Media Dinamika Global

Selasa, 26 Mei 2026

Babinsa Desa Lanta Barat Koramil 1608-03/Sape Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Utamakan Musyawarah


Lambu.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id– Pada Rabu (27/5/2026) pukul 08.50 WITA, Babinsa Desa Lanta Barat, Serka Sahlan, anggota Posramil Lambu Koramil 1608-03/Sape, melaksanakan kegiatan komunikasi sosial (komsos) di wilayah binaannya.

Dalam kegiatan tersebut, Serka Sahlan memberikan pemahaman kepada warga agar senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Ia juga mengingatkan pentingnya saling membantu antarwarga dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan maupun kegiatan di lingkungan, sehingga setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan baik.

Selain itu, Babinsa menekankan apabila terjadi permasalahan di tengah masyarakat, diharapkan dapat diselesaikan melalui cara musyawarah dan mufakat guna menjaga keharmonisan serta persatuan antar warga di Desa Lanta Barat.(Team.MDG.03)

Babinsa Desa Naru Barat Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Hindari Penyalahgunaan Narkoba


Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id– Pada Rabu (27/5/2026) pukul 09.00 WITA, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Naru Barat, Kecamatan Sape, anggota Koramil 1608-03 Sape, Koptu Mahru, melaksanakan kegiatan komunikasi sosial (komsos) bersama warga di wilayah binaannya.

Dalam kegiatan tersebut, Koptu Mahru mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan serta mempererat tali silaturahmi antarwarga agar tercipta hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

Ia juga menghimbau warga untuk tidak melakukan tindakan kriminal serta menjauhi penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman beralkohol yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Selain itu, Babinsa juga mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan tetap menjaga kehidupan sosial yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Desa Naru Barat.(Team.MDG.03)

Hari Raya Kurban dan Etika Kepemimpinan: Belajar Ikhlas dari Ibrahim


M. Fakhrur Rodzi, M.IP (Ketua Pemuda Muhammadiyah Woha)

Bima, Media Dinamika Global.id.-- Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan keagamaan yang ditandai dengan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Kurban meruapakan momentum spiritual yang mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia. Kisah Nabi Ibrahim bukan hanya cerita religius yang diulang setiap tahun, tetapi refleksi besar tentang bagaimana manusia, terutama para pemimpin, seharusnya menjalankan amanah kehidupan dan kekuasaan.

Di tengah kondisi Indonesia hari ini, pesan itu terasa semakin relevan. Rakyat sedang menghadapi banyak tekanan politik, sosial dan terutama ekonomi: harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, problem pendidikan, kesehatan dan infrastruktur yang belum merata, hingga persoalan kepercayaan publik terhadap elit politik yang perlahan mengalami penurunan. Di saat yang sama, masyarakat justru sering menyaksikan pertunjukan kekuasaan yang jauh dari nilai pengorbanan. Politik lebih ramai dengan perebutan jabatan dibanding perlombaan menghadirkan kesejahteraan.

Di sinilah Idul Kurban seharusnya menjadi tamparan moral bagi para pemegang kekuasaan, pembuat kebijakan atau mereka yang diberi otoritas untuk pengelola negara.

Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada kepentingan yang lebih besar harus mengalahkan kepentingan pribadi. Pengorbanan yang beliau lakukan bukan sekadar tentang menyerahkan Ismail, tetapi tentang kesiapan melepaskan ego, ambisi, dan keterikatan duniawi demi menjalankan amanah dan perintah yang penciptakannya. Nilai itulah yang tampaknya mulai langka dalam praktik kepemimpinan modern ini.

Hari ini, banyak pemimpin berbicara tentang rakyat, tetapi kebijakan yang lahir sering kali tidak benar-benar menyentuh penderitaan rakyat kecil. Anggaran diperebutkan, proyek dipamerkan, tetapi suara masyarakat di desa-desa, petani, nelayan, buruh, dan anak muda penganggura sangat masif. Politik kehilangan empati ketika jabatan hanya dijadikan alat mempertahankan kekuasaan, bukan ruang pengabdian.

Padahal, esensi kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi kursi yang diduduki, tetapi seberapa besar keberanian berkorban demi kepentingan publik.

Idul Kurban juga mengajarkan bahwa pemimpin harus mampu menahan nafsu kekuasaan. Dalam konteks Indonesia saat ini, publik sering menyaksikan bagaimana politik dipenuhi kepentingan kelompok, transaksi kekuasaan, dan pencitraan. Demokrasi terkadang kehilangan substansi karena terlalu sibuk mengurus elektabilitas dibanding moralitas. Akibatnya, rakyat semakin sulit membedakan mana pemimpin yang benar-benar bekerja dan mana yang sekadar membangun popularitas.

Keikhlasan Nabi Ibrahim seharusnya menjadi pelajaran bahwa kepemimpinan membutuhkan ketulusan, bukan sekadar pencapaian statistik. Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga rasa keadilan, rasa aman, dan keyakinan bahwa negara benar-benar berpihak kepada mereka.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil,dolar terus naik, daya beli turun masyarakat kecil sesungguhnya sedang banyak “berkurban”. Pedagang kecil bertahan dengan penghasilan yang menurun, petani menghadapi biaya produksi yang tinggi, orang tua berjuang membiayai pendidikan anak, dan anak muda harus bertarung dengan sempitnya lapangan kerja. Ironisnya, di tengah pengorbanan rakyat itu, sebagian elit justru mempertontonkan kemewahan dan perebutan pengaruh politik.

Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti pada ritual seremonial. Kurban harus menjadi kesadaran sosial dan politik. Bahwa kekuasaan tanpa pengorbanan akan melahirkan kesenjangan. Bahwa kebijakan tanpa empati hanya akan memperlebar jarak antara negara dan rakyatnya.

Pemimpin yang baik bukan mereka yang paling sering tampil di depan kamera, tetapi mereka yang diam-diam memikirkan bagaimana rakyat bisa hidup lebih layak. Pemimpin sejati adalah mereka yang rela mengurangi kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat. Mereka yang berani mengambil keputusan sulit untuk kebaikan bersama, meski mungkin tidak menguntungkan secara politik.

Indonesia membutuhkan lebih banyak kepemimpinan yang berjiwa Ibrahim: pemimpin yang tidak rakus kekuasaan, tidak sibuk membangun dinasti, tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri, tetapi menjadikan amanah sebagai jalan pengabdian.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang benar-benar berkorban untuk rakyatnya, berpihak kepada rakyatnya.

Di Hari Raya Kurban ini, rakyat mungkin tidak berharap pemimpin menjadi sempurna. Namun rakyat berharap ada ketulusan, ada keberpihakan, dan ada keberanian untuk mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan politik sesaat. Karena sejatinya, makna terbesar dari kurban bukan tentang apa yang disembelih, tetapi tentang apa yang rela dilepaskan demi kemanusiaan dan keadilan.(Waketum MDG)

Oleh H. Hadirman S.pd : Khutbah Iduladha 1447 H: Meneladani Nabi Ibrahim, Melahirkan Kepedulian Sosial di Era Digital di Donggo NTB


Oleh: H. Hadirman S.pd 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى,! نَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Alhamdulillah, marilah kita panjatkan segala puji dan syukur ke hadhirot Allah SwT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita di pagi yang indah ini bisa berkumpul bersama menikmati hangatnya sinar mentari, dan segarnya udara di pagi hari sambil mengumandangkan takbir tahmid dan tahlil sebagai ekspresi mengagungkan Ilahi, serta telah melaksanakan shalat sunat dua raka’at Idul Adha 1447 H sebagai pendekatan diri kepada Allah SwT, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Donggo NTB, Media Dinamika Global.id.-- Kita patut bersyukur kepada Allah SwT karena telah dipanjangkan usia di anugerahi hidup sehat, sehingga sampai bisa menikmati kembali Iedul Adha tahun 1447 H ini. Tidak terasa waktu lekas berlalu, masa berjalan cepat bergerak bagikan angin bertiup. Begitu singkat waktu kita rasakan, pertanda betapa akhir perjalanan hidup semakin dekat, umur kita semakin pendek, memangkas kesempatan berlama tinggal di dunia dan kuburan yang kita benci kian hari kian mendekat.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Pada Idul Adha yang penuh berkah ini, kita diingatkan kembali pada sebuah kisah agung yang menjadi fondasi spiritual umat Islam, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah sosok yang diuji dengan berbagai ujian berat, namun tetap menunjukkan keimanan dan ketaatan total kepada Allah SwT.

Puncak ujian itu adalah ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putra yang dikasihinya, Nabi Ismail AS. Peristiwa luarbiasa ini bukan sekadar kisah pengorbanan, tetapi juga simbol keikhlasan, ketundukan, dan kepercayaan penuh kepada Allah Swt. gambaran sosok personal yang memiliki kematangan spiritualitas yang tidak ada bandingannya.

Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan contoh teladan yang baik bagi kita semua, teladan dalam keimanan yang kuat, teladan dalam ketaatan melaksanakan perintah Allah tanpa ragu sedikitpun. Sedikitnya ada empat hal yang bisa kita ambil sebagai uswah hasanah dalam kehidupan kita.

Pertama Nabi Ibrahim memiliki spiritualitas keagamaan yang tinggi sehingga dengan Ikhlas melakukan penyerahan diri mutlak kepada sang pencipta. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa puncak spiritualitas adalah kepatuhan totalitas tanpa ragu kepada Allah SwT:

إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS. Al-Baqarah: 131)

Spiritualitas seperti inilah yang membuat nabi Ibrahim mampu meletakkan pisau di leher putranya demi cinta dan taat kepada perintah Sang Khalik, pencipta alam semesta melebihi cinta beliau kepada apapun yang dimilikinya.

Kedua Nabi Ibrahim memiliki kesadaran sosial yang melampaui egoisme dirinya. Ajaran berkurban bukan tentang pengorbanan darah atau daging khewan yang disembelih, tapi berisi ajaran tentang kepedulian kepada sesama sebagai salah satu bagian dari indicator ketaqwaan kepada Allah SWT:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37)

Melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat, kita diingatkan untuk menghilangkan tembok pemisah antara orang kaya dan orang miskin. Diingatkan pula untuk membagi kekayaan yang dimiliki kepada orang yang membutuhkan sebagai bagian dari kesadaran bahwa kita itu hidup Bersama dalam masyarakat.

Ketiga Nabi Ibrahim memiliki Kecerdasan Intelektual yang mampu melahirkan keterbukaan melalui dialog. Nabi Ibrahim tidak memaksakan perintah Allah secara otoriter kepada anaknya. Tetapi beliau mengajak dialog secara terbuka dan demokratis kepada Ismail sebagai sebuah bentuk kecerdasan emosional dan intelektual yang tinggi:

Allah SwT berfirman dalam Al-Qur’an

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!'” (QS. Ash-Shaffat:102)

Sikap kesediaan untuk berdialog dan keterbukaan menjadi pelajaran bagi kita, para orang tua untuk membangun komunikasi yang sehat dan cerdas dengan generasi muda agar terjadi interaksi sehat antar anggota keluarga. Begitu pula anak akan terdidik untuk bersikap demoratis terbuka dan mampu menyerap inspirasi positif.

Ke empat Nabi Ibrahim memiliki moralitas yang terpuji: Ibadah Kurban pada hari raya Idul Adha adalah simbol perjuangan melawan hawa nafsu. Hawa Nafsu kebinatangan. Nabi Ibrahim berhasil melawan godaan setan yang merayu agar membatalkan perintah Tuhan tapi Nabi Ibrahim tidak bergeming tetap melaksanakan perintah Allah yang ia Yakini kebenarannya. Inilah integritas moral yang sesungguhnya. Allah berfirman:

۞وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبۡرَٰهِيمَ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS. Ash-Shaffat: 83-84)

Ma’asyiral Muslimin

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Sekali lagi khatib tegaskan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, keserakahan, dan individualisme yang dimiliki oleh kita semua. Dalam konteks kehidupan modern, terutama di era digital saat ini, tantangan egoisme dan keserakahan semakin kompleks dan menguat. Sehingga banyak orang yang tidak peduli dengan orang lain.

Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi telah membuat manusia makin dekat dengan orang yang jauh, tetapi kadang makin jauh dengan orang yang dekat. Kita mudah terhubung dengan dunia luar melalui media sosial, tetapi sering lalai terhadap kondisi tetangga di sekitar. Media sosial melahirkan sikap individualistis dan anti sosial, untuk itu mendalami kisah nabi Ibrahim akan melahirkan kecerdasan sosial walaupun kita sibuk bermedia sosial.

Selayaknya di era digital ini kita tetap mempunyai kepedulian sosial, dalam hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti: Membantu sesama melalui donasi online yang amanah, Menyebar luaskan informasi yang benar dan bermanfaat, Menghindari berita hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian, gunakan teknologi untuk memperkuat ukhuwah, bukan sebaliknya dipake untuk memecah belah.

Kurban yang kita lakukan hari ini juga mengandung pesan kuat tentang distribusi keadilan sosial. Daging kurban dibagikan kepada yang membutuhkan, sebagai bentuk solidaritas dan empati terhadap mereka yang memerlukan uluran bantuan di mana kondisi hari ini masyarakat kurang mampu makin banyak jumlahnya seiring dengan kondisi ekonomi semakin kurang baik. Krisis Global mempengaruhi kondisi ekonomi nasional.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Untuk itu, marilah kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian sosial kita, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang aktif di media sosial, tetapi pasif dalam membantu sesama. Aktif di dunia digital tapi pasif di dunia nyata.

Kisah nabi Ibrahim dan Idul Adha memberi Pelajaran kepada kita bahwa beriman itu harus dinyatakan dalam bentuk aktifitas positif. Iman yang hidup adalah keyakinan yang dijawantahkan dalam bentuk amal saleh atau amal yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, tetangga serta masyarakat serta bermanfaat bagi kelestarian alam semesta. Iman yang hidup seseorang tidak hanya memiliki kesolehan individual tapi juga ia memiliki kesolehan sosial. Qurban adalah salah satu bentuk kesalehan sosial yang berimplikasi kepada keberagamaan kita.

Hadirin yang berbahagia

Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua memanfaatkan kesempatan yang ada untuk selalu berbuat baik. Mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah yang entah sampai kapan sisa umur ini masih ada. Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini kita gunakan untuk hal hal yang bermanfaat sehingga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang Alloh, umur yang dipenuhi barokah Alloh. Harta yang kita punyai, mari kita gunakan untuk kepentingan kebaikan, kita gunakan untuk meraih kesenangan di akherat yang abadi. Jangan sampai kita menyesal berkepanjangan nanti ketika kita berada di alam keabadian.(Sekjend MDG)

Ribuan Jamaah Padati Salat Idul Adha 1447 H di Desa Rato, Bupati Bima Tekankan Keteladanan Nabi Ibrahim


Bima.Lambu.NTB.Media Dinamika Global.id — Pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi berlangsung khidmat di Lapangan Temba Romba, Desa Rato, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Rabu (27/5/2026) pukul 07.00 Wita. Kegiatan yang mengusung tema “Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam Semangat Maja Labo Dahu Menuju Bima Bermartabat” ini dihadiri sekitar 2.500 jamaah serta Bupati Bima Ady Mahyudi bersama Wakil Bupati Bima dr. Irfan Jubaidy dan jajaran Pemerintah Kabupaten Bima.

Pelaksanaan salat dipimpin oleh Imam Ustad Sudirman Ibnu, Bilal Ustadz Iliyas H. Ibrahim, dan Khotib Dr. Abdul Munir. Sejumlah pejabat daerah, unsur DPRD, Forkopimda, OPD, tokoh agama, hingga Muspika Kecamatan Lambu turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya sebelum pelaksanaan salat, Bupati Bima Ady Mahyudi menyampaikan rasa syukur atas nikmat Allah SWT serta mengajak masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat keimanan, persaudaraan, dan semangat pengorbanan. Ia menegaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS merupakan teladan tentang ketaatan, keikhlasan, serta keberanian menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

“Pembangunan sejati bukan hanya infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga pembangunan akhlak, budaya tanggung jawab, dan nilai moral masyarakat,” ujarnya.




Bupati juga mengingatkan tantangan pembangunan di era modern yang ditandai perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang cepat. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai kejujuran, persatuan, serta semangat gotong royong dalam mewujudkan Kabupaten Bima yang bermartabat.

Sementara itu, dalam khutbahnya, Khotib Dr. Abdul Munir menekankan pentingnya meneladani Nabi Ibrahim AS dalam membangun kualitas keimanan dan kehidupan sosial. Ia menyoroti sikap husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah SWT yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menghadapi berbagai ujian berat, termasuk perintah tinggal di tanah tandus Makkah serta perintah penyembelihan Nabi Ismail AS.

Menurutnya, keteguhan iman tersebut menjadi bukti bahwa ketaatan kepada Allah SWT akan selalu berbuah pertolongan dan kemuliaan.(Team.MDG.03)

Pelaksanaan Salat Idul Adha berakhir pada pukul 08.10 Wita dalam keadaan aman, tertib, dan lancar. Aparat TNI, Polri, dan Satpol PP turut melakukan pengamanan sehingga seluruh rangkaian kegiatan berjalan kondusif tanpa gangguan berarti.

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari masyarakat dan diharapkan mampu memperkuat nilai keimanan, kebersamaan, serta semangat pengorbanan di Kabupaten Bima.

H. Hadirman S.pd : Khutbah Idul Adha 2026 Menyentuh Hati Tentang Mengorbankan Ego demi Ridho Allah SWT


Donggo NTB, Media Dinamika Global.id.-- Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan kurban dan gema takbir di masjid-masjid. Lebih dari itu, Idul Adha merupakan momentum spiritual yang sarat pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, ketakwaan, hingga kepedulian sosial kepada sesama manusia.

Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan individualistis, pesan Idul Adha justru terasa semakin relevan.

Banyak umat Islam mulai menyadari bahwa hakikat kurban bukan hanya tentang menyembelih kambing atau sapi, melainkan bagaimana seorang hamba mampu mengorbankan ego, kesombongan, rasa iri, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia demi meraih rida Allah SWT.

Oleh karena itu, banyak khatib mencari contoh teks khutbah Idul Adha 2026 yang menyentuh hati jamaah, mudah dipahami, tetapi tetap mengandung pesan mendalam. Tema tentang keikhlasan Nabi Ibrahim dan ketundukan Nabi Ismail menjadi salah satu materi khutbah yang paling banyak dicari menjelang Hari Raya Kurban.

Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa hakikat pengorbanan adalah menundukkan hawa nafsu dan mendahulukan cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Nilai inilah yang menjadi inti dari peristiwa kurban dalam sejarah Islam.

Air mata Nabi Ibrahim diganti dengan kemuliaan. 

Kesabaran Nabi Ismail diganti dengan keberkahan. Dan setiap keikhlasan seorang hamba akan selalu dibalas dengan rahmat oleh Allah SWT. Oleh karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan lelah membantu sesama. Jangan lelah menjaga keikhlasan meski dunia sering kali tidak menghargainya. Semoga Idul Adha tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT.(Sekjend MDG)


Patroli Gabungan TNI-Polri dan Pol PP Amankan Malam Idul Adha di Sape, Polisi Temukan Sabu


Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id– Aparat gabungan TNI-Polri bersama Satpol PP Kecamatan Sape menggelar patroli gabungan dalam rangka pengamanan malam Hari Raya Idul Adha 2026 di wilayah Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Selasa malam (26/5/2026).

Kegiatan diawali dengan apel pengecekan personel yang berlangsung di Mapolsek Sape, Jalan Soekarno Hatta, Desa Oi Maci, mulai pukul 20.30 hingga 24.00 Wita. Apel dipimpin langsung oleh Kapolsek Sape, AKP Sirajudin SH, dan diikuti sebanyak 55 personel gabungan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Sape H. Anwar S.Sos, Danki Brimob Kompi C Sape Iptu Akhyar SH, dan Bati Komsos Koramil 1608-03/Sape Peltu Indrawan SH.

Adapun personel yang dilibatkan terdiri dari 20 anggota Koramil 1608-03/Sape, 12 personel Polsek Sape, 13 personel Brimob Kompi C Sape, serta 10 anggota Satpol PP Kecamatan Sape.

Dalam arahannya saat apel, Kapolsek Sape menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel gabungan yang terlibat dalam pengamanan malam Idul Adha. Ia menegaskan agar seluruh anggota menjalankan tugas secara profesional, humanis, dan tetap waspada demi menjaga situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.

“Target patroli malam ini meliputi kerumunan anak muda, penggunaan knalpot racing, senjata tajam, dan minuman keras,” ujar AKP Sirajudin.

Usai apel, patroli gabungan langsung bergerak menuju sejumlah titik keramaian. Sekitar pukul 20.45 Wita, personel melakukan patroli di Pelabuhan ASDP Desa Bugis. Selanjutnya pada pukul 21.00 Wita, tim melakukan sweeping terhadap kelompok anak muda yang nongkrong di kawasan Cafe Pak Guru.

Dalam kegiatan tersebut, petugas juga melakukan penggeledahan di sebuah gubuk semi permanen di RT 07 RW 03 Dusun Guda, Desa Bugis, milik seorang warga bernama Ramli alias Leo. Dari lokasi itu, aparat menemukan barang bukti narkotika jenis sabu berupa tujuh paket kecil dan dua paket besar.

Pelaku beserta barang bukti langsung diamankan oleh Polsek Sape guna proses hukum lebih lanjut.

Patroli kemudian dilanjutkan ke Kedai Lorong di Desa Oi Maci, Lapangan Bola Desa Sari, hingga Desa Tanah Putih. Aparat memberikan imbauan kepada masyarakat, khususnya para pemuda, agar menjaga keamanan dan ketertiban selama malam perayaan Idul Adha.

Di Desa Sari, tim patroli juga melakukan pendekatan dan penggalangan terhadap pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta koordinator rencana nonton bareng film dokumenter berjudul Pesta Babi yang direncanakan berlangsung pada Sabtu, 30 Mei 2026 di GSG Desa Sari.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, pihak penyelenggara melalui Darmawan menyatakan bahwa kegiatan nobar tersebut dibatalkan.

Kegiatan patroli gabungan berakhir pada pukul 24.00 Wita dalam keadaan aman dan lancar. Patroli ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk meminimalisir potensi gangguan keamanan, kriminalitas, serta aktivitas negatif remaja selama momentum malam Lebaran Idul Adha di Kecamatan Sape.(Team.MDG.03)

Komisioner KI NTB, Suaeb Qury Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha


Mataram, Media Dinamika Global – Komisioner KI Provinsi NTB, Suaeb Qury, S.HI., M.SI menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi kepada seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Dalam momentum Hari Raya Kurban ini, Suaeb Qury mengajak masyarakat untuk menjadikan Idul Adha sebagai sarana memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian, serta semangat berbagi kepada sesama.

“Idul Adha bukan hanya tentang berkurban, tetapi juga tentang bagaimana kita menumbuhkan rasa empati, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

Melalui ucapan yang disampaikannya, Suaeb Qury juga berharap semangat Idul Adha dapat membawa keberkahan, kedamaian, dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat NTB.

“Semoga semangat berkurban menjadi wujud ketulusan dan pengabdian untuk kebaikan bersama. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin,” tutupnya.

Redaksi |

Mitra Dapur MBG SPPG Bima Naru Sape – UD Lilis Sambut Idul Adha 1447 H dengan Penuh Kebersamaan


Sape.Bima.NTB.Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah / 2026 M, keluarga besar Mitra Dapur MBG SPPG Bima Naru Sape – UD Lilis menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat dan umat Muslim yang merayakan.(Rabu.27/05/2026)

Pimpinan beserta seluruh jajaran Mitra Dapur MBG SPPG Bima Naru Sape – UD Lilis mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M”

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Momentum Hari Raya Idul Adha menjadi pengingat penting akan nilai keikhlasan, pengorbanan, serta semangat berbagi kepada sesama. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, Idul Adha diharapkan mampu membawa keberkahan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh umat.

Keluarga besar Mitra Dapur MBG SPPG Bima Naru Sape – UD Lilis juga berharap agar tali silaturahmi antar sesama terus terjalin dengan baik serta seluruh aktivitas dan pengabdian kepada masyarakat senantiasa mendapat ridho dan keberkahan dari Allah SWT.

Melalui perayaan Hari Raya Kurban ini, semangat persatuan, kebersamaan, dan kepedulian sosial diharapkan semakin kuat dalam kehidupan bermasyarakat. (Team.MDG.03)

Ketua Fraksi Perindo DPRD Lombok Barat Sampaikan Ucapan Idul Adha 1447 H


Lombok Barat, Media Dinamika Global – Ketua Fraksi Partai Perindo DPRD Lombok Barat, Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, MM., M.Kes., CELM., CHRM menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Kabupaten Lombok Barat.

Dalam pesanya, Syamsuriansyah mengajak masyarakat menjadikan momentum Idul Adha sebagai sarana memperkuat nilai pengorbanan, keikhlasan, kepedulian sosial, serta mempererat persatuan dan kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Semoga semangat pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian di Hari Raya Idul Adha membawa keberkahan, kedamaian, serta mempererat persatuan dan kebersamaan kita semua,” ujarnya.

Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 H tahun ini juga dinilai menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat berbagi dan gotong royong, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan. Nilai-nilai kurban dinilai relevan dalam memperkuat solidaritas sosial dan menjaga keharmonisan di tengah dinamika kehidupan saat ini. 

Selain menjabat Ketua Fraksi Perindo DPRD Lombok Barat, Syamsuriansyah juga diketahui sebagai Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten Lombok Barat. Melalui momentum Idul Adha, ia berharap masyarakat senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.

“Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin,” tutupnya.

Redaksi |