengadilan. Itulah esensi keadilan: setara di hadapan hukum.

Di titik ini, perjuangan yang selama ini berjalan di ruang sosial menemukan bentuknya yang baru. Ia tidak lagi berupa orasi panjang atau seruan terbuka. Ia menjelma langkah yang lebih tenang, memasuki ruang sidang dengan kepala tegak dan niat yang lurus. Perjuangan berubah cara, tetapi tidak berubah tujuan.

Saya teringat pada begitu banyak wajah yang selama ini membersamai perjalanan panjang melawan kejahatan yang merusak tanah kelahiran. Dukungan yang tidak selalu terdengar keras, tetapi terasa hangat dan menguatkan. Doa-doa yang tidak selalu terlihat, tetapi menjadi penopang saat langkah terasa berat. Perjuangan ini sejak awal tidak pernah benar-benar saya jalani sendirian.

Karena itu, ketika saya menempuh jalur hukum ini, saya memaknainya sebagai bagian dari perjalanan bersama. Bukan sekadar perkara pribadi, melainkan ikhtiar kolektif menjaga agar hukum tetap berdiri di atas keadilan. Saya tidak membutuhkan keramaian yang gaduh. Saya tidak mencari sorotan yang berlebihan. Namun saya percaya, kehadiran yang tertib dan bermartabat adalah bentuk kepedulian yang paling tulus. Hadir sebagai saksi bahwa keadilan tidak berjalan sendirian. Hadir untuk menunjukkan bahwa masyarakat peduli pada tegaknya hukum yang transparan dan akuntabel.

Membersamai bukan berarti melawan. Mengawal bukan berarti menekan. Hadir bukan untuk menciptakan kegaduhan. Melainkan untuk merawat keyakinan bahwa hukum yang adil tidak perlu takut disaksikan oleh rakyatnya.

Dan kini, di penghujung Ramadan, ketika malam-malam dipenuhi doa dan harapan, saya justru berdiri di persimpangan yang sunyi. Besok kita merayakan hari kemenangan, hari ketika hati kembali pada fitrah, ketika maaf saling dipeluk, ketika keikhlasan diuji oleh ketulusan.

Di suasana yang hening itu, saya memilih satu sikap: menyerahkan langkah ini kepada keadilan yang dijaga oleh Tuhan dan diikhtiarkan melalui hukum manusia. Saya tidak membawa amarah. Saya tidak menyimpan dendam. Saya hanya membawa harapan sederhana: agar kebenaran tidak dibiarkan menggantung terlalu lama. Jika esok dan hari-hari setelahnya saya harus memasuki ruang sidang, maka saya ingin melangkah dengan hati yang bersih, sebersih niat ketika pertama kali memilih berdiri membela kebenaran. Karena pada akhirnya, perjuangan bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling teguh menjaga niatnya tetap lurus.

Dan saya percaya, keadilan yang diperjuangkan dengan cara yang bermartabat akan menemukan jalannya sendiri. Mohon doa. Mohon dukungan yang tenang. Mari menjaga langkah ini tetap dalam koridor hukum dan kemanusiaan.

Selamat menyambut Idul Fitri.

Semoga hati kita tetap lapang, dan langkah kita tetap berpihak pada kebenaran.

Uswatun Hasanah/Badai NTB

Ngali, 20 Maret 2026 

Koramil 1608-03/Sape Gelar Patroli Cipta Kondisi, Amankan Puluhan Liter Miras di Desa Soro


Lambu.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id Personel Koramil 1608-03/Sape melaksanakan patroli cipta kondisi pada Minggu malam (22/3/2026) hingga dini hari guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Kecamatan Sape dan Lambu, Kabupaten Bima.

Kegiatan diawali dengan apel pengecekan personel pada pukul 21.30 WITA di Markas Koramil 1608-03/Sape yang berlokasi di Jalan Lintas Pelabuhan Sape, Desa Oi Maci. Apel dipimpin oleh Bati Tuud Koramil 1608-03/Sape, Serma Sahlan, dengan melibatkan total 10 personel, terdiri dari 9 anggota Koramil dan 1 anggota unit intel, Serka Ilham.

Dalam arahannya, Serma Sahlan menekankan pentingnya pelaksanaan patroli secara bertanggung jawab dan humanis, serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Ia juga mengingatkan agar setiap tindakan di lapangan dilakukan melalui koordinasi dan komunikasi yang baik.




Patroli menyasar Desa Melayu dan Desa Soro di Kecamatan Lambu, khususnya lokasi yang kerap menjadi tempat berkumpulnya para pemuda. Kegiatan meliputi pemeriksaan (sweeping) terhadap senjata tajam, minuman keras, serta pemberian imbauan untuk menghindari pelanggaran hukum seperti konsumsi miras dan penyalahgunaan narkoba.

Sekitar pukul 21.45 WITA, tim patroli tiba di Desa Melayu dan melakukan pemeriksaan serta memberikan imbauan kamtibmas kepada para pemuda. Selanjutnya, pada pukul 22.10 WITA, patroli dilanjutkan ke Desa Soro dengan kegiatan serupa.

Pada pukul 22.20 WITA, petugas menerima laporan dari warga terkait dugaan penjualan minuman keras jenis sofi di salah satu rumah warga. Bersama Ketua RT setempat, petugas melakukan penggeledahan di rumah milik Saefullah alias Fula (42), warga Dusun Oi Ncinggi, Desa Soro.

Dari hasil penggeledahan, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa:

8 jerigen berisi masing-masing 35 liter,

5 jerigen berisi masing-masing 5 liter,

10 botol air mineral ukuran besar,

49 botol air mineral ukuran sedang yang diduga berisi miras jenis sofi.

Seluruh rangkaian patroli berakhir pada pukul 01.00 WITA dalam keadaan aman dan lancar.

Dalam catatannya, kegiatan patroli ini mendapat respons positif dari masyarakat dan dinilai efektif dalam mencegah potensi gangguan kamtibmas, khususnya di kalangan pemuda. Namun, ditemukannya peredaran miras dalam jumlah besar di Desa Soro menjadi perhatian serius, sehingga diperlukan langkah penanganan berkelanjutan.

Koramil 1608-03/Sape juga menegaskan pentingnya peningkatan patroli rutin serta sinergi dengan aparat terkait dan tokoh masyarakat guna menekan peredaran miras, penyalahgunaan narkoba, serta potensi pelanggaran hukum lainnya di wilayah tersebut.(Team.MDG.03)

UM Bima Melaksanaan Solat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, Suasana Khidmat Menyelimuti Pagi Yang Penuh Kemenangan


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Kota Bima, Ribuan jamaah tumpah ruah memenuhi halaman hingga meluber ke ruas jalan di depan Kampus 1 Universitas Muhammadiyah dalam pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H (Jum’at, 20 Maret 2026). Suasana khidmat menyelimuti pagi yang penuh kemenangan itu, diiringi gema takbir yang menggema dari berbagai penjuru, menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam sekaligus reflektif.

Di hadapan lautan jamaah tersebut, khatib Dr. Nasaruddin, M.P.I., dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Bima, menyampaikan khutbah yang menggugah kesadaran kolektif umat Islam, terutama dalam menghadapi tantangan besar di era disrupsi sosial dan teknologi.

Dalam khutbah bertajuk “Menjadi Muslim Rahmatan lil ‘Alamin di Era Disrupsi Sosial dan Teknologi”, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar ritual tahunan yang berulang, melainkan momentum strategis untuk melakukan transformasi diri secara menyeluruh.

“Idul Fitri adalah gerbang implementasi nilai-nilai Ramadan. Kita baru saja lulus dari madrasah spiritual selama sebulan penuh. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai itu akan kita bawa dalam sebelas bulan ke depan, atau justru kita tinggalkan begitu saja?” ujarnya dengan nada tegas.

Menurutnya, keberhasilan ibadah puasa tidak berhenti pada dimensi ritual semata, tetapi harus melahirkan perubahan karakter yang nyata.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih kita mengendalikan hawa nafsu—menahan ego, menahan amarah, menahan ambisi berlebihan. Inilah kemenangan sejati, bukan sekadar menjadi viral atau dikenal banyak orang,” tegasnya di hadapan jamaah.

Lebih lanjut, Dr. Nasaruddin menyoroti realitas kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi tanpa batas. Ia menyebut bahwa umat Islam saat ini hidup dalam situasi yang paradoks: informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan justru semakin langka.

“Kita hidup di era ketika informasi datang tanpa jeda, tetapi tidak semua informasi membawa kebenaran. Hoaks, fitnah, dan manipulasi opini bertebaran di media sosial, bahkan masuk ke ruang-ruang privat seperti grup keluarga,” katanya.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan pentingnya prinsip tabayyun atau verifikasi sebagai fondasi etika bermedia.

“Al-Qur’an telah memberikan kita ‘algoritma’ paling canggih sepanjang masa, yaitu tabayyun. Jangan mudah menekan tombol ‘share’ sebelum kita tahu kebenarannya. Sebab satu informasi yang salah bisa menjadi sumber penyesalan panjang, bahkan dosa yang terus mengalir,” ujarnya.

Ia juga mengkritik fenomena sosial di mana ukuran keberhasilan seseorang sering kali ditentukan oleh jumlah pengikut dan tingkat popularitas di dunia digital.  “Hari ini banyak orang merasa sukses ketika kontennya viral. Padahal dalam perspektif Islam, kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu memperbaiki dirinya dari hari ke hari. Allah tidak melihat seberapa terkenal kita, tetapi seberapa tulus dan bersih hati kita,” ungkapnya.

Dalam khutbahnya, Dr. Nasaruddin turut menyinggung krisis adab yang semakin tampak di ruang digital. Ia menyayangkan maraknya ujaran kebencian, perundungan, dan saling hujat yang bahkan terjadi antar sesama Muslim.  “Fenomena yang paling menyedihkan hari ini adalah hilangnya adab. Orang merasa bebas mencaci karena bersembunyi di balik akun. Padahal Rasulullah mengajarkan bahwa seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, atau berkata kotor,” tegasnya.

Ia mengajak jamaah untuk menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah yang menyejukkan, bukan ruang konflik yang memperkeruh keadaan.

“Jadikan akun media sosial kita sebagai taman kebaikan—menyebarkan inspirasi, motivasi, dan nilai-nilai kebaikan. Itulah makna menjadi Muslim rahmatan lil ‘alamin, menghadirkan kedamaian di tengah dunia yang penuh kegaduhan,” ujarnya.  

Dalam bagian reflektif, ia mengangkat keteladanan Imam Bukhari sebagai simbol integritas intelektual dan moral dalam menyaring informasi.

“Imam Bukhari mengajarkan kepada kita bahwa integritas lebih utama daripada kecepatan, dan kebenaran lebih penting daripada popularitas. Jika beliau hidup hari ini, beliau pasti menjadi orang yang paling hati-hati dalam menyebarkan informasi,” tuturnya.

Pesan tersebut, menurutnya, sangat relevan di tengah budaya digital yang serba instan dan cenderung mengabaikan verifikasi.  Di akhir khutbah, Dr. Nasaruddin mengajak jamaah untuk tidak hanya membangun kesalehan digital, tetapi juga memperkuat kesalehan sosial, terutama dalam lingkungan keluarga.

“Kesalehan di media sosial tidak ada artinya jika kita masih lalai terhadap orang tua. Setelah shalat ini, jangan hanya mengirim pesan maaf lewat gawai. Datangi, peluk, dan mintalah maaf secara langsung kepada orang tua kita. Ridha Allah bergantung pada ridha mereka,” pesannya dengan penuh haru.  Ia menutup khutbah dengan ajakan menjadikan Idul Fitri sebagai momentum restorasi spiritual total—membersihkan hati dari kebencian, memperbarui iman, dan menghapus sifat-sifat buruk yang selama ini mengotori diri.

“Jadikan Idul Fitri ini sebagai titik balik. Upgrade iman kita, perbaiki akhlak kita, dan hadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, hanya dengan iman dan akhlak kita bisa tetap teguh,” pungkasnya.

Khutbah tersebut pun disambut penuh kekhusyukan oleh jamaah, yang sejak pagi telah memadati area kampus, bahkan hingga meluber ke jalan raya. Momentum Idul Fitri tahun ini tidak hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga panggilan moral untuk kembali pada nilai-nilai keislaman yang substansial di tengah tantangan zaman yang kian kompleks. (Sekjend MDG)

Babinsa Koramil 1608-03/Sape Intensifkan Kamtibmas Lewat Duduk Santai Bersama Warga


Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id Dalam rangka mempererat hubungan dengan masyarakat serta menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban, para Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 1608-03/Sape melaksanakan kegiatan komunikasi sosial melalui “duduk santai” bersama warga binaan di sejumlah desa, Minggu (22/3/2026) malam.

Kegiatan ini dilakukan secara serentak di beberapa wilayah dengan pendekatan yang humanis dan komunikatif. Meski berlangsung santai, kegiatan tersebut sarat dengan penyampaian pesan-pesan penting terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).



Pada pukul 19.30 WITA, Babinsa Desa Hidirasa, Kecamatan Lambu, Sertu Abdul Hafit melaksanakan pertemuan bersama warga. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi yang baik antarwarga serta menghindari tindakan yang melanggar hukum. Ia juga mengingatkan agar setiap permasalahan yang muncul tidak diselesaikan secara sepihak, melainkan segera dilaporkan kepada aparat terkait.

Kemudian pada pukul 20.00 WITA, Babinsa Desa Rasabou, Serda Abdul Hafid, melaksanakan patroli dialogis dengan warga. Ia mengimbau masyarakat agar selalu menjaga situasi kamtibmas serta tidak melakukan tindakan main hakim sendiri jika terjadi permasalahan.

Hal serupa dilakukan oleh Serda Irfan, Babinsa Desa Bugis, Kecamatan Sape, pada pukul 20.30 WITA. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan, mempererat silaturahmi, serta segera melaporkan setiap persoalan kepada aparat guna mencegah terjadinya konflik yang lebih besar.

Sementara itu, pada pukul 21.00 WITA, Serka Ridwan, Babinsa Desa Sumi, Kecamatan Lambu, yang juga anggota Posramil Lambu, memberikan imbauan tambahan terkait kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Ia mengingatkan warga agar memastikan kondisi dapur dan instalasi listrik dalam keadaan aman sebelum meninggalkan rumah. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak-anak.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin komunikasi yang semakin erat antara aparat dan masyarakat, sehingga tercipta lingkungan yang aman, tertib, dan harmonis di wilayah binaan Koramil 1608-03/Sape.

Sekda Kota Bima Akan Pantauan Langsung Rumah pasutri Tidak Layak Huni di Kelurahan paruga


Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Di sebuah kelurahan paruga, Kota Bima, sepasang suami istri bertahan hidup di rumah yang nyaris roboh. Mereka adalah Siti Mariam, Jaharuddin

Dari luar, rumah itu tampak rapuh. Bagian atapnya bolong menganga. Saat hujan turun, air leluasa masuk ke dalam. Di bagian belakang, atap bangunan bahkan sudah ambruk, menyisakan kayu yang berserakan.

Di ruang yang mereka gunakan untuk tidur, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Tempat tidur mereka ditutup penutup seadanya agar tak langsung terkena air jika hujan turun.

Setiap kali hujan turun, rasa cemas ikut datang. Mereka khawatir rumah yang mereka tempati bisa roboh sewaktu-waktu.

Jaharuddin mengatakan kerusakan rumah itu sudah terjadi sejak belasan tahun lalu dan tak kunjung diperbaiki. "Mungkin sudah sekitar lima tahunan kondisi begini," kata dia.

Jaharuddin tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia bekerja jika ada yang menyuruh atau membutuhkan tenaganya. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia mengaku tidak memiliki cukup biaya untuk membenahi rumahnya yang rusak.

"Saya kerjanya serabutan, kalau ada yang nyuruh. Buat makan sehari-hari ya cukup nggak cukup, kadang-kadang nyari yang ngadain bagi-bagi makan gratis juga," kata Jaharuddin.

Selama ini, ia mengaku belum menerima bantuan untuk perbaikan rumah. Ia berharap ada bantuan untuk perbaiki rumahnya dari Pemkot Bima.

"Ya pengennya sih rumah ini bisa diperbaiki. Karena ini kan bahaya juga," ucap dia.

Sementara itu, istrinya Siti Mariam mengaku tidurnya kerap dihantui rasa khawatir. Ia takut tertimpa material bangunan jika rumahnya ambruk secara tiba-tiba.

"Kalau tidur ngga tenang. Khawatir takut rumahnya rata dengan tanah dan ketindihan batu," kata dia

Sesekali, ia mengaku tak bisa menahan kesedihan ketika memandang atap rumah yang berlubang. Rasa sedih itu datang begitu saja, terutama saat hujan turun dan air kembali menetes ke dalam rumah.

Sepasang suami-istri di Kota Bima kelurahan paruga tinggal di rumah tidak layak huni.

"Kadang-kadang kalau memandang ke rumah, air mata tiba-tiba keluar," kata dia.

Sementara itu, Ketua RW setempat, mengatakan rumah tersebut sebenarnya sudah diajukan untuk mendapatkan bantuan ke sejumlah pihak.

"Di tahun kemarin sudah diajukan ke dinas sosial, kemudian yang program rutilahu pun sudah diajukan, tapi terkendala terkait masalah sertifikat. Yang punya rumah sudah mencari dan ternyata suratnya rusak terkena banjir, terkena banjir," kata dia.

Melihat kondisi rumah yang kian memprihatinkan, pasutri berharap pemerintah segera turun tangan untuk melakukan penanganan dalam hal ini Pemkot bima.

Ia khawatir, jika tidak segera diperbaiki, rumah tersebut bisa ambruk dan membahayakan penghuninya. "Saya berharap pemerintah daerah segera turun. Karena ini kondisinya hampir ambruk. Takutnya nanti lama-lama malah ada korban," kata dia.

Sekda Kota Bima, mengatakan akan pantauan langsung rumah pasutri ini yang harus dipenuhi untuk mendapatkan bantuan rumah tidak layak huni.(Sekjend MDG)

Babinsa Parangina Koramil 1608-03/Sape Gelar Patroli Siskamling, Antisipasi Gangguan Keamanan dan Cuaca Ekstrem


Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id, 22 Maret 2026 Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, anggota Koramil 1608-03/Sape bersama aparat desa dan masyarakat melaksanakan kegiatan patroli siskamling pada Minggu malam (22/3/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.20 WITA ini dipimpin oleh Babinsa Desa Parangina, Serda Aladin, bersama satu orang anggota Koramil. Patroli dilakukan untuk memantau situasi wilayah serta mengantisipasi potensi gangguan keamanan di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut dua orang anggota Koramil, satu aparat desa, tujuh orang masyarakat, serta tokoh pemuda dan tokoh agama setempat. Sasaran patroli meliputi pemukiman warga dan lokasi tongkrongan anak muda yang dinilai rawan terjadinya gangguan ketertiban.



Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 20.30 WITA dengan pergerakan anggota Koramil menuju Desa Lanta Barat, Kecamatan Lambu. Sekitar pukul 20.50 WITA, tim tiba di lokasi dan langsung melakukan pemantauan situasi wilayah.

Selanjutnya, pada pukul 21.00 WITA, petugas memberikan imbauan kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Warga diingatkan untuk menghindari konsumsi minuman keras yang dapat memicu tindakan negatif, serta menjauhi narkoba dan barang terlarang lainnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dan wilayah perbukitan diminta waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama saat hujan turun pada malam hari. Orang tua juga diharapkan dapat mengawasi anak-anak agar tidak terlibat dalam perkelahian atau keributan.

Kegiatan patroli kemudian dilanjutkan dengan pemantauan di desa binaan hingga pukul 21.30 WITA. Seluruh rangkaian patroli siskamling berakhir pada pukul 22.00 WITA dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya TNI bersama masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman serta meningkatkan kesadaran warga terhadap potensi gangguan keamanan dan bencana alam.

(Team.MDG.03)

Nihil Kejadian Menonjol, Posyan KM 208 Tunjukkan Kesiapsiagaan Maksimal.

Tulang Bawang - Mediadinamikaglobal.Id || Kesiapsiagaan maksimal ditunjukkan oleh personel Pos Pelayanan (Posyan) Rest Area Km 208 dalam pelaksanaan Operasi Ketupat Krakatau 2026, Minggu (22/03/2026) pagi. Sejak pukul 08.00 WIB, seluruh personel telah siaga penuh guna memastikan keamanan dan kelancaran arus lalu lintas tetap terjaga.

Sebanyak 11 personel Polri yang dipimpin langsung oleh Wakaposyan, IPDA Kiki Octora, S.E., hadir lengkap dan langsung melaksanakan apel pagi dalam kondisi cuaca cerah. Kegiatan dilanjutkan dengan pemantauan intensif di kawasan rest area serta pelaksanaan live report terkait situasi arus kendaraan.

Selain itu, dukungan dari tenaga kesehatan dan Satpol PP turut memperkuat pelayanan kepada masyarakat yang memanfaatkan rest area Km 208 sebagai titik istirahat.

Dalam keterangannya, IPDA Kiki Octora menegaskan bahwa situasi hingga saat ini berada dalam kondisi kondusif tanpa adanya gangguan menonjol.

“Sampai dengan saat ini, situasi di Posyan Rest Area Km 208 terpantau aman, tertib, dan terkendali. Tidak terdapat kejadian menonjol. Seluruh personel terus siaga untuk memberikan pelayanan dan pengamanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran petugas di lapangan merupakan bentuk nyata komitmen Polri dalam menjamin keamanan selama pelaksanaan Operasi Ketupat Krakatau 2026.

“Kami mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar tetap mematuhi peraturan lalu lintas, menjaga kondisi tubuh, serta memanfaatkan fasilitas rest area dengan bijak demi keselamatan bersama,” tambahnya.

Dengan kesiapsiagaan yang terus ditingkatkan, Posyan Rest Area Km 208 menjadi salah satu titik strategis dalam mendukung kelancaran arus dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Hingga laporan ini disampaikan, situasi tetap dalam keadaan aman, lancar, dan terkendali.
(Fs/Red) 

H. Maman DPRD NTB Siap Turun Tangan, Pasutri di Kota Bima Puluhan Tahun Tinggal di Rumah Nyaris Roboh

Anggota DPRD NTB, H. Muhamad Aminurlah, S.E
Rumah Pasutri di Kota Bima Nyaris Roboh, (Ist/Surya)

Kota Bima, Media Dinamika Global -- Kondisi memprihatinkan dialami pasangan suami-istri Siti Mariam dan Jaharudin, warga Lingkungan Sigi RT 10 RW 03, Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Selama puluhan tahun, keduanya terpaksa tinggal di rumah tidak layak huni yang kondisinya nyaris roboh, tanpa pernah tersentuh bantuan pemerintah.

Ironisnya, meski rumah mereka telah berulang kali didata dan difoto oleh petugas, nama pasangan ini tak kunjung masuk dalam daftar penerima program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Fakta ini memunculkan tanda tanya besar terhadap akurasi pendataan dan keseriusan pemerintah dalam menangani warga miskin ekstrem.

“Kami sudah lama sekali tinggal di sini. Rumah ini sudah sering didata, tapi tidak pernah dapat bantuan,” ungkap Siti Mariam dengan nada kecewa.

Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk nyata lemahnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat kecil. Program bantuan yang seharusnya menyasar warga paling membutuhkan justru terkesan tidak tepat sasaran.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD NTB, H. Muhamad Aminurlah, S.E atau yang akrab disapa H. Maman, menyatakan keprihatinannya sekaligus mengkritisi kinerja pihak terkait.

“Ini tidak boleh terus terjadi. Kalau sudah didata berkali-kali tapi tidak pernah terealisasi, berarti ada yang salah dalam sistem. Pemerintah harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Rumah Pasutri di Kota Bima Nyaris Roboh, (Ist/Surya)

Ia menegaskan akan segera turun langsung untuk memastikan pasangan tersebut mendapatkan bantuan. H. Maman juga berjanji akan mengawal persoalan ini hingga tuntas, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait.

“InsyaAllah saya akan bantu dan kawal. Ini bukan hanya soal satu keluarga, tapi soal keadilan sosial. Jangan sampai warga miskin ekstrem terus terabaikan,” tambahnya.

Selain berharap kepada pemerintah, Siti Mariam dan Jaharudin juga menggantungkan harapan kepada Baznas Kota Bima agar dapat mengakomodir mereka dalam program bedah rumah.

Diketahui, pasangan ini hidup dalam kondisi serba kekurangan dan masuk kategori miskin ekstrem. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan pekerjaan serabutan yang tidak menentu.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah, khususnya dalam hal validasi data dan distribusi bantuan sosial. Diperlukan evaluasi menyeluruh agar program bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak sekadar formalitas pendataan semata.

Redaksi: Surya Ghempar