Media Dinamika Global

Minggu, 27 September 2026

Akademisi NTB Bongkar PIP-KIP dan Nasib Guru Dihadapan Wakil Ketua Komisi DPR RI

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ketua EW-LMND NTB, Akademisi, (Ist/Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Persoalan pemerataan akses pendidikan, ketepatan sasaran bantuan pendidikan, hingga kesejahteraan guru menjadi sorotan dalam Dialog Publik yang digelar Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) NTB.

Dialog publik bertema “Membaca Arah Pendidikan: Pemerataan Akses, Peningkatan Mutu, Kesejahteraan Guru, dan Keadilan Anggaran” tersebut berlangsung di Bhumi Resto, depan Kampus UIN Mataram, Minggu (27/9/2026).

Forum menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., dari Fraksi PKB Dapil NTB II; akademisi Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat) Isnaini, S.Pd., M.H., M.Pd.; Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, M.M., M.Kes. dari Universitas Bima Internasional (UNBIM); serta praktisi pendidikan NTB, Sadrul Imam, S.Ip., M.Ip.

Kehadiran Lalu Hadrian Irfani menjadi perhatian peserta karena forum tersebut secara khusus membahas berbagai persoalan pendidikan yang masih dirasakan masyarakat NTB, termasuk akses bantuan pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Akademisi UMMat, Isnaini, mengapresiasi kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI tersebut. Menurutnya, dialog mengenai arah kebijakan pendidikan menjadi penting karena masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan yang ditemukan langsung di lapangan.

“Mendengarkan apa itu roadmap pendidikan, kita sudah sangat membahagiakan bagi kami. Apalagi kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani ini merupakan salah satu tokoh sentral di NTB yang mampu memperjuangkan hak-hak masyarakat NTB dan seluruh masyarakat Indonesia ke Pemerintah Pusat,” ujar Isnaini.

Ia menilai, posisi Lalu Hadrian Irfani di Komisi X DPR RI menjadi peluang strategis untuk membawa berbagai persoalan pendidikan dari NTB ke tingkat nasional.

“H. Lalu Hadrian Irfani ini bukan lagi tokoh di regional kita di NTB. Jadi ketika beliau memperjuangkan kita di luar sana, kita harus mengamini, karena bukan hanya NTB yang diperjuangkan, tapi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

PIP dan KIP Dinilai Masih Perlu Dievaluasi

Dalam kesempatan tersebut, Isnaini menyampaikan sejumlah persoalan yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius, khususnya terkait Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), termasuk KIP Kuliah.

Ia menilai mekanisme pendataan dan penentuan penerima bantuan pendidikan perlu terus dievaluasi agar benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“PIP dan KIP ini harus terus direvolusi sampai ke bawah, sampai ke perguruan tinggi, penerima PIP atau KIP Kuliah,” tegasnya.

Isnaini mengungkapkan bahwa berdasarkan temuan dan pengamatannya di lapangan, masih terdapat persoalan ketika indikator desil ekonomi digunakan dalam menentukan penerima bantuan.

Ia mencontohkan adanya calon mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi tergolong mampu tetapi justru memiliki akses terhadap kartu bantuan pendidikan. Di sisi lain, terdapat keluarga dengan kondisi ekonomi rendah yang tidak memiliki KIP, meskipun orang tuanya tercatat sebagai penerima program bantuan sosial lainnya seperti PKH maupun KKS.

“Kami temukan juga memang ekonomi rendah, tapi dia tidak dapat, tidak memiliki Kartu Indonesia Pintar. Orang tuanya memiliki kartu PKH dan KKS,” ungkapnya.

Menurut Isnaini, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar kebijakan bantuan pendidikan tidak hanya bertumpu pada data administratif, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi sosial-ekonomi penerima secara lebih akurat.

Ia juga menyoroti proses seleksi penerima KIP Kuliah yang menggunakan kategori desil ekonomi. Menurutnya, perlu ada evaluasi terhadap kelompok masyarakat yang berada pada desil tertentu agar tidak terjadi keluarga yang membutuhkan justru terlewat dari program bantuan.

“Hal ini menjadi bahan evaluasi juga di Komisi X DPR RI. Lewat dialog publik ini, bersyukur kita bisa diskusi hal tersebut,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dan DPR dapat terus memperbaiki sistem pendataan dan distribusi bantuan pendidikan sehingga kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tidak ditentukan hanya oleh kepemilikan kartu atau status administratif.

“Mudah-mudahan ini, kami yang desil 4 dan 5 juga akan diakomodir. Itu juga harus mendapatkan perhatian,” harapnya.

Kesejahteraan Guru Tak Hanya Soal Materi

Selain persoalan bantuan pendidikan, Isnaini juga menyoroti kesejahteraan guru. Menurutnya, guru merupakan salah satu unsur paling penting dalam menentukan kualitas pendidikan nasional.

Ia mengapresiasi langkah dan perjuangan Komisi X DPR RI dalam mendorong peningkatan kesejahteraan guru.

“Poin kedua tentang kesejahteraan guru. Alhamdulillah sudah diperjuangkan oleh Komisi X DPR RI, Wakil Ketua Komisi X DPR RI bersama tim di Senayan,” katanya.

Namun, Isnaini menegaskan bahwa kesejahteraan guru tidak semata-mata berkaitan dengan penghasilan. Menurutnya, aspek penghargaan, perlindungan, kepastian dan penghormatan terhadap profesi guru juga harus menjadi perhatian.

“Kita mengapresiasi juga, namun guru ini adalah garda terdepan. Bukan saja tentang materi yang harus disejahterakan, tapi yang immateri juga harus diperjuangkan,” ujarnya.

Ia berharap perjuangan di tingkat pusat dapat terus dikawal hingga memberikan dampak nyata bagi guru di daerah, termasuk di NTB dan di seluruh Indonesia.

(Surya Ghempar)

Dari Pengusaha untuk Rakyat: Martin Arikardi, SH., MH. Anggota DPRD OKU Siapkan Langkah Menuju DPR RI 2029 Dapil Lampung 1

 


OKU / Lampung - MediadinamikaGbal.id  tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan Anggota DPRD Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Martin Arikardi, SH., MH. menegaskan komitmennya untuk terus mengabdi kepada masyarakat. Sosok yang dikenal dekat dengan warga ini kini mulai mempersiapkan diri sebagai Bakal Calon DPR RI 2029 dari Dapil Lampung 1.

Martin Arikardi bukanlah sosok baru di dunia politik. Pada Pileg 2024 lalu, ia berhasil meraih kepercayaan besar masyarakat Dapil OKU 3 (Baturaja Barat, Lubuk Batang, Lubuk Raja) dan terpilih sebagai Anggota DPRD OKU dari Partai NasDem dengan perolehan lebih dari 9.000 suara.

Berbekal pengalaman sebagai pengusaha dan wakil rakyat di tingkat kabupaten, ia ingin membawa pengalaman tersebut ke tingkat nasional.

 "Saya izin, hari ini saya fokus sebagai pengusaha dan menyelesaikan amanah sebagai Anggota DPRD OKU. Amanah dari rakyat OKU harus saya jaga sampai tuntas. Tapi untuk 2029, saya mohon doa, saya sedang mempersiapkan diri untuk mengabdi lebih luas untuk Dapil Lampung 1," ujar Martin Arikardi.

Dapil Lampung 1 yang meliputi Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat dan Lampung Barat dinilai memiliki tantangan yang sama: butuh penguatan ekonomi kerakyatan.

Sebagai pengusaha, Martin membawa visi Ekonomi Kerakyatan:

1. Pengusaha Buka Lapangan Kerja:Mendorong regulasi yang memudahkan UMKM dan pengusaha daerah membuka lapangan kerja baru di Lampung.

2. Dari DPRD untuk Desa: Pengalaman di DPRD OKU akan dibawa untuk memperjuangkan Dana Desa dan pembangunan infrastruktur pekon yang lebih besar di Senayan.

3. Jembatan Hukum untuk Rakyat: Dengan latar belakang SH., MH., ia akan memperjuangkan bantuan hukum gratis bagi petani, nelayan dan pelaku UMKM.

"Saya maju bukan karena jabatan, tapi karena saya pengusaha yang merasakan susahnya berusaha di daerah. Saya anggota dewan yang melihat langsung jeritan masyarakat di bawah. Insya Allah, 2029 kita bawa suara dari OKU dan seluruh Lampung 1 ke Jakarta," tutupnya.(UMAR.MDG)

EW-LMND NTB Gelar Dialog Publik, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Bawa Aspirasi Pendidikan NTB ke Senayan

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si
saat dialog publik, (Ist/Surya)

MATARAM, Media Dinamika Global - Masa depan pendidikan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi perhatian serius dalam Dialog Publik yang digelar Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) NTB.

Dialog tersebut mengangkat tema “Membaca Arah Pendidikan: Pemerataan Akses, Peningkatan Mutu, Kesejahteraan Guru, dan Keadilan Anggaran.” yang berlangsung di Bhumi Resto, depan Kampus UIN Mataram, Minggu (27/9/2026). 

Kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.Si., Fraksi Partai PKB, Dapil NTB II sebagai Narasumber, menjadi salah satu perhatian utama forum.

Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan dan kebijakan publik. Selain H. Lalu Hadrian Irfani, Isnaini, S.Pd., M.H., M.Pd, (Akademisi UMMAT), Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, M.M., M.Kes. dari Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM), serta Sadrul Imam, S.Ip., M.Ip., (Praktisi pendidikan NTB).

Ketua EW-LMND NTB, Arif Haryadin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Lalu Hadrian Irfani yang dinilai membuka ruang dialog langsung antara masyarakat, mahasiswa, akademisi, praktisi pendidikan, dan wakil rakyat di tingkat nasional.

“Kami berharap aspirasi masyarakat NTB, khususnya terkait pemerataan pendidikan serta peningkatan akses dan kuota beasiswa S1 dan S2 bahkan S3, dapat terus diperjuangkan di tingkat nasional,” ujar Arif.

Menurut Arif, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sekolah dan proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat untuk mengakses pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Karena itu, menurutnya, perlu ada kebijakan yang memastikan anak-anak NTB, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dan wilayah yang memiliki keterbatasan akses, memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.

Sementara, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hadrian Irfani menyoroti pentingnya arah pendidikan nasional yang lebih jelas dan berkelanjutan.

Ia mengatakan pembahasan mengenai sistem pendidikan nasional perlu diarahkan agar kebijakan pendidikan tidak mudah berubah hanya karena terjadi pergantian pemerintahan, menteri, maupun kebijakan.

Menurut Putra NTB ini, salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah belum kuatnya roadmap atau peta jalan pendidikan nasional yang menjadi acuan jangka panjang.

Ia mencontohkan perubahan kebijakan kurikulum yang selama ini kerap menjadi perhatian para guru.

“Tidak jarang ada stigma yang muncul bahwa berganti menteri, berganti kurikulum,” kata Lalu Hadrian Irfani, Pria Asal NTB ini.

Ia menambahkan, kebijakan pendidikan membutuhkan kesinambungan agar guru dan satuan pendidikan memiliki waktu serta kepastian yang cukup untuk beradaptasi.

Menurutnya, kemampuan anak-anak Indonesia pada dasarnya tidak kalah dibandingkan negara lain. Namun, diperlukan sistem pendidikan yang memiliki arah pembangunan sumber daya manusia secara jelas.

Lalu Hadrian Irfani juga menyinggung sejumlah negara yang dinilainya telah memiliki perencanaan pendidikan lebih matang, mulai dari kebutuhan sekolah, proporsi guru dan siswa, hingga arah pengembangan pendidikan.

Salah satu isu penting yang disampaikan Lalu Hadrian adalah mengenai amanat konstitusi terkait anggaran pendidikan.

Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 menyatakan negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Lalu Hadrian menegaskan bahwa ketentuan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah.

“20 persen itu bukan hanya tugas APBN saja, tetapi mandatnya juga diberikan sebagai APBD,” ujarnya.

Ia meminta agar alokasi tersebut tidak berhenti pada pemenuhan angka secara administratif, melainkan benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Persoalan efektivitas anggaran pendidikan juga menjadi perhatian Komisi X DPR RI dalam pembahasan kebijakan pendidikan. Pada Juli 2026, Komisi X menegaskan bahwa mandat 20 persen perlu diarahkan agar benar-benar meningkatkan mutu dan pemerataan akses pendidikan.

Dalam forum tersebut, Lalu Hadrian juga menyoroti kondisi sejumlah sekolah di NTB yang menurutnya masih membutuhkan perhatian pemerintah.

Ia mengaku telah berkeliling di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa serta menemukan sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana.

Ia menyebut kondisi sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan sebagai gambaran bahwa pemerataan pembangunan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar.

“Sampai hari ini masih banyak sekolah-sekolah kita, mulai dari SD, SMP, SMA, yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, 15 tahun, tidak pernah direnovasi sama sekali,” ujarnya.

Menurut Lalu Hadrian, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan Komisi X DPR RI mendorong kebijakan yang lebih terarah untuk menyelesaikan persoalan pendidikan, terutama terkait akses, mutu, serta sarana dan prasarana.

Komisi X DPR RI sendiri dalam berbagai agenda pendidikan juga menyoroti ketimpangan fasilitas antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Lalu Hadrian sebelumnya menyatakan bahwa kesenjangan pendidikan masih terlihat terutama di wilayah 3T, sementara biaya distribusi guru dan pembangunan fasilitas di daerah terpencil juga menghadirkan tantangan tersendiri.

Dalam dialog tersebut, Lalu Hadrian juga menyinggung persoalan ketimpangan akses pendidikan antardaerah.

Ia menyebut konsentrasi perguruan tinggi di Pulau Jawa menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan ketika pemerintah menyusun kebijakan pendidikan nasional.

“Bagaimana nasib Indonesia Timur, bagaimana nasib Indonesia Tengah, ini yang sedang kita formulasikan juga,” katanya.

Menurutnya, distribusi program pendidikan nasional harus memperhatikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah sehingga masyarakat di luar pusat-pusat pendidikan nasional tidak tertinggal.

Perhatian terhadap pemerataan juga diarahkan pada program bantuan pendidikan dan beasiswa.

Hadrian mengatakan Komisi X bersama pemerintah telah membahas persoalan pendidikan di daerah yang dianggap penting dan marginal melalui Panitia Kerja (Panja).

Dari pembahasan tersebut, menurutnya, masih ditemukan persoalan pemerataan program seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan KIP Kuliah, terutama bagi peserta didik dan calon mahasiswa dari wilayah yang akses pendidikannya masih terbatas.

Karena itu, ia menyampaikan perlunya kebijakan afirmatif agar program nasional dapat memberikan porsi yang lebih besar kepada daerah marginal dan wilayah 3T.

“Ketika menyalurkan program nasional, yang pertama diprioritaskan adalah proporsi atau persentase program nasional itu seluas-luasnya untuk daerah-daerah marginal,” ujarnya.

Pemerataan akses pendidikan tinggi juga menjadi perhatian Komisi X. Pada Juni 2026, Lalu Hadrian menyatakan dukungan terhadap penguatan anggaran pendidikan tinggi agar perguruan tinggi dapat menjalankan fungsi pendidikan, riset, dan pengabdian secara optimal.

Revitalisasi Sekolah Didorong Jadi Prioritas

Selain persoalan beasiswa dan akses, revitalisasi sarana pendidikan menjadi bagian penting dari pembahasan.

Hadrian menyebut revitalisasi sekolah sebagai salah satu program yang perlu mendapatkan perhatian karena kondisi infrastruktur secara langsung berhubungan dengan kenyamanan dan kualitas proses belajar mengajar.

"Komisi X DPR RI sebelumnya juga menyoroti pentingnya revitalisasi sekolah secara menyeluruh, khususnya di wilayah yang fasilitas pendidikannya masih tertinggal," pungkas Putra NTB.

(Surya Ghempar)

Babinsa Koramil 1608-03/Sape Gelar Patroli Siskamling, Imbau Warga Jaga Keamanan Lingkungan

BIMA.NTB.Media Dinamika Global.id— Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Babinsa Koramil 1608-03/Sape melaksanakan patroli Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) di Desa Parangina, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Minggu (27/9/2026) malam.

Patroli yang dimulai sekitar pukul 20.00 WITA tersebut dipimpin Serda Aladin, Babinsa Desa Parangina, bersama seorang anggota Koramil. Kegiatan dilakukan untuk memantau situasi wilayah sekaligus mengantisipasi potensi gangguan keamanan di wilayah Kecamatan Sape dan Lambu.

Dalam kegiatan tersebut, personel Koramil bersama empat aparat desa dan enam warga melakukan pemantauan di sejumlah lokasi yang menjadi sasaran patroli, terutama kawasan permukiman warga dan tempat-tempat yang biasa menjadi lokasi berkumpulnya anak muda.

Setibanya di Desa Parangina sekitar pukul 20.10 WITA, personel Koramil langsung melakukan pemantauan situasi wilayah. Selanjutnya, sekitar pukul 20.15 WITA, Babinsa memberikan imbauan kepada masyarakat agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

Warga juga diingatkan untuk menghindari perselisihan yang dapat berkembang menjadi pertengkaran. Babinsa menekankan pentingnya pengendalian diri, khususnya bagi kalangan anak muda, serta menghindari konsumsi minuman keras yang dapat memicu tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.


Selain persoalan kamtibmas, masyarakat juga diimbau tertib dalam berlalu lintas. Warga diminta tidak mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan di jalan raya karena dapat membahayakan diri sendiri dan mengganggu keselamatan pengguna jalan lainnya.

Setelah memberikan imbauan, anggota Koramil 1608-03/Sape melanjutkan pemantauan di wilayah desa binaan hingga sekitar pukul 21.10 WITA.

Seluruh rangkaian kegiatan patroli Siskamling kemudian berakhir pada pukul 21.15 WITA. Selama kegiatan berlangsung, situasi di wilayah Desa Parangina terpantau aman dan kondusif.

Kegiatan patroli Siskamling tersebut menjadi bagian dari upaya Babinsa bersama pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun kepedulian bersama terhadap keamanan lingkungan serta mencegah potensi gangguan kamtibmas sejak dini.(Team.MDG.03)

Babinsa Koramil 1608-03/Sape Sambangi Warga, Perkuat Kamtibmas di Desa Binaan


BIMA.NTB.Media Dinamika Global.id— Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) terus dilakukan Babinsa Koramil 1608-03/Sape melalui kegiatan kongkow bersama warga di sejumlah desa binaan, Minggu (27/9/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di beberapa wilayah binaan tersebut dimanfaatkan para Babinsa untuk menyampaikan berbagai imbauan kepada masyarakat, mulai dari pencegahan tindak kriminal, bahaya narkoba dan minuman beralkohol, hingga kewaspadaan terhadap potensi kebakaran rumah.

Di Desa Lanta Barat, Kecamatan Lambu, Serka Sahlan selaku Babinsa Desa Lanta Barat dan anggota Posramil Lambu Koramil 1608-03/Sape melaksanakan patroli sekaligus kongkow bersama warga sekitar pukul 19.30 WITA.

Dalam kesempatan tersebut, Serka Sahlan mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap keamanan lingkungan. Warga diimbau untuk turut melakukan pemantauan lingkungan pada malam hari guna mencegah berbagai potensi gangguan keamanan, termasuk pencurian dan penyalahgunaan narkoba.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada aparat berwenang apabila menemukan permasalahan atau kejadian yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, di Desa Sari, Kecamatan Sape, Serda Junaidin melaksanakan patroli kongkow bersama warga sekitar pukul 20.00 WITA. Ia mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kamtibmas sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.





Menurutnya, hubungan yang harmonis dan komunikasi yang baik antarwarga menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun dan damai.

Serda Junaidin juga mengingatkan warga agar menjauhi barang-barang terlarang, seperti narkotika jenis sabu-sabu dan minuman beralkohol, yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi diri sendiri maupun keluarga.

Kegiatan serupa dilakukan Serda Irfan, Babinsa Desa Bugis, Kecamatan Sape, pada pukul 20.30 WITA. Dalam kongkow bersama warga, ia mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Serda Irfan juga mengingatkan warga agar tidak mengambil tindakan sendiri atau main hakim sendiri apabila terjadi persoalan di tengah masyarakat. Setiap permasalahan diharapkan segera disampaikan kepada aparat yang berwenang untuk mendapatkan penanganan sesuai ketentuan.

Sedangkan di Desa Kale'o, Kecamatan Lambu, Serda Sanusi, Babinsa Desa Kale'o Koramil 1608-03/Sape, melaksanakan kongkow malam bersama masyarakat sekitar pukul 20.45 WITA.

Selain membahas keamanan lingkungan, Serda Sanusi memberikan perhatian terhadap pencegahan kebakaran rumah. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa kondisi kompor, instalasi listrik, serta berbagai peralatan listrik sebelum meninggalkan rumah ataupun beristirahat.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya korsleting listrik maupun kelalaian penggunaan peralatan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Melalui kegiatan kongkow bersama warga tersebut, para Babinsa Koramil 1608-03/Sape tidak hanya menyampaikan imbauan keamanan, tetapi juga membangun komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat di wilayah binaan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pembinaan teritorial untuk mendorong masyarakat berperan aktif dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan secara bersama-sama.(Team.MDG.03)

Kembali Terjadi di Desa Tambe, Petani di Bima Terluka Diduga Diserang Parang

Gambar ilustrasi

BIMA, Mediadinamikaglobal.id — Seorang petani berinisial N (57), warga Dusun Lara, Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami sejumlah luka setelah diduga menjadi korban penyerangan menggunakan senjata tajam, Minggu (27/9/2026) sekitar pukul 17.00 Wita.

Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi ketika korban sedang duduk di depan rumahnya. Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, seorang pria berinisial A (48), yang juga warga setempat, datang ke lokasi dan diduga menyerang korban menggunakan parang.

Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka, antara lain pada bagian kepala sebelah kanan, dagu, tangan kanan, lutut kanan hingga kaki kanan.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut kemudian membawa korban ke Puskesmas Bolo untuk mendapatkan penanganan medis. Korban tiba di fasilitas kesehatan sekitar pukul 17.45 Wita.

Sementara itu, setelah kejadian, pria yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut dilaporkan melarikan diri ke arah utara perkampungan. Pihak keluarga korban sempat melakukan pencarian, namun belum berhasil menemukan keberadaannya.

Polsek Bolo kemudian melakukan upaya penelusuran terhadap keberadaan terduga pelaku. Sekitar pukul 18.20 Wita, polisi mendatangi rumah kakak terduga pelaku di Desa Rasabou. Namun, terduga pelaku maupun kakaknya tidak berada di rumah.

Dalam laporan awal, terdapat informasi mengenai kondisi kejiwaan terduga pelaku yang disebut-sebut berkaitan dengan peristiwa tersebut. Namun, informasi tersebut masih memerlukan penanganan dan pendalaman lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Hingga berita ini ditulis, kronologi secara utuh, motif, serta latar belakang terjadinya dugaan penyerangan masih dalam penanganan dan penyelidikan kepolisian.

Polisi juga masih melakukan upaya untuk mengetahui keberadaan terduga pelaku sekaligus mengumpulkan keterangan dan fakta terkait peristiwa tersebut.

(MDG05)

KABAR KRIMINAL: Tragedi Pembacokan Gegerkan Dusun Lara Tambe Sore Ini, Pelaku Masih Dalam Penyelidikan


Bolo, Media Dinamika Global.id.-- Dusun Lara Tambe — Suasana tegang di Dusun Lara Tambe mendadak mencekam pada Minggu (27/9) sore. Peristiwa pembacokan secara tragis terjadi dan menimpa warga setempat hingga mengejutkan warga sekitar.

Berdasarkan informasi sementara yang dihimpun di lokasi kejadian, peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 17.30 WITA. Warga yang berada di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) gempar saat mengetahui adanya korban yang tergeletak akibat luka sabetan senjata tajam.

"Kejadiannya sangat cepat, tiba-tiba terdengar keributan dan warga langsung berhamburan keluar," 

Melihat kondisi korban yang memprihatinkan, warga setempat segera mengevakuasi dan melarikannya ke Puskesmas Bolo untuk mendapatkan penanganan medis darurat akibat luka serius yang dialaminya.

Aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Bolo yang menerima laporan langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Petugas segera memasang garis polisi (police line), melakukan olah TKP, serta mengumpulkan keterangan dari para saksi guna mengidentifikasi pelaku maupun mengungkap motif di balik aksi penganiayaan berat ini.

Pihak kepolisian mengimbau warga Dusun Lara Tambe untuk tetap tenang, tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya, dan mempercayakan penanganan kasus ini sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.(Sekjend MDG)