Media Dinamika Global

Kamis, 05 Februari 2026

Parado Bukan Tanah Kosong : Tambang Datang, Masa Depan Dipertaruhkan


Parado, Bima, NTB.-Media Dinamika Global.Id.-

Kecamatan Parado bukan tanah kosong. Ia hidup, bernapas, dan menghidupi. Tanahnya memberi makan, airnya mengalirkan kehidupan, hutannya menjadi penyangga alam dan ruang harapan generasi berikutnya. Namun hari ini, semua itu terancam oleh satu nama yang selalu dibungkus janji manis yakni tambang.

Atas nama pembangunan dan investasi, Parado kembali diposisikan sebagai objek eksploitasi. Narasi yang kemudia berulang : lapangan kerja, peningkatan ekonomi, kesejahteraan masyarakat. Tapi sejarah di banyak daerah hanya membuktikan satu hal yang pahit. Pertambangan ini adalah skema transfer kekayaan dari ruang hidup rakyat ke kantong oligarki, meninggalkan ekosistem yang bangkrut bagi masyarakat lokal dan yang tinggal hanya kerusakan dan konflik. Tambang tidak datang sendirian, Ia membawa pembelahan sosial.  

Jangan lupakan peristiwa "Parado berdarah" pada tahun 2011 silam. Masyarakat diadu antara yang “pro” dan yang “kontra”, antara yang dijanjikan pekerjaan dan yang khawatir kehilangan tanah, air, dan masa depan. Konflik horizontal bukan kemungkinan, melainkan pola yang terus berulang dan hanya menyisakan trauma.

Lebih berbahaya lagi, proses ini berjalan tanpa keterbukaan. Partisipasi publik telah dikerdilkan menjadi sekedar sosialisasi searah, di mana suara warga hanya di anggap sebagai residu administratif untuk memuluskan izin lingkungan. Tidak ada persetujuan langsung oleh masyarakat yang sungguh-sungguh. Tidak ada jaminan bahwa suara warga Parado menjadi penentu, bukan sekadar formalitas. Ketika keputusan diambil di luar ruang hidup rakyat, maka tambang bukan pembangunan akan tetapi penjajahan gaya baru. 

Wilayah kecamatan Parado terdapat sawah, kebun, sungai, dan sumber air yang menopang kehidupan ribuan orang. Sekali rusak, tidak ada investasi yang mampu mengembalikannya. Reklamasi sering hanya menjadi janji laporan, bukan pemulihan nyata. Yang lebih menyakitkan, tambang sering hanya singgah. Ia mengeruk, mengangkut, lalu pergi. Dan Yang tertinggal adalah lubang di tanah, di alam, dan di kehidupan sosial masyarakat. Apakah Parado rela diwariskan sebagai wilayah bekas tambang kepada anak cucu?

Pembangunan sejati bukan tentang seberapa besar modal yang masuk, tetapi seberapa adil manfaat yang dirasakan. Parado tidak menolak masa depan. Parado menolak dirampas. Parado berhak menentukan arah hidupnya sendiri, tanpa paksaan, tanpa manipulasi, tanpa dikorbankan demi kepentingan segelintir pihak. Jika negara hadir untuk rakyat, maka suara Parado harus didengar. Jika pembangunan benar-benar untuk kesejahteraan, maka tambang yang mengancam ruang hidup masyarakat parado tidak layak dipaksakan.

Parado bukan wilayah korban. Parado bukan ladang eksploitasi. Parado adalah rumah. Dan rumah tidak untuk dijual atas nama janji. 

Oleh; Halimatus Saadiah

Siap Peras Darah untuk HMI : Refleksi Milad HMI Ke 79 Untuk Indonesia


Oleh : Tata Sapriadin (Komisi Riset dan Inovasi PB HMI)

Mataram. Media dinamika global-id.// Milad ke-79, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri dzzi sebuah titik balik sejarah yang menuntut refleksi mendalam mengenai hakikat perjuangannya. Sebagai organisasi yang lahir dari rahim revolusi, HMI membawa beban sejarah untuk terus menghidupkan dualitas identitas yang tak terpisahkan: keislaman yang substantif dan keindonesiaan yang inklusif. Visi ini bukanlah dua kutub yang saling menjauh, melainkan dua sisi mata uang yang memberi nilai pada setiap gerak kader. Di tengah arus globalisasi yang sering kali mencabut akar identitas bangsa, HMI harus kembali mempertegas bahwa perjuangan membela Islam adalah perjuangan membela Indonesia, di mana nilai-nilai ketauhidan diterjemahkan menjadi aksi nyata dalam menjaga kedaulatan dan keadilan sosial di bumi pertiwi.

Seiring bertambahnya usia, tantangan untuk merawat visi keislaman yang moderat dan progresif menjadi kian krusial bagi setiap kader. Di tengah polarisasi pemikiran yang kerap membelah masyarakat, HMI memikul amanah untuk menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—Islam yang menjadi solusi atas problematika kemanusiaan, bukan sekadar pelarian simbolis. Refleksi menuju usia ke-79 ini harus mampu membangkitkan kesadaran bahwa intelektualitas kader adalah instrumen untuk membumikan ajaran langit ke dalam realitas sosial. Kader HMI dituntut untuk tidak hanya cakap dalam berdialektika tentang teologi, tetapi juga mampu mentransformasikan iman menjadi amal saleh intelektual yang mampu menjawab tantangan kemiskinan, ketimpangan, dan krisis moral bangsa.

Pada dimensi keindonesiaan, militansi HMI diuji oleh sejauh mana organisasi ini tetap konsisten menjadi pengawal demokrasi dan penjaga persatuan di tengah kemajemukan. Menuju delapan dekade pengabdiannya, HMI tidak boleh terjebak dalam kepentingan politik elektoral yang sempit yang dapat mengaburkan komitmen kebangsaannya. Visi keindonesiaan HMI adalah visi tentang Indonesia yang adil dan makmur, di mana setiap kebijakan negara harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pengabdian masyarakat menjadi jalan panjang yang harus ditempuh agar kader HMI tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi menjadi arsitek yang merancang masa depan Indonesia dengan landasan moral yang kokoh.

Dalam perjalanan Panjang Umur Himpunan Mahasiswa Islam seharusnya kader HMI siap peras darahnya untuk HMI. Maksud dari peras darahnya untuk HMI yaitu mampunya kader totalitas dalam ikhtiar memperjuangkan Keislaman dan Keindonesiaa. Perjuangan Panjang para pendahulu seharusnya mampu mereprentasikan dalam jati diri kader sekarang yang sejatinya perjuangannya lebih banyak dan tantangan pendahulu lebih besar. Ikhtiar kader HMI bukan hanya untuk sekarang akan tetapi tercitra diri sampai akhir hayat dengan tujuan mulianya terbinanya mahasiswa islam menjadi insan Ulul Albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang di rihoi Allah SWT.

Perjalanan menuju Milad ke-79 adalah momentum untuk menyalakan kembali api semangat "Insan Ulul Albab" dalam sanubari setiap kader. Perjuangan HMI belum usai; ia hanya berganti medan dan tantangan dari kolonialisme fisik menuju kolonialisme pemikiran dan ekonomi. Dengan tetap memegang teguh independensi etis dan organisatoris, HMI harus mampu membuktikan bahwa integrasi visi keislaman dan keindonesiaan adalah kunci utama bagi kebangkitan peradaban bangsa. Hanya dengan nalar yang jernih dan hati yang terpaut pada nilai-nilai ketuhanan, HMI akan terus tegak berdiri sebagai kawah candradimuka pemimpin bangsa, memastikan bahwa setiap langkahnya selalu berujung pada satu tujuan mulia: bahagia HMI, jayalah Indonesia.

Menenun Kembali Nalar dan Bakti: Refleksi 79 Tahun Perjuangan HMI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar sebuah organisasi yang menua dalam angka, melainkan sebuah monumen hidup dari dialektika keislaman dan keindonesiaan. Sejak dipancangkan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947, HMI telah melewati berbagai fragmen sejarah, mulai dari mempertahankan kemerdekaan hingga menjadi rahim bagi para intelektual bangsa. Refleksi menuju Milad ke-79 ini menuntut kita untuk menengok sejenak ke belakang, bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk mencari kompas pengabdian yang mulai terdistorsi oleh bisingnya arus pragmatisme politik dan disrupsi zaman.

Sejarah mencatat bahwa kekuatan utama HMI terletak pada independensinya yang kokoh, sebuah prinsip yang memisahkan antara kepentingan semu dan kebenaran objektif. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, tantangan terhadap independensi ini semakin nyata. Kader HMI seringkali dihadapkan pada persimpangan antara menjaga nalar kritis sebagai penyambung lidah rakyat atau terkooptasi dalam lingkar kekuasaan yang pragmatis. Di usia yang hampir menyentuh delapan dekade, HMI harus berani melakukan otokritik: apakah identitas sebagai "mahasiswa islam Insan Ulul Albab (Berfikir dan berdzikir)" masih menjadi napas di setiap komisariat, ataukah ia telah bergeser menjadi sekadar batu loncatan karier politik bagi segelintir individu?

Memasuki era transformasi digital yang serba cepat, perjuangan HMI di tahun ke-79 ini tidak lagi bisa hanya mengandalkan orasi di jalanan atau retorika klasik di ruang diskusi. Dunia hari ini menuntut manifestasi intelektualitas yang konkret dalam bentuk penguasaan sains, teknologi, dan ekonomi kreatif. HMI harus mampu menjawab tantangan zaman dengan melahirkan kader yang tidak hanya fasih bicara tentang filsafat dan politik, tetapi juga cakap dalam memimpin inovasi digital dan solusi lingkungan. Transformasi gerakan dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif-solutif adalah harga mati agar HMI tidak sekadar menjadi fosil sejarah di tengah generasi yang bergerak cepat.

Di sisi lain, refleksi ini juga harus menyentuh sisi spiritualitas dan moralitas yang menjadi fondasi dasar organisasi. Sebagai organisasi berasaskan Islam, HMI memikul beban moral untuk menghadirkan wajah Islam yang moderat, inklusif, dan rahmatan lil 'alamin di tengah polarisasi sosial yang kian tajam. Milad ke-79 adalah momentum bagi setiap kader untuk memperbarui komitmen tauhidnya; bahwa perjuangan membela kaum tertindas (mustad'afin) adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah. Integritas moral ini harus menjadi pembeda utama antara kader HMI dengan aktivis lainnya, di mana setiap langkah perjuangan didasari oleh etika profetik yang kuat.

Sebagai penutup, perjalanan menuju 79 tahun HMI adalah sebuah "ikhtiar suci" yang belum usai. HMI harus tetap menjadi kawah candradimuka yang memproduksi pemimpin yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus ketulusan pengabdian. Masa depan Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana organisasi ini mampu merelevansikan nilai-nilai dasar perjuangannya dengan kebutuhan rakyat hari ini. Dengan semangat "Bahagia HMI, Jayalah Indonesia", Milad ke-79 seharusnya menjadi titik balik bagi seluruh kader untuk kembali ke khittah perjuangan: berbakti kepada umat dan mengabdi kepada bangsa dengan akal sehat dan hati yang bersih.

Menanam Benih Entrepreneurship: Jalan Baru Kemandirian Ekonomi HMI

Di tengah hiruk-pikuk diskursus politik yang mendominasi ruang gerak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pengenalan kewirausahaan (entrepreneurship) kini bukan lagi sekadar pilihan sampingan, melainkan kebutuhan eksistensial. Selama hampir delapan dekade, HMI dikenal sebagai "pabrik" pemimpin politik dan birokrat, namun seringkali abai dalam membangun pilar kekuatan ekonomi yang mandiri bagi kadernya. Memasuki Milad ke-79, HMI harus menyadari bahwa kemerdekaan berpikir dan keberanian bersikap hanya bisa tegak secara konsisten jika ditopang oleh kemandirian finansial. Tanpa kemandirian ekonomi, kader rentan terjebak dalam pragmatisme yang melunturkan idealisme perjuangan.

Mengintegrasikan semangat entrepreneurship ke dalam jati diri kader berarti menerjemahkan nilai "Mahasiswa Intelektual Organik" secara lebih konkret dan produktif. Kewirausahaan dalam perspektif HMI tidak boleh dipandang sempit hanya sebatas mencari keuntungan finansial, melainkan sebagai bentuk ijtihad ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan kemaslahatan bagi umat. Dengan menanamkan mentalitas wirausaha, HMI sedang menyiapkan kader yang tidak hanya mahir berdialektika di podium, tetapi juga tangguh dalam mengelola sumber daya, mengambil risiko yang terukur, serta inovatif dalam memecahkan masalah sosial melalui pendekatan bisnis yang etis.

Tantangan terbesar dalam mengenali dunia kewirausahaan di lingkungan HMI adalah mendobrak budaya instan dan ketergantungan pada patronase politik. Sejarah panjang organisasi yang dekat dengan lingkaran kekuasaan terkadang membuat kader lebih tertarik pada jalur distribusi daripada jalur produksi. Oleh karena itu, kurikulum perkaderan perlu menyisipkan literasi keuangan dan manajerial yang kuat, agar diskusi di komisariat tidak hanya berhenti pada teori-teori sosial, tetapi juga menyentuh strategi pengembangan usaha kecil menengah (UKM) atau startup berbasis teknologi. Pergeseran paradigma ini penting untuk memastikan bahwa HMI tetap relevan dalam menghadapi ancaman resesi global dan disrupsi pasar kerja.

Selain sebagai alat kemandirian individu, entrepreneurship di HMI harus diarahkan pada pembangunan ekosistem ekonomi kolektif. Kekuatan jaringan alumni dan kader yang tersebar di seluruh pelosok nusantara merupakan aset luar biasa yang jika dikelola dengan semangat kewirausahaan, akan menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat. Dengan membangun koperasi, inkubator bisnis, atau jaringan distribusi antar-kader, HMI dapat menciptakan kemandirian organisasi yang tidak lagi bergantung pada sumbangan eksternal. Kemandirian kolektif inilah yang akan memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi HMI dalam menentukan arah kebijakan bangsa.(Wawan MDG)

Rabu, 04 Februari 2026

Direktur PT Roci Karawi Sama Aji Kasnun Raih Penghargaan Dari Pupuk Indonesia


Yogyakarta. Media Dinamika Global.Id.– Direktur PT Roci Karawi Sama (RKS), Aji Kasnun, secara resmi menerima sertifikat penghargaan sebagai Mitra Pelaku Usaha Distribusi (PUD) dari PT Pupuk Indonesia (PI). Penyerahan penghargaan ini berlangsung di Yogyakarta pada Rabu (04/02), sebagai bentuk apresiasi atas rekam jejak kerjasama yang solid sejak tahun 2022 dalam menjaga ketahanan pangan di wilayah Bima. Seperti dikutip dari Laritinews.com Kamis (04/02/26)

Rekam Jejak Ekspansi Distribusi

Sejak menjalin kemitraan pada tahun 2022, PT Roci Karawi Sama menunjukkan performa distribusi yang terus meningkat dan cakupan wilayah yang kian luas:

Tahun 2023: Perluasan distribusi ke Kecamatan Wawo (April), disusul Kecamatan Asakota Kota Bima dan Kecamatan Langgudu (September).

Tahun 2024: Dipercaya mengelola distribusi di empat wilayah: Kec. Wawo, Kec. Langgudu, Kec. Bolo, dan Kec. Asakota.

Tahun 2025: Konsistensi distribusi di Kec. Wawo, Kec. Langgudu, dan Kec. Asakota.

Tahun 2026: Memasuki tahun berjalan, PT RKS kembali dipercaya mendistribusikan pupuk untuk Kec. Wawo, Kec. Langgudu, Kec. Bolo, dan Kec. Asakota.

Aji Kasnun mengungkapkan rasa syukurnya karena selama masa operasional PT RKS, petani di wilayah yang dikelola tidak pernah mengalami kelangkaan pupuk. Hal ini dicapai melalui kepatuhan ketat terhadap aturan 7T yang ditetapkan oleh Pupuk Indonesia:

1.Tepat Waktu

2. Tepat Jumlah

3.Tepat Sasaran

4.Tepat Mutu

5.Tepat Jenis

6.Tepat Tempat

7.Tepat Harga

Target dan Harapan Kedepan, Menyongsong sisa tahun 2026, PT Roci Karawi Sama berkomitmen untuk memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan di lapangan.

“Kami akan bekerja lebih baik lagi, terutama dalam berkoordinasi dengan 113 PPTS (Pengecer Pupuk Terdaftar/Sah) di empat kecamatan tersebut. Kami memastikan penjualan langsung kepada petani atau kelompok tani yang sudah terdaftar di E-RDKK tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditentukan oleh Pupuk Indonesia,” Bolo 37 PPTS, Langgudu 42 PPTS, Wawo 24 PPTS, Asakota 10 PPTS, Jumlah 113 PPTS, ujar Aji Kasnun.

Dengan penghargaan ini, PT Roci Karawi Sama menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung produktivitas pertanian melalui distribusi pupuk yang transparan dan akuntabel di Kabupaten dan Kota Bima.(Team).

Bupati Bima Segera Panggil Kades Doridungga Terkait Ambruk Gedung Serbaguna di Wilayah Donggo


Donggo NTB, Media Dinamika Global.id.// Berdasarkan laporan terbaru, Gedung Serbaguna Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, dilaporkan ambruk akibat diterjang angin kencang pada Jumat, 23 Januari 2026. Bangunan yang baru berusia dua tahun tersebut roboh dan menimbulkan kerugian besar bagi Pemerintah Desa. 

Terkait insiden tersebut, berikut adalah poin-poin pentingnya:

Tuntutan Tanggung Jawab: Asosiasi Gerakan Pemuda Mandiri (AGPM) menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah desa terkait ambruknya gedung tersebut.

Inspektorat Turun Tangan: Inspektorat Kabupaten Bima dilaporkan sedang meninjau ambruknya Gedung Serbaguna milik pemerintah Desa Doridungga.

Penyebab: Gedung ambruk diterjang angin kencang, namun ada sorotan mengenai kualitas konstruksi mengingat bangunan tersebut tergolong baru dibangun (dua tahun). 

Hingga saat ini, pihak berwenang (Inspektorat/Bupati) dilaporkan sedang memproses laporan tersebut untuk menentukan apakah ada unsur kelalaian dalam pembangunan gedung tersebut.(Team)

HMI Selamat Milad Ke- 79 Himpunan Mahasiswa Islam


Bima, Media Dinamika Global.id.// ​Selamat Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat akan komitmen kita dalam menjaga marwah perjuangan, merawat keindonesiaan, dan memperkokoh keislaman.

​Semoga HMI terus melahirkan insan cita yang akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Mari terus berproses dan berkontribusi nyata bagi umat dan bangsa.


Massa Aksi Aliansi Gerakan Pemuda dan Mahasiswa sedang Menggelar Demonstrasi di Depan Kantor Desa Doridungga Kec, Donggo


Donggo NTB, Media Dinamika Global.id.— Ambruknya Gedung Serba Guna Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, memantik sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Bangunan yang dibangun menggunakan anggaran negara senilai Rp229 juta kini rata dengan tanah, meninggalkan tanda tanya besar terkait kualitas perencanaa dan pembangunan serta tata kelola anggaran desa.

Gedung tersebut sebelumnya direncanakan sebagai fasilitas publik strategis guna menunjang berbagai kegiatan masyarakat Desa Doridungga, mulai dari kegiatan sosial, budaya, kepemudaan, hingga aktivitas ekonomi desa. Namun harapan masyarakat itu pupus setelah bangunan tersebut dilaporkan ambruk.

Peristiwa ini menuai reaksi keras dari Aliansi Gerakan Pemuda dan Mahasiswa (AGPM). Mereka menilai ambruknya gedung bukan sekadar faktor cuaca semata, melainkan indikasi kuat adanya persoalan serius dalam proses perencanaan maupun pengerjaannya.

AGPM menggelar aksi sebagai bentuk protes dan tuntutan pertanggungjawaban kepada pemerintah desa.

Menurut AGPM, sebuah bangunan dengan fungsi vital dan nilai anggaran yang tidak kecil semestinya memiliki kualitas konstruksi yang memadai dan mampu bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem. Mereka menduga lemahnya pengawasan serta penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis menjadi penyebab utama runtuhnya gedung tersebut.

“Kami menduga ada kelalaian serius dalam pelaksanaan proyek ini. Gedung yang seharusnya menjadi kebanggaan desa justru ambruk sebelum benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Ini harus diusut tuntas,” tegas Owen salah satu massa aksi (5/1/2026), saat dikonfirmasi via WhatsApp.

Massa Aksi mendesak pemerintah desa Doridungga untuk segera memberikan klarifikasi secara terbuka kepada masyarakat. Selain itu, mereka juga meminta instansi terkait dan aparat penegak hukum melakukan audit menyeluruh terhadap proyek pembangunan Gedung Serba Guna tersebut, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan.

Menurut AGPM, transparansi anggaran dan akuntabilitas pemerintah desa adalah hal mutlak. Apalagi, dana pembangunan bersumber dari keuangan negara yang sejatinya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, bukan justru menimbulkan kerugian.

Ambruknya Gedung Serba Guna ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas sosial masyarakat. Fasilitas yang diharapkan menjadi ruang bersama untuk berbagai kegiatan desa kini tidak dapat difungsikan, sehingga menghambat program-program pemberdayaan masyarakat yang telah direncanakan.

Sementara itu, dalam keterangannya merespon masa aksi Pemerintah Desa Doridungga mengatakan bahwa ambruknya gedung tersebut karena faktor cuaca.

“Gedung Serba guna bisa ambruk atas dasar bencana” Ujar Kepala Desa Jubaid Awahab, S.pd.

Lebih lanjut, AGPM menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kasus ini sampai ada kejelasan dan keadilan bagi masyarakat.

AGPM berharap kasus ini menjadi peringatan keras agar pembangunan desa tidak dilakukan secara asal-asalan. Mereka menuntut evaluasi total terhadap seluruh proyek desa demi mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.(Sekjend MDG)

Aliansi Pemuda Desa Doridungga Lakukan Gelar Demonstrasi Depan Kantor Desa Setempat di Donggo


Donggo NTB, Media Dinamika Global.id.// Kamis, 05 Februari 09:00 WITA, Aliansi pemuda desa doridungga melakukan aksi demonstrasi secara damai di depan kantor desa doridungga dengan tuntutan :

1. Mendesak pemerintah desa dan BPD desa doridungga untuk segera mengklarifikasi dan mempertanggungjawabkan ambruknya gedung serbaguna desa doridungga (GSG)

2. Mendesak pemerintah desa dan BPD desa doridungga untuk melakukan transparansi peraturan desa (PERDES) terkait mobil siaga desa doridungga dan Motor pengangkut sampah.

3. Mendesak kepala desa dan ketua BPD untuk melakukan disiplinan struktur BPD. 

4. Mendesak ketua BUMDES Sejati desa doridungga agar segera transparansi anggaran tahun 2025.

Hasil pernyataan Pemerintah desa, BPD dan ketua BUMDES Sejati desa doridungga bahwa dari point tuntutan 1 sampai 4 ada hasil dan tanggapan yang bisa dipertanggungjawabkan: ujar PEMDES, BPD dan ketua BUMDES :

1. Gedung GSG bisa ambruk atas dasar bencana dan kelalaian pelaksana, pengawasan dari pemerintah desa dan BPD, dan GSG akan dibangun kembali ketika ada Aspirasi atau bantuan dari pihak pemerintah pusat.

2. PERDES dari akhir bulan mei 2025 yang di susun akan dibahas pada tanggal 09 Februari 2026.

3. Ketua BPD akan siap mendisiplinkan anggota dan kinerjanya seusai dengan amanat undang-undang dan masyarakat umumnya.

4. Anggaran BUMDES Sejati desa doridungga tahun 2025 melalui proposal, tentang ketahanan pangan akan segera di cairkan dengan syarat BUMDES segera membuat ulang proposal.

 


Dengan jawaban dan hasil itu, masa aksi telah sepakat bahwa apabila tanggapan tersebut tidak sesuai dengan tindakan pemerintah desa, BPD dan ketua BUMDES maka, kami dari aliansi pemuda desa doridungga siap kawal Masalah ini sampai ke inspektorat dan kejaksaan negeri raba bima (KEJARI) Ujarnya, tutup masa aksi.(Sekjend MDG)

Babinsa Rasabou Koramil 1608-03/Sape Pantau Progres Pengeboran Air Bersih di So Dadi Bajo


Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id — Babinsa Desa Rasabou, Serda Abdul Hafid, anggota Koramil 1608-03/Sape, melaksanakan monitoring kegiatan pengeboran air bersih di wilayah So Dadi Bajo, Kamis (5/2/2026).



Kegiatan pemantauan tersebut dilakukan pada pukul 10.17 WITA. Berdasarkan hasil monitoring di lapangan, progres pengeboran pilot hole berdiameter 8 inci telah mencapai kedalaman 43 meter. Sementara itu, pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 80 meter dan disesuaikan dengan target maksimal hingga 85 meter.

Serda Abdul Hafid memastikan bahwa pelaksanaan pekerjaan pengeboran berjalan sesuai dengan rencana dan tidak ditemukan kendala berarti di lapangan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat sekitar.

(Team.MDG.03)

Gaji PPPK Paruh Waktu Berada di Kisaran Rp. 300 Ribu hingga Rp. 2 Juta Per bulan


Bima NTB, Media Dinamika Global.id.//Ketua AHN Irfan dalam Perspektif nya mengatakan Bung Tomo Ambil Pelajaran dari Kasus Gaji PW NTB, Pemkab Bima Harus Evaluasi Kebijakan. Sehingga Sebanyak 14.077 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Kabupaten Bima telah menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan. Meski demikian, besaran gaji yang akan diterima belum bersifat final.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima memproyeksikan rentang gaji PPPK Paruh Waktu berada di kisaran Rp. 300 ribu hingga Rp. 2 juta per bulan. Hal itu disampaikan Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Kabag Prokopim) Setda Bima, Suryadin.

“Skema penggajian masih dibahas. Nanti setelah final akan disampaikan ke Bupati untuk disetujui. Proyeksi sementara, ada yang Rp. 300 ribu sampai Rp. 2 juta per bulan,” ujar Irfan beberapa hari yang lalu.

Ia menjelaskan, sumber anggaran gaji PPPK Paruh Waktu berbeda-beda, tergantung pada bidang dan status sebelumnya. PPPK yang sebelumnya berstatus tenaga pegawai tidak tetap (TPU) dengan SK Bupati akan digaji melalui APBD.

Sementara itu, gaji tenaga guru bersumber dari dana BOS, dan tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas akan digaji melalui dana BLUD. “Seperti itu skema penggajiannya,” jelas pria yang akrab disapa Imoenk tersebut.

Sebelumnya, Bupati Bima Ady Mahyudi melalui Kadis Dikbudpora Kab Bima mengapresiasi ribuan tenaga honorer yang kini resmi diangkat menjadi ASN PPPK Paruh Waktu. Menurutnya, pengangkatan tersebut merupakan bentuk pengakuan negara atas pengabdian para honorer.

“Ini bukti bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia. Negara melalui pemerintah daerah hadir memberikan pengakuan dan kepercayaan,” kata Bupati Ady di hadapan belasan ribu penerima SK.

Ia menegaskan, perubahan status ini bukan sekadar administratif, melainkan membawa tanggung jawab dan makna baru. “Dari menunggu menjadi dipercaya, dari berharap menjadi bertanggung jawab, dan dari mengabdi dalam senyap menjadi pengabdian dalam kehormatan,” ujarnya.

Bupati Ady melalui Kadis Dikbudpora Kab Bima juga berpesan agar seluruh PPPK Paruh Waktu dapat bekerja dengan penuh dedikasi dan melayani masyarakat dengan hati nurani.

“Layani masyarakat dengan hati nurani,” tegasnya.

Berdasarkan data BKD dan Diklat Kabupaten Bima, jumlah awal penerima SK PPPK Paruh Waktu tercatat sebanyak 14.077 tenaga honorer, terdiri dari 7.007 guru, 5.672 tenaga teknis, dan 1.400 tenaga kesehatan.

Namun, setelah verifikasi akhir, 104 orang tidak mengisi daftar riwayat hidup (DRH) dan tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sehingga jumlah akhir tenaga honorer yang menerima SK PPPK Paruh Waktu menjadi 14.077 orang.(Tim MDG)

Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Kota Bima, Menerima Kunjungan SDN 22


Kota Bima, Media Dinamika Global.id. — Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bima menerima kunjungan dari SDN 22 Kota Bima

Kunjungan disambut hangat oleh Tim Perpustakaan Daerah Kota Bima dan jajarannya.

Kegiatan diawali dengan foto bersama di halaman Gedung layanan Perpustakaan, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan fasilitas, tata tertib dan berbagai layanan yang tersedia di Perpustakaan, Kamis 05 February 2026.

Para siswa juga mengikuti berbagai kegiatan, seperti Membaca bersama, Storytelling serta Tour Gedung Layanan Perpustakaan Kota Bima untuk mengenal lebih dekat dunia perpustakaan, terlihat wajah antusias dari para siswa yang hadir.

Tujuan kunjungan ini yaitu dalam rangka meningkatkan mutu proses dan hasil belajar serta semangat anak-anak dalam belajar dan pelaksanaan kegiatan Outing Class sebagai metode belajar di luar sekolah untuk menambah wawasan keilmuan siswa.

Menanamkan kebiasaan membaca sejak kecil adalah investasi besar untuk masa depan. Dengan membaca, anak-anak dapat membuka jendela pengetahuan, melatih daya pikir, sekaligus menumbuhkan karakter positif. Mari kita bersama-sama terus mendorong budaya literasi agar generasi muda tumbuh menjadi cerdas, kreatif, dan berwawasan luas, SalamLiterasi.(Sekjend MDG)