Media Dinamika Global

Kamis, 01 Oktober 2026

NASPOL Gelar Dialog Publik, Soroti Perlindungan Santri dari Kejahatan Kesusilaan


MATARAM, MEDIA DINAMIKA GLOBAL - Upaya memperkuat perlindungan santri dari kejahatan kesusilaan menjadi perhatian dalam dialog publik yang digelar NASPOL dengan mengangkat tema “Selamatkan Pondok Pesantren, Formulasi Tata Kelola dan Sistem Perlindungan Santri dari Kejahatan Kesusilaan.”

Kegiatan tersebut berlangsung di Hangout Cafe, Mataram, Kamis (1/10/2026). Dialog menghadirkan dua narasumber, yakni Hadi Wijaya, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Pengawasan dan Pengembangan Lembaga GP Ansor NTB, serta Humaira, S.Pd., M.Pd, Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat).

Kegiatan tersebut turut didukung oleh Media Dinamika Global, GAKADA BIDOM, GP Ansor, dan Jala Nusa Semesta Koperasi.

Forum ini menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya membangun sistem perlindungan santri yang tidak hanya mengandalkan kepercayaan terhadap figur, tetapi juga ditopang tata kelola, pengawasan, dan mekanisme perlindungan yang jelas.

Humaira: Kekerasan Seksual Tak Bisa Dilihat Semata dari Perspektif Agama

Dalam pemaparannya, Humaira menyoroti pentingnya membongkar cara pandang terhadap relasi laki-laki dan perempuan sebagai salah satu bagian dari upaya mencegah kekerasan seksual.

Ia mengajak peserta melihat persoalan tersebut dari perspektif sejarah pemikiran dan konstruksi sosial yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan dari masa ke masa.

“Persoalan kita memandang sebuah kasus itu lahir berdasarkan di mana kita tumbuh, berkembang, dan kemudian belajar,” ujar Humaira.

Menurutnya, cara pandang terhadap perempuan tidak terbentuk secara tiba-tiba. Nilai, budaya, tradisi, pendidikan, serta lingkungan sosial turut memengaruhi bagaimana seseorang melihat posisi perempuan dan laki-laki.

Humaira kemudian menyinggung sejarah perlakuan terhadap perempuan pada masa sebelum Islam serta bagaimana sebagian pandangan sosial terhadap perempuan masih bertahan dalam bentuk tertentu meskipun zaman dan peradaban terus berubah.

Ia menilai fenomena kekerasan seksual yang muncul di sejumlah lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan keagamaan, perlu dilihat secara lebih luas dan tidak semata-mata dikaitkan dengan agama atau tingkat pengetahuan keagamaan seseorang.

“Kenapa kemudian orang-orang yang kita anggap berilmu, memiliki pemahaman agama yang dalam, seperti kiai, ustaz, atau tuan guru yang diduga melakukan pelecehan maupun kekerasan seksual, itu bisa terjadi?” katanya.

Menurut Humaira, pengetahuan agama dan posisi sosial seseorang tidak secara otomatis menghilangkan potensi terjadinya penyalahgunaan relasi kuasa.

Ia menilai salah satu persoalan yang perlu dikritisi adalah ketika perempuan ditempatkan hanya sebagai objek, bukan sebagai manusia yang memiliki martabat, hak, kehendak, dan ruang untuk mendapatkan perlindungan.

“Saya katakan bahwa perempuan dianggap sebagai objek seksual semata oleh laki-laki. Jadi ketika melihat perempuan, tidak melihat bagaimana perempuan ada dan tumbuh kemudian hadir sebagai manusia,” ujarnya.

Humaira juga menegaskan bahwa persoalan kekerasan seksual tidak hanya terjadi di pondok pesantren.

Menurutnya, kasus serupa dapat terjadi di berbagai lingkungan pendidikan maupun institusi lainnya, termasuk lembaga keagamaan.

“Ini tidak melulu tentang agama, tidak melulu tentang latar belakang, tidak melulu tentang pemahaman agama, dan tidak melulu tentang iman. Ini tentang bagaimana pikiran terbangun sejak zaman dahulu sampai hari ini,” tegasnya.

Pesantren Harus Menjadi Ruang Aman

Lebih jauh, Humaira mengingatkan bahwa pondok pesantren memiliki tanggung jawab besar karena orang tua menitipkan anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan sekaligus perlindungan.

Menurutnya, ketika orang tua menitipkan anak di pesantren, yang dititipkan bukan hanya pendidikan akademik maupun keagamaan, tetapi juga keselamatan, kesehatan mental, martabat, dan masa depan anak.

“Orang tua kita menitipkan jiwa, tubuh, kemudian pemikiran anak-anak kita itu di pondok pesantren agar mereka merasa aman, agar mereka bisa terlindungi, agar mereka bisa belajar dengan baik dan bertumbuh sebagai manusia yang berakhlakul karimah,” katanya.

Karena itu, ketika terjadi kekerasan atau pelecehan seksual terhadap santri, dampaknya tidak hanya menyangkut luka fisik. Menurut Humaira, hal tersebut juga dapat menghancurkan kepercayaan korban terhadap orang yang selama ini dihormati dan dipercaya.

“Perempuan-perempuan yang kemudian dipatahkan sejak awal, dari mentalnya, dari fisiknya, bahkan kepercayaannya terhadap tumbuh kembangnya sendiri. Siapa yang mematahkannya? Orang yang paling mereka percayai, orang yang paling mereka hormati,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah paradoks yang harus menjadi perhatian bersama.

Di satu sisi, lembaga pendidikan keagamaan diharapkan menjadi tempat pembentukan akhlak dan karakter. Namun di sisi lain, apabila sistem pengawasan dan perlindungan tidak berjalan dengan baik, ruang yang seharusnya aman dapat menghadirkan risiko penyalahgunaan kepercayaan.

Karena itu, menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan perlu dijaga melalui sistem perlindungan yang konkret, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Hadi Wijaya, M.Pd, Wakil Ketua Bidang Pengawasan dan Pengembangan Lembaga GP Ansor NTB, turut mengulas makna dan posisi tuan guru di tengah masyarakat, khususnya dalam konteks pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter santri.

Menurut Hadi, istilah tuan guru tidak semata-mata menunjukkan seseorang yang memiliki pengetahuan agama. Sebutan tersebut juga melekat dengan kepercayaan masyarakat serta tanggung jawab moral yang besar.

Ia menjelaskan, sebutan “tuan guru” dapat dipahami dari dua kata, yakni tuan dan guru. Keduanya mengandung makna tentang posisi seseorang yang dihormati sekaligus menjadi tempat masyarakat dan santri memperoleh ilmu, nasihat, serta keteladanan.

Dalam forum tersebut, Hadi juga menyinggung proses seseorang memperoleh posisi sebagai tuan guru serta pentingnya kapasitas keilmuan dan keteladanan yang menyertainya.

Menurutnya, ketika seseorang telah mendapatkan kepercayaan masyarakat sebagai tokoh agama atau tuan guru, tanggung jawab yang melekat bukan hanya berkaitan dengan penyampaian ilmu agama.

Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab untuk menjaga perilaku, memberikan perlindungan kepada santri, serta menjadi teladan dalam kehidupan sosial.

Hadi juga menyoroti pembahasan mengenai tiga peserta dalam forum yang dikaitkan dengan proses atau pemaknaan seseorang menjadi tuan guru. Hal tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai regenerasi, kapasitas keilmuan, serta tanggung jawab tokoh agama di tengah masyarakat.

Menurut Hadi, pembentukan seorang tuan guru semestinya tidak hanya dilihat dari status atau sebutan yang diberikan masyarakat. Aspek ilmu pengetahuan, akhlak, integritas, keteladanan, dan kemampuan menjaga amanah merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan.

Kepercayaan Harus Diikuti Sistem Pengawasan

Dalam konteks perlindungan santri, Hadi menilai posisi tokoh agama justru membawa tanggung jawab yang semakin besar.

Kepercayaan yang diberikan orang tua dan masyarakat kepada lembaga pendidikan keagamaan harus dijaga melalui tata kelola yang baik serta mekanisme pengawasan yang mampu memastikan lingkungan pesantren benar-benar aman bagi santri.

Pembahasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perlindungan santri bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak.

Pengelola pesantren, tenaga pendidik, tokoh agama, orang tua, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran masing-masing dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman.

Mendorong Langkah Konkret

Dialog publik NASPOL tersebut pada akhirnya mendorong agar pembahasan mengenai kejahatan kesusilaan tidak berhenti pada kasus yang telah terjadi, tetapi diarahkan pada langkah pencegahan dan pembenahan sistem.

Pertanyaan yang mengemuka bukan hanya bagaimana menyikapi kasus ketika sudah terjadi, melainkan bagaimana memastikan sistem pendidikan mampu mencegah terjadinya kekerasan, menyediakan ruang pengaduan yang aman, serta memberikan perlindungan kepada korban.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan diharapkan tetap menjadi ruang yang memberikan rasa aman, pendidikan, pembentukan akhlak, serta perlindungan bagi santri.

Sebab, kepercayaan orang tua kepada pesantren bukan sekadar kepercayaan untuk mendidik anak, tetapi juga amanah untuk menjaga keselamatan, martabat, dan masa depan mereka.

Redaksi |

Babinsa Desa Rato Koramil 1608-03/Sape Gelar Patroli Siskamling, Imbau Warga Jaga Kamtibmas


LAMBU.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id— Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Babinsa Desa Rato, Sertu Wahyudin bersama satu anggota Koramil 1608-03/Sape melaksanakan patroli Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) di wilayah Desa Rato, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Kamis (1/10/2026) malam.

Patroli yang dimulai sekitar pukul 20.05 WITA tersebut dilakukan untuk memantau situasi wilayah sekaligus mengantisipasi potensi gangguan keamanan di wilayah Kecamatan Sape dan Lambu.

Dalam kegiatan tersebut, turut terlibat empat aparat desa dan enam orang masyarakat. Patroli menyasar sejumlah permukiman warga serta lokasi yang biasa menjadi tempat berkumpul atau tongkrongan anak muda.

Setibanya di Desa Rato sekitar pukul 20.15 WITA, anggota Koramil 1608-03/Sape langsung melakukan pemantauan situasi wilayah. Selanjutnya, sekitar pukul 20.20 WITA, Babinsa memberikan imbauan kepada warga agar bersama-sama menjaga keamanan lingkungan masing-masing.

Warga juga diingatkan untuk menghindari perselisihan yang dapat memicu pertengkaran. Babinsa menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pergaulan anak muda, terutama agar menjauhi konsumsi minuman keras yang dapat memicu tindakan emosional dan perkelahian.


Selain menjaga keamanan lingkungan, masyarakat juga diimbau untuk mengutamakan keselamatan saat berkendara. Warga diminta tidak mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan di jalan raya karena dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Setelah memberikan imbauan, anggota Koramil melanjutkan pemantauan di wilayah desa binaan hingga sekitar pukul 21.20 WITA. Seluruh rangkaian kegiatan patroli Siskamling berlangsung aman dan kondusif.

Melalui kegiatan tersebut, Babinsa Koramil 1608-03/Sape mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap keamanan lingkungan serta membangun komunikasi dan kerja sama dalam menjaga situasi tetap aman dan tertib.(Team.MDG.03)

Babinsa Koramil 1608-03/Sape Ajak Warga Bersama-sama Jaga Kamtibmas


SAPE.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id— Dalam upaya mempererat komunikasi dengan masyarakat sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sejumlah Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 1608-03/Sape melaksanakan kegiatan kongkow-kongkow bersama warga di wilayah desa binaan masing-masing, Kamis (1/10/2026) malam.

Kegiatan tersebut berlangsung di sejumlah desa dengan menyampaikan berbagai imbauan terkait keamanan lingkungan, keselamatan berkendara, serta pencegahan terhadap berbagai bentuk pelanggaran hukum.

Di Desa Sangia, Sertu Syaifullah selaku Babinsa mengajak warga untuk selalu berhati-hati dan waspada saat berkendara, khususnya pada malam hari. Ia juga mengingatkan bahwa menjaga keamanan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Warga juga diminta segera melaporkan kepada Babinsa maupun aparat setempat apabila menemukan kejadian mencurigakan atau hal-hal yang berpotensi mengganggu keamanan lingkungan.



Sementara itu, Serma Nasruddin, Babinsa Desa Jia, melaksanakan patroli kongkow-kongkow bersama warga sekitar pukul 20.00 WITA. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi tindak kejahatan pada malam hari sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap keamanan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Serma Nasruddin mengimbau warga agar segera berkoordinasi dengan kepala dusun maupun kepala desa apabila menemukan persoalan yang dapat mengganggu stabilitas kamtibmas.

Di Desa Lambu, Serka Bambang melaksanakan kegiatan bersama para pemuda. Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan arahan agar para pemuda menjauhi minuman keras dan obat-obatan terlarang yang dapat merugikan diri sendiri serta berpotensi melanggar hukum.

Selain itu, Serka Bambang juga memberikan motivasi kepada para pemuda untuk memanfaatkan kesempatan mengikuti seleksi TNI. Ia menyampaikan bahwa pada tahun ini terdapat kuota penerimaan yang lebih banyak sehingga para pemuda diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik.



Sementara di Desa Mangge, Kecamatan Lambu, Koptu Makmun menggelar kongkow-kongkow bersama warga dan menyampaikan pentingnya menjaga hubungan serta komunikasi yang baik di tengah masyarakat.

Warga juga diingatkan untuk menghindari tindakan yang melanggar hukum. Apabila terjadi persoalan, masyarakat diimbau tidak mengambil tindakan sendiri, melainkan segera melaporkannya kepada pihak terkait agar dapat diselesaikan dengan cepat dan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Melalui kegiatan kongkow-kongkow tersebut, Babinsa Koramil 1608-03/Sape berharap komunikasi antara aparat kewilayahan dan masyarakat semakin terjalin dengan baik. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif.(Team.MDG.03)

Korwil Kecamatan Monta Bahtiar, S.Pd Hadiri Pembukaan Turnamen PGRI Cup 5, Berikut Sambutannya.


Kabupaten Bima. Media Dinamika Global.id. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ke-81 Tahun 2026, PGRI Cabang Kecamatan Monta secara resmi membuka Turnamen Bola Voli Antar Sekolah yang dipusatkan di Lapangan Umum Desa Pela, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Selasa, 29/09/26)

Turnamen ini diikuti oleh puluhan tim bola voli Putra dan Putri dari tingkat SD, SMP Se-Kecamatan Monta. Pembukaan berlangsung meriah dengan dihadiri oleh Ketua PGRI Kabupaten Bima Adhar, S.Pd, Korwil Kecamatan Monta Bahtiar, S.Pd Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru Se-Kecamatan dan Guru Monta, Kepala Desa dan jajarannya, serta oara pemain hingga masyarakat Desa Pela yang ikut memeriahkan pembukaan Turnamen Bola Voli Piala PGRI.

Dalam momentum tersebut Korwil Kecamatan Monta Bahtiar, S.Pd menyampaikan bahwa turnamen ini bukan sekedar ajang olahraga, melainkan wadah silaturahmi antar guru Se-Kecamatan Monta 

"Melalui turnamen bola voli ini, kita ingin menyambut HUT PGRI Ke-81 dengan semangat sehat dan sportif. Olahraga voli ini mengajarkan kita tentang kekompakan, kerjasama tim, dan sportivitas, itu adalah nilai-nilai yang juga harus ada dalam dunia pendidikan," ujar Bahtiar

Lanjutnya, Turnamen Bola Voli kali ini akan sangat menarik, karena berbeda dari tahun sebelumnya, dimana kali ini pertandingan antar Ranting dan antar Sekolah, Laki-laki dan Perempuan terpisah dan mereka memiliki Timnya masing-masing, untuk memperebutkan Piala bergilir, yang sudah di siapkan oleh Panitia.

Ia juga mengapresiasi semangat Ketua Panitia beserta anggotanya yang sudah bekerja keras dan berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Pela dalam menyiapkan lapangan yang begitu bagus dengan Cat berwarna-warni sehingga terlihat indah, pungkasnya.

Diakhir sambutannya, Ia berharap seluruh Tim yang akan berlaga bisa saling menunjang tinggi nilai sportifitas dan kejujuran selama dalam pertandingan, hingga Turnamen berjalan lancar sesuai harapan kita bersama, bagi yang bertanding di partai pembuka ini saya ucapkan "Selamat Bertanding", tutup Bahtiar, S.Pd

Sementara itu di tempat yang sama, Ketua PGRI Kabupaten Bima, Adhar, S.Pd memberikan apresiasi tinggi kepada PGRI Cabang Monta.

"Saya sangat bangga dan mengapresiasi Korwil dan PGRI Monta yang begitu kreatif menyambut HUT PGRI Ke-81 dengan kegiatan positif seperti ini. Monta selalu menjadi contoh bagi kecamatan lain dalam kekompakan," kata Adhar.

Tak hanya itu saja, Adhar juga menyampaikan pesan khusus kepada seluruh guru yang ada Kecamatan Monta bahwa, HUT PGRI Ke-81 ini harus kita jadikan momentum untuk menguatkan solidaritas dan profesionalisme guru. Guru harus sehat jasmani dan rohani, melalui Olahraga voli ini kita sehat, silaturahmi terjaga, dan PGRI semakin solid. 


Selamat bertanding, junjung tinggi fair play, menang kalah itu biasa, yang penting nilai silaturahmi dan kebersamaan selalu terjaga," tegasnya.

Adhar berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di HUT PGRI saat ini saja, tetapi menjadi agenda rutin tahunan PGRI Cabang Monta pada tiap-tiap tahun, tutup Adhar.

Turnamen PGRI Cup 5 ini direncanakan akan berlangsung selama dua bulan ke depan dan memperebutkan Piala Bergilir PGRI Cabang Monta beserta uang pembinaan.

Pembukaan ditandai dengan servis pertama oleh Ketua PGRI Kabupaten Bima Adhar, S.Pd, diikuti oleh Korwil Kecamatan Monta Bahtiar, S.Pd beserta tamu kehormatan lainnya. (Ombus MDG)

18 Pejabat Yang Baru Dilantik Presiden Prabowo Subianto Hari Ini


Jakarta, Media Dinamika Global.id.--Presiden Prabowo Subianto resmi melantik 18 pejabat negara dalam perombakan (reshuffle) Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, pada hari ini, Kamis, 1 Oktober 2026.

Perombakan yang merupakan reshuffle ketujuh mencakup pergeseran posisi menteri koordinator, menteri, wakil menteri, pimpinan lembaga baru, hingga pucuk pimpinan Kepolisian Negara RI.

Inilah nama adalah informasi lengkap daftar 18 pejabat yang dilantik hari ini:

1. Bahlil Lahadalia Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi & Transisi Energi (merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral).

2. Sugiono Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

3. Dudung Abdurachman Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam).

4. Arrmanatha Nasir Menteri Luar Negeri (menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat Sugiono).

5. M. Sarmuji Menteri Perindustrian..

6. Dradjad Hari Wibowo (Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian).

7. Nurkholisoh Ibnu Aman sebagai Wakil Menteri Keuangan.

8. Luky Alfirman sebagai Wakil Menteri Keuangan.

9. Muhammad Saleh Mustafa (Wakil Menteri Pertanian).

10. Irwan Meilano (Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan).

11. Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

12. Dedi Prasetyo (Kepala Badan Reforma Agraria Nasional).

13. Aryanto Wibowo (Wakil Kepala BPKP).

14. Fadil Imran (Wakil Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa).

15. Nuzran Joher (Ketua) Ombudsman Republik Indonesia.

16. Radian Syam (Anggota) Ombudsman Republik Indonesia.

17. Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, serta Komjen Pol.

18. Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri.

Seluruh rangkaian pelantikan dan pengambilan sumpah dipimpin langsung oleh Bpak Prabowo Subianto.(Sekjend MDG)