"Ekonomi Kota Bima: Saatnya UMKM dan Sektor Lokal Jadi Motor Utama”
Kota Bima, Media Dinamika Global.id.-- Melihat Pertumbuhan ekonomi di Kota Bima masih bergerak relatif lambat, namun walaupun demikian ada pula peluang besar jika sektor UMKM, pariwisata, dan pertanian lokal dikelola secara lebih modern dan terintegrasi.
Pertumbuhan ekonomi kita memang lamban tapi di bayang-bayangi oleh potensi.
Potensi Kota Bima tidak hanya pada jumlah penduduk dan luas wilayah, tetapi pada sumber daya alam, kekayaan budaya, dan posisi strategisnya sebagai pusat pelayanan dan pelabuhan di bagian Timur Pulau Sumbawa.
Oleh karena itu, pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu kerjasama untuk membangun ekosistem ekonomi yang berbasis lokal, bukan hanya mengandalkan belanja APBD semata.
Ekonomi Kota Bima 2019-2023 menunjukkan pertumbuhan PDRB (total nilai tambah barang dan jasa) masih dibawah rata‑rata NTB, dengan dominasi sektor pertanian, perdagangan, dan jasa.
Realisasi APBD Kota Bima tahun ini alokasi belanjanya cukup besar, tetapi PAD-nya masih bergantung pada pajak dan retribusi, belum pada sektor produktif yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Sementara, sektor UMKM dan pariwisata mulai terlihat indikasi tumbuh, dengan munculnya beberapa produk oleh‑oleh khas Bima dan pengembangan destinasi wisata lokal. Kabar gembira ini membuktikan potensi ekonomi di KOBI ada, tetapi masih perlu diperkuat lewat kebijakan dan investasi yang tepat.
Sebagai contoh nyata, kita bisa Kota Bima punya keunggulan tersendiri. Mislanya di sektor pertanian seperti padi, jagung, kedelai, kacang-kacangan dan umbi-umbian terkonsentrasi di kecamatan Rasa Na'e Timir dan Raba. Sektor ini menyumbang sekitar 14,63% di tahun 2023.
Tidak mau kalah, potensi perdagangan pun menunjukkan grafik yang cukup baik. Industri-industri pengolahan pangan, tekstil, dan olahan kayu menyumbang kekuatan pada perekonomian.
Di sektor pariwisata, pantai Lawata, pantai Amahami, pantai Kolo, situs kerajaan Bima (museum Asi Mbojo), dan Museum Samparaja mulai menjadi destinasi kunjungan wisatawan, sehingga muncul peluang usaha seperti homestay kecil, warung makan, dan bernagai lainnya.
Laju ekonomi di Kota Bima masih seperti "kura-kura", padahal potensi peluangnya sangat besar jika pemegang kebijakan, pelaku usaha, dan masyarakat berkolaborasi. Hemat saya, langkah konkret dilakukan dengan penguatan UMKM melalui pelatihan, akses pembiayaan, dan pasar digital, pengembangan pariwisata berbasis komunitas, serta peningkatan infrastruktur jalan, transportasi, dan fasilitas perdagangan.
Terakhir, sebagai daerah lahirnya para qori-qoriah internasional integrasi nilai-nilai syariah perlu dilakukan selain untuk mempertahankan dan branding daerah juga mengedukasi para pelaku usaha agar menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.
Notes ini saya dapat dari "isi hati" BPS.2023 (Badan Pusat Statistik) dan LKIP.2022 (Laporan Kinerja Instansi Pemerintah) Kota Bima. Statistik ini menunjukkan harapan besar agar kita sama-sama membangun daerah dan berkontribusi dengan cara yang sederhana dan mulai dari yang kecil dan ringan. Sebab, kritik boleh tapi gak kalah penting solutif dan kontributif juga perlu.(Sekjend MDG)










